Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20 Kemarahan.
Aluna pertama kali sarapan bersama dengan keluarga suaminya.
"Aluna bagaimana tidur kamu apa nyenyak?" tanya Risma.
"Lumayan Ma," jawabnya.
"Kenapa lumayan Aluna? Apa kamar Ravindra tidak terlalu nyaman untuk kamu?" tanya Haryono.
"Tidak Pa. Kamarnya luas dan nyaman. Hanya saja mungkin Aluna memang belum bisa menyesuaikan diri," jawab Aluna.
"Ravindra, kamu tidak menyuruh istri kamu untuk tidur di lantai bukan?" tanya Risma menatap penuh curiga pada Ravindra.
"Apa aku terlihat sekejam itu sampai melakukan hal segila itu?" tanya Ravindra.
"Tidak. Mama yakin kamu tidak mungkin melakukan hal itu. Mama tahu siapa kamu. Kamu merupakan anak yang sangat baik dan penurut dan selalu memperlakukan wanita dengan sangat lembut dan juga istimewa,"
"Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk!" Aluna langsung tersedak minuman mendengar pujian dari ibu mertuanya itu kepada pria di sebelahnya.
"Aluna apa baik-baik saja?" tanya Risma.
"I-iya. Ma," jawab Aluna dengan terbata.
"Istimewa bagaimana, tidur di ranjang saja harus bergantian," batin Aluna dengan menghela nafas.
"Jadi ada menantu di rumah ini dan tidak ada satupun yang memberitahu kepada saya!" di tengah sarapan itu tiba-tiba suara celetukan terdengar membuat mata semua tertuju kepada mereka.
Terlihat wanita 70 tahunan dengan wajah pedas tampak pada wajah keriputnya. Aluna kebingungan melihat wanita tersebut dengan penuh pertanyaan.
"Ma," sahut Risma berdiri dari tempat duduknya.
"Mama kenapa tiba-tiba bisa berada di sini dan seharusnya mengatakan terlebih dahulu kepada kami agar saya bisa menjemput Mama di Bandara," ucap Risma.
"Jika saya mengatakan akan datang ke Jakarta dan bukankah kalian akan memiliki waktu untuk mengarang cerita bagaimana mungkin Ravindra bisa menikah tanpa sepengetahuan saya," ucap Rami.
Aluna berada di dalam posisi itu mulai merasa tidak enak, entahlah apa yang terjadi pada keluarga itu sampai-sampai wanita tua yang dipanggil mama itu tidak diundang di acara pernikahan mereka.
"Mama jangan langsung salah paham seperti itu," sahut Haryono.
"Istri kamu yang meminta kepada kamu untuk tidak memberitahukan Mama tentang pernikahan ini?" tebak Haryono.
"Ma sudahlah, Mama baru sampai dan tidak ada gunanya membicarakan hal itu," sahut Haryono.
"Aluna kemarilah. Ini benar Ravindra. Ayo kamu salim," ucap Risma.
Aluna menganggukkan kepala dan kemudian langsung berdiri menghampiri Rami.
Aluna mengulurkan tangannya ingin mencium tangan tersebut terlebih dahulu tetapi wanita itu menatapnya tajam. Aluna merasa kebingungan seperti dirinya tidak diterima.
"Saya Aluna Nek," ucap Aluna berbicara dengan sangat lembut memperkenalkan diri.
Plakk
Rami tiba-tiba saja melayangkan tamparan ke pipi Aluna membuat semua orang kaget sampai-sampai Ravindra berdiri dari tempat duduknya.
"Ma!" tegur Haryono.
Aluna masih schok dengan wajahnya miring ke samping dan pipinya tertutup di rambut panjangnya.
"Kamu berani-beraninya muncul di hadapan saya setelah kamu mempermalukan keluarga ini?"
"Di mana harga diri kamu masih melanjutkan pernikahan ini setelah kamu mempermainkan semua orang," umpat Rima melampiaskan amarah yang terpendam kepada Aluna yang dia ketahui wanita itu dijodohkan pada cucunya dan memilih lari di hari pernikahannya.
Aluna seumur hidupnya tidak pernah mendapatkan tamparan dan meski hubungannya dengan Abinya kurang baik, Aluna benar-benar schok sampai tidak bisa berkata-kata dengan air mata yang jatuh.
"Apa yang Mama lakukan?" tanya Risma.
"Ini alasan kalian tidak mengatakan pernikahan ini kepada saya. Alasannya agar wanita ini menjadi menantu di rumah ini. Apa kalian semua sudah gila!" umpat Rami
"Hey kamu, lihat saya!" Rami memegang kedua bahu Aluna dengan menggoyang-goyangkan tubuh kecil itu.
