IG: embunpagi544
Elvan bersumpah, ia akan membalas dendam atas kematian tunangannya yang di sebabkan oleh seorang gadis buta, bernama Vada.
Yang lebih membuat Elvan meradang adalah, ternyata Vada justru mendapat donor mata dari Zoya, tunangannya yang memang jauh-jauh hari sudah mendaftarkan diprioritaskan sebagai pendonor mata di sebuah rumah sakit.
Elvan membalas dendam dengan mengikat kebebasan yang dimiliki oleh Vada dengan melibatkan dirinya sendiri dalam sebuah pernikahan.
Siapa sangka, jika ia justru terjebak dengan perasaannya sendiri. Cinta itu datang tanpa bisa ia kendalikan.
Seiring berjalannya waktu, kenyataan demi kenyataan dari masa lalu terungkap. Membuat Elvan tak memiliki pilihan lain kecuali melepaskan istrinya.
💞💞💞
Vada, ia harus membayar mahal atas kedua mata yang ia dapatkan entah dari siapa tersebut. Tiba-tiba ia di paksa menikah dengan laki-laki asing yang mengaku berhak atas kedua mata indahnya tersebut tanpa bisa menolak.
"Kau harus bertanggung jawab atas kematian tunanganku!" kata Elvan dengan sorot mata penuh kebencian.
"Kenapa harus aku?" tanya Vada terbatas.
"Karena demi menghindari dirimu, dia meninggal,"
"I-tu bukan salahku!" sangkal Vada cepat.
"Saya tidak peduli! Dan kau tahu, mata ini..." Elvan mengusap lembut mata Vada yang otomatis mengedip tersebut.
"Adalah mata tunanganku. Apapun yang tersisa darinya, adalah milikku!" imbuhnya dengan nada yang sangat dingin, bahkan Vada sampai merinding mendengar kalimatnya.
"Lalu? Saya harus apa? Apa saya harus mengembalikan mata ini kepada Anda? Bukankah percuma? Tunangan Anda tidak akan bisa melihat Anda lagi," meski dengan nada bergetar, Vada membalas ucapan Elvan.
"Pakailah gaun itu, lima belas menit lagi kita menikah!" ujar Elvan tanpa bisa di bantah. Ia melangkah pergi setelah mengatakan yang ia rasa perlu di katakan.
"Tapi.... Saya tidak mau! Ini pemaksaan namanya!"
Elvan menoleh dan menatapnya tajam, membuat nyali Vada langsung menciut.
"Saya sedang tidak sedang membuat penawaran. Saya tidak butuh jawaban darimu!"
Brak!
Vada berjengit saat pintu itu tertutup dengan kasar.
Dan kisah mereka di mulai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon embunpagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Cukup lama Vada berada di bawah guyuran shower. Setelah puas melupakan segala kesedihannya, ia segera mandi dan bersiap pergi ke dapur untuk membantu mbok Darmi menyiapkan makan malam.
Sementara di kamar mandi lain, Elvan memilih berendam di bathup dengan aromatherapy untuk merilekskan pikirannya yang kalut. Memang benar tadi ia membayangkan jika Vada adalah Zoya. Tapi, tetap saja ia sadar betul jika yang baru saja ia gagahi adalah Vada, bukan Zoya. Namun tetap saja ia tak mau mengakuinya. Ia ingat tujuannya menikahi gadis itu, yaitu untuk membalas dendam dengan cara mengikatnya dalam pernikahan.
Elvan memejamkan matanya, "Zoy, aku sangat merindukanmu, sweety," gumamnya dalam hati.
"Si al!" umpatnya kemudian, karena bukan wajah Zoya yang terlintas dalam bayangan ya, melainkan tubuh seksi sang istri. Ia mengusap wajahnya kasar dan memilih menyudahi acara berendamnya. Semakin lama berendam, otaknya malah semakin tidak jernih, pikirnya.
🖤🖤🖤
Saat jam makan malam tiba, Elvan turun ke meja makan. Di lihatnya ada beberapa menu rumahan yang jarang bahkan mungkin tidak pernah ia temui sebelumnya. Ia menarik kursi lalu mendudukinya.
"Tumben mbok masak," kata Elvan saat mbok Darmi menyiapkan piring. Melihat menu di atas meja, ia pikir mbok Darmi yang masak, bukan chef di rumah tersebut.
"Bukan simbok Tuan muda yang masak. Tapi..." belum sempat mbok Darmi selesai bicara, Vada muncul dari dapur membawa semangkuk sup ayam yang baru saja matang.
"Simbok lupa memberi tahu cah ayu kalau tuan muda tidak makan, masakan rumahan. Maafkan simbok, bukan cah ayu yang salah," ucap mbok Darmi, ia tak ingin Vada kena marah Elvan. Adahal mbok Darmi sengaja membiarkan saat Vada memasak di dapur tadi.
Sejak tinggal beberapa hari di mansion tersebut, mbok Darmi sudah merasakan masakan Vada yang sangat enak menurutnya, ia yakin jika Elvan memakannya, laki-laki itu akan menyukainya. Dan berharap dari masakan bisa turun ke hati tentunya.
Elvan sedikit mengangkat sudut bibirnya mendengar mbok Darmi memanggil Vada cah ayu, entah kenapa ia menyukainya.
" Lalu laki-laki menyebalkan ini makan apa? Rumput?" batin Vada melirik wajah datar suaminya.
"Maaf, aku nggak tahu kalau tuan tidak makan ini semua. Biar aku bawa ke dapur, biar saya sama mbok Darmi yang makan," ucap Vada.
"Biar simbok suruh chef untuk masak seperti biasa," imbuh mbok Darmi bersiap untuk membantu Vada membawa kembali masakannya ke dapur.
