NovelToon NovelToon
Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot (But Lillaahita'Alaa)

Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot (But Lillaahita'Alaa)

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Patahhati / Tamat
Popularitas:512.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Oot Nasrudin

Judul: "LOVE IS NOT BASED ON BIBIT BEBET BOBOT" [Linbo BBB]

Pada umumnya, cinta selalu memandang harta, tahta, dan kasta. Lalu, bagaimana dengan Khumaira? Seorang gadis biasa, tidak kaya, dan berasal dari keluarga yang amat sederhana. Yang tengah patah hati lantaran bibit-bebet-bobot yang tidak sepadan. Adakah kiranya seseorang yang akan mencintai dia tanpa melihat latar belakangnya?


Dari sinilah, kisah "Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot" bermula ....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oot Nasrudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Hanya Kamu

...☕🍜Sekuat apa pun hatimu, setegar apa pun senyummu, setangguh apa pun dadamu. Tetap saja, kesedihan yang bersemayam di hatimu selalu butuh diungkapkan. Meski kau tak ingin, ungkapkan saja! Pada sesiapa kau merasa paling nyaman. Pada teman pilihan, atau pada Sang Tuhan🍜☕...

Deru motor semakin mendekat ke halaman kontrakan, sesaat menyatu dengan deru mesin jahit yang sedang dioperasikan oleh gadis berjilbab warna mustard.

Suara langkah kaki mendekati kontrakan Maira.

Seorang gadis berseragam coklat masih mengenakan helm menghampiri Maira yang tengah sibuk dengan mesin jahitnya.

"Assalamu'alaaikum."

"Wa'alaaikumsalam."

Maira terheran-heran melihat ekspresi sahabatnya yang terlihat buru-buru sekali, seperti ada sesuatu yang harus segera disampaikan.

Maira membesarkan bola matanya. Menunjukkan ekspresi penuh tanya.

"Asal kamu tahu saja, aku sudah menahan ini sejak semalam!" ujar gadis yang kepalanya masih dibungkus helm.

Maira mengernyit. "Jadi kamu langsung kemari karena kamu sudah tidak sanggup menahannya sejak semalam?"

Maira mengimbangi drama sahabatnya. Yang diimbangi semakin menjadi, ia mendengus dan melipat tangan di depan dada.

"Aku kesal tahu! Semalam aku mau langsung bercerita tapi sahabatku ini tampaknya sedang galau, alhasil kutahan kekesalanku sampai sekarang!" Salwa mendengus.

Maira mengunci mulut saat mendengar Salwa mengatai dirinya sedang galau. Memang benar, sih, tapi, Maira agak kurang tidak terima dikatain galau. Dan ia jadi teringat seseorang yang belakangan ini kerap mengatai dirinya galau. Ehem! Si gondrong itu.

"Dan lagi, aku sampai rela tidak nongkrong dulu bareng teman-teman, rela langsung pulang layaknya anak gadis yang teladan. Lihatlah! Betapa sahabatmu ini sangat keren, bukan?"

Maira menggelengkan kepala. Ia mematikan mesin jahit. Tampaknya drama semakin seru.

"Jika sampai orangtuaku tahu pada sore ini putri semata wayangnya telah menjelma menjadi gadis teladan, tentu dia akan menggelar syukuran."

Eh buset! Makin menjadi saja gadis satu ini. Maira sampai menelan ludah berkali-kali.

"Kau tahu, sahabatku? Kemarin sore ada anak bau kencur bonceng tiga memanggil aku IBU!" Salwa menangkupkan kedua tangannya ke wajah. Malu dan kesal campur menjadi satu. Merengek sebal di balik tangkupan tangannya.

Dibanding kasihan atau iba, sikap Salwa itu justru membuat Maira ingin menabok. Bukankah dia itu memang seorang ibu? Ibu polisi maksudnya. Masa iya orang-orang harus memanggil dengan sebutan Kakak Polisi? Wah, bukankah itu malah kaku sekali? Sudah macam kasir minimarket dan SPG di Mall saja.

Silakan, Kakak. Boleh, Kakak. Silakan! Silakan!

Seketika suara para SPG yang biasa ada di Mall-Mall terngiang-ngiang di telinga Maira.

