Bercerita tentang mahasiswa yang melakukan KKN disebuah desa dengan banyak keanehan. Banyak hal yang terjadi sampai membuat kami mendapatkan banyak masalah yang tidak masuk akal. Namun perlahan kami beradaptasi dan nantinya membongkar misteri dari desa tersebut. Kira-kira misteri apa saja itu. Ini adalah cerita fantasy persahabatan yang menakjukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazennn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Hakim
“A-apa yang akan kamu lakukan” ujar Anwar lalu makhluk tersebut melakukan sesuatu pada Anwar seperti sedang meng-scanningnya. Setelah itu lanjut pada yang lainnya tapi sama sekali gak terjadi apa-apa. Hingga pada orang terakhir yaitu Nadin, perempuan itu berteriak sangat kuat karena kesakitan bahkan sampai menangis. Tak lama yang lain pun juga ikutan merasakan sakit namun tidak sesakit yang dirasakan Nadin.
“Jadi kamu yah pelakunya” ucap Sang Hakim
“Satu melakukan kesalahan maka semua kena” ungkapnya
“Apa maksudnya? Kesalahan apa yang Nadin lakukan” ujar Ikon lalu Sang Hakim pun menunjukan gambar sebuah postingan tentang dunia imajinasi yang viral.
“Kalian telah melanggar aturan penting dalam memasuki dunia imajinasi yaitu menunjukannya pada dunia nyata sehingga membuat banyak orang jadi mengetahuinya” kata Sang Hakim lalu pandangan semua orang pun mengarah pada Nadin.
Gadis itu hanya terdiam saja, tertunduk lesu. Namun bibirnya terus mengucapkan permintaan maaf karena dia melakukanya karena gak sengaja. Nadin tidak tau kalau ada aturan seperti itu.
“Hadirkan para saksi” kata Sang Hakim lalu munculah kepala sekolah dan beberapa guru lainnya dalam ruangan
“Apa kalian tidak memberitahukan mereka mengenai aturan tentang dunia imajinasi” tanya Sang Hakim
“K-kami memberitahunya yang mulia, tapi kejadiannya diluar pengawasan” jawab kepala sekolah
“Kenapa bisa terjadi seperti itu” tanya lagi Sang Hakim
“Jangan—aku lah yang salah, hukum aku aja” bicara Nadin
“Jangan begitu Din, kita ini sama-sama disini” bicara Ruka
“Iyah, betul. Kami nggak akan biarin kamu menanggungnya sendirian” kata Tian bersama yang lainnya. Nadin pun menangis kembali menyaksikan ketulusan teman-temannya itu.
Sementara itu tempat lain, aku sudah bersama Zee dan memberitahukan kejadian saat itu. Zee pun tanpa berpikir langsung berlari menuju balai. Walau gak paham dengan apa yang bisa dia lakukan namun entah kenapa aku seperti percaya padanya. Saat sampai, Zee dan aku pun mencoba untuk masuk kembali kedalam ruangan aula balai. Aku melihat teman-teman ku yang sudah disandra, situasinya mirip seperti sebuah pengadilan namun bercampur dengan imajinasi.
“Teman-teman, kalian nggak apa-apa” ujar Zee lalu mereka pun melihat kearah kami. Perempuan itu terkejut melihat keadaan teman-temanya yang tidak baik apalagi melihat Nadin menangis sehingga membuatnya kesal.
“Zee, akhirnya datang juga” kata Putra lalu Zee mengeluarkan ponselnya. Setelah itu tiba-tiba tubuhnya bercahaya bersamaan dengan ponselnya. Aku pun mengamatinya dengan seksama, waktu tiba-tiba seakan berhenti berputar dan tak lama setelah itu cahaya putih muncul lalu menelan semuanya. Ketika membuka mata kembali keadanya jadi berubah. Aku dan teman-teman ku berdiri tanpa ikatan menghadap Sang Hakim.
“A-apa yang terjadi?” pikir ku sambil mengamati sekitar yang sudah berubah itu. Sang Hakim pun ikutan merasa bingung tapi tak lama dia kembali menunjukan kekuatannya yang membuat kami kembali terikat. Namun beberapa saat kemudian kami kembali lagi seperti semula, berdiri tanpa ikatan. Kejadian itu berulang sampai tiga kali sehingga membuat Sang Hakim bingung lalu bertanya.
“Apa yang kalian lakukan?” namun tak ada yang menjawabnya. Sang Hakim mencoba untuk bertanya kepada Kepala Desa namun beliau juga tidak mengerti. Nadin pun berjalan maju menuju Sang Hakim lalu mengucapkan permohonan maaf. Dia berjanji tidak tidak akan mengulangi perbuatanya itu lagi dan juga segera melakukan klarifikasi kalau postingan yang dibuatnya itu hanyalah editan.
