NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Status: tamat
Genre:Komedi / Contest / Pengantin Pengganti Konglomerat / Tamat
Popularitas:324.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Sekuel Dinikahi Konglomerat Sejagat!
Biar terasa greget baca dulu novel tersebut, baru maraton ke sini.

Devin terpaksa menikahi anak dari asisten pribadi orangtuanya, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya.

Perintah dari Argan selaku orangtua, tidak dapat dia tolak. Terpaksa menerima pengantin pengganti, meski dia tidak mempunyai perasaan apapun.

Akankah Devin bisa membangun cinta, bersama Tasya yang super cuek? Atau justru Tasya yang sulit membangun cinta, pada Devin yang dingin nan arogan?

Simak kisahnya hanya di sini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keributan

Tasya sudah sampai di sekolahnya, Devin segera melajukan mobil ke arah kampusnya. lagipula Argan dan Nadin sudah tahu, bahwa dia menginap di rumah mertuanya.

Devin turun dari mobil, setelah itu membenarkan dasi dan jasnya. Aldo ternyata sudah datang duluan, dia segera menghampiri Devin.

"Hai Devin!" Sapa Aldo.

"Hai juga." Jawabnya.

"Kamu yang sabar iya, aku tahu bagaimana perasaan kamu." Ucap Aldo.

"Sudahlah, tidak usah dibahas." Jawab Devin.

'Pasti dia hanya ingin mempertanyakan hari pernikahan, yang membuat buruk suasana hatiku.' Batin Devin.

"Bro, kamu harus semangat." Dia merangkul kedua pundak Devin.

"Kau tenang saja, aku tidak apa-apa." Jawab Devin santai.

Tiba-tiba ponsel Aldo berbunyi. Dia segera menjauh dari Devin, untuk menerima panggilan telepon.

"Halo sayang!" Seru Aldo.

"Sayang, kamu lagi di mana?" Tanya Clara.

"Aku lagi di kampus." Jawab Aldo.

"Langsung pulang iya nanti. Aku di sini kesepian." Ucap Clara.

"Iya, nanti kita akan jalan-jalan tuan putri cantik." Rayu Aldo.

"Iya sayang, aku tunggu di apartemen ini iya." Ujar Clara.

"Iya sayang, muach." Jawab Aldo.

Clara tersenyum menerima pujian dari Aldo. Sedikit saja ucapan manis, sudah membuat hatinya mudah meleleh.

"Aldo tumben mesra sekali ngomongnya." Ujar Devin.

"Iya Devin, ini dari pacar baruku." Jawab Aldo.

"Punya pacar, tapi tidak memberi tahu aku lagi." Devin geleng-geleng kepala.

"Baru juga jadian bro." Jawab Aldo.

"Oh, semoga segera menikah." Ucap Devin.

"Iya bro, pasti kami akan secepatnya. Tidak enak juga, kalau teleponan selalu sembunyi." Jawab Aldo, sambil tersenyum.

Devin menepuk pundak Aldo dengan sedikit keras. "Jadilah laki-laki sejati."

Seperti sebuah tamparan keras untuk Aldo, dia merasa bukan laki-laki sejati. Dia suka mempermainkan perasaan banyak perempuan.

'Tunangan mu telah aku bawa kabur, maaf iya Devin. Dunia mungkin terlalu sempit bila harus setia dengan satu wanita.' Batin Aldo.

Di sekolah SMA Pelita Raya. Kedua bola mata Tasya tertuju pada dua perempuan. Siapa lagi, bila bukan Rubis dan Rumi.

"Apa mungkin mereka yang sengaja menyuruh orang untuk menculik Papa?" Tanya Tasya.

"Bisa jadi Sya, mereka 'kan orang yang paling tidak suka dengan kamu." Jawab Tera.

"Nah benar yang dibilang oleh Tera." Tambah Okta.

Dia sibuk berkaca, memperhatikan dengan rinci wajahnya. Sibuk memoles bedak, karena sudah luntur.

"Tapi, untuk apa mereka melakukannya." Sahut Jelita.