Namun, Maira tak mau menjelaskannya pada Salwa. Ia hanya berekspresi datar sembari menahan rasa ingin nabok.

"Mai," ucap Salwa dengan suara lirih. Ia mengintip melalui sela-sela jari yang masih menangkup wajahnya. Setengah berbisik ia berkata, "Jangan cerita ke Iky soal ini, yaaa ...."

Hah??? Sejenak Maira mencerna apa yang diucapkan Salwa. Sejurus kemudian tawanya meledak.

Maira tak tahan dengan apa yang dilakukan oleh Salwa. Ia larut dalam tawanya, sekuat mungkin menahan tapi semakin ditahan semakin membuat sakit perut.

"Jadi semua pengorbanan yang kamu lakukan hari ini adalah hanya demi tidak ketahuan oleh Iky kalau kamu habis dipanggil ibu-ibu sama tiga anak bau kencur itu? Ha-ha-ha ... receh banget sumpah kamu Sal!" ujar Maira sembari memegangi perutnya. Ia terus merasa geli. Hal itu membuat wajah Salwa semakin memerah. Kini, tangannya sudah tidak menangkup wajahnya. Ia tampak bersungut-sungut melihat Maira yang terus menertawakan dirinya.

Antara malu dan kesal, Salwa tidak bisa berbuat apa-apa. Kadung bercerita pada Maira, dan khawatir kalau Maira sampai membocorkannya pada Iky, ia tak bisa berbuat banyak selain lari dari kenyataan, yaitu lari dari ditertawai habis-habisan oleh Maira.

Dengan pipi mengembung, Salwa melenggang pergi meninggalkan Maira. Ia langsung masuk ke kontrakan masih diiringi suara tawa Maira yang semakin lama didengar semakin terdengar mengejek saja.

Maira mengakhiri tawanya, walau semakin diingat semakin lucu, tapi tetap saja tertawa sendirian sangatlah tidak menarik. Apalagi kalau sampai ada orang lain yang melihat ia cekikikan sendiri, bisa-bisa ia disangka sedang mengalami gejala sakit jiwa.

***

Malam sudah membungkus kota Jakarta. Maira telah selesai dengan jahitannya. Dress brokat warna merah milik Ibu Ria sudah siap diambil. Ia memakaikan dress itu pada sebuah manekin. Sengaja belum dilipat, supaya esok ketika pemiliknya datang bisa melihat terlebih dahulu dressnya yang cantik membalut tubuh manekin. Dikenakan pada manekin saja terlihat indah, apalagi jika dikenakan pada tubuh manusia?

Maira memandangi dress itu dengan perasaan puas dan senang. Tinggal menanti jawaban Ibu Ria kapan beliau bisa mengambil dress miliknya. Ia pandangi sekali lagi, lalu menghela napas lega.

Ia segera membereskan peralatan jahit dan menyapu potongan benang di lantai. Setelahnya ia mandi lalu melaksanakan sholat 'isya. Malam ini rencana Maira adalah hendak membicarakan mengenai dirinya yang hendak pulang kampung.

Waktu menunjukkan pukul 20.30 WIB. Maira keluar dari dalam kontrakannya. Masih sepi. Tumben sekali Salwa belum siap nangkring di teras, padahal biasanya, Maira belum selesai menjahit saja dia sudah paling bising mengganggu Maira bekerja. Jangan-jangan Salwa masih senang dengan hoby barunya, yaitu bersungut-sungut. Ah! Lucu sekali wajah yang merajuk itu. Maira membayangkan ekspresi sahabatnya.

Akhirnya, Maira memutuskan mengetuk pintu kontrakan Salwa.

Tok-Tok-Tok ....

"Kakak Polisii ... oh, Kakak Polisi ... Jom, pigi main!"

Agaknya sifat jahil Maira kambuh. Entah sejak kapan ia pandai menirukan kartun anak kembar berkepala botak itu.

Hening.

Maira mengetuk lagi dan mengulangi ucapan yang sama. Namun, masih tidak ada jawaban.

