NovelToon NovelToon
Lebaran Terakhir Abah

Lebaran Terakhir Abah

Status: tamat
Genre:Contest / Tamat
Popularitas:110.2k
Nilai: 4.8
Nama Author: aisy hilyah

"Ya Allah ... tolong izinkan abah lebaran sekali lagi."

Doa seorang anak di tengah kesunyian malam. Tak banyak yang dia inginkan untuk lebaran kali ini, hanya kebersamaan dengan Abah saja yang dipintanya.

Nur, seorang anak kecil dari keluarga sederhana yang tak banyak mengeluh. Kehidupan yang sulit tak menjadikan Nur menjadi anak yang murung. Ia tetap percaya diri pergi ke sekolah meksipun sepatunya telah rusak.

Kisah sebuah keluarga sederhana di era 90-an. Selamat membaca!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadiah Baru Dari Abah

"Assalamu'alaikum!" ucapku lesu. Kulipat payung dan kuletakkan bersandar pada jendela. Aku berdiri menunduk menunggu mak membukakan pintu.

"Wa'alaikumussalaam!" sahut mak dari dalam. Tak lama pintu terbuka. Mungkin mak terkejut melihat keadaanku, baju kotor dan basah. Terdengar dari nada bicaranya yang sedikit memekik.

"Nur! Kenapa bajumu kotor?" tanya mak. Aku mengangkat kepalaku dengan wajah yang berkedut ingin menangis. Menatap mak dengan sedih.

Aku berhambur memeluk mak dan menangis. Aku yakin mak bingung dengan sikapku yang tiba-tiba memeluknya dan menangis.

"Kenapa?" tanya mak sembari mengelus bahuku.

"Uang yang mak kasih hilang, jatuh ke selokan," sahutku terbata dan bergetar takut.

Sejenak mak tak mengatakan apa pun, hanya meremas kedua bahuku yang memeluknya.

"Terus? Nur gak jajan, dong?" tanya mak tetap bernada lembut. Aku menggeleng dalam pelukan mak. Tak sanggup menyahut karena lidahku tiba-tiba kelu.

"Ya udah, gak apa-apa. 'Kan bentar lagi abah pulang, jajannya datang abah aja, ya!" ucap mak yang seketika menghangatkan hatiku.

Kukira mak akan marah karena uangnya aku hilangkan, tapi ternyata mak malah tersenyum saat aku mendongak menatapnya. Aku mengangguk patuh.

"Yuk, masuk! Mandi terus shalat ashar," ajak mak, aku mengangguk lagi. Ikut melangkahkan kaki di belakang mak menuju sumur.

"Aceng mana, Mak?" tanyaku saat tidak mendapati adik laki-lakiku itu di rumah.

"Tidur, di kamar" tukas mak sembari menimba air untukku mandi.

Byur!

Air dari sumur yang menyegarkan berpindah ke dalam bak di hadapanku. Suasana belakang rumah yang masih ditumbuhi pepohonan, membuatku tak malu mandi di tempat terbuka seperti ini. Lagi pula, aku masih bocah.

Pohon kopi milik nenek berjejer seperti pagar. Ada pohon lobi-lobi tempatku memanjat dan bermain di atasnya.

Di pohon sirsak dan kopi belakang rumah, aku menanam berbagai jenis anggrek yang aku petik sendiri di hutan. Aku anak hutan, tempat bermainku pepohonan dan semak.

"Mak!" Aceng datang sembari mengucek matanya. Ia menguap lebar tanpa ditutup. Aku mengenakan handuk usai ritual mandi.

Kuhampiri Aceng yang masih berdiri di pintu belakang. Kusenggol bahunya hingga tubuhnya sedikit bergeser.

"Ih, Teteh!" sungutnya dengan suara yang serak.

"Kalau nguap ditutup! Kata abah nanti setannya ikut kesedot ke dalam mulut, iihh," ucapku bergidik sembari melengos pergi.

Aku masuk ke dalam kamar mengganti baju dan menunaikan kewajiban shalat ashar. Kegiatan mengajiku diliburkan karena Ramadan sebentar lagi akan datang.

Aku akan fokus pada tugas yang diberikan abah, yaitu menghafal surat Al-Mulk yang harus disetorkan setiap selesai shalat ashar.

________*

Waktu begitu cepat berlalu, sang fajar telah menyingsing menampakkan sinarnya yang kemerahan.

