Citra tak pernah menduga akan terjerat asmara dengan mantan kakak iparnya, Bima. Bima adalah kakak tiri Bayu, mantan suami Citra.
Rumah tangga Citra dan Bayu hanya bertahan selama dua tahun. Campur tangan Arini, ibu kandung Bayu membuat keharmonisan rumah tangga mereka kandas di tengah jalan.
Akankah Citra menerima Bima dan kembali masuk dalam lingkungan keluarga mantan suaminya dulu? Bagaimana juga reaksi Bayu juga Arini ketika mengetahui Bima menjalin asmara dengan Citra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sampai Jumpa Sabtu Malam
Bagi Citra, terasa aneh berada satu ruangan dengan Bima, apalagi ruangan kerja Bima yang tertutup. Mungkin jika Bima bukan kakak dari mantan suaminya, dia tak akan secanggung ini. Apalagi Bima terindikasi tertarik padanya, setidaknya itulah anggapan ibu dan rekan-rekannya di kantor.
"Ummm, memangnya apa yang ingin dibicarakan, Mas?" Setelah Citra menghubungi Pak Abdul, supir kantor yang tadi datang bersamanya untuk pulang, Citra menanyakan alasan Bima menahannya untuk tidak buru-buru kembali ke kantor.
"Selama kamu menjadi istri Bayu, kita jarang sekali berkomunikasi. Saya tidak mengenal kamu, padahal kita ini satu keluarga," ujar Bima.
"Jelas saja jarang komunikasi, dia saja jarang berkunjung ke rumah orang tuanya," gumam Citra.
"Ummm, Mas terlalu sibuk dengan pekerjaan dan jarang datang ke rumah," sahut Citra.
"Ya, kamu benar dan sampai tidak tahu alasan kalian berpisah," balas Bima.
Citra menghempas nafas panjang. Keputusan berpisah adalah keputusan terberat yang harus ia ambil. Dia tak bisa mengabaikan keluarganya dan harus pasrah menerima perceraian dengan Bayu. Apalagi Arini terlalu menekannya karena dirinya belum juga memberi mantan mama mertuanya itu cucu.
"Saya mewakili pihak keluarga Bayu minta maaf ke kamu kalau memang ada sikap mereka yang menyakiti hati kamu." Bima seakan bertanggung jawab atas perlakuan keluarganya terhadap Citra.
"Mas nggak perlu minta maaf karena Mas nggak salah apa-apa ke saya." Citra tak ingin Bima merasa bersalah kepadanya. Apa yang terjadi dalam rumah tangganya dengan Bayu tidak ada sangkut pautnya dengan Bima.
"Saya hanya tidak ingin kamu berpikir saya seperti dia."
Citra menatap Bima beberapa saat mendengar perkataan pria itu. Kenapa Bima takut dirinya menganggap pria itu seperti Bayu? Aneh, seolah Bima ingin menunjukkan jika Bima lebih baik dari Bayu, lebih baik dalam hal apa? Apa Bima sedang berusaha mempromosikan diri kepadanya? Pikir Citra.
"Saya nggak berpikir ke sana, Mas," tampik Citra kemudian.
"Saya juga tidak ingin kamu membenci saya, hanya karena mereka telah membuat kamu kecewa." Bima terkesan khawatir, Citra akan memberi cap yang sama pada dirinya seperti Bayu.
"Nggak ada alasan saya buat benci Mas." Citra menjawab dengan tertawa kecil.
Bima tertegun menatap Citra yang semakin cantik ketika tertawa, membuatnya semakin tertarik pada wanita itu.
"Saya ingin kenal kamu lebih dekat, boleh, kan? Atau ada yang larang?" Bima kembali minta izin pada Citra, meskipun dia sudah pernah menyampaikan niatnya itu ketika menghubungi Citra via telepon.
"Kita 'kan sudah saling kenal, Mas." Citra salah tingkah ketika Bima menatapnya lekat. Wajahnya menghangat, mungkin karena semburat merah sedang mewarnai wajahnya saat ini. Siapa yang tidak nervous ditatap pria tampan seperti Bima?
"Sebagai?" tanya Bima.
Citra binggung mendengar pertanyaan Bima. "Sebagai apa? Memangnya dia ingin sebagai apa?" batinnya.
"Saya ingin kamu mengenal saya bukan hanya sebagai kakak ipar Bayu ataupun relasi bisnis kantor kerja." Kata-kata Bima semakin menegaskan arah niatnya mendekati Citra.
"Bisa-bisanya dia membicarakan hal pribadi di jam kerja," gerutu Citra membatin.
"Ummm, s-saya nggak mengerti maksud, Mas." Citra berpura-pura tak paham apa yang Bima maksudkan tadi. Padahal semakin jelas tersirat ketertarikan Bima terhadapnya.