Sedangkan di dalam Salwa menahan geli mendengar suara Maira yang sok-sokan Melayu. Salwa menyembunyikan seluruh tubuhnya di balik selimut. Sejak sore tadi Salwa memang kesal pada Maira. Saking kesalnya ia sampai-sampai langsung pergi mandi begitu masuk ke dalam rumah. Lalu, bermalas-malasan di atas tempat tidur sampai sekarang.

Maira tak henti-hentinya mengetuk pintu Salwa. Sengaja memang, ia tahu Salwa pasti sedang sok-sokan merajuk. Mana boleh sudah tua main ngambek-ngambekkan. Malu sama anak kemarin sore.

Akhirnya, Salwa pun tak tahan mendengar Maira yang terus bising mengetuk pintu dan sok-sokan berbahasa Melayu.

Ceklek!

Kepala Salwa nongol dari balik pintu. Bibirnya mengerucut, lalu menyeringai mendapati Maira berkekspresi datar.

"Ayo, lupakan perkara ibu-ibu! Ada yang jauh lebih penting yang harus kamu dan Iky tahu," ucap Maira seraya memilih tempat duduk ternyaman di atas ubin.

Salwa mengikuti Maira. Kali ini raut wajahnya sungguh-sungguh.

Ketika siap menceritakan, ponsel Maira berbunyi. Sebuah chat masuk dari kontak dengan nama Iky.

Iky: Kak, Mau kebab?

"Chat dari Iky, mau kebab, nggak?" tanya Maira pada Salwa.

Salwa mengangguk senang.

Maira: Iya mau.

Iky: Ok.

"Kalau gitu tunggu Iky datang dulu, ya, biar nanti aku nggak perlu capek-capek cerita dua kali."

"Ok. Aku ambil minum dulu, deh." Salwa bangkit dari duduknya.

"Kamu mau menyuapku, ya?" ujar Maira.

Salwa melongo.

"Kamu tidak perlu repot-repot menyuapku, kok, aman!" Maira menyeringai, mengangkat-angkat kedua alisnya sengaja memberi kode mengingatkan Salwa perkara ibu-ibu yang khawatir dibocorkan pada Rizky.

Salwa langsung memahami. "Ish! Maiii!!!" rengeknya sembari menghentakkan kaki.

"Ha-ha-ha! Habisnya tak biasanya kamu mau mengambil minum. Biasanya kalau sudah duduk kamu paling mager disuruh ngapa-ngapain." Maira tergelak.

Salwa melenggang masuk rumah untuk mengambil minuman. Mengabaikan Maira yang sedang mencoba meledeknya. Tak lama kemudian, Salwa keluar menenteng 3 botol softdrink dan satu kotak bolu dengan kemasan kardus berwarna ungu.

"Ini oleh-oleh dari Bogor. Kemarin mama yang antar, gadisnya sendiri belum boleh menyentuh kue ini sebelum Maira dan Iky memakannya terlebih dahulu." Salwa menjelaskan dengan nada jengkel. Ia meletakkan bawaannya ke atas ubin.

"Sebenarnya yang anaknya aku atau kalian berdua, sih. Aku curiga, jangan-jangan aku cuma anak pungut!"

Eh? Maira membesarkan matanya. Mencoba menerka apakah Salwa sedang bicara sungguhan atau hanya gurauan.

"Buktinya, kenapa pula mereka kekeuh ingin aku jadi polisi? Tega sekali membiarkan anak gadis semata wayangnya saban hari kena debu jalanan. Ironisnya, rawan dipanggil ibu-ibu. Kenapa coba nggak nyuruh yang lain, jadi gurukah, jadi dokterkah, jadi pengacarakah. Huh!"

"Untung ada kamu, Mai. Betapa tidak kubayangkan andai bukan kamu yang menjadi alasan kuat supaya aku bisa tinggal sendiri di sini. Kalau tidak, mungkin sampai saat ini aku harus selalu menuruti kemauan mereka."

Hening.

Salwa berusaha menelan sesuatu yang tiba-tiba mengganjal tenggorokannya.

"Aku selalu bersyukur punya teman seperti kamu dan Iky. Setidaknya sepulang kerja selalu ada harapan bahwa ada yang senantiasa menantiku di rumah, tentu saja dengan sambutan yang jauh lebih baik dibanding sepasang mata yang hampir keluar dari tempatnya setiap kali melihat aku pulang terlambat."

