Sebuah insiden kecelakaan pesawat mengakibatkan Elara menjadi salah satu korbannya.
Gadis berusia 24 tahun itu tidak ditemukan dalam keadaan masih bernyawa, maupun jasad. Alhasil, Elara pun dinyatakan hilang.
Pada kenyataannya, Elara hidup, dia terdampar di sebuah hutan hingga mempertemukannya dengan sosok pria pendaki gunung, Shane Gladwin.
Shane merawat Elara dalam keadaan sulit dan mereka saling jatuh cinta satu sama lain.
Akan tetapi, saat kembali pada kehidupan awal, Elara menemukan fakta baru yang membuat Elara harus menyadari posisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chyntia R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Khawatir
Sesuai dengan kesepakatan mereka, hari ini Shane akan mencari sayuran liar untuk makanannya dan Elara. Semua itu ia lakukan untuk bertahan hidup di hutan. Elara diminta Shane untuk menunggunya di dalam tenda. Meski ragu tapi akhirnya Elara membiarkan Shane untuk pergi.
"Aku akan segera kembali," kata Shane sembari mengelus puncak kepala Elara.
Sebenarnya yang membuat Elara semakin ragu membiarkan Shane pergi, bukan hanya karena ia takut di tenda sendirian, tapi juga karena mengkhawatirkan Shane.
"Shane, jangan terlalu lama, cepat kembali setelah merasa persediaan makanannya cukup."
"Iya, Sayang. Kau percaya padaku, kan? Ini bukan pertama kalinya aku di Hutan, jadi tenanglah." Shane mengusap lembut pipi Elara dengan jemarinya yang kokoh.
"Baiklah, aku akan menunggumu disini."
...**...
Shane menyusuri hutan, bisa dibilang disana bahkan tidak ada jalan setapak pun untuk dijadikan petunjuk jalan. Shane memberi beberapa tanda agar ia tau arah untuk kembali ke tendanya sendiri.
Dalam pencariannya, Shane akhirnya menemukan beberapa sayuran liar yang ia ketahui dapat dikonsumsi.
Shane berjalan lagi, tentu ia tidak pergi dengan tangan kosong, sebilah pi-sau terselip di betisnya, yang ia tutupi dengan kaus kaki. Shane juga membawa pi-sau lain di tangannya yang digunakan untuk membantunya menebas beberapa ranting atau semak yang menutupi jalannya.
Shane berbinar saat menemukan pohon yang merambat, itu tampak familiar baginya. Ia mengorek tanahnya dan mendapatkan ubi jalar yang bisa dikonsumsi.
Shane mengambil beberapa dan memasukkan itu ke dalam ransel dipunggungnya.
Sayangnya, perjalanan mencari stok makanan itu harus terhalang beberapa bahaya seperti yang sudah Shane perkirakan. Ia mendapati seekor ular yang hampir saja mematuk dan mengalirkan bisa di kakinya. Untungnya Shane cepat tanggap dan sigap untuk melindungi diri.
Pria itu langsung beranjak menyelamatkan diri, lagipula ubi jalarnya sudah cukup banyak. Shane ingin kembali ke camp-nya saat matanya tak sengaja melihat buah berry hutan yang menggiurkan.
Shane mendekati pohon itu dengan cukup sulit sebab pohonnya sedikit condong ke dataran rendah yang membentuk jurang.
Shane tidak menyerah, ia ingin mengambil buah itu untuk Elara.
...***...
Elara menunggu Shane dengan harap-harap cemas. Ia sudah menyelesaikan membaca buku yang Shane berikan. Shane bilang akan kembali sebelum Elara menyelesaikan membaca buku tersebut, nyatanya Elara sudah membacanya dua kali namun pria itu belum juga kembali.
Pikiran Elara sudah dipenuhi dengan firasat buruk dan semacamnya. Gadis itu mulai takut jika Shane tidak kembali.
Ada banyak halangan yang bisa saja menyebabkan Shane tidak pulang ke tenda mereka.
Elara berpikir bisa saja Shane lupa arah kemahnya. Atau bisa saja Shane tersesat, yang paling membuat Elara takut adalah Shane jatuh atau bahkan menjadi santapan binatang buas.
Pemikiran semacam itu terlintas di kepala Elara dan semakin membuatnya ketakutan.
Elara tau ini sudah terlalu lama dan Shane belum juga kembali. Perasannya semakin tak enak kala mendengar lolongan anjing hutan atau mungkin itu adalah serigala liar. Astaga? Elara gelisah dan panik, meski ia sudah mencoba memikirkan hal yang positif dan memberikan stimulus pada dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.
Elara mendengar langkah yang mendekat, Elara takut itu adalah serigala yang menghampiri tendanya. Elara hendak menangis sekarang. Apalagi memikirkan Shane yang belum kunjung kembali.
"Ku mohon, Shane, kembali. Cepatlah kembali." Elara bermonolog. Ia menutup telinga karena lolongan serigala itu semakin terdengar nyaring.
Elara merasa sedang diintai kendati ia tak dapat melihat apa yang terjadi di luar tenda.
Elara ingin mengintip tapi ia terlalu takut jika mengetahui kebenarannya.
