Season 1
Sara Anjani Salim anak tunggal dari keluarga terpandang, namun nasibnya berubah ketika orang tuanya kecelakaan dan harus membuatnya "MENGHARGAI" dirinya untuk biaya pengobatan orang tuanya yang sedang koma.
Diawal perjuangannya ayahnya meninggal dunia, membuat Sara begitu sakit harus ditinggalkan ayahnya itu, tapi dia tidak bisa berhenti karena dia masih memiliki mamah yang harus dia perjuangan.
Setelah beberapa bulan mamahnya sadar dari Komanya, namun semua itu bukanlah apa-apa, bagaimana dia harus menutupi pekerjaannya agar mamahnya tidak mengetahui.
Namun serapat-rapatnya dia menyimpan itu semua, ada yang mengatakan pada mamahnya hingga membuat dia ketakutan.
Tiba-tiba seorang laki-laki yang memiliki "KELAINAN" menawari dia sebagai istrinya.
Season 2.
Gara-gara sering mengejar muridnya yang nakal. Rizal pun harus berakhir dipelaminan dengan Siswi nakalnya.
Sebuah kesalah paham mengharuskan Rizal menikahi Siswi yang terbilang sangat nakal.
Bagaimana jadinya rumah tangga mereka setelah menikah, langsung baca saja ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon henti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pikirkan baik-baik baby
Hai semua maaf ya Leon sama Sara jadi hangus, aku galau banget vote kalian juga jdi sia-sia.
TETAP BANTU LIKE YA.. BANTU VOTE DINOVEL INI..
KARNA NOVEL YANG ITU SUDAH TIDAK BISA LAGI😭😭😭😭...
Mamah sara masih saja menatap anaknya yang jadi pura-pura sibuk, bahkan dia terkekeh melihat tingkah konyol anaknya yang membaca buku terbalik itu, Rianti pun menghampiri anaknya.
"Yang bener kalau baca buku!" Tegurnya sambil membalikan buku itu.
Sara yang malu pun malah semakin menutup wajahnya dengan buku itu, ingin niat menghindari pembicaraan tadi siang, malah dirinya terlihat konyol sekarang.
"Kamu mending dari pada baca kebalik, mending jelasin kemamah" Imbuhnya sambil duduk disamping anaknya itu.
Sara menurunkan bukunya itu menatap mamahnya sambil memasang wajah imutnya itu.
"Itu gak seperti yang mamah liat ko!" Jawabnya gugup.
Rianti terkekeh mendengar penuturan anaknya itu.
"Memang apa yang mamah liat!" Balasnya sambil terkekeh.
Sara pun menjadi bingung..dia pun mendekatkan posisi duduknya untuk lebih dekat lagi dengan mamahnya.
"Dia bukan siapa-siapa Sara ko mah" Imbuhnya meyakinkan mamahnya itu.
bukannya menjawab Rianti malah menarik hidung anaknya itu.
"Siapa-siapa kamu juga gapapa ko, mamah pasti dukung. Apalagi kalau dia baik sama sayang sayang kamu" Ucapnya sambil menyatukan keningnya.
"Sudah cepat bantu mamah masak buat makan malam" Ujarnya sambil berdiri.
Sara yang diam saat mendengar ucapan mamahnya pun seketika tersadar dan beranjak dari tempat duduknya.
Sepertinya malam ini dia benar-benar harus menemui laki-laki itu untuk menanyakan prihal apa yang membuat laki-laki itu terus mengangunya.
.
.
"Mike!!!" Teriak Leon yang ke10 kalinya.
"Iya tuan."
"Coba kau lihat lagi, apa warna ini benar-benar pas untukku?" Tanyanya lagi. Dan ini sudah ke 10kalinya Mike meyakinkan tuannya itu, bahkan kakinya jadi kaku karna bulak balik naik tanga.
"Iya tuan, itu sudah sangat tampan. Apa tuan mau ganti lagi?.
Leon melihat penampilan dirinya didepan cermin.
"iya, kau benar Mike, aku sangat tampan" Imbuhnya dengan percaya diri.
