Sepertinya alam semesta ingin bercanda denganku, orang yang ku cintai meninggalkanku di saat mendekati hari pernikahan kami. meninggalkan luka yang menurutku tidak ada obat untuk menyembukannya walaupun dia kembali untuk minta maaf.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon olip05, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 9
Swastamita..
Aku mengerjapkan mataku, jam sudah menunujukan pukul lima sore, aku beranjak dari kasur menuju kamar mandi untuk cuci muka, setelah itu aku keluar kamar untuk mengambil air minum di dapur. Aku melihat dapur sudah rapih dan bersih ternyata arun berbakat juga untuk bersih-bersih dapur, aku juga melihat ke meja makan dan melihat masakanku habis hanya ada beberapa masakan yang sisa, aku senang melihatnya berarti tadi arun makan masakanku sampai habis dan dia menyukai masakanku. Aku melihat ke sekeliling ruangan dan mendapati arun sedang tidur di sofa ruang tamu, kesian sekali dia pasti cape. habis perjalanan bisnis malah tidur di sofa, kenapa tidak tidur di kamar saja bisa-bisa badannya tambah pegal tidur di sofa.
Aku bangunkan saja ya biar dia pindah tidur ke kamar, ah tapi aku takut ngeganggu tidurnya. Tuhkan pules banget tidurnya. Aku berjongkok di hadapan wajahnya, manis sekali dia tidur seperti wajah anak-anak yang polos. Aku jadi ingat semasa aku bersama abian, ketika abian sedang tidur dan susah untuk di bangunkan aku akan menggambar coretan di wajahnya, kemudian setelah abian bangun dan melihat wajahnya di kaca kamar mandi, dia akan menghampiriku dan menghujamiku dengan ciuman di pipi, haha kenapa aku bodoh sekali. kenapa aku harus mengingat abian lagi, satu tetes air mata lolos dari mataku setiap aku mengingat abian air mataku juga akan keluar, walaupun aku kecewa karena dia telah meninggalkanku tapi tetap saja aku tidak bisa bohongi hatiku kalau hatiku sangat merindukannya, masih sangat mencintainya.
“kamu sedang apa?“ tanya arun, aku kaget mendengar suara arun tidak seharusnya aku melamun di hadapan wajahnya yang sedang tidur bisa-bisa arun berpikiran yang macam-macam tentangku.
“eumm tadinya aku mau membangunkanmu, tapi melihat tidurmu sangat nyenyak aku jadi tidak tega membangunkanmu“ jawabku terbata-bata, sambil memamerkan senyum tidak enak. Dan aku bangun dari posisi jongkokku
“terus kamu mengambil kesempatan memandangi wajah tampanku ketika aku sedang tidur, begitu?” sarkas arus sambil senyum miring dengan mata sayu khas orang bangun tidur
“ikh siapa yang memandangi wajah kamu ya, tadi tuh di wajah kamu ada nyamuk. Aku mau tepuk nyamuknya tapi takut kamu kebangun“ jawabku bohong, aduuh dari mana aku punya talenta berbicara bohong sangat lancar begini
“aku nggak akan kebangun ko kalau kamu nepuk nyamuknya pake bibir kamu“ kata arun sambil berjalan meninggalkan aku yang melongo mendengar ucpannya barusan. Apa maksudnya apa dia ingin aku menciumnya. Haih apa yang aku pikirkan aku tahu bahwa kita sama-sama dewasa dan kita sudah suami istri yang sah di hadapan agama dan negara tapi tidak ada cinta di antara kami. Kami menikah karena keadaan yang memaksa kami untuk menikah.
***
Aku sudah beres melakukan ritual mandiku, dan perutku sepertinya minta di isi. Aku lupa kalau dari tadi siang aku belum makan pantesan saja perutku berbunyi terus, aku mencari arun untuk mengajaknya makan malam bersama tapi arun tidak ada di ruang tamu, tidak ada juga di dapur apa dia di ruang kerjanya ya. Ketika aku mau mengetuk pintu ruang kerjanya arun keluar dari ruangannya.
“mau apa?” tanya arun dengan mengerutkan alisnya mendapati aku ada di depan pintu ruang kerjanya.
“aku mau mengajakmu makan malam, kamu belum makan malamkan?” dengan muka datar arun berjalan begitu saja tanpa menjawab ajakanku, aku hanya memanyunkan bibirku sambil mengekorinya dari belakang dan arun berjalan menuju meja makan berarti dia menerima ajakanku untuk makan malam. Aku langsung mengambil piring untuk kami berdua
“segini cukup nasinya?” tanyaku sambil memperlihatkan porsi nasi yang aku ambil untuknya, arun hanya menjawab dengan anggukan masih dengan wajah datarnya. Kamipun makan dalam hening tidak ada obrolan antara kami. Sebenarnya aku sangat canggung dalam keadaan berdua begini dengan arun aku pun bingung mau mulai obrolan dari mana.
