NovelToon NovelToon
Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:453.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ariz Kopi

Siapa yang tahu tentang jodoh kita, karena tugas kita hanya berihtiar menemukanya..

Asam di gunung, garam di laut dan pada ahirnya bertemu jua di belanga.
Tak ubahnya seperti mereka berdua yang sama sama menolak untuk di jodohkan, tapi saling jatuh cinta tanpa tahu bahwa mereka saling lari dari perjodohan yang di buat oleh kedua orang tuanya. Juwahir, gadis cantik yang di jodohkan dengan Gus Ali, adalah seorang Hafidzul Qur'an, dia yang mewarnai hari hari di masa kecil Gus Ali dan menyisakan beberapa kenangan yang kurang mengenakkan.

Ipda Nuril, seorang Polisi Wanita yang sangat manis dengan seragam dinasnya juga Jilbab rapi yang selalu membungkus kepalanya.

Kemanakah hati Gus Ali akan berlabuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariz Kopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Taruni Nuril 0764

Happy Reading...

🍁🍁🍁🍁🍁🍁

Hari-hari sudah berlalu dengan cepat, dan sampai juga ahirnya di ujung pekan. Dan beberapa hari kebelakang yang lalu selalu di isi oleh Gus Ali dengan kesibukan mempersipakan interview juga sekaligus dengan harap-harap cemas menanti keputusannya.

Dan setelah keputusannya keluar kemarin, Gus Ali malah terlihat sedikit murung, meski masih tidak terlihat sedih juga. Padahal keputusannya Gus Ali di terima, tapi kenapa Gus Ali malah sedih. Itu karena telefon dari Bunda Ikah yang menggamangkan hatinya, untuk keputusan yang sebelumnya sudah Gus Ali ambil.

Selama 25 tahun umurnya, Bunda Ikah tidak pernah sekalipun meminta apa-apa kepada Gus Ali, selain dari hari ini. Hari ini, Gus Ali menyaksikan kristal bening luruh dari pelupuk mata Bunda Ikah, saat mendengar bahwa Gus Ali di terima dan akan langsung menetap Jakarta, dan memintanya untuk mempertimbangkan lagi keputusan Gus Ali.

Dengan sangat berat Gus Ali harus memilih antara ridho Ibunya dan keinginannya yang selalu di penuhi oleh orang tuanya sebelum sebelumnya. Memang Bunda Ikah tidak mengatakan bahwa tidak boleh, hanya saja kata yang di balut dengan bahasa menghiba oleh Bunda Ikah, benar-benar membuat Gus Ali menjadi ragu jika harus tetap disini.

Hembusan nafas berat berkali-kali Gus Ali ambil, hingga itu juga di sadari oleh Gus Hafidz yanh sedari kemarin sudah memperhatikan gelagat Gus Ali yang seolah sedang bergulat batin. Dan memang Gus Hafidz sengaja menunggu waktu yang tepat untuk berbicara dengan Gus Ali.

"Mas, mari ikut saya." Ujar Gus Hafidz kepada Gus Ali.

Gus Alipun menutup kitab Ihya' Ulumudin yang tengah berada di tangannya, lantas dengan tersenyum samar ke arah Gus Hafidz, Gus Ali beridiri dan mengikuti langkah Gus Hafidz yang menuju keruangan lain.

Di ruangan benuansa putih salju ini, Gus Hafidz mendudukan dirinya di sebuah sofa panjang di tengah-tengah ruangan yang penuh berjajarkan kitab-kitab, baik itu cetakan lama ataupun baru.

Setelah Gus Ali ikut mendudukan dirinya di sofa, Gus Hafidz kembali berdiri lantas melangkah ke salah satu rak kitab yang berada di sudut ruangan itu. Dan tak lama kembali lagi ke sofa dimana Gus Ali berada dengan membawa sebuah buku cerita anak-anak yang di letakan di atas meja.

"Lho, tak kira ini cuma kitab-kitab saja, Dek." Ucap Gus Ali sambil meraih buku kisah 25 Nabi dan Rosul dari atas meja.

