NovelToon NovelToon
I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Selingkuh / Mafia / Konflik etika
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nouna Vianny

Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyelamatkan Dave

Alex menangkap tubuh Bianca yang hampir terjatuh, lalu membopongnya masuk ke dalam mobil dengan hati-hati.

Sementara itu, Dave yang telah selesai mengisi bahan bakar kembali ke mobil dan menunggu Bianca keluar dari toilet. Namun hampir sepuluh menit berlalu, wanita itu tak juga terlihat. Sebuah mobil berwarna merah melintas begitu saja di hadapannya. Dave sempat memperhatikannya sekilas, tetapi tak sedikit pun timbul rasa curiga.

Karena terlalu lama menunggu, Dave akhirnya keluar dari mobil dan berlari menuju toilet.

“Bianca!” serunya. Namun tak ada jawaban.

Awalnya ia ragu untuk masuk ke toilet perempuan. Namun melihat kondisi sekitar yang sepi, Dave memberanikan diri melangkah masuk.

Dave terperangah. Semua pintu bilik terbuka, dan Bianca sama sekali tidak ada di sana.

Kepanikan langsung menyergapnya. Dengan tangan gemetar, Dave segera menghubungi Bianca. Panggilan itu tersambung.

“Halo, Bianca, kau di mana?” ucapnya cemas.

Namun yang terdengar justru tawa seorang pria dari seberang telepon.

[Halo, Dave. Saat ini kekasihmu sudah berada di tanganku.]

“Brengsek! Siapa kau?!” bentak Dave.

[Kau tidak perlu tahu siapa aku. Tapi jika kau ingin kekasihmu selamat, temui aku di Jalan Sukhumvit nomor 101. Dan jangan coba-coba meminta bantuan polisi atau siapa pun. Jika kau nekat melakukannya, nyawa wanita ini akan melayang.]

Panggilan diputus secara sepihak oleh Alex. Ia menatap Bianca yang terlelap. "Sudah lama aku tidak mencicipi wanita ini, Joe percepat laju kendaraannya." titah nya.

"Siap,Tuan."

Dave segera bergegas masuk ke dalam mobil. Ia masih ingat betul alamat yang disebutkan Alex saat di telepon tadi.

Prang!

Gelas di tangan Elia terlepas begitu saja. Hatinya semakin gelisah, pikirannya terus tertuju pada Dave.

Lisa yang mendengar suara itu segera menghampiri.

“Jangan, Nyonya. Biar saya saja yang membersihkannya,” ucapnya, lalu bergegas mengambil peralatan kebersihan di gudang.

Elia menautkan kedua tangannya. Tubuhnya terasa meremang, sementara jantungnya berdegup tak karuan. Jam dinding sudah menunjukkan pukul satu dini hari, namun Dave belum juga pulang. Ia sudah mengirim beberapa pesan, tetapi tak satu pun mendapat balasan.

“Aku telepon saja,” gumamnya pelan, lalu mendial nomor Dave. Namun sia-sia. Ponsel itu dalam keadaan mati, hanya suara operator yang terdengar di telinganya.

Padahal, Dave memang sering keluar malam, tetapi selalu pulang tepat pukul dua belas. Pesan-pesan dari Elia pun biasanya tetap ia balas, meski singkat.

Dengan langkah gelisah, Elia masuk ke kamarnya. Ia berganti pakaian, mengenakan hoodie dan celana panjang. Lisa yang tengah mengepel lantai bekas tumpahan susu sontak terkejut dan menatap heran.

“Nyonya, mau ke mana malam-malam begini?” tanyanya dengan nada khawatir.

“Ini sudah pukul satu, tapi Dave belum juga pulang. Hatiku benar-benar tidak tenang, Lis,” jawab Elia.

“Lalu Nyonya mau mencari Tuan ke mana? Apa Nyonya sudah menghubunginya?”

“Sudah, tapi ponselnya tidak aktif. Dave bilang ingin menemui temannya. Aku juga sudah menghubungi Erik, tapi belum ada jawaban.”

“Kenapa Nyonya tidak mencoba bertanya pada Tuan Nick? Barangkali beliau tahu.”

Deg!

Elia langsung terdiam. Ia sama sekali tidak memikirkan hal itu sejak tadi. Bisa saja Dave pergi ditemani asistennya.

“Kau benar, Lisa. Tunggu sebentar,” ucap Elia sambil meraih ponselnya. “Aku akan coba menghubungi Nick.”