"Yasudah, kau pergi sana. Urus perusahan itu." Titahnya.
Leon terus saja membangakan dirinya didepan cermin, sampai dia pun mengabaikan panggilan telpon yang terus saja berdering.
"Sialan, menganggu saja" Umpatnya sebari mengangkat telpon itu tanpa melihat orang yang menghubunginya.
"Sialan kau menganguku!!" Ucapnya pada orang yang menelponnya.
"Anak kurang ajar kau" Balas teriakan papah Leon.
Leon langsung melihat siapa penelpon itu.
"Hallo, papah. Maafkan aku, aku kira Mike." Ucapnya lembut.
"Kurang ajar, Papah, dan mamah akan ke indonesia seminggu lagi. Jika kau belum membereskan masalah yang kau buat, jangan harap papah akan mengampunimu" Ancamnya. Leon langsung menelan ludahnya. Bagaimana tak takut, orang tuanya selalu mengancam akan memasukan dirinya kesekolah militer jika terus tidak ada perubahan pada perusahaanya itu.
"Aku akan pastikan, semua akan aman sebelum kau kesini" Imbuhnya.
"Awas jika kau masih saja mengacaukan perusahaanku, aku tidak akan hanya memasukanmu sekolah militer tapi juga mengirimmu ke afrika" Ujarnya sambil memutuskan sambungan telpon itu.
Leon tidak menyangka kalau gaya hidupnya dilu ar negri itu terus saja dia bawa sampai ke indonesia, meskipun orang tuanya tidak masalah karna gaya seks diluar negri itu bukan hal yang baru lagi, berbeda jika di indonesia bahkan ternyata ini bisa membuat kacau keperusahaan. Karna perusahaan mereka diindonesia, adalah perusahan yang paling pesat kemajuannya bahkaan menempati posisi ke 4. Bagaimana orang tua Leon tak pusing, perusahannya jadi hancur karna ulah anaknya itu,
Dan sekarang Leon sedang pusing memikirkan selusinya itu.
.
.
.
Sara sudah merapihkan penampilannya. Celana jeans dengan baju hodienya, dia memang tidak akan melayani tamu malam ini, jadi dia berpenampilan
seadanya saja, namun tak memudarkan aura kecantikannya.
Dia berangkat jam 9malam dirumahnya.
"Mah aku berangkat dulu ya" Pamitnya, setelah dirasa penampilannya sudah oke.
"Iya, hati-hati dijalan" Jawabnya dengan tersenyum.
Sara harus memastikan apa yang sebenarnya laki-laki itu inginkan, dengan kecepatan sedang dia melajukan motornya ke club malam tengah kota itu.
Setelah menempuh waktu 45menit Sara pun memarkirkan motornya.
Dengan langkah yang elegan dia memasukin club malam itu,dia duduk dimeja bar tempat dia nongkrong sebelum tamunya datang.
"Tumben berangkat jam segini" Tanya Riko Sibartender itu. Sara menyalakan api dirokonya sebelum menjawab pertanyaan.
"Iyaa, cuman ada urusan aja, udah ini juga balik lagi" Jawabnya sambil menghembuskan asap rokok.
Sebari meminum, minuman yang dituangkan Riko.
Suara musik yang sudah semakin keras menambah suasana keramaian clubbing tersebut, Sara duduk menghadap hamparan manusia yang sedang bergoyang.
Sebatang rokok dan secawan vodka menemaninya saat ini.
Dia melihat Leon sudah memasuki ruang VVIP, dia pun mematikan rokoknya dan menegak minumannya sebelum pergi.
"Gue keatas dulu ya" ujarnya sambil meninggalkan kursinya itu.
"Iyaaa" Jawabnya, sebari melayani tamu lainnya.
Sara melangkahkan kakinya keruangan kelas atas itu dengan hoodie yang menutup kepalannya.
Tok
tok
tok
"Masuk"
Sara masuk dengan langkah angunnya, dia duduk menghadap Leon dengan wajah datarnya itu, entah kenapa dia jadi orang yang dingin saat dengan Leon. Jika ditanya kenapa, maka jawabannya tidak tau!!.