Sisa hujan kemarin meninggalkan jejak embun di dedaunan. Seperti inilah suasana pagi di tanah kelahiranku setelah diguyur hujan.

Jalanan akan tertutup kabut tebal, harum kabut yang terhirup indera penciuman selalu meninggalkan jejak kesegaran dalam rongga dada. Aku menyukai keadaan ini.

Kuhirup dalam-dalam udara pagi yang menyegarkan. Keadaan kampungku yang masih sangat jarang rumah juga kendaraan, membuat udara di kampungku masih begitu asri.

Aku duduk di bale-bale rumah nenek yang biasa kugunakan bermain, menunggu teman-teman melintas di depan rumah untuk berangkat bersama ke sekolah.

Belajar seperti biasa, diakhiri oleh pengumuman guru tentang libur sekolah menjelang Ramadan.

_________*

Tiga hari telah berlalu, dan dua hari lagi puasa Ramadan yang kutunggu akan datang. Hari demi hari aku menunggu kepulangan abah untuk menerima hadiah yang abah janjikan.

"Abah!" Aku memekik senang saat melihat seorang laki-laki yang amat kukenal turun dari ojek.

Di tangannya membawa kotak ikan, aku mengernyit saat tak melihat apa pun lagi selain apa yang ditenteng abah dan tas slempang bergambar burung garuda.

Kuhampiri abah yang berjalan mendekati rumah, kuraih tangannya lalu menciumnya. Abah sedikit heran melihatku yang tak bersemangat saat menyambutnya.

Aku meraih tas slempang abah yang diberikannya padaku. Berjalan mengikuti abah menuju rumah. Aceng sudah berdiri di ambang pintu menunggu kami dengan senyum lebarnya.

"Assalamu'alaikum!" ucap abah.

"Wa'alaikumussalaam!" jawab Aceng semangat. Ia meriah tangan abah dan mendekatiku.

Aku mempertahankan tas slempang abah saat Aceng akan menariknya, mataku melotot lebar sebagai ancaman agar dia tidak macam-macam dengan tas yang berada di dekapanku. Ia mendengus kesal, aku melengos masuk dan mulai membongkar isi tas abah.

Mataku berbinar saat melihat sebuah bungkusan besar terselip di baju abah. Aku menoleh pada abah yang duduk tersenyum bersama mak.

"Apa ini, Bah?" Aku pura-pura bertanya padanya. Abah mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Itu buat, Nur," jawabnya. Entah bagaimana mengekspresikannya, yang pasti aku sangat senang. Sangat amat senang.

Kubuka bungkusan itu, nampaklah apa yang sudah seminggu ini aku tunggu kedatangannya. Sebuah Al-Qur'an besar. Aku mendekapnya di dada dan berulang-ulang menciuminya.

Aku tak peduli lagi pada isi tas abah karena apa yang aku inginkan sudah aku dapatkan.

Namun, kesadaranku datang kembali saat suara gemerincing dari uang logam tertangkap telingaku.

Kuletakkan hadiah dari abah dan merebut tas yang sedang dikuasai Aceng. Bocah itu ingin merebutnya lagi, tapi aku mendekap tas itu erat sekali. Dia sudah mengambil semua makanan dan akan mengambil uang receh ini juga? Tak akan kubiarkan!

"Kamu, 'kan udah ambil semua makanan. Uang recehnya buat Teteh," kataku judes. Aceng meraung tidak terima.

"Gak mau! Aceng mau uang juga," balasnya panik.

Mak datang menengahi, "Sudah, sudah! Biar dibagi kue sama uangnya," ucap mak membuat kami berdua terdiam.

Akhirnya mak membagi rata kue yang dikuasai Aceng. Sebagian untukku dan sebagian untuknya.

Kemudian mak beralih pada tas slempang abah, merogoh kantong kecilnya dan mengeluarkan semua isinya.

Membagi rata uang recehan itu, sama rata. Dan sisanya, "Ini ... bagian Mak. Jangan ada yang protes!" kata mak tegas.

Kami menurut, mengambil yang sudah dibagikan mak tadi dan menyimpannya. Aku senang, kue dapat, uang jajan dapat, hadiah pun dapat. Ah ... bahagianya!

"Ceng, belajar puasa, Ya! Sekuatnya," celetuk abah tiba-tiba. Aceng menoleh lalu mengangguk.

"Nanti kalau puasanya pinter semua, kita pergi ke pameran," lanjut abah lagi.