Tanpa sadar gadis berambut sebahu itu baru saja mengeluh. Mulanya terdengar sedikit ada gurauan, namun, sepertinya semakin dibiarkan semakin terdengar sungguhan.

Mungkin memang benar dia tengah merasa lelah dengan pekerjaannya, hari ini dia pulang lebih cepat dari biasanya bukan sekadar sudah tak tahan ingin mengungkapkan rasa kesal lantaran dipanggil ibu-ibu. Toh, sepertinya itu bukanlah kali pertama ia dipanggil ibu-ibu. Pasti ada hal lain yang lebih dari itu.

Sebagai sahabat yang baik, Maira mendengarkan dan memperhatikan Salwa mengungkapkan seluruh perasaannya. Ia tatap lamat-lamat wajah sahabatnya. Terlihat jelas gurat lelah di sana, namun, polisi cantik ini tampak masih kesulitan untuk mengungkapkan.

Tentu saja Maira mengerti. Lain daripada dirinya, profesi menjahit adalah hal yang ia sukai. Lelah dan penatnya tentu berbeda dengan Salwa yang jelas melakoni profesi sebagai polisi bukanlah hal yang di sukainya. Pasti tidak mudah, menjalaninya saja tidak mudah apalagi untuk menjelaskan? Sungguh! Hal seperti ini adalah hal yang memang sulit untuk diungkapkan.

Tidak diungkapkan semakin sesak, diungkapkan tidak tahu hendak memulainya dari mana. Pernahkah terbayangkan atau merasakan bagaimana rasanya melakukan hal yang tidak kita sukai? Mungkin rasanya jauh lebih lelah hati dan pikiran dibanding lelah badan. Ingin berhenti jelas tidak mungkin, semua sudah telanjur basah. Jalan satu-satunya adalah berusaha mencintai apa yang sudah dilakoni. Itulah kiranya yang sedang diusahakan mati-matian oleh gadis cantik berambut sebahu.

Kali ini, polisi cantik itu sedang lelah. Mungkin setelah berkali-kali ia mencoba, namun, hasilnya masih tak jauh beda. Ia belum bisa mencintai profesinya.

Bola mata yang biasanya selalu berbinar bahagia, kini, tampak cairan bening melapisi permukaannya. Seulas senyum menggantung di bibir, terlihat jelas betapa gadis itu sangat menahan butiran air agar tidak jatuh.

"Menangislah, hatimu yang patah takkan melihat air matamu yang jatuh," lirih Maira diakhiri seulas senyum yang ia buat setulus mungkin, spesial untuk sahabatnya yang tengah patah.

Cairan bening telah memenuhi mata, tanpa berkedip pun, dalam hitungan detik pasti akan terjatuh.

Tes!

Satu butir air mata sukses meluncur melintasi pipinya yang halus. Disusul dengan butiran-butiran berikutnya.

Akhirnya, gadis cantik yang biasanya tampak kuat dan keren dengan seragam coklatnya, dengan sepasang mata yang selalu berbinar bahagia, tegas dan memesona. Kini, mata itu tengah basah dipenuhi oleh cairan bening melapisi permukaannya.

Salwa semakin tergugu, memeluk erat kedua lututnya. Menunduk semakin dalam menyembunyikan air mata.

Maira mendekat, mendekap sahabatnya. Tak terasa rinai hujan pun mulai menjuntai dari kedua matanya, tanpa suara.

Satu menit, hening.

Dua menit, masih sunyi.

Tiga menit. Cukup.

Mereka adalah gadis-gadis yang kuat. Mereka tak mau berlama-lama dan tak mau terlalu banyak mengeluarkan air mata. Menangis hanyalah obat pereda, namun, bukan solusi.

Tak boleh terlalu sering menahan tangis, pun tak boleh menangis terlalu lama. Karena menangis terlalu lama hanya membuat kita semakin lemah dan semakin larut dalam kesedihan. Jadikan menangis hanya sebagai pereda dan penenang ketika lidah benar-benar sudah tak mampu berkata-kata.

Sekali lagi, menangis bukan solusi.

Maira dan Salwa saling merenggangkan pelukannya. Keduanya saling melempar senyum. Saling diam sesaat. Mengatur napas kembali, dan membuat energi baru.