Untungnya, sejak Elia bergabung di perusahaan Dave, ia sempat bertukar nomor ponsel dengan Nick untuk keperluan pekerjaan. Elia segera menghubunginya. Panggilan tersambung, meski belum langsung terangkat.

Di tempat lain, Nick yang tengah terlelap samar-samar mendengar ponselnya bergetar. Dengan mata yang masih terasa berat, ia meraba ke samping dan mengangkat panggilan itu.

“Halo,” ucapnya dengan suara parau karena kantuk.

[Halo, Nick. Maaf mengganggu waktu tidurmu. Aku boleh minta bantuan?]

Nick sontak tersentak. Ia langsung mengenali suara Elia yang terdengar panik.

“Ada apa, Nyonya?” tanyanya, kini lebih waspada.

[Dave pergi sejak pukul delapan malam, tapi sampai sekarang belum juga pulang. Aku takut terjadi sesuatu padanya. Perasaanku juga mendadak tidak enak], ungkap Elia dengan suara bergetar.

“Memangnya, Tuan Dave tidak mengatakan akan pergi ke mana?” tanyanya hati-hati.

[Tidak. Dia hanya bilang akan menemui teman-temannya. Padahal yang aku tahu, teman-teman Dave hanya Erik, Albert, dan James.]

Nick terdiam sejenak. Dalam hati, ia sudah tahu dengan siapa Dave kemungkinan besar bertemu—Bianca.

“Apakah Nyonya sudah mencoba mengirim pesan atau menelepon Tuan Dave?” tanyanya kemudian.

[Sudah, tapi tidak ada respons. Bahkan saat aku menelepon terakhir kali, ponselnya sudah tidak aktif. Aku semakin khawatir, Nick. Tolong bantu aku.]

“Baik, Nyonya. Saya akan mencoba melacak keberadaan Tuan Dave sekarang. Untuk sementara, sebaiknya Nyonya menunggu kabar dari saya,” ujarnya tegas.

[Baik, Nick. Terima kasih.]

Panggilan pun berakhir.

Nick segera turun dari tempat tidurnya dan bergegas menuju meja kerja. Ia menyalakan tablet terlebih dahulu, lalu masuk ke sebuah aplikasi sistem khusus. Melalui aplikasi itu, ia dapat melacak lokasi ponsel berdasarkan nomor yang terhubung.

“Jalan Sukhumvit nomor 101?” gumamnya pelan. Ia memperbesar tampilan peta dan menelusuri alamat tersebut lebih detail.

“Gudang kosong?” napasnya tertahan. “Astaga… apa yang sebenarnya sedang Tuan Dave lakukan di sana?”

Tak hanya melacak ponsel Dave, Nick juga memasukkan nomor Bianca. Keduanya terdeteksi berada di lokasi yang sama, namun pada titik yang berbeda.

Tanpa berpikir panjang, Nick segera menghubungi kembali Elia dan menyampaikan apa yang baru saja ia temukan. Mendengar penjelasan itu, Elia langsung meminta Nick untuk segera mencarinya.

Nick mengenakan jaket dan topinya. Ia segera meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja kerja. Dengan langkah cepat, ia membuka pintu dan memundurkan kendaraannya keluar dari halaman rumah.

Elia tak mau tinggal diam. Ia segera memesan taksi online untuk menjemputnya di rumah. Tangannya bergetar saat memasukkan alamat tujuan.

“Dave, semoga kau baik-baik saja di sana,” gumamnya lirih.

Tak lama kemudian, taksi tiba tepat di halaman rumah. Elia segera keluar dengan langkah tergesa.

“Antarkan aku ke Jalan Sukhumvit nomor 101,” titahnya kepada sopir taksi.

“Baik, Nyonya,” jawab sang sopir.

Sepanjang perjalanan, Elia tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan Dave. Ia juga mengirim pesan kepada Nick sambil membagikan lokasinya. Nick sempat memintanya pulang dan membiarkannya menangani semuanya seorang diri. Namun Elia tetap bersikeras ikut dan ingin menyaksikan apa yang sedang terjadi.

Bug!

Tinjuan keras melayang menghantam wajah Dave. Kedua tangannya terikat kuat pada sebuah tiang. Sementara itu, Bianca telah dipindahkan ke tempat lain atas perintah Alex kepada anak buahnya.

“Mana orang suruhanmu yang pernah berani menangkapku waktu itu?” tanya Alex sambil tertawa puas. Ia kemudian menunjukkan layar ponselnya. Dave terperangah. Marchel dan anak buahnya tewas dalam kondisi mengenaskan.

