Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?
Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.
Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.
Apakah Quinn mampu bertahan hidup?
Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?
୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
III. Asian Cuisines
...୨ৎ──── Q U I N N ────જ⁀➴...
Jahitanku sudah dilepas beberapa yang hari lalu, dan Dr. Nolan bilang kalau tubuhku menerima transplantasi ini dengan sangat baik.
Jujur saja, aku merasa seperti orang baru. Setiap hari aku makin kuat. Berat badanku bahkan mulai naik lagi.
Sambil mengisi kantong-kantong kecil adonan pakai daging cincang buat bikin pangsit kukus, Sarrah taruh secangkir teh di meja.
“Kamu kebanyakan habisin waktu di dapur,” tegurnya. “Kamu kan janji bakal pelan-pelan.”
“Kalau aku lebih pelan lagi, bisa-bisa aku ketiduran lagi,” gumamku. Aku senyum ke dia. “Rasanya kayak aku baru dibebasin dari penjara. Biarin lah aku nikmatin hidup ini.”
“Aku cuma enggak mau ada apa-apa,” katanya.
“Enggak bakal ada apa-apa. Aku ngerasa sehat. Begitu capek, aku langsung tidur.”
Dia menghembuskan napas sebelum meninggalkan dapur. Aku menyeruput teh sebentar, lalu lanjut bikin muffin lainnya.
Tiba-tiba bulu halus di tengkukku berdiri. Ada sensasi aneh, seperti aku sedang diawasi. Walaupun aku tahu aku sendirian di dapur, aku tetap menengok ke sekeliling. Akhir-akhir ini aku makin sering merasakan hal seperti ini.
Tanganku berhenti bergerak saat aku teringat mimpi minggu lalu. Aku enggak melihat cowok itu, tapi aku bisa merasakan kehadirannya di kamarku.
Dia mengawasiku.
Dan dia bilang sesuatu.
Sesuatu yang enggak bisa aku ingat.
Sepertinya itu cowok yang sama yang muncul di mimpi aku saat hari transplantasi.
Aku sempat cerita soal mimpi-mimpi itu ke Dr. Nolan. Dia bilang beberapa pasien memang bisa mengalami mimpi buruk dan susah tidur. Itu hal yang cukup umum.
Aku tarik napas dalam-dalam dan lanjut menyiapkan pangsit. Sambil menunggu pangsitnya matang, aku bikin mi wijen.
Masakan Asia selalu menarik buat aku, dan aku ingin banget fokus di bidang itu. Dengan sedikit keberuntungan, aku bisa jadi Executive Chef di restoran berbintang Michelin, tempat aku bisa menciptakan hidangan unikku sendiri yang terinspirasi dari masakan Asia.
Aku menghembuskan napas frustrasi, berharap aku bisa cepat kembali bekerja.
Aku ingin hidupku kembali seperti sebelum kecelakaan mobil itu.
Pikiranku melayang ke Mama, dan rasa sedih langsung menusuk dadaku.
Aku kangen dia.
Aku hampir enggak punya waktu buat benar-benar meratapi kepergiannya, karena aku langsung dipaksa menghadapi malapetaka yang hampir merenggut hidupku sendiri. Tiga tahun sudah berlalu, dan aku cuma dua kali mengunjungi makamnya. Iya ... aku harus petik bunga dan datang ke sana.
Papa masuk ke dapur dan mengambil sebotol air dari kulkas. “Kapan kita makan?”
“Sepuluh menit lagi.” Aku memandang dia lalu bilang, “Aku pingin ziarah ke makam Mama besok. Papa bisa luangin waktu, enggak?”
“Jam berapa?”
“Kapan aja yang cocok buat Papa.”
Papa berpikir sebentar, lalu bilang,b“Gimana kalau jam empat sore?”
“Cocok.”
Waktu Papa meninggalkan dapur, aku mengecek pangsit sebelum bikin pasta, yang enggak butuh waktu lama buat matang.
Begitu makanannya siap, aku menyiapkan tiga piring. Dua piring lengkap sama sumpit, dan kecapnya aku taruh di nampan, lalu aku bawa ke ruang kerja Papa biar kami bisa makan bareng.
Waktu melewati Sarrah yang sedang membersihkan pegangan tangga, aku bilang, “Makanan kamu ada di dapur.”
“Makasih.”
Masuk ke ruang kerja Papa, aku taruh nampan di meja kopi dan duduk di sofa.
“Ayo makan, Papa.”
Dia bangkit dari balik meja dan duduk di sebelahku. Sambil mengambil sumpitnya, dia bergumam,b“Kelihatannya enak banget, Sayang.”
Aku menahan dulu rencanaku, tapi setelah menelan satu suapan, aku akhirnya bilang, “Aku pingin mulai cari apartemen.”
Mata Papa langsung ke wajahku. “Cepat banget?”
“Mungkin aku bakal nyari sebulan ini sampai nemu yang pas.”
“Cari aja. Area mana?”
“SCBD. Aku pingin dekat restoran tempat aku nunggu dapat kerja.”
“Kita lihat nanti kamu kerja di mana, terus Papa bantu beliin apartemennya.”
Sudut bibirku langsung melengkung. “Papa enggak perlu gitu. Tabunganku masih aman.”
“Papa tahu. Tapi biarin Papa lakuin ini buat kamu. Anggap aja hadiah ... karena kamu udah berjuang sejauh ini.”
Aku menyender ke bahu Papa. “Papa kebangetan manjain aku-nya.”
“Tentu aja. Kamu putriku.”
Aku jadi sedikit agak emosional saat kami lanjut makan, dan baru setelah selesai aku bilang, “Aku enggak bakal bisa bertahan tanpa Papa. Makasih udah bantu aku lewatin tiga tahun terakhir ini.”
Dia tepuk lututku sebelum berdiri dan balik ke mejanya. Saat membelakangiku, dia berdeham dan bergumam, “Enggak ada satu hal pun di dunia ini yang enggak bakal aku lakukan buat kamu, Sayang.”
Aku tahu.
Aku orang paling beruntung di dunia karena punya dia sebagai Papa.