***

Setiap orang diuji dengan cara yang berbeda-beda. Tak boleh merasa paling berat beban hidupnya, tak boleh merasa paling terluka hatinya.

Ada banyak sekali di luaran sana yang mungkin beban hidupnya jauh lebih berat, lukanya jauh lebih sakit. Tetapi, mereka tidak berisik merengek dan mengeluh. Bahkan selalu riuh dengan rasa syukur.

Demikianlah kehidupan. Selagi nyawa belum sampai kerongkongan, niscaya ujian akan selalu ada. Selalu datang silih berganti, seolah tiada henti.

Semua itu bukan tanpa alasan. Apakah manusia mengira bahwa hidup di buminya Allah ini akan dibiarkan begitu saja tanpa diuji? Bukankah sebelumnya kita adalah sesuatu yang tidak ada kemudian menjadi ada? Lantas, apakah kita mengira hal itu juga tanpa alasan?

Kita adalah ciptaan Allah, Tuhan seluruh alam. Tentu kepada DIA-lah kita akan kembali. Dan ujian hidup adalah salah satu cara untuk kembali kepada-NYA. Jika kita selalu sabar dan semakin sabar menghadapi ujian dari-NYA, maka derajat kita diangkat.

Jika kita senantiasa taat kepada-NYA, maka kita akan kembali dan ditempatkan di tempat yang mulia lagi kekal, yaitu di dalam Surga-NYA.

Sabar, ikhlas, dan terima. Allah takkan memberikan ujian kepada hamba-NYA melainkan DIA tahu bahwa hamba-NYA itu sanggup.

Maira semakin tersadar bahwa dirinya bukanlah satu-satunya manusia yang memiliki beban hidup. Bukan hanya dirinya yang punya masalah.

Berat itu relatif, tergantung bagaimana manusia itu sendiri dalam menyikapi.

***

Hallo, Para Pembaca! Untuk hatimu yang sedang mendung, semoga kesedihan segera beranjak dari hatimu :)

Jangan lupa follow Author, ya. Terima kasih sudah membaca sampai di sini. Perjalanan Maira dan teman-teman masih panjang. Semangat membaca! :)

1
matcha
duuh mbk Maira ini kalem2.. sindirannya kyk sabetan pisau.. wkwkwk
Santi Herman
bagus
Oh Dewi
Mampir ah...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
Cancer
😄 aku suka gaya maira
hoomano1D
bukan meminang cucu kali thor,
menimang alias menggendong..
meminang kan tugasnya juan
hoomano1D
maaf ya thor, gw adalah golongan pembaca yg selalu bahagia. kalo gak bahagia, gw udh uninstall apk nt ini
hoomano1D
yg janji gw ada bukunya. emang keren
hoomano1D
umbel sing kuning keijoan kayane
hoomano1D
hmmm.,
malah curcol
hoomano1D
eh, bukannya punten yak?
hoomano1D
gw anggota klub tinggal baca aja nggak usah protes
hoomano1D
ganti namanya:
calon author famous
ASA
Part ini sungguh 🥺🥺🥺
ASA
masih betah di sini
Hamano Michiyo
wahh thor,,gimana caranya nyusun kata2 sebagus itu??bisa baginya ilmunya gak thor?
jadi inget sama novel lawas..yg percakapannya emang dikit dan lebih bnyk narasinya...tapi setiap kalimatnya bermakna banget....
ApriL
sukaa 🥰🥰 auto pencet favorit..
gulaJawa🐏
hiyayyay baca lagi di tahun 2022,
nyari judulnya susah, gak inget full judulnya,, yg ke inget cuma bibit, bebet, bobot😆 syukur Alhamdulillah ketemu🥺

kk othor bikin karya lain Napa di noveltoon ini🙏😍, sungguh cara penyampaian ceritanya 👍 the best.

ya udah segitu aja deh cuap2 nya
sehat2 ya kakak author 🤗🌵
salam dari green💚🌵
assalamu'alaikum 🙏🤗
Ani Dyah
masih kurang "kue satu" oleh2nya 👍
Ani Dyah
kota beriman....kebumen kah? 😀😀
Pocut
Jakaaaaa...😢😢😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!