Ikhtisar :
Dia bernama Ayu Purnama, anak ketiga dari empat bersaudara. Dari keluarga sederhana, ayahnya bekerja sebagai supir bus sedangkan ibunya pedagang tas ayaman. Ayu memiliki 2 kakak laki-laki dan 1 adik laki-laki, Ayu kembar dengan kakak keduanya. Tapi sayangnya, meski pun Ayu anak kandung dari keluarga tersebut dia selalu di sisihkan oleh sang ibu. Karena sang ibu hanya ingin memiliki anak laki-laki, ibunya berpikir kalau anak perempuan tidak akan bisa mengangkat derajat keluarganya dan keluar dari keterpurukan.
Suatu hari, ada seorang laki-laki dari keluraga kaya raya yang menyukainya karena kecantikan dan kegigihannya. Tetapi Ayu masih memiliki keinginan untuk melanjutkan kuliah, dia nekat untuk kabur dari rumahnya untuk mewujudkan cita-citanya. Apakah kepergian Ayu kan membuahkan hasil dan menjadi sukses setelah meninggalkan rumahnya itu ? Silahkan simak ceritanya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Pilih Kasih
“Setiap langkah kecil yang kamu ambil saat ini akan membawamu lebih dekat dengan tujuanmu, jadi jangan pernah berhenti bergerak maju”
_ Indah Mayaddah Febriani _
“Ayu … cepat bagun sudah subuh ! Jangan malas-malasan”
Terdengar teriakan seorang wanita dari luar kamar, seperti biasa setiap pagi Ayu harus menyiapkan sarapan dan juga harus bersiap pergi ke sekolah. Sedari kecil, Ayu selalu melayani keluarganya sebelum berangkat ke sekolah, dan harus bersiap-siap pergi ke sekolah karena berjalan kaki.
Ibunya seorang ibu rumah tangga, sedagkan ayahnya seorang sopir bus yang berangkat pagi pulang malam. Namanya Ayu Purnama, usianya masih 13 tahun dia memiliki 2 kakak laki-laki dan 1 adik laki-laki. Ibunya selalu memperlakukannya berbeda, sang ibu lebih sayang kepada kakak pertamanya dengan alasan dia kakaknya lebih pintar di bandingkan adik-adiknya.
Kakak pertamanya bernama Yudi Hermawan yang masih duduk di kelas 2 sekolah menengah atas, kakak keduanya bernama Aizam Ruhandi sama dengan ayu masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, sedangkan adiknya bernama Guntur Firmansyah masih berumur 6 tahun yang masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 1.
“Iya ma, sebentar” Jawab Ayu dari dalam kamarnya
Tak lama, Ayu keluar dari kamarnya dan mendapati raut wajah sang ibu sudah tidak mendukung.
“Sedang apa sih kamu masih di kamar ? Bukannya masuk ke dapur buat siapkan makanan untuk yang lain” Ucap Lastri sambil berkacak pinggang
“Aku sedang membereskan buku dan baca-baca sedikit ma, karena hari ini aku ada ulangan” Jawab Ayu
“Alah alasan saja, biar kamu gak nyiapin makanan untuk kita kan ?” Tanya Lastri
“Beneran ma, aku hari ini ada ulangan” Jawab Ayu
“Terserahlah, ayo cepat kamu ke dapur dan siapkan makanan untuk kita” Ucap Lastri ketus
“Iya ma” Jawab Ayu lalu pergi ke dapur
Dari kejauhan Asep, suami Lastri melihat sang putri di marahi oleh istrinya sangat kasihan lalu mendati istrinya.
“Ma” Panggil Asep
“Iya pa, ada apa ?” Tanya Lastri
“Mama itu jangan terlalu keras pada Ayu, kasihan dia. Dia itu masih anak kita, dia darah daging mama kalau mama lupa” Ucap Asep
“Mama tidak lupa, tapi mama tidak pernah menginginkan dia lahir. Anak perempuan tidak bisa membantu perekonomian kita pa, dia akan seperti mama menjadi ibu rumah tangga pada akhirnya” Ujar Lastri
“Iya, tapi kamu jangan pernah membedakan dia sama yang lain meski pun dia nantinya akan hanya sebagai ibu rumah tangga saja” Jawab Asep
“Susah kalau bicara sama bapak, tidak akan mengerti” Ucap Lastri lalu meninggalkan sang suami
Asep yang dia tinggalkan Lastri hanya mengegelengkan kepelanya, dia sudah cape memperingati istrinya itu.
*****
Sedangkan di dapur, Ayu sedang sibuk memasak untuk mereka sarapan pagi. Yudi yang melihat adiknya kerepotan di dapur, dengan sigap membantunya.
