Rheyna Aurora adalah istri dari seorang pria yang cuek dan minim perhatian yang bernama Bagas Awangga.
Bagas bekerja sebagai Manager pada perusahaan milik sepupunya, Arlo Yudhistira adalah CEO perusahaan tersebut.
Arlo menaruh hati pada Rheyna sudah sejak lama….
Tak semudah itu hubungan Arlo dan Rheyna berjalan,karena Arlo adalah sepupu dari Bagas dan Arlo telah memiliki istri dan 2 orang putri…..
Akankah Rheyna ertahan dengan Bagas? Ataukah berpaling pada Arlo? Atau ada yang lain?
Selamat membaca dan selamat menikmati karya pertama saya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhecella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Secret Admirer
Tiga hari telah berlalu dan hari ini adalah saatnya Vano pulang. Menurut dokter kondisi Vano sudah sangat baik hanya saja Vano harus dikontrol asupan minumnya.
Aku memutuskan untuk tetap memberikan Vano ASI hingga usia Vano 2tahun tetapi dengan cara memompanya dan memberikannya di botol karena aku berencana ingin bekerja paruh waktu dengan menggambar ilustrasi dan menjualnya online,ya aku memang memiliki hobi menggambar tetapi sudah lama tidak aku mainkan pensilku karena kesibukanku dan tanggung jawabku menjadi seorang ibu. Bahkan aku sudah lama tidak bertemu dengan sahabatku Retno,kami hanya bertukar kabar melalui chat atau videocall saja,karena Retno yang saat ini tinggal di Ibu Kota sehingga jarak memisahkan kami.
Aku pulang dengan Vano hanya berdua saja karena Bagas pamit tidak dapat mengantarkanku pulang dia harus meeting pagi ini mendampingi mas Arlo katanya.
Sesampainya dirumah,aku meletakkan Vano yang sedang tertidur selama perjalanan. Kemudian aku merebahkan tubuhku pada ranjang empukku
“Akhirnya aku merasakan empukmu,setelah 3hari aku harus tidur di atas sofa” kataku sambil tertawa pada diriku sendiri
Ting… Ting …. Ting….
Ada 3pesan whatsup masuk di ponselku
+6282317898***
“Hai”
“Sudah pulang?”
“Vano sudah sehat?”
Tulisan pesan dari nomor telepon yang tidak ku kenal,
“Maaf ini siapa ya?” Jawabku pada pesan tesebut
“Aku bukan siapa-siapa”
“Hanya seseorang yang mengagumimu” jawab pesan itu
Aku berusaha untuk tidak lagi memperdulikan pesan itu,aku tak suka orang yang terlalu misterius,dan aku tak mau lelah menerka-nerka siapa dia.
Aku membatalkan niatku untuk tidur sejenak,aku keluar kamar dan mencao mbak Sari yang ternyata sedang berada di teras depan membersihkan taman,
“Mbak Sari,nanti kalau ada ojol kirim barang untuk saya tolong diterima ya,dan ini nanti berikan ke supir ojolnya buat beli es”
“Baik non” kata mba Sari sambil menerima uang yang aku sodorkan untuk memberi tips pada supir ojol
Aku membeli pompa ASI melalui online.
Kemudian aku kembali kekamarku dan kembali merebahkan badanku,mengambil ponsel ku dan menghubungi Bagas suamiku yang cuek. Aku meneleponnya sampai 3kali,tetapi tidak ada jawaban,itulah Bagas dia jarang mau menerima telepon dariku,dengan berbagai alasan,entah lowbat,meeting,tersilent dan berbagai alasan yang lainnya,tak berapa lama ada pesan whatsup yang masuk dari Bagas
Papa
“Ada apa ma? Aku masih repot” isi chat Bagas
“Cuma mau ingetin jangan lupa makan siang pa,udah waktunya makan siang ini” kataku perhatian,tak ada jawaban tetapi sudah dibaca, “diread doang gak dibalas dah kayak baca koran aja” kataku pada diriku sendiri kemudian tersenyum sendiri
Tok tok tok
“Non”
“Ya mbak Sari? Ada apa?”
“Apa non juga memesan makanan online?” Tanya mbak Sari,
Aku bergegas bangun dan membuka pintu kamar
“Kenapa mbak?” Tanyaku bingung
“Itu non ada ojol yang kirim makanan untuk non Rheyna sama den Vano” kata mbak Sari menjelaskan
“Siapa yang kirim mbak?”