"Saya ingin kita berteman lebih dekat dan jangan saya harap kamu jangan bersikap canggung dengan saya!" pinta Bima melihat Citra yang masih menampakkan kecanggungan saat berhadapan dengannya.
Walau Bima mengatakan hanya ingin ingin berteman, tapi Citra tahu arti kata berteman lebih dekat yang baru saja diucapkan Bima.
Citra menghempas nafas panjang. Sepertinya sulit keluar dari tekanan Bima yang seolah tak memperdulikan jika mereka baru bertemu kembali setelah dirinya berpisah dari Bayu. Jika Bima benar tertarik padanya, apakah itu tidak terlalu terburu-buru? Karena baik dirinya maupun Bima belum mengenal kepribadian masing-masing.
***
"Mas, nanti saya turun di depan mini market saja." Ketika Bima mengantarnya kembali ke kantor, Citra meminta Bima tak menurunkannya di lobby kantor PT. Vista Ceramics. Tapi di depan mini market yang posisinya berjarak dua bangunan dari kantornya.
Citra tidak ingin kedatangannya diantar Bima diketahui rekan sekantornya, apalagi sampai mereka tahu jika pria yang bersamanya adalah relasi bisnis kantor mereka.
Bima menoleh sekejap ke arah Citra mendengar permintaan wanita itu lalu kembali fokus dengan kemudinya.
"Kenapa harus diturunkan di mini market? Kamu bukan karyawan di sana, kan?" Bima tak setuju dengan permintaan Citra. "Kamu malu saya antar?" tanyanya menanggapinya.
"Nggak, Mas! Jangan salah paham! Saya hanya nggak mau jadi bahan pergunjingan teman-teman kantor kalau mereka tahu saya diantar Mas. Apalagi kalau mereka tahu Mas relasi kantor Vista." Citra memohon pengertian Bima agar tidak memaksakan kehendak terhadapnya.
Bima terdiam beberapa saat, tapi otaknya berpikir. Mungkin dia memang terlalu antusias dan bersemangat mendekati Citra tanpa memperdulikan rasa tak nyaman Citra.
"Saya akan turunkan kamu di depan gerbang kantor saja kalau kamu tidak ingin ada rekanmu yang tahu." Akhirnya Bima memutuskan tempat akan mengizinkan Citra turun dari mobilnya.
Lima menit berselang, mereka pun sampai di gerbang kantor Citra.
"Makasih Mas udah mengantar saya," ucap Citra seraya membuka pintu mobil.
"Sampai jumpa Sabtu malam nanti," sahut Bima.
Citra menahan kakinya yang hendak menjejak aspal jalan ketika Bima menyinggung soal janji berjumpa malam Minggu nanti.
"Malam Minggu?" Citra rasa mereka sudah bicara tadi, untuk apa lagi Bima meminta bertemu? pikirnya.
"Kita ada janji bertemu, kan? Kamu sendiri sudah mengetahuinya," jawab Bima.
"Bukannya kita tadi sudah bicara, Mas?" tanya Citra.
"Lebih enak bicara santai di luar jam kerja. Kamu pasti tadi canggung ngobrol di ruangan saya." Ternyata Bima juga menyadari rasa tak nyaman Citra, tapi ia mengabaikannya dan terus menahan Citra lebih lama di dalam ruangannya.
Citra menghempas nafas perlahan, Hampir satu jam mereka membicarakan hal di luar pekerjaan, tapi Bima ternyata tidak puas.
Setelah menyetujui tetap berjumpa Sabtu malam nanti dan berpamitan pada Bima, Citra pun turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam kantornya.
"Assalamualaikum ..." ucap Citra ketika masuk ke dalam ruangan kerja.
"Waalaikumsalam ..." Erwin dan Elis menjawab bersamaan.
"Ciee, yang abis ketemuan ..." Elis langsung meledek Citra. "Gimana tadi ketemu calon imam? Hehe ...."
Citra memutar bola matanya karena rekannya itu sudah mulai meledeknya.
"Lama amat, Cit!? Disambung lunch dulu, ya?" Erwin ikut nimbrung menggoda Citra.
"Aku lagi puasa, Mas!" Citra membantah.
"Nah, tuh, nggak pakai jadwal makan siang tapi lama banget sama Pak Bima, pasti keasyikan ngobrol, ya?" ledek Erwin kembali.
"Udah, deh! Jangan ngeledek terus!" Citra menaruh tas di mejanya, "Aku mau lapor Bu Liza dulu." Tak ingin jadi bahan candaan rekannya, Citra memilih meninggalkan ruangan untuk menemui atasannya.
♥️♥️♥️
woooooy kamu itu udah mantaaan yaah
mantan buang pada tempatnya
tempat nya tong sampah
semoga bima sama citra tdk terpengaruh...
sepicik itu pikiran Arini terhadap Citra?
Ayo Bima lindungi Citra dari niat jahat Arini
kamu emang the best