“Yu, katanya hari ini kamu ada ulangan ? Kenapa di dapur ?” Tanya Yudi
“Mama menyuruhku untuk masak kak, untuk kita sarapan. Kenapa kakak belum siap-siap kan sebentar lagi berangkat ke sekolah ?” Ujar Ayu
“Kakak kecapean karena kemarin habis latihan paskibra sampai sore, dan malamnya mengejakan PR jadi begadang sampai jam 11 malam” Jawab Yudi
“Kalau gitu kakak cepat siap-siap, takutnya nanti kesiangan” Ucap Ayu
“Nanti saja, aku mau membantu kamu” Jawab Yudi
Tak lama Aizam datang ke sana, dan melihat kakak dan adikya sedang masak.
“Kenapa kakak dan Ayu yang masak ? Kemana mama ?” Tanya Aizam
“Gak tahu mama dimana, mungkin ada di kamar Guntur” Jawab Ayu
“Kenapa kamu cari mama Zam ?” Tanya Yudi
“Aku mau tanya bukuku, yang di simpan di rak buku tapi gak ada di sana” Jawab Aizam
“Cari di kamarnya” Ucap Yudi
“Aku ke sana dulu ya kak, Yu” Ujar Aizam yang diaangguki oleh kakak dan adiknya
Setelah selesai menyiapkan semua makanannya, mereka sarapan bersama di latai karena mereka tidak memiliki meja makan.
*****
Setelah 15 menit sarapan, mereka berangkat ke sekolah.
“Ini bekal untuk kak Yudi, jangan sampai hilang ya nak” Ucap Lastri sambil memberikan uang 30 ribu
“Dan ini untuk Aizam” Lanjut Lastri sambil memberikan uang 10 ribu
“Kok aku di kasih 10 ribu sedangkan kakak 30 ribu ma ?” Tanya Aizam
“Sudah jangan protes, untung kamu di kasih uang juga. Kita itu bukan keluarga kaya, kita harus menghemat agar bisa bertahan hidup” Jawab Lastrid
“Kalau buat aku mana ma ?” Tanya Ayu
“Kamu gak usah bawa bekal uang, bawa bekal nasi saja biar hemat. Uang mama tinggal 40 ribu” Jawab Lastri membuat Ayu merasa sedih
“Kalau begitu kita berangkat ma, asslamu’alaikum” Ucap Ayu sambil menyalami tangan ibunya
“Wa’alaikumsalam” Jawab Lastri
Di perjalanan, karena mereka satu arah Yudi membagikan uang jajannya kepada adiknya, karena merasa kasihan.
“Ini buat kamu yu” Ucap Yudi yang memberikan uang 10 ribu pada Ayu
“Tidak usah kak, aku tadi sudah bawa bekal nasi dari rumah. Itu untuk kakak saja, takutnya kurang” Tolak Ayu
“Gak papa Yu, takutnya nanti kamu butuh untuk keperluan sekolah” Kata Yudi
“Makasih yah kak” Ujar Ayu
“Iya, tapi jangan bilang sama mama yah” Ucap Yudi
“Oke kak” Jawab Ayu
“Kenapa ya mama membedakan kita berempat ?” Tanya Aizam
“Maksud kamu gimana Zam ?” Tanya Yudi
“Kakak mengarasa gak kalau mama lebih sayang sama kakak di bandingkan sama kita, apalagi kepada Ayu. Apa kita bukan anak mama ya ?” Ujar Aizam
“Aku juga merasa begitu kak, aku selalu berpikir jangan-jangan aku bukan anak mama karena mama selalu sayang sama kalian dibandingkan sama aku” Timpal Ayu
“Kalian jangan berpikir seperti itu, mama sayang kok sama kita. Mungkin itu perasaan kalian saja” Jawab Yudi
Tak terasa Ayu dan Aizam sudah sampai di gerbang sekolah, sedangkan Yudi masih melanjutkan perjalanannya 15 menit lagi karena sekolahnya agak sedikit jauh dari pada sang adik.
“Kalian sudah sampai, kakak lanjut jalan ya” Ucap Yudi
“Iya kak, hati-hati di jalannya” Jawab Ayu
Lalu Yudi meninggalkan sekolah adiknya, Ayu dan Aizam masuk ke sekolahnya. Baru saja mereka melangkah, suara seseorang memanggil nama Ayu.
“Ayu …” Panggilnya
Ayu yang merasa namanya di panggil langsung menoleh …
“Devan, ada apa ?” Tanya Ayu
“Kakak ke kelas dulu ya, Yu” Ucap Aizam
“Iya kak” Jawab Ayu
“Zam, jangan lupa nanti kita Latihan basket” Ucap Devan
“Oke” Jawab Aizam sambil memberikan jempol
Sepeninggalan Aizam ke kelasnya, Ayu dan Devan pergi ke kelasnya bersama.
“Ada apa Van ?” Tanya Ayu mengulang
“Kamu udah PR matematika ? Kan sekarang di kumpulinnya, dan sekarang juga kita ada ulangan” Ujar Devan