Dengan mata berbinar, aku dan Aceng menatap abah lalu mengangguk cepat. Yes! Ke pameran. Aku akan bermain sepuasnya. Hihihi ....

Pameran adalah sebuah pasar dadakan yang diadakan setiap bulan Ramadan. Mereka akan menjajakkan berbagai macam jenis baju dan sandal juga keperluan lebaran lainnya.

Di pameran itu juga tersedia banyak wahana permainan. Mulai dari bianglala, ombak banyu, dan masih banyak lagi.

"Mau, Bah!" jawab kami bersamaan. Abah dan mak hanya mengukir senyum penuh kebahagiaan.

"Ya udah, simpan yang bener uang jajannya jangan sampai hilang, apa lagi masuk ke selokan," sindir mak yang menatapku dengan tersenyum.

Aku mengangguk dan ikut tersenyum. Kembali teringat pada uang lima puluh perak yang hilang. Jika dapat aku temukan, maka uangku akan lebih banyak sedikit dari uang Aceng. Ah ... dasar tanah tak berakhlak! Menelan uangku begitu saja tanpa izinku.

1
Erni Ramadan
masya Allah cerita nya bagus ada pembelajaran ddlmnya.Terimakasih thor🙏
Rosmawati/jnr
Bagus banget
Ella Rustandi
ya ampuun makan sm terasi goreng...kok thor tahu sih...aku jg dlu mkn sm terasi goreng...mengsedih rasax
Ella Rustandi
ingat aku dlu...zmn sd tasku resletingx kyk nur...pas smp sepatuku kyk nur...tiap mau dipake dijahit dlu sendiri...😔
Ella Rustandi
jadi kangen ortu yg sdh tiada
karissa 🧘🧘😑ditama
inget alm bapak😭😭😭😭
AGhanteng
Kasih syg seorg bapak ke anaknya.
Rela tidak beli baju baru mendahulukan keinginan anak2nya.
Ah,sungguh indah masa dulu ya author.
Dan aq skrg ngalamin ngedahulukan keinginan anak dan aku mengerti skrg gmn perasaan orgtua hanya utk melihat anaknya tersenyum tulus ketika ngucapkan kata2 "Terimakasih" dan memeluk kita.
Aisy Hilyah: betul. kangen Abah ....
total 1 replies
AGhanteng
Celana mambo pernah aku pake thor.
Baru tau setelah punya anak itu namanya celana mambo.. hehehe
Aisy Hilyah: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣 iya lah beuh idaman banget itu dulu
total 1 replies
Mama Oya
Dulu juga punya sepatu yg nyala2 gini kayak punya Nur ..
Alfian Akbar
Sangat menginspirasi,memotivasi,dan ada banyak pelajaran yang bisa di ambil.
Aisy Hilyah: terimakasih banyak 🤗.
total 1 replies
Lilik Anah
Aku suka dgn cerita abah lanjut thor
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Retno Wijayanti
karya luar biasa...
Aisy Hilyah: terimakasih banyak 🤗
total 1 replies
Retno Wijayanti
😭😭😭😭😭
Septia Yolanda
keluarga yg bahagia
Aisy Hilyah: aamiin
total 1 replies
Merry Hoo
alur ceritanya bagus..
Aisy Hilyah: terimakasih banyak 🤗
total 1 replies
Neni Heryani
ingat masa lalu.
Aisy Hilyah: sambil mengenang Bun
total 1 replies
Cintya
ya Allah jauh kan sifat seperti itu padaku dan anak2 ku
Aisy Hilyah: aamiiinnnnn
total 1 replies
Adriana Gitsa
masyaallah keren

dan sangat bermanfaat sekali

untuk saya Thor

👍👍🤩🤩🤩🤩🤩
Aisy Hilyah: aamiin terimakasih banyak 🤗
total 1 replies
Adriana Gitsa
aku malah tidak pernah ngasih uang ke BPK atau emak 😭😭😭

malahan kebalik beliau yang sering kasih uang ke aku kalau datang ke rumah

katanya, ini buat jajan cucu2nya
Aisy Hilyah: bener banget itu, Kak. orang tua emang selalu begitu
total 1 replies
Adriana Gitsa
😢😢😢😢😭😭😭😭😭😭

Alhamdulillah saya juga masih belajar pakai hijab

padahal anak udah 3😥
Aisy Hilyah: aamiin sama-sama
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!