"Iya untuk apa lagi, kalau tidak membuat Tasya kesusahan." Jawab Okta.

"Sudah cantik kali Okta, tidak perlu dipoles dengan tebal. Kalau seperti ini, kamu kelihatan seperti tante-tante." Ledek Tera.

"Biarin saja, sebentar lagi 'kan memang jadi Tante." Jawab Okta dengan santai.

Dia masih fokus memoles lipstik pada bibirnya. Terus memandangi kaca sambil tersenyum. Jelita hanya tersenyum, karena melihat Okta yang tidak bisa jauh dari alat-alat kecantikan itu.

Jelita memasang headset pada kedua telinganya. Tera menarik headset, yang baru saja dikenakan oleh sahabatnya itu.

"Apaan sih Tera, kamu kok jail sekali." Gerutu Jelita.

"Dilarang pakai headset, kita akan segera melabrak dua rubah busuk." Jawab Tera, dia melirik pada dua orang di kantin.

"Oh mereka, aku tidak ikutan deh." Ucap Jelita.

"Dia sudah menculik Papa Tasya. Ini merupakan tindakan kriminal, ayo segera samperin." Ajak Tera memaksa.

"Eh, jangan main tuduh sembarangan. Kita belum ada bukti, lagipula pelaku kejahatan itu tidak mau mengaku." Sahut Tasya.

Ferdian menghampiri tempat nongkrong mereka. Dia ikut duduk bersama mereka.

"Hai Ferdian!" Sapa Okta.

"Hai juga." Jawab Ferdian, sambil menahan tawa.

"Apa yang lucu?" Tanya Okta.

"Kamu seperti Tante." Jawab Ferdian sambil meledek.

Ketiga teman Okta menjadi tertawa kecil. Mereka melihat Okta berdebat dengan Ferdian. Tera segera beranjak dari duduknya, tidak tahan melihat tatapan Rubis dan Rumi yang menyorot tajam ke arahnya.

Bruk!

Tera menggebrak meja Rubis dan Rumi. Dua gadis remaja itu, berdiri dari duduknya.

"Eh, apa maksud lu ganggu kita lagi makan." Ujar Rumi.

"Sudahlah rubah busuk, kalian berdua tidak perlu berpura-pura." Jawab Tera, sambil berkacak pinggang.

"Berpura-pura apa sih, dasar manusia tidak jelas." Ujar Rubis, dengan raut wajah merah padam.

"Kamu 'kan yang menculik Papanya Tasya." Jawab Tera.

"Iya, mereka rubah busuk yang tidak mau mengaku." Sahut Okta, dengan telunjuk menuding.

Keributan di kantin semakin menjadi, tatkala Tera menumpahkan kuah bakso pada baju Rubi.

"Kurang ajar." Rubi menjambak rambut Tera.

Rumi dan Okta saling pukul-pukulan tangan. Rumi tidak segan-segan, untuk mengeluarkan cakarnya.

"Hentikan!" Teriak Tasya.

Mereka tidak mau juga berhenti, sehingga menjadi pusat perhatian di kantin sekolah. Banyak siswa dan siswi yang memperhatikan, tontonan adu mulut dengan gratis.

"Kalau mau ribut cari tempat lain. Jangan sibuk di kantin saya, di sini tempat makan bukan tawuran." Ibu penjaga kantin menghampiri.

Mereka menghentikan perkelahian sengit itu. Tasya segera menarik tangan Okta, dan Jelita menarik tangan Tera. Tasya dan Jelita sengaja menjauhkan mereka dari kantin.

"Kalian kenapa sih bertindak gegabah. Kita boleh mencurigai orang, tapi bukan berarti harus menciptakan keributan tanpa bukti." Ujar Tasya, dengan kesal.

"Maaf iya Sya, maksud kami 'kan baik." Jawab Okta.

Tasya melihat lengan Okta, yang terdapat bekas cakaran. Itu pasti terkena kuku Rumi yang sedikit panjang.

"Ayo masuk ke kelas, kita harus segera mengobati lukamu." Ajak Tasya.