"Kerjaan apa sebenarnya yang ingin kau kasih padaku, sampai kau terus menganguku?" Tanyanya to the point, Bahkan dia bertanya tanpa ekspresi diwajahnya.
"Kenapa tidak minum dulu" Ujarnya sambil menyodorkan minuman itu pada Sara.
"Cheers" Leon pun menyodorkan minumannya untuk cheers. Sara pun mengikuti Leon dan mereka minum bersama.
"Sudah lama bekerja disini" Tanyanya sebari mengoyang-goyangkan minumannya itu.
Bukannya menjawab, Sara malah melihat apa yang dilakukan Candra itu, memang sedari masuk ruangan itu mereka bukan berdua, melainkan bertiga dengan gigolo Leon.
Merasa Sara yang fokus melihat Candra yang mengerayani tubuh Leon itu, Leon pun menyuruh laki-laki itu untuk keluar.
"Kau keluar dulu," Ujarnya. Candra pun langsung pergi tapi tak lupa meninggalkan kecupan dibibir Leon.
Sara langsung meneguk habis minumannya, entah kenapa dia merasa mual melihatnya.
"Apa kau gay?" Tanyanya setelah kepergian Candra. Sara memang pernah mendengarnya namun dia tak menyangka, akan melihatnya langsung disini.
"Iyaa," Jawabnya santai, bahkan dia seperti biasa saja melakukan itu.
"Jadi apa yang membuatmu, aku harus bekerja untukmu?" Tanyanya, Karna menurut Sara, laki-laki ini tidak butuh wanita untuk menghangatkan tempat tidurnya. Bahkan sepertinya jika dia telanjang sekarang pun, laki-laki ini tidak akan menyentuhnya.
"Kau hanya perlu bekerja sebagai istriku" Jawabnya santai, sebari kembali meneguk minuman beralkohol itu.
Sara mengeryitkan sebelah alisnya, antara bingung dan tidak mengerti.
Sejak kapan istri jadi sebuah bisnis pekerjaan, pikir Sara.
"Aku tidak mengerti!"
Leon hanya tersenyum menangapinya.
"Kau tidak mau mencoba melayaniku" Imbuhnya, bukannya menjawab Leon malah mengajak Sara bermain-mmain, bahkan mereka sudah 2jam berdiam diruangan itu, hanya untuk omong kosong.
Leon pindah dari duduknya, dia duduk tepat disamping Sara.
Leon mengangumi kecantikan wanita ini, dia juga mulai menelusuri leher Sara. Wangi samponya benar-benar sangat segar, meskipun begitu ternyata tidak membuat seorang Leon bergejolak.
"Iya, kau hanya perlu menjadi istriku selama setaun," Ujarnya, sebari menciumi rambut Sara itu .
"Kau juga tidak perlu lagi bekerja disini, aku akan mengajihmu 50jtper hari" Ujarnya dengan kegiatan yang sama.
Sara yang mulai risih pun beranjak dari tempat duduknya.
"Aku menghabiskan waktu berhargaku hanya beromong kosong denganmu disini" Kesal sebari meninggalkan Leon. Namun baru saja mau melangkah Leon menghentikan langkahnya.
"Kau yakin tidak mau, padahal ini kesempatan bagus untukmu" Imbuhnya, Sara menengok menatap tajam Leon.
"Teman-temanmu tidak akan tau kau seorang pelacur, dan mamahmu juga tidak akan syok kalau seumpama ada yang bilang pekerjaan kamu yang sebenarnya" Lanjutnya, Leon pun berdiri mendekati Sara.
"Pikirkan baik-baik baby" Sebari menyelipkan kartu Namanya.
Sara masih mematung diposisinya, omongan laki-laki itu ada benarnya. Sara kembali duduk sendirian diruangan itu, sebari menatap kartu nama yang diselipkan Leon itu.
Dia juga ingin terlepas dari pekerjaan ini, tapi kenapa laki-laki itu mau dirinya menjadi istrinya. Bukankan laki-laki itu homoseksual.
Dengan langkah gontai, Sara meninggalkan tempat itu, dia mungkin akan memikirkan tawaran itu.