Shen Kuo Yu, bilioner wanita yang tewas di puncak kejayaannya karena kebocoran jantung, ia terbangun di tubuh Liu Xiao Xiao- gadis malang yang disiksa oleh keluarga angkatnya. Takdir pahit menantinya. Ia dipaksa menggantikan saudari tiri nya untuk menjadi pengantin pengganti dan menikahi Pangeran Keempat yang konon buruk rupa dan berhati kejam.
Shen Kuo Yu akan menaklukan Pangeran itu dan menjadikan nya bidak untuk membalas dendam pada Keluarga Liu yang memperlakukan nya seperti binatang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 : Terungkap Xiao Xiao
Setelah malam yang melelahkan di penjara bawah tanah, Xiao Xiao kembali ke Paviliun Utama saat langit mulai berwarna abu-abu keunguan. Tubuhnya terasa sangat berat, namun pikirannya masih berputar seperti roda pedati. Kejadian di pasar kemarin—kerumunan rakyat yang lapar dan gudang gandum yang hampir dijarah—terus membekas di benaknya.
Zhi Chen mengantarnya sampai ke depan pintu kamar. "Malam ini, tidurlah dengan tenang. Aku akan berjaga di ruang depan. Tidak akan ada tikus istana yang berani masuk ke sini setelah apa yang kau lakukan pada Permaisuri tadi."
Xiao Xiao mengangguk lemah. "Terima kasih, Pangeran."
Begitu masuk ke kamar, Xiao Xiao tidak langsung merebahkan diri di ranjang besar milik Zhi Chen. Ia duduk di kursi kayu, membiarkan Mao melepaskan jubah hitamnya yang berbau debu dan lembap.
"Nona, gandum di pasar itu... apakah akan benar-benar dibagikan kepada rakyat?" tanya Mao sembari menyiapkan air cuci muka.
"Perwira penjaga kota pasti sudah mengamankannya atas nama hukum," jawab Xiao Xiao sembari membasuh wajahnya. "Tapi rakyat sudah melihat kebenarannya. Besok, harga gandum tidak akan bisa dimainkan lagi oleh pejabat itu karena mereka takut akan amarah massa. Itu adalah benih keraguan yang aku tanam untuk merusak kepercayaan rakyat pada pejabat bentukan Permaisuri."
Setelah membersihkan diri, Xiao Xiao akhirnya merebahkan tubuhnya di atas kasur sutra. Ia tidur dengan sangat lelap, tanpa mimpi, terlindungi oleh keberadaan Zhi Chen yang berjaga di balik dinding kayu kamarnya.
Lelaki itu menatap ke arah luar. Gu Po datang dengan sebuah pesan. Ia menunduk hormat dan kemudian berkata. " Lapor Pangeran, Putri Jenderal Liu yang ada bersama Anda bukanlah putri kandung. Melainkan putri angkat. Putri kandung nya berada di daerah seberang , beralasan sakit, namun yanh saya lihat dia tidak sakit apapun. Apakah saya harus bertindak supaya jenderal liu mendapat hukuman?"
Pangeran keempat berkata tenang. " Tidak perlu. Justru dia mengirim sebuah permata berharga disisiku."
Mata Gu Po membelalak. Nyaris keluar dari tempat nya. " Ini adalah kesempat---"
" Sudahlah! Serahkan ini semua padaku! Kau cukup awasi saja istriku jika dia sedang tidak bersamaku. Tidak perlu mencari tau lagi masalah Jenderal Liu." Titah Pangeran Keempat.
Lelaki bernama Gu Po hanya mengangguk.
***
Keesokan paginya, suasana Paviliun Utama terasa berbeda. Wangi bubur kacang merah dan teh melati menyambut Xiao Xiao saat ia keluar dari kamar. Namun, yang lebih menarik perhatiannya adalah kehadiran Selir Agung yang sudah bisa duduk tegak di teras samping, meskipun wajahnya masih terlihat agak pucat.
Xiao Xiao mendekati Selir Agung. "Bagaimana keadaan Anda, Nyonya?"
Selir Agung menoleh, matanya kini tidak lagi memancarkan kebencian, melainkan rasa hormat yang tulus. "Racun itu sudah hampir hilang dari tubuhku, berkat ramuanmu. Tapi yang lebih penting, kau telah menyelamatkan martabatku dari sel hina itu."
"Kita memiliki musuh yang sama," sahut Xiao Xiao lembut sembari duduk di hadapannya. "Sekarang, aku ingin tahu... siapa saja orang-orang di pasar kemarin yang menjadi tangan kanan Permaisuri dalam urusan gandum? Aku ingin memutus aliran makanan mereka sebelum mereka bisa bergerak lebih jauh."
Selir Agung membisikkan beberapa nama pejabat dan pemilik toko besar. Xiao Xiao mendengarkan dengan saksama, menyimpan nama-nama itu dalam ingatannya seolah-olah sedang menyusun strategi dagang yang besar.
Tiba-tiba, Pangeran Zhi Chen datang membawa sebuah gulungan kertas yang baru saja tiba melalui burung merpati. Wajahnya tampak serius namun ada sedikit kepuasan di sana.
"Ganti rugi lima ribu koin emas itu telah tiba di gerbang istana," ujar Zhi Chen. "Dan ada kabar tambahan. Akibat keributan di pasar kemarin yang kau picu, Kaisar merasa tertekan oleh desakan para sesepuh kota. Beliau akhirnya mencopot jabatan Kepala Penjaga Kota—putra menteri keuangan itu—karena dianggap gagal meredam amarah rakyat."
Xiao Xiao tersenyum tipis. "Satu bidak jatuh. Sekarang kita punya emas, dan kita punya alasan untuk menempatkan orang-orang kita di gerbang kota."
"Lalu, apa rencanamu untuk gandum-gandum itu?" tanya Zhi Chen.
Xiao Xiao berdiri, menatap ke arah taman yang mulai menghijau. "Kita tidak akan mencuri gandum itu, Pangeran. Kita akan membelinya secara resmi menggunakan emas ganti rugi dari Permaisuri, lalu kita akan menjualnya kembali kepada rakyat dengan harga yang sangat murah melalui jalur Selir Agung. Biarkan rakyat tahu bahwa Pangeran Keempat-lah yang memberi mereka makan, bukan Kaisar yang duduk di singgasana emasnya."
Zhi Chen terdiam, terpana oleh cara berpikir Xiao Xiao yang begitu jauh ke depan. Gadis ini tidak hanya membalas dendam dengan kekerasan, tapi ia sedang membeli hati rakyat menggunakan uang musuhnya sendiri.
"Mao, siapkan pakaian perjalananku," perintah Xiao Xiao. "Hari ini kita akan menemui para pedagang gandum itu sebagai pembeli besar. Dan kali ini, kita akan membawa pengawalan resmi agar mereka tahu dengan siapa mereka berurusan."
Xiao Xiao menoleh pada Zhi Chen. "Pangeran, ikutlah denganku. Biarkan rakyat melihat wajah pemimpin mereka yang peduli, bukan sekadar 'Pangeran Buruk Rupa' yang diceritakan dalam dongeng-dongeng jahat mereka."
Zhi Chen perlahan menyentuh topeng peraknya, lalu mengangguk mantap. "Mari kita tunjukkan pada mereka siapa penguasa yang sebenarnya."
***
Happy Reading❤️
Mohon Dukungan
● Like
● Komen
● Subscribe
● Ikuti Penulis
Terimakasih ^_^ ❤️