“Brengsek kalian! Siapa kalian sebenarnya?” Dave tetap berusaha melawan, meski suaranya terdengar tersengal.

Alex terus memukulinya tanpa ampun, seolah ingin meluapkan seluruh amarahnya.

“Kau berurusan dengan orang yang salah, Dave,” ucapnya dengan tawa licik.

Dave membalasnya dengan senyum sinis. “Kau pengecut, Alex. Kau hanya berani mengeroyok.”

Mendengar hal itu, emosi Alex semakin tersulut. Ia lalu memerintahkan Joe untuk melepaskan tali yang mengikat Dave pada tiang.

“Sekarang ikatannya sudah terlepas. Ayo, lawan aku,” tantang Alex.

Dengan langkah sempoyongan, Dave berusaha maju untuk melawan. Namun baru saja melangkah, tubuhnya sudah ambruk ke lantai. Hal itu membuat Alex dan Joe tertawa puas, seakan kejadian tersebut menjadi hiburan bagi mereka berdua.

“Jangan berlagak hebat di depanku, Dave.”

Nick tidak tinggal diam dan pasrah hanya mengandalkan dirinya sendiri. Ia segera menghubungi pihak kepolisian. Setelah dilakukan pengecekan melalui rekaman CCTV, terlihat jelas sebuah mobil hitam metalik dengan pelat nomor milik Dave memasuki kawasan Sukhumvit. Namun kendaraan itu tidak sendirian. Ada beberapa mobil lain yang ikut mengiringinya. Hal tersebut terasa janggal. Tidak masuk akal jika Dave pergi ke tempat seperti itu seorang diri. Kecurigaan pun semakin menguat, dan pihak kepolisian segera bergerak menuju TKP.

Dave mencoba bangkit dan melayangkan tinju ke arah wajah Alex. Namun pandangannya kembali kabur, membuat tubuhnya terhuyung lalu terjatuh lagi ke lantai.

“Di mana Bianca? Jangan sekali-kali kau mencoba menyentuhnya,” gumamnya lirih.

“Berani sekali kau menyebut nama kekasihku!” bentak Alex.

Dave tertawa meremehkan. “Kekasihmu? Kau pasti bermimpi. Dia itu kekasihku. Kau hanya orang yang mengaku-ngaku saja,” ucapnya.

Ucapan itu semakin memprovokasi Alex. Dengan wajah penuh amarah, ia mengeluarkan belati dari saku celananya.

“Sialan! Mati saja kau!” Alex hendak menusuk Dave, namun langkahnya terhenti ketika salah satu anak buahnya datang melapor. Dari kejauhan terlihat iringan beberapa mobil polisi memasuki kawasan Sukhumvit.

Rahang Alex mengeras. Suara sirene mulai terdengar, meski masih samar.

“Tuan, lebih baik kita segera pergi dari sini,” ujar Joe.

Alex terpaksa mengalah, meski jelas ia belum puas sebelum Dave benar-benar habis di tangannya. “Baik. Tapi sebelum itu, bakar tempat ini. Hilangkan jejak, dan biarkan brengsek ini mati terpanggang,” katanya dingin. Ia lalu melempar tubuh Dave ke lantai dengan keras hingga pria itu pingsan.

Sebelum benar-benar pergi, salah satu anak buah Alex dengan sigap menyiramkan bensin ke area sekitar dan melempar korek api yang menyala. Dalam sekejap, si jago merah merambat ke segala sisi.

Dor!

Alex sengaja melepaskan tembakan ke arah salah satu mobil polisi, berniat mengalihkan perhatian. Dengan begitu, para polisi akan mengejar mereka dan mengabaikan gedung tua yang mulai terbakar.

“Astaga! Asap apa itu?” Elia semakin panik saat melihat asap tebal membumbung tinggi.

Nick juga menyaksikan kejadian itu. Beberapa polisi ikut bersamanya, sementara sebagian lainnya mengejar Alex dan anak buahnya.

Elia keluar dari dalam taksi dengan langkah gontai. Firasatnya mengatakan Dave masih berada di dalam gedung itu. Namun ketika ia hendak mendekat, api semakin membesar hingga membuatnya terbatuk-batuk.

“Nyonya, jangan mendekat. Ini berbahaya!” Nick memperingatkan.

“Dave… dia pasti ada di dalam,” ucap Elia dengan suara bergetar.

Nick kembali memastikan titik lokasi. “Ya, saya rasa Tuan Dave memang masih berada di dalam.”