"Tidak perlu!" sergah Elvan, ia segera membalik piring yang ada di depannya.
Mbok Darmi tersenyum tipis. Ia mengangguk lalu meninggalkan mereka berdua. Sementara Vada hanya menatapnya heran.
"Tidakkah kau tahu apa yang harus seorang istri lakukan?" ucap Elvan.
Vada langsung mengerti, ia mendekat dan mengambilkan nasi untuk Elvan. Saat hendak mengambil sayur dan lauk, Vada menatap Elvan, ia ragu menu mana yang ingin laki-laki itu makan.
"Kau yang masak, lebih tahu mana yang enak," ucap Elvan yang mengerti arti tatapan sang istri.
Vada pun mengambilkan menu yang menurutnya paling enak tanpa ragu lagi.
Selesai melayani suaminya, Vada bermaksud untuk pergi ke dapur.
"Kau menyuruhku makan sendiri?" kata Elvan yang membuat Vada langsung mengurungkan langkah kakinya. Ia duduk di kursi paling ujung, bersebrangan dengan Elvan. Ia takut akan di sembur makanan jika mulut Elvan tidak bisa menerima rasa dari masakannya jika duduk di dekatnya.
Elvan menatapnya tajam, Vada hanya nyengir lalu bergerak mendekat, duduk di kursi samping suaminya.
Elvan memulai makan malamnya, ia menautkan alisnya saat pertama kali makanan itu masuk ke mulutnya, tak di sangka ternyata istrinya cukup pintar memasak, pikirnya. Elvan, hanya melirik ketika Vada sengaja sedikit mengeraskan doa niat makan, bermaksud menyindir suaminya. Dalam hati, Vada terkekeh geli, ia tak berani melihat ekspresi wajah suaminya saat ini.
Vada tersenyum karena Elvan makan tanpa memprotes atau mencela masakannya. Ya, walaupun suaminya hanya menunjukkan wajah datarnya saat makan, tapi dia tidak berkomentar sama sekali.
"Tuan..." Vada memberanikan diri untuk bicara.
Elvan menghentikan aktivitas makannya sejenak untuk menatap Vada, "Ada ap?" tanyanya.
"Sampai kapan pernikahan ini? Akan berlangsung?" tanya Vada takut-takut.
Elvan meletakkan sendok dan garpunya, nap su makannya mendadak menguap setelah mendengar pertanyaan Vada.
"Salah ngomong kayaknya," batin Vada lemas.
"Dengar, pernikahan ini bukan main-main. Sampai kapan waktunya, itu bukan hakmu untuk memutuskan," kata Elvan tegas.
"Maksudnya apa sih? Dia mau aku terperangkap dalam pernikahan dengannya seumur hidup? Atau sebosannya dia begitu? Nggaaaak!," gumam Vada dalam hati, tanpa sadar kepalanya menggeleng kuat, membuat Elvan menatap aneh kepadanya.
"Apa aku tetap boleh bekerja?" tanya Vada kemudian. Bagaimana pun ia harus tetap bekerja, ia masih memiliki banyak mimpi yang belum terwujud, masih harus mengumpulkan uang untuk anti dan membayar hutang kepada Mirza. Ia tidak mungkin dan tidak mau meminta kepada Elvan, nanti ia akan semakin susah lepas dari laki-laki itu.
"Terserah!" jawab Elvan pendek.
"Asal kau tidak melupakan tigasmu sebagai istri," sambungnya cepat.
"Terima kasih Tuan, aku pasti akan melakukan yang terbaik!" ujar Vada penuh semangat, membuat Elvan mengangkat sudut bibirnya samar.
Mereka kembali melanjutkan makan. Tiba-tiba, ponsel Elvan berdering, ia mengabaikannya karena aking tidak suka di ganggu saat makan. Namun, saat melihat nama yang memenuhi layar ponselnya, Elvan terpaksa mengangkatnya.
"Kakak... Lama sekali mengangkat teleponku," ucap seorang gadis dari seberang telepon.
"Aku sedang makan, ada apa menelepon?" tanya Elvan.
"Jemput aku... Aku baru saja tiba di Jakarta dan sekarang taksi ku mogok," ucap gadis itu manja.
"Aku akan menyuruh Rio menjemputmu," kata Elvan.
"Au maunya kak Elvan yang jemput," rengej gadis tersebut.
"Zora..."
"Kenapa? Apa karena kak Zoya sudah tidak ada, kakak jadi mengabaikanku? Kakak udah ngga sayang sama Zora?"
"Baiklah, aku ke sana. Berikan alamatnya," sahut Elvan mengalah.
"Gitu dong, oke! Aku tunggu,"
Elvan menutup telepon. Ia melihat Vad yang tampak cuek dan tetap makan.
"Aku harus pergi, kau lanjutkankan makannya," Elvan segera bangkit dari duduknya. Ia berjalan cepat ke kamarnya untuk mengambil jaket.
"Bilang sama pelayan untuk menyiapkan kamar untuk Zora," ucap Elvan sebelum ia pergi.
Vada mengangguk. Ia menatap kepergian suaminya, "Siapa gadis bernama Zora itu? Kenapa Elvan mau menjemputnya sendiri malam-malam begini? Di luar sedang hujan lagi. Ternyata ada juga yang bisa meluluhkan hati si es balok itu," Batin Vada. Entah kenapa, ada rasa sesak di dadanya saat mengetahui suaminya rela menjemput perempuan lain di tengah hujan deras seperti itu.
🖤🖤🖤
💠💠Yuk di komen di komen.... Like nya juga jangan lupa...💠💠
semoga othor punya keluangan waktu utk revisi biar lebih enak lagi bacanya.. 🫰🏻
semangat terus dlm berkarya! 💖
3x puasa 3x lebaran gak pulang².. 😂
pikirkan anakmu..