Keira hanya ingin mengejutkan pacarnya di Italia, tapi justru dialah yang dikejutkan. Dikhianati di negeri asing, Keira nekat melampiaskan rasa sakit dengan cara yang gila memesan seorang gigolo. Sayangnya, ia salah kamar. Dan pria yang menatapnya di ranjang… bukan siapa-siapa, melainkan CEO termuda di Eropa, Dean Alferoz
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyCaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 - Pernikahan Keluarga Alferoz
Suasana di altar begitu megah, dihiasi bunga putih dan emas yang berkilau di bawah cahaya lembut lampu kristal. Musik lembut mengiringi langkah pasangan yang kini berdiri di depan pendeta.
Keira Adelina mengenakan gaun putih yang anggun, namun wajahnya tampak murung dan bibirnya menekuk pelan. Matanya tak berani menatap Dean Alferoz, pria yang kini berdiri di hadapannya pria yang akan menjadi suaminya bukan karena cinta, melainkan karena sebuah kesalahan.
Pendeta menatap mereka dengan penuh wibawa lalu berkata, “Saudara Dean Alferoz, apakah Anda bersedia menerima Keira Adelina sebagai istri sah Anda, untuk hidup bersama dalam suka dan duka, dalam kelimpahan maupun kekurangan, dalam kesehatan maupun sakit, dan tetap setia kepadanya sampai maut memisahkan?”
Dean menatap Keira lama. Ada ketegangan di matanya, campuran antara tanggung jawab dan penyesalan. Ia menarik napas panjang sebelum menjawab, “Saya bersedia.” Suaranya terdengar tegas, namun ada nada berat di dalamnya. Ia menatap Keira dan berkata pelan.
“Keira, mungkin ini bukan awal yang kamu harapkan. Tapi di hadapan Tuhan dan semua orang di sini, aku berjanji akan tetap berusaha menjadi suami yang bisa kamu andalkan. Aku akan menjagamu, menghormatimu, dan melindungimu sebisaku, bahkan jika hatimu belum mampu menerimaku hari ini.”
Keira masih menunduk. Jemarinya gemetar saat pendeta kini beralih padanya dan bertanya, “Saudari Keira Adelina, apakah Anda bersedia menerima Dean Alferoz sebagai suami sah Anda, untuk hidup bersamanya dalam suka dan duka, dalam kelimpahan maupun kekurangan, dalam kesehatan maupun sakit, dan tetap setia kepadanya sampai maut memisahkan?”
Keira terdiam lama. Semua mata tertuju padanya. Ia menggigit bibir, menahan gejolak di dada yang terasa berat. Akhirnya, dengan suara pelan nyaris bergetar, ia menjawab.
“Saya bersedia.” Ia menatap Dean sekilas, lalu berkata dengan nada datar namun jujur.
Hening menyelimuti ruangan sejenak sebelum pendeta kembali berbicara, “Dengan janji yang telah kalian ucapkan di hadapan Tuhan dan para saksi, saya nyatakan kalian sah menjadi suami dan istri. Semoga cinta, meski datang terlambat, tetap mampu tumbuh di antara kalian.”
Dean menatap Keira dengan lembut, mencoba tersenyum meski hatinya berat. Keira memalingkan wajah, matanya berkaca-kaca. Saat pendeta mempersilakan Dean mencium pengantin wanita, Dean hanya menunduk pelan dan mengecup punggung tangan Keira dengan hormat.
Tepuk tangan terdengar samar. Musik kembali mengalun, tapi suasana tak lagi sepenuhnya bahagia. Di altar yang megah itu, dua jiwa kini terikat bukan oleh cinta yang hangat, melainkan oleh takdir yang belum sempat mereka pahami.
“Akhirnya anak itu menikah apa karena ini sumpah serapah ku untung saja Kei belum hamil benar kan sayang,”ucap Anggun terharu menghapus air mata nya.
“Bocah bodoh untung dia berani bertanggung jawab jika tidak aku akan mencoret nya dari Alferoz,”tajam Reno menatap ke arah putra nya dengan wajah datar.
Satu hari sebelumnya…
“Wah apa ini rumah atau istana apa kau sebenarnya seorang pangeran?”tanya Kei dengan kaget melihat mansion Alferoz.
Ya setelah kejadian beberapa waktu lalu akhirnya Kei menyetujui pernikahan itu dia juga tidak memiliki apa lagi untuk bertahan sendirian, dan dia menemukan Dean.