Buku cerita tebal dengan gambar warna-warni khas anak kecil itu sudah berada di tangan Gus Ali dan halam perhalaman juga sudah di bukanya, sembari tersenyum Gus Ali bergumam pelan. "Saya juga punya buku seperti ini, kalau tidak salah Bunda membelikan buku seperti ini waktu Saya baru masuk TK." Ujar Gus Ali.

"Itu juga dari Bunda, Mas. Semua yang masa kecilnya sering bersama Bunda pasti juga punya buku itu. Kak Lia, Mbak Fika, Mbak Lala juga saya. Karena Bunda selalu membagi cintanya sama rata untuk semuanya dan sedikit berlebih untuk Mas Ali." Ucap Gus Hafidz, dan itu membuat wajah Gus Ali kembali di liputi ke bimbangan.

Kembali helaan nafas berat terdengar dari Gus Ali dan di letakan kembali buku berwarna-warni itu di atas meja sambil berucap pelan. "Itu juga yang tengah saya pikirkan dari kemarin, Dek. Dan rasanya akan tidak ada barokahnya Ilmu saya jika terus menginginkan apa yang tidak di inginkan oleh Bunda. Padahal keinginan Bunda hanya sederhana ingin lebih dekat dengan saya setelah sekian lamanya kami terpisah jarak yang jauh." Tutur Gus Ali.

"Dan apa yang Mas Ali akan lakukan."

"Sepertinya memberi kesempatan untuk yang lain akan lebih baik, sekaligus Ridho Bunda juga saya dapat." Jawab Gus Ali dengan menyungingkan senyum.

Gus Hafidz juga tersenyum mendengar penuturan Gus Ali. "Bunda memang tidak pernah mencegah kita untuk pergi jauh darinya dan memilih menyokong kita, terlebih jika itu berhubungan dengan Ilmu. Tapi, di balik itu semua ada kesedihan yang selalu berusaha di sembunyikan dari kita, yakni menahan Rindu untuk kita semua yang sekarang sudah jarang sekali bisa berkumpul seperti dulu ketika masih kecil."

"Itu karena memang semua sudah memiliki tangung jawab masing-masing, Dek." Timpal Gus Ali.

"Oleh karena itu, dengan keberadaan Mas Ali di dekat Bunda, tidak akan begitu berat Rindu Bunda untuk kami semua." Jawab Gus Hafidz.

Keduanya lantas tersenyum penuh makna, dan larut dalam perbincangan hangat membahas masa kecil mereka hingga ketukan-ketukan kecil dari pintu membuat meraka berdua menghentikan perbincangan hangat ini, dan setelah pintu dari ruang perpustakan di buka menyumpal lah kepala kecil dari Putri Gus Hafidz.

Tubuh kecil itu segera berayun menuju ke Abinya dan langsung duduk di pangkuannya dengan wajah cemberut, persis seperti Lily jika sedang ngambek dan ingin mengadu kepada dr.Rama.

"Cantiknya ilang lho kalau cemberut." Ucap Gus Ali, dan dengan cepat mata bulat Ning Diva melirik ke arah Gus Ali, namun hanya sebentar saja dan kembali cemberut sembari melupat tangannya di dada.

"Kenapa cantiknya, Abi.?" Ucap Gus Hafidz sambil membalikan tubuh kecil Ning Diva agar menghadapnya.

"Umi nakal." Jawabnya singkat.

"Nakal kenapa.?" Tanya Gus Ali dengan telaten.

"Umi tidak bolehin Kang Santri ngantar Diva."

"Umi bukan nakal, tapi Umi benar. Karena Kang Santri masih ngaji, jadi tidak boleh di ganggu." Jawab Gus Hafidz.

"Memang Ndhok Diva mau di antar kemana.?" Tanya Gus Ali.

"Beli Bubur Ayam." Jawabnya.

"Beli Bubur Ayam..?" Kata Gus Ali dan Gus Hafidz hampir bersamaan.

"Kok beli Bubur Ayam. Umi sudah masak buat semuanya, kan kasihan Umi capek-capek masak enggak di makan." Ucap Ning Diva.

"Abi, Ndhok Diva beli bukan di makan. Hari ini kan hari Sabtu. Abi ingat.?" Tutur bibir kecil itu.