Air mata Elia jatuh tak terbendung. Bagaimana jika Dave mati terpanggang di sana? Pihak kepolisian sedang menghubungi pemadam kebakaran, namun mereka harus menunggu, dan itu memakan waktu.

Elia menarik napas panjang. Ia menyerahkan ponselnya kepada Nick, lalu berlari menerobos pintu masuk gedung itu.

“Nyonya Elia!” teriak Nick panik.

“Dave!” seru Elia sambil menutup hidung. Matanya perih akibat asap tebal. Ia segera mendekati Dave yang tergeletak dengan wajah penuh luka. “Dave!” teriaknya lagi. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Elia membopong tubuh Dave untuk berdiri, sama sekali tak memedulikan bahaya yang mengancam dirinya.

“Ah!” Elia meringis kesakitan saat percikan api mengenai kakinya. Namun ia menahan rasa sakit itu demi menyelamatkan Dave. Ia kembali melangkah menuju pintu keluar. Saat jarak mereka tinggal beberapa langkah lagi, Elia mendapati sebuah balok kayu jatuh mengarah ke Dave. Tanpa berpikir panjang, ia segera memeluk Dave erat-erat, membiarkan kayu itu menghantam kepalanya.

Suara semprotan apar terdengar. Nick terkejut ketika melihat Elia yang kini juga tergeletak dalam keadaan pingsan.

“Astaga! Nyonya!” serunya panik sambil berlari menghampiri mereka. Sementara itu, salah satu petugas polisi menyemprotkan apar ke area pintu yang akan dilalui.

Elia dan Dave segera dibawa masuk ke dalam mobil, meninggalkan mobil Dave yang tak lama lagi akan ikut terbakar bersama gudang tersebut.

“Ayo, kita harus segera meninggalkan lokasi ini. Berbahaya jika masih ada aliran listrik yang aktif, bisa memicu ledakan,” ujar salah satu petugas polisi.

Mobil Nick dan kendaraan polisi lainnya segera melaju meninggalkan lokasi, berpapasan dengan mobil pemadam kebakaran yang baru tiba.

“Tuan… Nyonya… bertahanlah,” lirih Nick, sesekali menoleh ke arah kursi belakang untuk memastikan kondisi kedua atasannya.

1
kalea rizuky
mana karma. buat jalang enaknaja dia dia sukain alex dan bahagia punya anaknya rela q mending di buat kegugudan trs rahim. rusak itu baru adil
kalea rizuky
laki bejat selingkuh ampe nidurin
sutiasih kasih
demi jalang.... n ancamannya km gercep ambil tindakan dave....
hadeuh dave.... ank siapa yg brtanggung jawab siapa🤣🤣🤣
Nnar Ahza Saputra
alex bertindak,, itu kn anak.ny alex,,,
kalea rizuky
cpet bkin Cerainthor gk sbar nunggu Dave gila
sutiasih kasih
lanjut thor
sutiasih kasih
lagian... istri sah di anggp musuh... di hindari....
eeee mlah lbh milih mnjatuhkn pilihan ke jalang....
istri di cuekin... eeee sm si jalang prhatian bgt...
skrg minta ksempatan.... g tau malu n g tau diri km dave.... elia km kasih barang bekasan jalang...
🙄🙄
Cookies
lanjut
Cookies
lanjut thor
kalea rizuky
nyesel mu g guna uda makan itu jalang bergilir lu doyan kam
sutiasih kasih
mkanya jgn nafsu yg km gedein dave.... smpe" buta mata dan hatimu...
udah g usah drama dave... bukankah perempuan pujaanmu adalah bianca...
jdi kmbali lah ke bianca...😅😅
sutiasih kasih
jgn prnah ada kata kmbali elia...
rugi dpt bekasan si bianca jalang...
dave g cocoj dpt perempuan sebaik km elia...
dave cocoknya dpt perempuan jalang..
sutiasih kasih
istri cantik... paket komplit... harus brsaing dgn perempuan yg cm modal selangkangan🙄🙄
sutiasih kasih
ya elah.... bini di rumsh nungguin dgn setia....
suami lgi main lndir sm jalang di luar....
ntar jalangnya hamil....
istri sah harud ngalah dan prgi...
Melinda Cen
lanjut perbnykkan eps nya dong
Nnar Ahza Saputra
gugat cerai aza... pergi nd menjauh,,,
Melinda Cen
lanjut
Melinda Cen
yeee akhirnya Dave menyesal. jgn mau kembali lg elia
Cookies
lanjut
Melinda Cen
lanjut thor, semoga elia berpisah dengan Dave. dan Dave kan menyesal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!