Pedang Langit adalah sebuah pedang yang ditempah dari logam terkuat dari tujuh semesta oleh Sin Sai Sebelum menjadi penguasa langit ribuan tahun yang lalu.
Sin Sai hanya manusia biasa yang memiliki kesaktian yang amat dahsyat. Ia sungguh manusia tak terkalahkan. Bahkan, para Dewa pun tidak dapat menandingi kehebatannya.
Karena kekuatan besar yang dimiliki oleh Sin Sai ketika itu, Dewan Langit kemudian bersepakat untuk mengangkat Sin Sai yang hanya manusia biasa menjadi Raja Langit demi melindungi Negeri Langit dari serangan Raja Naga Merah yang hendak menghancurkan Negeri Langit dan menguasai alam semesta.
Dewan Langit tidak sia-sia mengangkat Sin Sai menjadi raja di Negeri Langit. Sin Sai berhasil menghancurkan pasukan Raja Naga Merah ketika menyerang Negeri Langit.
Walaupun Sin Sai berhasil melindungi Negeri Langit, Keluarga Yong tidak rela jika harus menjadi bawahan seorang manusia biasa. Mereka kemudian berusaha menyingkirkan Sin Sai dan semua keturunannya dari Negeri Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IE Dyozh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 9 - Keputusan Raja Langit
Beberapa menit berselang, akhirnya Dewi Rara pun tiba di kediamannya.
“Nak, selamat datang kembali,” sapa Sin Toga.
Sin Toga yang sedang duduk-duduk di ruang tamu kediamannya, bangkit, lalu berjalan menghampiri Dewi Rara.
“Ayah apa kabar?” tanya Dewi Rara lembut. Ia kemudian memberi hormat kepada Sin Toga.
“Baik ... ." jawab Sin Toga, "kamu bagaimana?” tanya Sin Toga sambil tersenyum hangat.
“Baik, Ayah!” jawab Dewi Rara lembut.
“Oiya ayah, aku ingin istirahat dulu, besok aku akan menemui yang mulia raja,” ucap Dewi Rara lesu.
Sin Toga hanya bisa tersenyum pedih. Hatinya amat sedih melihat putrinya berlalu meninggalkannya. Ia bisa merasakan kegundahan yang dialami putrinya. Ia menyadari betul, putrinya yang dulu periang dan penuh semangat kini berubah menjadi wanita yang dingin dan tampak tidak memiliki semangat.
Sintoga benar-benar menyadari tindakannya beberapa waktu yang lalu, telah berhasil menghancurkan hidup putrinya. Ia benar-benar menyesal, karena dialah yang meminta Raja Langit agar mengutus Dewi Rara ke bumi. Padahal sebelumnya Raja Langit telah memilih Dewa Perang untuk mengatasi masalah di bumi.
“Aku harus menebus kesalahanku! Semua yang dialami putriku adalah karena aku!” gumam Sin Toga menyalahkan dirinya sendiri.
Sintoga benar-benar bingung menghadapi situasi yang sedang menerpa putrinya. Ia hanya bisa berjanji kepada dirinya sendiri, akan melakukan apapun untuk menebus semua kesalahannya.
Di sisi lain, Dewi Rara terlihat merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia tak dapat memejamkan mata. Terpampang jelas dibenaknya akan sikap Pangeran Yong ketika melihat luka di wajahnya. Sebenarnya ia sudah menduga hal itu akan terjadi. Namun tetap saja, sebagai seorang wanita yang pernah dipuji dan dipuja oleh segenap penduduk langit, tentu tidak mudah untuk ia menerima kenyataan pahit ini. Ia merasa dilecehkan dan dihinakan oleh orang yang dahulu teramat menginginkannya.
***
Keesokan harinya, Dewi Rara menerima panggilan dari pihak istana. Ia harus menemui Raja Langit.
Dengan didampingi oleh Sin Toga, Dewi Rara berangkat menuju istana.
Di ruangan singgasana raja, terlihat para menteri dan para pejabat istana lainnya telah mengambil posisi mereka masing-masing.
Raja Langit yang sedang melakukan percakapan dengan salah satu menterinya segera menghentikan percakapannya ketika menyadari Dewi Rara dan Sin Toga sudah berada di hadapannya.
“Hormat yang mulia, hamba datang ingin memberi laporan,” ucap Dewi Rara sambil membungkuk memberi hormat.
Raja Langit senang melihat kedatangan Dewi Rara. Namun di sisi lain, ia bingung melihat penampilan Dewi Rara yang tidak seperti biasanya.
Raja Langit kemudian mempersilahkan Dewi Rara menyampaikan laporan.
Setelah menyampaikan laporan singkat terkait misi yang baru saja ia selesaikan, Dewi Rara kemudian menyinggung masalah pertunangannya dengan Pangeran Yong.
“Yang mulia Raja, maaf jika aku lancang ... ," Dewi Rara menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya, "aku ingin membatalkan pertunanganku dengan Pangeran Yong.” Suara Dewi Rara terdengar agak bergetar.
“Apa maksudmu?” pekik Raja Langit. la terlihat murka.
Dewi Rara tidak langsung menjawab pertanyaan Raja Langit. Ia justru membuka penutup wajahnya dan memberanikan diri memandang wajah Raja Langit.