Gus Hafidz pura-pura sedang berfikir sebentar sebelum ahirnya menjawab ucapan Putrinya tersebut. "Tapi hari ini Abi juga sibuk."

"Gimana kalau beli Bubur Ayamnya sama Apoh saja.?" Tawar Gus Ali sambil menyungingkan senyum manisnya, dan dengan cepat gadis kecil itu langsung melompat bahagia, karena acara rutinnya tidak terganggu.

"Baik Apoh, Ndhok Diva ganti kerudung sama ambil topi." Ucapnya dan langsung bergegas pergi dari ruang perpustakaan pribadi Gus Hafidz.

Gus Ali yang memang tidak tahu menahu dimana membelinya atau seberapa jauh tempatnya, hanya bisa memandang punggung gadis kecil yang tengah bersorak gembira itu sampai hilang di balik pintu.

"Kok ganti Jilbab, ambil topi.?" Tanya Gus Ali ke Gus Hafidz.

"Itu kegiatan rutin setiap hari Sabtu Ndhok Diva, Mas. Berbagi rezeki, dan dari kemarin dia sudah minta hari Sabtu ini mau beli bubur di dekat Asrama Polwan, sekalian mau lihat baris-baris panjang katanya." Gus Ali menelan salivanya mendengar ucapan Gus Hafidz. "Dna satu lagi, Ndhok Diva jika hari Sabtu tidak mau kendaraan bermotor maunya naik sepeda ontel biar sehat." Lanjut Gus Hafidz, dan itu sontak membuat Gus Ali makin bengong, dan membayangkan letak rumah Gus Hafidz yang lumayan akan muter muter jika harus sampai ke Asrama Polwan.

Setidaknya Gus Ali sudah lewat beberapa kali saat hendak ke Kampus, jadi lumayan cukup hafal. Dan belum Gus Ali mencari Mas Naufal untuk di ajak pergi bersama, Ning Diva sudah datang lebih dulu dengan perlengkapannya dan tas slempang kecil yang berisi uang yang sudah di kumpulkannya selama seminggu untuk hari ini.

🍁🍁🍁🍁🍁🍁

Peluh Gus Ali bercucuran padahal Jam di tangan masih menunjukan pukul 07.30. waktu seharusnya biasanya di desa masih sangat sejuk dengan suara-suara burung yang sedang berkicau. Masih dengan menggunakan baju koko dan sarung warna putih serta lengkap dengan pecinya Gus Ali mengayuh sepeda Ontel mengkilap dengan Ning Diva yang menjadi petunjuk arah baginya.

Sampai di tempat yang di tuju, Ning Diva tidak memerdulikan lagi Gus Ali yang tidak terbiasa dengan panas Ibu Kota dan juga masih menata sepedanya agar rapi terjajar di pinggir jalan. Ning Diva malah langsung ke stand penjual Bubur Ayam dan memberikan semua uangnya ke Ibu paruh baya yang sedang jualan, padahal keadaan stand itu sedang rame sekali.

"Maaf, Bu." Ucap Gus Ali kepada Ibu penjual Bubur Ayam, dan mengajak Ning Diva untuk antri, agar tidak menganggu pembeli yang lain.

"Tidak apa-apa." Ucap Ibu penjual dengan mengulas senyum ramahnya. Lantas Gus Ali dan Ning Divapun berjalan menuju kursi yang berjajar di bawah pohon Mahoni hitam. Gus Ali yang merasa kepanasanpun melepaskan Baju Kokonya hingga menyisakan kaos putih polos, yang di buatnya untuk lapisan dalam dan menaruhnya di atas sepedanya.

Gus Ali yang berjalan menuju ke arah Ning Diva sedikit tercengang, saat melihat Ning Diva tengah berbincang akrab dengan seorang Ibu muda yang tangannya sekali kali menjawil pipi tembem Ning Diva yang makin kelihatan tembem dengan jilbab warna orange yang sedikit kekecilan.

Saat Ning Diva menunjuk Gus Ali dan di ikuti juga oleh dua Ibu muda tersebut, Gus Alipun menyungingkan senyumnya sambil terus berjalan ke arah Ning Diva.