“Apa jaminannya” tanya Sang Hakim
Nadin ingin menjawab dirinya sendiri, namun Ikon menyela “Kami semua akan menjadi jaminannya” katanya dengan lantang
“Iyah kan teman-teman” lanjutnya untuk memastikan
“Umm” kami tersenyum
“Baiklah, tapi biarkan Uwais yang menentukannya” balas Sang Hakim lalu makhluk putih menghampiri Nadin dan melakukan scanning. Nadin menutup kedua matanya, siap untuk menerima rasa sakit dan benar saja. Ikon berlari untuk menolongnya tapi Nadin melarang.
“Nggak apa-apa” kata Nadin menahan rasa sakitnya lalu Sang Hakim berkata “ Hukum tetap lah hukum”
“Kalau kamu berani berbuat salah maka berani juga mendapatkan hukumannya. Jangan berbuat se-enaknya didunia ini, karena kelak kamu akan mendapatkan ganjaran dari semua yang telah kamu perbuat” Setelah itu semuanya pun kembali normal. Ikon menghampiri Nadin yang sudah lemas. Sang Hakim pun berjalan keluar meninggalkan kami, begitu juga dengan kepala desa dan kepala sekolah. Mereka pergi tanpa mengatakan apapun kepada kami, tatapan mereka sangat dingin sehingga membuat suasana jadi hening. Kami hanya menatap punggung mereka ketika berjalan keluar. Kami semua bingung dan tak tau harus melakukan apa. Sesuatu yang diluar imajinasi baru saja terjadi, kami gak tau hal buruk apa yang akan menimpa kami kalau keadaanya berbeda. Mungkin akan lebih parah, tapi beruntung kami baik-baik saja dan berhasil melaluinya. Sebenarnya kalau dipikir lagi aneh, tapi kami sudah terlalu banyak melalui hal aneh sejak KKN disini dan semua itu mulai jadi biasa saja. Meskipun terkadang menyusahkan bahkan menyakiti kami tapi pada akhirnya semua itu berlalu. Hal yang kini membuat ku penasaran adalah Zee. Apakah dia juga mempunya kemampuan spesial seperti ku dan juga Anwar yang menyembunyikan kekuatan besarnya. Aku jadi makin penasaran apa mungkin semua orang disini juga punya rahasia kekuatan yang belum ditunjukan. Misalnya Ruka yang memiliki kekuatan berhubungan dengan ingatan, Fatin yang bisa menghilangkan keberadaanya, Putra yang punya tubuh super, Sulis yang bisa menyembuhkan luka, Ikon yang disukai banyak orang, Anwar yang punya tubuh kuat lalu sekarang Zee yang punya kekuatan waktu. Mungkin bukan cuman teman-teman ku tapi warga desa ini juga, Dirga, Agus, Rio, Deta, Pak Noman, Kepala Desa dan Ibu Desa serta anak-anak kecil yang bisa membuat dunia imajinasi.
Aku melihat semuanya—menyaksikan sendiri semua kejadianya dari awal sampai hari ini. Awalnya aku menganggap kalau semuanya itu aneh namun seiring berjalanya waktu keanehan-keanehan tersebut semakin banyak dan membuat ku sadar bahwa aku gak sendirian. Bukan hanya aku yang aneh—menyembunyikan diriku yang sebenarnya dari orang-orang. Saat memikirkan hal seperti ini membuat ku jadi beranggapan kalau dunia ini sangat luas, masih banyak hal yang belum dimengerti dan tidak bisa dijelaskan dengan logika. Banyak hal imajinatif, fantasi dan variatif serta misteri yang belum terungkap di alam semesta cerita yang sedang ku buat ini atau yang sedang kalian baca ini. Jadi kalian lanjut baca terus.
Malam hari pun tiba, seperti biasa kami berkumpul dalam posko untuk melakukan briefing kegiatan hari selanjutnya lalu evaluasi untuk semua kejadian hari ini. Namun malam itu Putra mengajak untuk pergi kesebuah pesta ulang tahun salah satu warga desa yang tak lain adalah Agus. Sebenarnya kami hendak ingin menolaknya namun Anwar memberitahu agar pergi karena selama ini Agus sudah membantu kami dalam banyak hal.
Malam itu kami juga sengaja tidak memberitahu Agus karena berniat untuk memberinya kejutan. Kami membawakannya sebuah hadiah yang akan selalu dia kenang sehingga membuatnya terus mengingat kami. Hadiah tersebut bernama kebersamaan dengan orang-orang yang merayakanya. Agus pun terkejut dan tidak menyangka kalau kami akan datang, pemuda itu tersenyum sangat lebar lalu terharu. Kami pun menertawainya.
“Terima kasih semuanya” kata Agus sambil memegang hadiahnya lalu kami berfoto bersama. Kejadianya lumayan singkat namun begitu bermakna untuk Agus. Dia pun bertekad akan terus membantu kami lalu juga kelak akan membalas kebaikan ini. Dan begitu lah hari itu berakhir dengan meriah dan penuh kehangatan. Setelah itu kami pulang kembali ke posko.