“bagaimana keadaan kakimu, apa sudah membaik atau masih sakit?” tanya arun setelah selesai dengan makannya
“oh kaki ku, sudah membaik ko cuma kalau ke senggol dikit jadi perih lagi“ jawabku dengan ramah sambil senyum
“lain kali hati-hati” ucap arun dengan wajah datar, kemudian dia beranjak dari duduknya dan meninggalkan meja makan.
“oiya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan tentang kejelasan hubungan kita, nanti setelah kamu membereskan meja makan mari kita bicarakan tentang rumah tangga kita ini“ ucap arun
Kejelasan hubungan apa, bukankah sudah jelas kalau hubungan kami ini suami istri, oh atau arun meminta haknya sebagai suami, aduuh kenapa aku jadi gelisah gini si. Aku pun beres membersihkan bekas makan kami dan berjalan menuju kamar, aku melihat sekeliling kamar tapi aku tidak melihat arun. Aku berjalan menuju balkon ternyata arun sedang duduk di sofa yang ada di balkon.
“ehemmm.” aku berdehem agar arun menyadari aku sudah datang.
Arun melirik ke arahku dengan muka datarnya, kemudian arun menepuk sofa yang ada di sampingnya yang mengisyaratkan agar aku duduk di sebelahnya.
Aku menunggu arun untuk berbicara tapi setelah sekian menit arun tidak mengeluarkan kata apapun, karena aku tidak mau berlama berada dalam keadaan yang sunyi ini. Maka aku akan bertanya lebih dahulu
“katanya ada yang mau di bicarain, tapi ko dari tadi diam mulu?” tanyaku ramah sambil melirik ke arahnya.
“aku bingung mau mulai dari mana memulai pembicaraannya“ jawab arun tanpa melihat ke arahku
Haha lucu sekali seorang pembisnis yang sering bertemu dengan banyak orang tapi bingung saat mau memulai pembicaraannya denganku, baiklah aku yang akan memimpin pembicaraan ini. saat aku mau mulai bicara arun terlebih dahulu mengeluarkan suara. aku mingkem lagi tidak jadi bicara
“begini..” ucap arun menggantung. “kita sama-sama tahu bahwa pernikahan kita tidak dilandasi dengan cinta. aku menikahimu secara terpaksa untuk menolong kamu, tapi sekarang kita sudah menjadi suami istri yang sah di mata agama dan negara“ lanjut arun
Hatiku kembali sakit mengingat abian meninggalkan aku di saat menjelang hari pernikahan kami, mataku rasanya perih jika mengingat abian lagi, tapi aku nggak boleh menangis di hadapan arun, aku tidak mau terlihat lemah. Aku harus menerima kenyataan bahwa aku sudah menjadi istri lelaki di sampingku.
“dan kita tidak boleh mempermainkan pernikahan ini, karena pernikahan adalah hal yang sakral. Jadi mari kita coba jalani pernikahan ini jika salah satu di antara kita sudah tidak kuat bertahan maka kita akan pisah secara baik-baik.“ ucap arun lagi, sekarang dia menoleh ke arahku, aku melihat dia tersenyum tipis.
“kamu mengerti yang apa aku ucapkan” tanya arun
“iya aku mengerti, bagaimana kalau kita memulai hubungan kita ini sebagai teman.?" Ucapku memberi saran, tidak ada salahnya jika aku dan arun saling mengenal secara perlahan seperti seorang teman. Arun tidak langsung menjawab sepertinya dia memikirkan apa yang aku katakan.
“baikalah sekarang kita berteman“ kata arun sambil senyum manis, senyumnya sangat manis. Ini pertama kali aku melihat arun tersenyum manis padaku.
“namaku swastamita mahawira“ ucapku sambil menjulurkan tangan pada arun.
Arun menerima uluran tanganku sambil terkekekh “arunika repangga hakim“ ucap arun, kami berdua sama-sama saling tersenyum, kami memulai pertemanan kami dengan perkenalan. Karena saat bertemu pertama kali di di altar penikahan jadi tidak sempat berkenalan dengan baik.
“jadi sekarang kita resmi menjadi teman yang berstatus suami istri“ ucap arun lagi
Aku terkekeh mendengar ucapan arun, entah sampai kapan kami akan bertahan dalam pernikahan ini. biarkan saja sekarang berjalan seperti ini menjadi teman yang berstatus suami istri.