“Sebenarnya anda tidak perlu bertanggung jawab, lagi pula saya yang mengira anda pria bayaran. Di lihat dari rumah anda sepertinya anda bukan orang sembarangan, pasti anda bisa memilih gadis lain.”jelas gadis itu kepada Dean.
Langkah kaki pria itu berhenti tepat di depan pintu masuk mansion Alferoz, Keira menatap nya dengan canggung. Dia belum terbiasa di tatap Dean pria itu sangat suka menatap nya sangat intens.
Dia salah tingkah Dean adalah pria yang sangat tampan, nyaris sempurna di mata nya, dengan menunduk sedikit karena Keira lebih pendek dari Dean pria itu mencubit pipi Keira dengan kuat.
“Arghhh sakit!!!”teriak Kei dengan marah.
“Siapa yang mau bertanggung jawab untuk siapa? Kau yang bertanggung jawab karena mengambil keperjakaan ku, ikut aku sekarang,”ucap Dean menarik tangan gadis itu dan menuntun masuk ke dalam mansion.
Langkah kaki mereka masuk ke dalam mansion megah itu Keira benar benar takjub dari segala sisi arah mansion itu, hingga akhirnya dia sampai pada titik di sebuah ruang tamu ada seorang gadis cantik di sana, ah kenapa dia mirip dengan Dean.
Lalu seorang wanita dan juga pria yang juga sama cantik dan tampan, Keira seketika merasa malu dia menunduk. Wanita yang terlihat berwibawa itu mendekat ke arah Dean, lalu dengan kuat nya sebuah tamparan mendarat.
Plak…
“DEAN ALFEROZ!”teriak Anggun dengan penuh emosi.
“Ya nyonya Anggun Alferoz,”dongkak pria itu menatap mommy nya dengan santai.
“Hah astaga, apa kau baik baik saja. Anu tante,”gugup Keira benar benar tidak tau harus bereaksi seperti apa karena wanita itu tiba tiba menampar Dean.
“Dean! Mommy tidak pernah mengajarkan hal mu hal buruk, apakah seorang wanita adalah mainan bagi mu, seorang wanita juga harus di hormati! Kau merusak masa depan gadis ini Dean, kau punya kakak perempuan!”teriak Anggun dengan emosi.
Keira menutup mulut nya dia benar benar tidak bisa bereaksi seperti apa lagi, karena Dean benar benar seperti di interogasi apakah keluarga nya tau, Kei kira kehidupan di Roma cukup bebas. Hal seperti ini sudah biasa tapi kenapa pria itu tidak? Bahkan ibu nya sangat marah.
“Mom, Dean selalu tau mana yang salah dan benar. Tapi gadis ini menggoda Dean, dia datang untuk bertanggung jawab dan menikahi Dean, Keira Adelina, benar bukan? Kau akan bertanggung jawab?”tanya Dean mengalihkan perhatian nya kepada Kei.
“A a a aku? I i iya, aku bertanggung jawab!”ucap gadis itu dengan polos seolah di tekan oleh Dean.
Brak…
Lagi lagi sebuah pukulan datang lagi mengenai Dean melainkan sekarang bukan dari wanita itu, tapi dari seorang gadis cantik yang mirip dengan Dean, Dhea Alferoz. Gadis itu memukul tengkuk kembaran nya itu kasar.
“Dhea! Sakit!”kesal Dean kepada kakak nya itu.
“Bodoh, seharusnya kau yang bertanggung jawab bukan gadis ini, dasar Dean bodoh!”teriak Dhea kesal kepada pria itu.
“Astaga Dean, Dhea benar. Kau harus nya bertanggung jawab kenapa malah Keira,”hela nafas Anggun.
“Dia yang mengambil keperjakaan ku mom, walaupun dia juga baru per—,”belum sempat Dean melanjutkan perkataannya Keira menutup mulut Dean.
“Tanpa di jelaskan mereka sudah paham! Kenapa kau membuat ku malu!”kesal Keira kepada Dean.
“Hei kau berani membentak seorang Dean Alferoz!”kesal Dean kepada Keira.
“Aku berani! Dean Alferoz!”teriak Anggun kesal kepada anak nya.
“Iya Mom, Dad. Aku akan menikahi nya, kapan ya? Besok,”jawab pria itu singkat.
“HAH BESOK?!”teriak Keira membuat keluarga Alferoz kaget.