Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.
Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EV — BAB 33
SESUATU YANG TERTINGGAL DI MASA LALU
Eliza menahan napas ketika ujung jari Vale masih berada di dekat lehernya, merapikan plester itu dengan gerakan singkat dan presisi, seolah ia sedang menutup celah kecil pada sesuatu yang jauh lebih rapuh dari sekadar kulit.
“Aku jarang tidur,” ucapnya datar. “Terlalu banyak hal yang bisa terjadi saat mata terpejam.”
Eliza menelan ludah. Kehangatan samar dari sentuhan singkat itu justru membuat tengkuknya dingin.
“Aku tidak tahu harus percaya pada siapa lagi,” katanya pelan, nyaris seperti pengakuan yang malu-malu. “Luis selalu membohongiku dengan kekerasan. Kau… Mungkin juga membohongiku, tapi dengan diam.”
Vale berdiri di sampingnya, menghadap potret besar itu. Cahaya lampu koridor jatuh pada garis wajahnya yang kaku, membuatnya tampak seperti patung marmer yang diberi nyawa setengah hati.
“Diam lebih aman daripada dusta,” jawabnya.
“Tidak bagi orang sepertiku.” Ia menoleh padanya. Mata perak itu menatap lurus, tanpa emosi yang mudah dibaca, namun cukup dalam untuk membuat Eliza merasa sedang dilihat—bukan sebagai tubuh, bukan sebagai alat, melainkan sebagai keputusan yang berbahaya.
“Veronica tidak selalu seperti ini,” ujar Vale akhirnya, suaranya lebih rendah. “Dulu… dia hanya gadis yang terlalu banyak bertanya dan terlalu sedikit dilindungi.”
Eliza menatap potret itu lagi. Senyum bengkok Veronica kecil tampak seperti luka yang belum sempat bernanah, tapi sudah pasti akan.
“Apa yang membuatnya berubah?”
Vale tidak segera menjawab. Ia menggeser pandangannya dari foto itu, menatap lorong panjang yang gelap di ujung sana, seakan masa lalu berdiri di sana menunggunya.
“Kehilangan,” katanya singkat. “Dan pilihan yang salah setelahnya.”
Eliza menghela napas perlahan. “Luis juga kehilangan. Tapi dia memilih menjadi monster.”
“Dan Veronica memilih menjadi api,” balas Vale dingin. “Keduanya membakar. Hanya caranya berbeda.”
Keheningan kembali turun, berat dan canggung.
Eliza memeluk dirinya sendiri, merasakan dinginnya marmer lantai merambat ke telapak kakinya. “Jika dia membenci Vale… lalu kenapa dia tidak membunuhmu saja?”
Sudut bibir Vale bergerak tipis. Bukan senyum. Lebih seperti bekas niat untuk tersenyum yang dibatalkan.
“Karena membunuhku terlalu cepat,” katanya.
“Dan Veronica tidak pernah menyukai hal yang cepat.”
Jawaban Vale menunjukkan bahwa Veronica benar-benar ingin menghancurkan kakaknya. Sementara Eliza— dia tidak tahu kenapa dia bisa masuk di tengah-tengah konflik yang belum selesai antara Holloway dan Vale.
“Bagaimana dengan keluargamu yang lain? Kau juga memiliki adik perempuan yang cantik!” ujar Eliza tersenyum tipis seolah dia mengingat adiknya juga.
Pria itu menatap ke foto tersebut, cukup dalam seperti mengorek luka lama.
“Mereka semua tewas bersama,” kata Vale.
Eliza berkernyit. “Karena apa?” tanya Eliza sedikit ragu dan waspada akan ucapannya sendiri.
Pria itu terdiam beberapa detik, seolah-olah dia maju-mundur saat harus menceritakan soal tewasnya keluarganya kepada orang asing. Rahang tegasnya berdenyut menandakan bahwa pria itu sedang mencoba tenang.
“Luis membakar mereka.” Jawab Vale singkat, mengejutkan.
Tak bisa berkata-kata, Eliza tercengang mendengar cerita itu. Ia menunduk, mencoba untuk tidak bereaksi berlebihan meski jujur saja, Vale memiliki cerita yang hampir sama seperti dirinya— dimana keluarganya juga dibunuh bersama, oleh Luis.
Pria itu melangkah satu kali, namun jarak mereka sudah cukup dekat dan tegang.
“Jangan khawatir, kau tidak terlibat apapun.”
“Dan sekarang mungkin aku akan terlibat. Aku ingin dia menyesal.” Kata Eliza dengan penuh tekad dan amarah.
Vale menyentuh pergelangan tangan Eliza dan cukup membuat wanita itu nampak gugup. “Kuatku dirimu dan fisikmu, maka kau akan seimbang.”
Pria itu memberikan ciuman singkat ke bibir Eliza, singkat namun tepat sasaran sebelum akhirnya dia melangkah pergi meninggalkan Eliza yang nampak terdiam dengan kekaguman tersendiri.
Eliza memilih ke kamarnya, dia duduk di ranjang yang dingin dan empuk, memikirkan persoalan antara Vale dan Holloway, serta amarahnya sendiri terhadap Luis. Namun ucapan Luis yang stau ini, benar-benar telah menggerogoti kepalanya.
(“Berharaplah agar dia tidak sama sepertiku!”)
