Mengorbankan cinta untuk sahabat?
Cintanya pada seorang laki-laki ia pertaruhkan demi kesembuhan sahabat yang menderita depresi.
Bisakah Salma mengikhlaskan Doni hidup bersama Esti. Atau mereka akan tetap bersatu dengan cinta mereka?
Temukan jawabannya di Biarkan Ku Mengalah cerita yang seru dan mengharukan tapi ga usah baper. Happy reading💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 Detik - Detik Pernikahan
Suasana di kediaman Esti cukup ramai. Di dalam rumah banyak ibu-ibu yang membantu membuat kue seperti nagasari, kue bugis, kue talam, kue awug-awug dan kue lainnya akan melengkapi koleksi suguhan esok hari. Selain kue ada masakan-masakan yang tak kalah enaknya seperti rabeg, sate bandeng dan gerem asem turut melengkapi sajian prasmanan saat resepsi esok hari.
Sebenarnya tidak mewah hajat yang akan dilaksanakan besok, namun semuanya harus dipersiapkan dengan matang agar acara dapat terlaksana sesuai rencana.
Di teras rumah tampak para pemuda sedang membuat janur kuning dan panggung sederhana. Semua orang yang ada di lingkungan rumah Esti saling membantu sebagai wujud persaudaraan antar sesama.
Sementara di kontrakan, Doni sedang bersujud memohon kemantapan hati dalam bersikap yang kontra dengan hati nuraninya.
Bulir air mata hampir jatuh pada sujud malamnya. Doni hanyalah manusia biasa yang merasa rapuh disaat ketidakmampuan menghampirinya. Rasa gamang selalu menyergap hatinya yang porak-poranda,
" Benarkah ia jodohku?" pertanyaan itu kerap muncul setelah lamarannya dua minggu yang lalu. Dia tidak pernah membayangkan dan memimpikan akan menikah dengan Esti. Lafadz istighfar terlontar terus dari bibirnya yang basah air mata. Dia berharap ada ketenangan setelahnya. Beberapa menit kemudian terdengar lantunan ayat suci Alquran menggema di dalam ruangan tersebut. Ya ketenangan itu perlahan menghampirinya, merengkuhnya sampai ia tertidur.
Kokok ayam bersahutan memanggil insan-insan yang sedang tertidur lelap. Samar terdengar azan berkumandang berseru pada setiap insan agar segera mengikuti titah-Nya beribadah 2 rakaat. Doni membuka matanya dengan perlahan. Dia beranjak dari tempatnya duduk, baru menyadari jika dirinya tertidur di bangku kerja. Langsung menuju kamar mandi mengambil air wudhu setelahnya menunaikan sholat subuh.
Hari Minggu yang cerah, ia melaksanakan rutinitas pagi hari dengan mencuci baju, menyetrika maklum masih jomblo semuanya ia lakukan sendiri. tapi tidak akan lama lagi pekerjaannya itu akan lebih ringan kalau sudah ada isteri di sampingnya.
Sementara di kediaman rumah Esti nampak seorang gadis cantik sudah dirias dengan tampilan kebaya putih dan hijab putih yang mempercantik tampilannya hari ini. Momen yang sangat Esti tunggu, dari bibirnya tidak berhenti menyunggingkan senyum yang jelas terpancar suatu kebahagiaan di wajahnya.
Beberapa menit kemudian pak penghulu yang bertugas menikahkan Esti telah datang, namun pengantin laki-laki belum kelihatan batang hidungnya pun keluarganya tidak ada di tempat tersebut, aneh. Atau mungkin mereka belum datang? Berbaik sangka saja dulu mungkin orang tua Doni yang belum sampai sehingga Doni harus menunggu mereka. Karena sudah melewati tiga puluh menit akhirnya Salma diminta untuk menjemput calon mempelai laki-laki secepatnya agar segera dimulai acaranya karena pak penghulu ada acara di tempat lain. Dihubungi lewat telepon dan WA semuanya ga aktif. Akhirnya Salma ditemani sepupu Esti mendatangi kontrakan Doni yang hanya berjarak 500 meter dari rumah Esti.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di kontrakan Doni. Kontrakan bedeng tampak sepi, kemungkinan banyak orang sedang keluar untuk sekedar berolah raga di alun-alun.
Doni menjemur pakaian yang tadi selesai ia cuci. Dengan pakaian santai yang ia kenakan terlihat ia belum mandi.
Salma menggelengkan kepalanya melihat pemandangan tak jauh dari tempatnya berjalan.
"Assalamualaikum.....waduh Doni kenapa belum siap-siap?"
"Waalaikumussalam. Hai Salma pagi-pagi sudah ke sini, siap-siap kemana, memang kita mau pergi?"
"Haduh Doni bisa-bisanya kamu nyantai di sini. Di rumah Esti semuanya nunggu kamu. Kamu malah asik menjemur pakaian. Sudah sana siap-siap ini biar saya yang ambil alih."
"Eeeeh tunggu dulu, ini maksudnya apa? Apa hubungannya rumah Esti dengan aku?"
Salma menepuk jidatnya
"Doniiiii hari ini tuh kamu dan Esti mau menikah!"
"Apa nikah! Sekarang?"
"Iya sekarang. Ayo sana cepat. Pak penghulu sudah nunggu lama!"
"Yaaaah Sal aku beneran lupa kalau hari ini nikah." Salma geleng-geleng kepala, Bisa-bisanya Doni lupa dengan momen bersejarah yang akan ia ucapkan di depan penghulu nanti.