"Assalamu'alaikum, Ustadz. Saya kira tadi Mbak Diva sama Uminya atau sama Kang Santri, tidak tahunya sama saudaranya." Sapa wanita muda itu dengan menyungingkan senyum ramah.

"Wa'alaikumussalam." Jawab Gus Ali lantas berdiri tidak jauh dari tempat mereka sedang duduk.

Gus Ali lantas fokus ke arah ponselnya dengan sesekali memperhatikan Ning Diva yang masih senantiasa tertawa-tawa dengan Ibu muda tersebut. Dan dari pembicaraan itu dapat di ketahui jika Ibu Muda tersebut adalah Ibu teman sekolah Ning Diva di taman kanak-kanak.

Ibu Muda itu berpamitan kepada Gus Ali dan juga Ning Diva setelah pesanannya selesai di layani dan meninggalkan mereka saja yang tinggal berdua.

"Bang, ini tadi uang adiknya 150 ribu. Apa mau di bungkuskan semua." Ucap Ibu penjual Bubur Ayam sembari menunjukan uang yang tadi di berikan oleh Ning Diva.

"Harganya perporsi berapa, Bu.?"

"Lima Belas ribu, Bang." Jawab Ibu Penjual sembari mengulas senyumnya.

"Ibu Buburnya Dua habis piket bersih-bersih ya." Tiba-tiba teriak seorang gadis di balik tembok tinggi yang hanya menyumpalkan kepalanya saja. Dan tanpa menunggu jawaban dari Ibu Penjual kepala itu sudah menghilang lagi,

Sadar dengan Gus Ali yang tengah terbengong melihat tembok, Ibu penjual Bubur Ayam segera menjelasakan jika sudah biasa jika setiap hari Sabtu dan Minggu anak-anak penghuni Asrama Polwan membeli Buburnya, bahkan ada salah satu yang selalu jadi langganannya dan selalu membayarnya lebih.

"Biasa Bang, Calon Polwan. Tembok segitu hanya buat panjatan." Ujar Ibu Penjual Bubur Ayam menjelaskan. "Terus ini jadinya berapa Bubur Ayamnya.?" Lanjut Ibu penjual Bubur Ayam.

"Seadanya itu, di bungkus semua, Bu." Jawab Gus Ali.

Gus Ali masih tetap menatap tembok tinggi yang tadi menyumpalkan kepala seseorang yang suaranya seperti tidak asing di dengar olehnya. Dan seluruh ingatan yang di kerahkan oleh Gus Ali nyatanya tidak juga menemukan milik siapa suara yang tak asing itu. Hingga tanpa sadar tangan Gus Ali sudah di tarik oleh Ning Diva dan berdiri di pagar besi dan memperlihatkan aktifitas di dalam tembok yang tadi di lihatnya.

Gadis-gadis dengan seragam yang sama, bahkan tinggi badan dan bentuk badan juga hampir sama semua, tengah berjajar rapi membentuk kelompok masing masing dengan peralatan bersih-bersih. Dan setiap kelompoknya di ketuai oleh satu orang yang memberi arahan kepada mereka. Lantas berjalan dengan taratur dan rapi menuju tempat yang sudah di tentukan sebelumnya.

"Mungkin ini yang di maksud dengan Dek Hafidz, Ndhok Diva ingin melihat Baris-Baris panjang." Batin Gus Ali lantas mengajak Ning Diva untuk kembali Duduk di tempatnya tadi, karena sadar saat ini Gus Ali sedang jadi perhatian bagi gadis-gadis di dalam yang sekarang sudah mulai bersih-bersih.

Namun, Ning Diva enggan untuk di ajak kembali duduk, dan Gus Alipun ahirnya memilih untuk memunggungi mereka semua dan tetap di samping Ning Diva, hingga mereka semua usai bersih-bersih lantas membubarkan diri, berbarengan dengan panggilan oleh Ibu Penjual Bubur Ayam kepada Gus Ali.

"Bang, ini buburnya tinggal 30 bungkus saja, dan yang dua saya ambil untuk Taruni yang pesan tadi, jadi 28." Ucap Ibu Penjual Bubur Ayam, dan tanpa berkata apa-apa Gus Ali langsung memberikan 3 lembar uang pecahan seratus ribuan. Lantas mulai menata Bubur pesanannya di sepeda serta memakai kembali baju kokonya.