Ia mengusap wajahnya hingga ke leher. Sampai di leher, Eliza merasakan plester yang Vale berikan. “Dia cukup mengamati... Seperti Luis, namun terlalu baik.” Gumam Eliza mencoba mengingat.
.
.
.
Beberapa jam berlalu cukup cepat. Angin Birmingham berhembus kencang di malam hari, memancarkan hawa dingin yang menusuk ke kulit.
Pabrik Vale masih tutup karena malam yang panjang. Namun si pemilik pabrik berdiri depan bangunan tersebut seraya menatap lurus ke lapangan luas nan tandus. Sementara anak buahnya baru saja mengeluarkan dua jasad dari dalam gudang dan menyeretnya ke kaki Nathaniel Vale.
“Tuan, dia masih sekarat.” Kata Lou ketika ikut meneliti kedua jasad tadi.
Vale dengan tatapan perak dinginnya, ia tak berbalik ataupun menoleh. “Habisi saja.” pintanya sedingin tatapannya.
Lou mengangguk, menoleh ke anak buah Vale yang lain dan memberikan anggukan kecil sebelum mereka benar-benar membunuh pria sekarat tadi dan membuangnya ke tempat yang aman atau membakarnya sampai menjadi abu.
“Beritahu Esme, suruh dia menemui Veronica. Aku perlu bicarakan hal ini dengannya.” Kata Vale.
“Tapi Tuan. Dia akan membunuh Anda, setelah apa yang sudah dia lakukan beberapa hari ini.” Ujar Lou yang sedikit cemas.
Tentu, saat tahu Vale kembali ke Birmingham. Veronica mengirim beberapa orang untuk mencoba membunuh kakaknya itu tanpa ampun, dan sekarang... Sekali lagi Vale selamat dari pembunuhan tersebut.
“Dia tidak akan bisa menyentuhku. Lakukan saja perintah ku.” Kata Vale yang menoleh ke Lou.
Tak bisa menolaknya, Lou mengangguk faham.
“Tunda jadwalku di perusahaan, besok aku harus mengurus perceraian Eliza dan pria bedebah itu, lalu menikahinya. Kau tahu maksudku...”
“Saya mengerti, Tuan.” Kata Lou yang selalu dapat diandalkan.
...***...
Semalaman Soraya tak tidur. Dia mencoba menutup mata, namun rasanya sangat sulit. Sesuatu mengiang di ingatannya setelah dia melihat dan mendengar samar-samar.
Wanita itu segera bangkit dari duduknya dan keluar, langkahnya seolah tengah mencari kebenarannya. “Ibu ada di rumah?” tanya nya kepada seorang pelayan.
“Nyonya Esperance baru saja keluar.”
“Keluar?”
Ya, setiap hari Rabu, Soraya menyadari satu hal tentang ibunya. Yaitu keluar di pagi-pagi buta lalu kembali dalam langit senja. Entah kemana Esperance pergi, namun itu cukup untuk meluangkan waktu bagi Soraya mencari tahu sesuatu.
“Di mana Cili?” tegas Soraya.
Pelayan bernama Cili itu, tengah sibuk membersihkan debu-debu kecil di meja maupun di rak-rak buku dan aksesoris. Ia fokus namun kedua matanya selalu terbuka lebar penuh percaya diri.
“Cili!”
Suara bak petir itu mengagetkan Cili dan membuatnya terlonjak kecil. “I-iya Nyonya... Anda butuh sesuatu?” tanya nya lembut.
Soraya memperhatikan keadaan sekitar, sebelum dia sedikit mendekat ke Cili.
“Kau melihat foto yang ada di ruangan itu kemarin, benar?”
Kedua mata Cili langsung terbelalak panik. Dia langsung berlutut menyentuh kaki Soraya. “Maafkan aku Nyonya... Aku benar-benar khilaf...”
“Hentikan itu dan berdirilah!” gertak Soraya yang akhirnya membuat Cili berdiri dengan wajah sedih penuh penyesalan, padahal itu hanya topeng dan semuanya berubah menjadi sumringah dan mata lebar saat Soraya bertanya soal...
“Kau selalu memiliki banyak telinga bukan. Katakan padaku, apa yang kau dengar dari percakapan Luis dan Elizabeth kemarin? Dan apa yang Eliza ucapkan saat dia melihat bingkai foto itu?”
“Ya... Itu, itu harusnya rahasia karena aku selalu menguping untuk diriku sendiri— ”
“Kau menentang ku?”
“Ti-tidak Nyonya. Maksudku... Aku hanya mendengar sebagian saja, kalau nyonya Elizabeth akan menikah dengan pria lain bernama Vale.” Ujar Cili begitu serius hingga kedua matanya melotot ingin keluar.
Soraya sendiri terkejut sampai memejamkan mata. -‘Bagaimana mungkin semua ini menjadi merambat?’ Batin Soraya yang bingung harus apa.
Beberapa tahu ternyata tidak cukup untuk menghentikan konflik keluarga.
“Vale... Dia kembali?”
...°°°...
Hai Guyssss!!!!! Aku sengaja up 3 x nihhh karena aku baik hati dan tidak sombong untuk kalian yang penasaran sekali uyyy...
Dan ini akan mengejutkan, aku kasih tau sedikit clue nya yaaa.... Sebenarnya, Ibu Vale namanya Rosemary, adik kandung Esperance. Dah itu aja sisanya nanti nyusul ya 😁
Jangan lupakan jejak semangatnya!!!!
Thanks and See Ya ^•^