“Saya kurang tau non,ojolnya masih nunggu di depan juga”
“Owh biar saya aja mbak yang temui ojolnya” jawabku sambil tersenyum pada mbak Sari dan di jawab anggukan mbak Sari
“Iya mas” kataku pada supir ojol
“Ini bu ada kiriman untuk bu Rheyna dan Vano”
“Dari siapa ya mas?” Tanyaku
“Saya kurang tau bu,cuma tulisannya hanya ada nomor teleponnya saja” jawab supir ojol menjelaskan sambil memberikan bungkusan makanan itu
“Owh baik mas,berapa mas?” Aku menanyakan harga yang harus ku bayarkan
“Sudah di bayar semua bu” jawab ojol itu
“Oh iya,makasih ya mas” kataku sambil tersenyum
“Sama-sama bu,saya permisi dulu bu” kata ojol itu
Aku masuk kedalam dan mengingat-ingat nomor ponsel itu,aku seperti pernah melihat nomor itu,aku menaruh bungkusan berisi beberapa jenis makanan itu dan kembali kekamarku mengambil ponsel dan mengechek nomor itu.
Nomor yang sama dengan orang misterius yang mengirimkan pesan whatsup padaku tadi.
+6282317898***
“Apa maksudnya mengirimkan makanan padaku?”
“Darimana kamu tau alamatku?”
“Siapa kamu?”
Tanyaku sedikit emosi karena merasa ada yang sedang menguntitku.
Ting ting ting ting
+6282317898***
“Sudah diterima ya 🙂”
“Makanlah,kamu pasti belum sempat memasak karena baru kembali dari RS”
“Ada bubur untuk Vano,semoga dia menyukainya”
“Selamat makan”
Jawaban yang membuat aku mulai naik darah.
+6282317898***
“Jika kamu tak memberi tahu siapa kamu,akan aku blokir nomor mu” jawabku yang tersulut emosi
Beberapa saat tak ada jawaban akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi orang itu memalui sambungan telepon
Tuuuttt tuuuttt
“Assalamuallaikum” jawabnya mengucapkan salam
“Wa’alaikumsalam” jawabku yang melembut seketika,aku yang hendak meluapkan emosiku mendadak melembut hanya dengan mendengarkan salam darinya,suaranya gagah tetapi tetap terdengar lembut
“Sudah di makan kirimannya tadi?” Tanyanya
“Siapa kamu?” Tanyaku sedikit ketus
“Hehehehehe,I’m just your secret admirer” jawabnya sambil sedikit tertawa kecil
Dadaku seketika berdegub kencang,aku seperti pernah mendengar suara ini,tapi dimana ya? Aku memutar otak ku memikirkan siapa dia
“Apa kamu takut aku meracunimu dan Vano?” Tanyanya kemudian,membuatku kembali tersadar setelah sejenak memikirkan siapa pemilik suara ini
“Bisa saja kamu meracuniku,aku tak mengenalmu,mana aku tau niatmu sesungguhnya”kataku
“Hahahaha kau sungguh menggemaskan,bagaimana aku bisa meracunmu,melihatmu bersedih di rumah sakit saja aku tak mampu,jangan berpikir buruk tentangku cantik” katanya menjelaskan
Tunggu-tunggu dia melihatku di rumah sakit? Apa mungkin dia yang membayar semua biaya rawat inap Vano?
“Apa kamu yang membayar seluruh rawat inap anakku?” Tanyaku ragu
“eeemmm”
“jawablah”pintaku mulai sedikit frustasi
“Maafkan aku,aku hanya ingin sedikit membantumu” jawabnya sedikit ada nada penyesalan
“Mengapa kamu membantuku?” Tanyaku yang mulai sedikit melembut
“Karena aku sudah sangat lama mengagumimu” jawabnya
“Jadi kamu tetap gak mau menyebutkan siapa namamu?” Tanyaku yang masih berusaha ingin tahu siapa dia
“Call me SAAT “
“Apa itu SAAT?” Tanyaku penasaran
“SAAT memandangmu,SAAT mendengar suaramu,SAAT menatap senyummu,SAAT didekatmu hehehe” jawabnya mencoba mencairkan suasana
“Apa’an sih” jawabku yang di iringi deguban jantungku,dan pipi yang mulai memerah didepan kaca
‘Hiks hiks ma…ma…ma…’ Vano sudah bangun dan memanggilku
“Vano mencarimu itu,suapin pakai bubur yang aku kirimkan ya,itu khusus untuk balita”
“Ah iya maaf aku tutup dulu,terima kasih untuk semuanya” kataku mengakhiri panggilan ini dan meletakkan ponsel pada meja rias kemudian beranjak menghampiri Vano dan menggendongnya.
“Ugh anak mama sudah bangun ya,maem yuk nak” kataku pada Vano dan dijawab dengan anggukan.
Aku menggendong Vano dan membawanya ke meja makan.
“Mbak Sari tolong di bungkusan itu ada bubur untuk Vano,tolong pindahkan ke mangkok Vano ya mbak,dan makanan yang lainnya tolong pindahkan ke piring,saya mau makan setelah menyuap Vano” aku menjelaskan pada mbak Sari
“Iya non” kata mbak Sari sambil membawa bungkusan makanan itu ke dapur.
Bersambung…