"Bu, sudah selesai." Kembali suara itu muncul di balik tembok tinggi dan Gus Alipun ikut memutar kepalanya untuk melihat wajah gadis di tembok itu.

"Sudah Kak. Sebentar ya." Jawab Ibu penjual Bubur Ayam, sembari memberikan uang kembalian untuk Gus Ali.

"Sudah untuk Sampean saja, Bu." Ucap Gus Ali lantas berpamitan dengan di iringi rasa syukur dari penjual Bubur Ayam tersebut. Dan mengajak Ning Diva untuk segera pergi dari tempat itu, belum langkah Gus Ali menjauh dari situ, kembali di panggil oleh Ibu penjual Bubur untuk di mintai tolong memberikan Bubur gadis Taruni Polwan itu, karena tangan Ibu itu tidak sampai.

Dengan menunduk dan tidak mau menatap wajah gadis di tembok, Gus Alipun memberikan Bubur Ayam degan hanya mengacungkan tangannya.

"Terima kasih, Mas." Ucap Gadis Taruni Polwan dengan sopan, dan berbarengan dengan itu panggilan secara lantang terdengar hingga membuat Gus Ali menganggkat kepalanya dan terlambat karena sang empunya nama sudah menghilang.

"Taruni Nuril 0764."

"Siap.." Suara dari gadis Taruni dan menghilang dari tembok.

Bersambung...

####

Hemm, ini sebenernya Polwanya siapa sih...

Polwanya masih sekolah 😅😅😅😅😅

Like, Coment dan Votenya masih di tunggu enggeh.

Love Love Love...

💖💖💖💖💖💖

By: Ariz kopi

@maydina862

1
M
lamaaaaaa sekali gak di up kak aurhor?. sy selalu menunggu. tolong buatin seson 2 ny kak author. cerita anak gus ali dan juju./Smile/
mak,, ini kapan update nya lagi mak othor??!
Leni Ani
ya aku aja yg baca juga pusing mak😆😆😅😅😅😅
Mmh Liya
Alhamdulillah, bersyukur banget ada lanjutannya, mksh Mak
h-a-z-z
seminggu baru nyadar karena ada update an baru......
kangennya ampe meluber luber kayak air kali ciliwung ato air bengawan solo..... akhirnya keee lauuuuuttt.... eeehh akhirnya update.... 😍😍😍😍😍😍😍😍😍🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
lope sekebon korma di Arab
lope lope domba se Jerman
lope kangguru se Australia.....
😘😘😘😘😘😘💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
yusa
beli daster di toko bakso??? udah ganti sekarang klu jualan daster di toko bakso 🤔🤔🤯
rika widiawati
bikin gemes aja tingkahy,,,lagi hamil x ya senengy bikin mas ai bingung trs mas ai yg ngerasain ngidamy...
Elizabeth Zulfa
keknya Nuril lagi hamil ya... trus dedeknya g mau deket2 ma abinya soalnya hidung lagi sensitif 😁😁
Ririe Handay
laporan ma bunda ikah mas ai biar ikut dicarikan solusinya.....


terimakasih Mak Mae update nya setelah sekian windu🤭🤭✌️✌️
Ririe Handay
tanda2 nih
Ismi Yati
ojo suwe2 yo maaakk
M
alhamdulillah... setelah sekian lama menunggu akhirnya di up lagi. juju Hamil.
Asti Astiani
sampe lupa alurnya kak
Rhiedha Nasrowi
Masya Allah gak nyangka kalo ada update lagi, , makasih ya Mak😘😘😘😘dan ditunggu selanjutnya 🥰🥰🥰
Azizah
maturnuwun bobchap nya Mak 🙏😘
Azizah
wah.... pasti tanda2 itu😍
bieb
👍👍
M
ini emang Uda tamat / ada exstra partnya anak mereka (nuril hamil kayaknya).?
EMAH FARID
serunya bkin penasaran dag dig dug ser 😁😁
JandaQueen
harusnya 4 dong... gus ali, juju, nuril dan mak author, si biang kerok yg muter2in jodoh mu bang ustadz..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!