Sampai di kelas, Tasya membuka tasnya. Dia merogoh sebuah kotak kecil, lalu membukanya. Tasya menuangkan cairan berwarna merah, pada lengan Okta.

"Pedih Sya." Keluh Okta.

"Yaelah Tante, baru juga sedikit." Ledek Tera.

"Ini sudah pelan-pelan Okta." Tasya mengambil perban, lalu membungkus lengan Okta.

"Terimakasih iya Sya." Ucap Okta.

"Harusnya aku yang merasa tidak enak. Kalian benar-benar sahabat sejati ku." Jawab Tasya.

Tasya dan Okta berpelukan, setelah selesai dengan pengobatan singkat itu. Jelita dan Tera saling berpelukan juga, setelah sebelumnya Jelita memeriksa tubuh Tera.

"Tera, kamu tidak apa-apa?" Tanya Jelita.

"Aku tidak apa-apa. Aku senang, karena berhasil menyiram rubah busuk dengan air cabai." Jawab Tera.

Ferdian merasa diacuhkan, tidak ada yang mengajak dia mengobrol. Karena dia hanya laki-laki sendiri, di antara kumpulan kaum hawa itu.

"Tasya, tuan Devin tampan juga iya." Ujar Okta tiba-tiba.

"Kamu naksir dengan dia?" Tanya Tasya.

"Boleh juga menjadi gebetan." Jawab Okta.

"Lebih baik jangan berharap kamu, dia hanya mencintai satu orang perempuan." Ucap Tasya.

"Siapa Tasya, beri tahu aku." Ucap Okta.

"Malas ah, untuk membocorkan urusan pribadinya." Jawab Tasya.

'Hmmm, siapa lagi kalau bukan si Clara.' Batin Tasya.

1
De'Ran7
ngapain buat orang nangis..kek kurang kerjaan aja dah nih orang
De'Ran7
dih udah baik di gantiin..kalo gak yg malu banget kan situ ya.wkwk dikhianati udah gitu pengantinnya lari lagi sama sahabatnya
De'Ran7
hm..lucu sekali ya itu kata²(maaf)..pasti sakit banget dah tuh n malu jga sama orang yg undang
De'Ran7
ini mah udah keliatan kaleus kalo dia cewek gk bener..mudah dirayu
Amanah Amanah
lanjut ahh..
Amanah Amanah
Yana minta adiiik😄😄
Amanah Amanah
satu kawan satu musuh ya...
Amanah Amanah
singkat padat dn jesusu ya thooor
Amanah Amanah
ooooh ..gitu ya...Rumi bls dendam
Amanah Amanah
aneh ah ...Heru dn argan Kya g pernh menghdpi mslh yg lebih besar dri ini,jln pkirannya g mennjukn klo dia seorng yg konglomerat😏😏
Amanah Amanah
msa orng Kya g bisa menyelesaikan mslh Kya gini,g nyruh orng2 utk mnyeldikinya gitu
Amanah Amanah
kenapa sikap Heru sama argan jdi ksar si thooor secara dia itu kndlu asistennya argan,dan ada apa dg Rumi ya ...koq dia dendam SMA Tasya dn devan
Amanah Amanah
siapa ya...dalng di balik semua ini apa dia rumi atau Ferdian?
Amanah Amanah
iiiiih Smpe segitunya ya Ruby...itu kriminal,g mkir nnti dia mendekam di oenjara
Amanah Amanah
sabaaar hdpi ujian dg kepla dingin sya
Amanah Amanah
Tasya si nangis knpa thooor?
Amanah Amanah
kembali ke pelakor2 GJ
Amanah Amanah
ngebalas pesn dri kampus koq SMA mm nya yg nelpon g di bls ya...?
Amanah Amanah
begitulah klo g nrut swami,menyesl setelah kejdian yg menimpanya,semoga Tasya segera di temukn
Amanah Amanah
duuuuh tuh dokter lgi pdkt ya....SMA rubis,sayang jga si dr. tmpn,baik HTI hrus Deket dengn ult kket mcm rubis
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!