Sampai akhirnya Elara merasakan tendanya sedikit berguncang, seperti hendak dimasuki sesuatu. Elara hampir menjerit saat itu, untungnya ia mendengar suara Shane disaat yang sama.
"Apa aku mengejutkanmu?"
"Shane?" Elara buru-buru menghambur dalam dekapan pria itu. Akhirnya ia menangis untuk meluapkan rasa takut yang tadi sempat tertahan.
"Hei, kenapa?" Shane berusaha menatap wajah Elara, namun wanita itu urung melepaskan dekapannya pada Shane.
"Aku terlalu lama, ya? Maaf, maafkan aku."
Elara mengangguk di dada bidang pria itu, ia mulai tenang saat Shane mengelus-elus punggungnya dengan lembut.
"Sebenarnya aku tadi sudah hampir kembali, tapi aku harus bereksperimen dulu."
Sekarang Elara mengadahkan wajah untuk melihat lebih jelas kepada pria yang baru saja mengatakan soal eksperimen itu.
"Eksperimen? Memangnya apa yang kau jadikan Eksperimen?" tanya gadis itu sembari mengusap airmatanya.
Shane ikut membersihkan wajah Elara dari sisa-sisa airmatanya. "Tadi aku menemukan jamur, tapi aku tidak tau itu beracun atau tidak, kebetulan aku melihat kelinci dan memaksa kelinci itu untuk mencicipi jamurnya."
"Kelinci percobaan?"
"Huum ..." Shane menganggukkan kepalanya. "Kelincinya juga ku bawa, ada didepan tenda, kita lihat sampai besok, kalau kelincinya tidak bereaksi maka jamur itu aman untuk kita konsumsi," paparnya.
Elara menatapi Shane tidak berkedip, membuat pria itu mengernyitkan dahinya sebab Elara tampak tidak merespon perkataannya tadi.
"Kenapa?" tanya Shane heran pada gadis itu.
"Aku takut kau tidak kembali."
Shane menipiskan bibir. "Aku sudah berjanji akan kembali, kan?" ujarnya.
Elara menganggukkan kepalanya dengan cepat, entah kenapa ia sangat lega sekarang setelah melihat Shane kembali.
Elara pun mengadukan pada pria itu mengenai ketakutannya, ia juga menceritakan perihal lolongan serigala yang sempat ia dengar. Biasanya Elara tak pernah berlaku demikian pada siapapun, termasuk pada Kyle--sahabatnya. Tapi entah kenapa ia melakukan itu pada Shane, melihat pria itu mendengarkannya dengan seksama, Elara semakin nyaman dengan sikap Shane yang demikian.
Shane sendiri mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Elara, memperhatikan wajah Elara yang mampu menenangkannya. Ia mengelus-elus pelan rambut gadis itu, tersenyum senang karena Elara tampak terbuka kepadanya. Pun karena Elara mengatakan kekhawatirannya terhadap Shane secara gamblang.
"Apa syok makanan yang kau dapatkan cukup banyak?"
Shane mengangguk. "Lumayan, tapi aku minta maaf karena kita harus makan seadanya saja selama berada disini," paparnya.
"Tak apa, Shane. Aku bersyukur karena masih bisa mengisi perut. Mana mungkin aku bertingkah disaat kondisi kita seperti saat ini."
Shane mengecup pucuk kepala Elara dengan penuh kasih sayang. Ia kembali menatap pada bola mata gadis itu.
"Apa kau sudah lapar? Aku akan siapkan makan malam untuk kita."
Elara mengangguk antusias. Senyum di bibirnya melengkung sempurna, tampaknya ia amat beruntung ditemukan oleh pria seperti Shane. Malah pria itu pun sudah menjadi kekasihnya.
Elara sempat mengkhawatirkan masa-masa setelah keluar dari hutan ini. Ia takut Shane akan berubah padanya jika mereka kembali ke kehidupan masing-masing.
Jika kemarin Elara merasa ingin segera keluar dari hutan ini, tapi sekarang ia enggan pergi dengan cepat karena ia ragu pada masa depan hubungan mereka.
"Shane, apa nanti kita akan bertemu lagi?"
"Kenapa kau selalu menanyakan itu? Apa kau takut hubungan kita akan berubah?"
Shane memang penebak yang ulung. Ia sering menerka dengan tepat sasaran, sepertinya intuisi pria itu juga cukup tinggi dan jeli.
"Jujur saja aku takut kau melupakanku setelah semua ini selesai kita lewati."
"Jangan mengkhawatirkan apapun. Bukankah aku sudah berjanji untuk mengunjungimu nanti?"
Elara menganggukkan kepalanya, ia cukup tenang dengan ucapan Shane tapi jauh dalam hatinya ia tetap merasa khawatir.
...Bersambung ......
mksud dari gk pernah bisada hamil anak Shane itu gmna??jgn bilang klo rahimnya jg diambil Thor?? please jgn sampek..kasian Elara.nya..
dan sebagai wanita baik2 penting punya harga diri,agar tak sembaranfan membuka paha utk laki2 yg bukan suami..error semua tokohnya
yg baca juga sewot
hahaja🤣🤣🤣