"Kamu sudah tidak punya harga diri atau sudah tidak ada laki-laki yang mau menikahi kamu hah! Sehingga kamu mengatur rencana dan agar cucu saya menikah dengan kamu, menikah dengan wanita yang tidak tahu diri seperti kamu, wanita bekas!" ucap Rami melontarkan kata-kata kasar kepada Aluna dan bahkan kemarahannya mendorong tubuh Aluna dan untung saja Ravindra sudah menghampiri istrinya dan menahan tubuh tersebut.
"Nek cukup!" Ravindra juga mengambil sikap dan dia bukanlah pengecut yang hanya diam di tempatnya disaat Aluna diperlakuan kurang baik.
"Nenek benar-benar kecewa kepada kamu, bagimana mungkin kamu punya pikiran untuk melanjutkan perjodohan dengan wanita yang sudah mempermalukan keluarga kita! Apa orang tua kamu memaksa kamu untuk menikahi wanita tidak tahu diri seperti dia!" tegas Rami menunjuk-nunjuk Aluna dan sejak tadi Aluna hanya diam saja.
Tidak ada pembelaan yang dia keluarkan karena memang semua kesalahannya dan pantas mendapatkan makian seperti itu.
"Ma sudah cukup!" tegas Haryono.
"Kamu juga sebagai suami tidak tegas dan terus menuruti istri kamu!" bentak Rima yang juga marah terhadap putranya.
"Baik, semua ini kesalahan saya dan tolong hentikan semua ini!" tegas Risma.
"Saya yang meminta Ravindra untuk melanjutkan perjodohan ini dan saya juga meminta Aluna untuk melanjutkan perjodohan ini sebagai tanda permintaan maaf. Aluna juga tidak setuju, saya melanjutkan semua ini karena Ravindra setuju. Saya tahu jika saya membicarakan semua ini dengan Mama dan maka Mama tidak akan pernah setuju, tetapi bukan berarti kami tidak ingin menyampaikan pernikahan ini,"
"Mereka melakukan ijab kabul pernikahan secara sah dan agama tetapi belum mengadakan resepsi, pernikahan hanya diadakan sederhana. Ini juga keputusan bersama jadi tolong jangan hanya menyalahkan Aluna!" tegas Risma memberi penjelasan kepada Ibu mertuanya.
"Apa yang terjadi di masa lalu sudah berlalu. Ini semua bentuk pelajaran dan Aluna juga menyadari kesalahannya, dia juga belajar dari kesalahannya dan semua orang juga salah. Mama tolong jangan pernah mengaitkan semua ini lagi!" tegas Risma.
"Jadi maksud kamu kita semua akan melupakan perbuatan wanita ini. Di mana harkat dan martabat keluarga ini yang sudah dihancurkan oleh wanita ini dan sekarang kamu menjadikan wanita ini sebagai menantu di rumah ini!" tegas Risma.
"Ravindra, kamu sebaiknya bawa Aluna!" titah Haryono.
Dia juga mengerti bagaimana perasaan Aluna dan tidak mungkin membiarkan Aluna terus mendengarkan makian dan pelampiasan kemarahan dari ibunya terhadap seseorang yang mencoreng nama keluarga mereka.
"Baik. Pa!" Ravindra menganggukkan kepala dan merangkul istrinya itu dengan membawanya pergi dari tempat tersebut.
"Mama tidak seharusnya memperlakukan Aluna seperti itu. Keluarganya menitipkan dia kepada keluarga ini bukan untuk mendapatkan kekerasan!" tegas Haryono.
"Bahkan saya masih ingin melakukan hal yang lebih parah lagi kepada wanita itu," sahut Rami.
Haryono sudah tidak dapat berkata-kata lagi dan begitu juga dengan Risma. Mungkin kesalahan mereka yang seharusnya membicarakan pernikahan itu terlebih dahulu agar Rami tidak kaget dan sampai bertindak gegabah kepada Aluna.
Sementara Aluna sudah berada di dalam mobil bersama dengan suaminya. Mobil itu berhenti di depan Perusahaan. Sejak di jalan Aluna tampak diam saja, masih kaget dengan apa yang telah dia dapatkan.
"Kita sudah sampai dan ingat apa yang kita bicarakan kemarin malam tentang hubungan kita di Perusahaan. Apa yang terjadi tadi pagi anggap saja sebagai pelajaran berharga untuk kamu, karena setiap perbuatan pasti ada resiko yang ditanggung. Semua orang berhak marah dan kecewa, jadi jangan merasa bahwa kamu tersakiti," ucap Ravindra.
Aluna tidak merespon apapun yang dikatakan suaminya. Ravindra membuka sabuk pengamannya dan kemudian membuka pintu mobil, sebelum Ravindra keluar dari mobil ternyata meletakkan hansaplast di depan Aluna.
Ravindra sejak tadi melihat pipi istrinya terluka akibat tamparan dari neneknya.
Bersambung....