Ekspresi wajah Raja Langit tiba-tiba berubah ketika melihat wajah Dewi Rara yang hampir tidak dikenalinya lagi.
Raja Langit kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Pangeran Yong yang berdiri di sampingnya. sesaat kemudia ia alihkan pandangannya ke arah Sin Toga yang berdiri tidak jauh di belakang Dewi Rara.
“Tetua Sin, Apa yang terjadi?” tanya Raja Langit.
Sin Toga kemudian menceritakan semua hal yang terkait dengan luka yang dialami Dewi Rara. Ia juga menyampaikan bahwa akan mendukung apapun keputusan Dewi Rara terkait pertunangannya itu.
Raja Langit kemudian melayangkan pertanyaan, “Yong, bagaimana menurutmu?”
Pangeran Yong hanya membisu. Ia terlihat kebingungan mendengar pertanyaan Raja langit.
Sin Toga yang melihat sikap Pangeran Yong hanya bisa mengumpat dalam hati, “Dasar Lelaki tak berguna.”
Di sisi lain, para menteri dan semua orang yang berada di ruangan itu terlihat senang. Namun ada pula yang terlihat simpati melihat apa yang menimpa Dewi Rara. Mereka semua lebih memilih diam dan tidak ikut campur dengan urusan pribadi keluarga kerajaan.
Terlukis perasaan kecewa dan malu di wajah Raja Langit. Ia tidak menyangka, Pangeran Yong yang sebelumnya amat menginginkan Dewi Rara kini bersikap dingin dan tidak punya rasa simpati sama sekali.
“Baiklah, urusan ini aku serahkan kepada kalian saja. Itu terserah kalian berdua,” ucap Raja Langit tegas. Ia kemudian melangkah meninggalkan singgasananya.
Pangeran Yong yang sedari tadi hanya tertunduk membisu juga pergi meninggalkan ruangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Melihat Raja Langit dan Pangeran Yong pergi, Dewi Rara dan Sin Toga juga bergerak meninggalkan istana. Terlihat jelas kesedihan di wajah keduanya.
Saat tiba di luar kawasan istana, Dewi Rara yang berjalan di belakang ayahnya tiba-tiba menghentikan langkah.
"Ayah, semalam aku sudah memikirkannya matang-matang. Aku lebih memilih menjadi makhluk fana dan tinggal di bumi dari pada harus menjadi aib bagi Kerajaan Langit,” ungkap Dewi Rara lirih.
Terlihat butiran air dari mata sebelah kanannya jatuh membasahi pipinya. Meskipun ia tidak pernah menyangka akan mengalami kondisi seperti itu, Dewi Rara sudah ikhlas atas takdir yang harus dijalaninya. Hanya saja dia tidak siap untuk pergi meninggalkan ayahnya.
“Aku harap ayah bisa merelakan kepergianku!” ucap Dewi Rara terisak-isak.
Sin Toga tak menoleh kebelakang. Ia memilih diam. Ia tak tahu harus berkata apa untuk menghibur anak semata wayangnya itu.
Dewi Rara tertegun beberapa saat. Ia menunggu ayahnya bicara.
Beberapa saat pun berlalu dengan keheningan. Sin Toga tak kunjung bereaksi. Ia hanya berdiri mematung sambil menahan perih di hatinya.
Dewi Rara akhirnya memutar haluan. Ia pun melesat meninggalkan ayahnya menuju Gerbang Bumi.
Air mata jatuh membasahi pipi Sin Toga. Ia hanya bisa pasrah dan membiarkan anaknya pergi. Dia hanya bisa menggumam, “Selamat jalan nak, Ayah akan segera menyusulmu. Ayah akan melakukan apapun untuk menebus semua kesalahan Ayah."
***
"Buka gerbang!" perintah Dewi Rara saat tiba di depan Gerbang Bumi.
"Maaf Dewi, tapi sungguh kami tidak dibenarkan untuk membuka Gerbang Bumi jika tidak ada pemberitahuan sebelumnya dari pihak istana," tegas salah seorang penjaga.
"Hahaha." Dewi Rara tertawa kecut. "Kalau begitu, aku akan memaksa." Dewi Rara kemudian menyerang penjaga.
Walaupun kekuatan para penjaga jauh di bawah kekuatan Dewi Rara, namun jumlah mereka yang banyak cukup membuat Dewi Rara kewalahan.
Hanya berselang beberapa menit, sebagian besar para penjaga sudah tumbang. hanya tersisa dua orang yang masih bertahan, namun kondisinya dalam keadaan terluka parah.
"Bagaimana, kalian masih ingin menghalangiku?" tanya Dewi Rara dingin.
"Maaf Dewi, kami tidak boleh melanggar aturan," ucap penjaga itu mencoba membujuk.
"Hahaha, rupanya kalian sudah bosan hidup!" pekik Dewi Rara.
Saat Dewi Rara hendak menyerang kedua penjaga yang tersisa, tiba-tiba terdengar suara memekik dari arah belakang.
"Tunggu!"
Para penjaga langsung memberi hormat ketika Pangeran Yong tiba di hadapannya.
"Biarkan ia lewat!" perintah Pangeran Yong.
Kedua penjaga itu segera membuka Gerbang Bumi.
"Rara, aku i-" Pangeran Yong tidak melanjutkan kata-katanya.
Dewi Rara melesat dan menghilang di balik gerbang.