"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 — Empat Puluh Delapan Jam
Konferensi pers dijadwalkan pukul empat sore.
Kurang dari enam jam lagi.
Gedung utama sudah dipenuhi wartawan sejak siang. Kamera berdiri seperti barisan senjata yang siap ditembakkan.
Di ruang kerjanya, Arlan berdiri menghadap layar besar berisi data proyek lima tahun lalu.
Laporan risiko.
Email internal.
Catatan rapat.
Semuanya ada.
Termasuk bagian yang paling berbahaya—
persetujuan akhir dengan tanda tangannya.
Ia tidak menghindarinya.
Ia menatapnya lama.
“Tim legal siap?” tanyanya tanpa berbalik.
“Siap, Pak,” jawab kepala hukum perusahaan. “Tapi jika Bapak membuka detail internal, itu bisa berujung investigasi resmi.”
“Aku tahu.”
“Itu bukan hanya reputasi, Pak. Itu bisa jadi pidana.”
Arlan terdiam beberapa detik.
“Kalau memang ada yang harus dibayar, lebih baik aku yang membayarnya.”
Di apartemen, Aira tidak tinggal diam.
Ia membuka kembali arsip lama milik ayahnya.
Dokumen yang dulu tidak pernah ia baca sampai tuntas karena terlalu menyakitkan.
Proposal revisi.
Catatan tangan.
Satu email yang belum pernah ia perhatikan sebelumnya.
Ia membukanya.
Tanggalnya dua hari sebelum proyek disahkan.
Pengirim: Ayahnya.
Penerima: Arlan Dirgantara.
Isinya singkat.
Jika kamu menarik diri sekarang, seluruh beban akan jatuh pada kami. Aku mohon, lanjutkan. Kita bisa menutupnya dengan fase kedua.
Aira membeku.
Itu bukan ancaman.
Itu permintaan.
Jadi—
Arlan memang punya pilihan.
Tapi bukan pilihan yang sederhana.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari nomor tak dikenal lagi.
Kau sudah menemukan sesuatu, bukan?
Darahnya seperti berhenti mengalir.
Mahendra.
Ia mengetik balasan untuk pertama kalinya.
Apa tujuanmu sebenarnya?
Jawaban datang cepat.
Menunjukkan bahwa pahlawanmu tidak sebersih yang kau kira.
Aku tidak pernah menganggapnya pahlawan.
Tapi kau hampir melindunginya.
Aira menatap layar lama.
Lalu ia mengetik:
Kalau kau ingin menghancurkannya, kenapa seret ayahku lagi?
Balasan kali ini lebih lama.
Karena kebenaran yang setengah lebih menyakitkan daripada kebohongan utuh.
Aira menutup layar.
Ia tidak akan jadi pion.
Tidak untuk Mahendra.
Tidak untuk Arlan.
Empat sore.
Ruang konferensi pers penuh.
Lampu kamera menyala terang ketika Arlan melangkah ke podium.
Tidak ada senyum.
Tidak ada pembukaan panjang.
“Saya akan langsung ke inti,” katanya tenang.
“Lima tahun lalu, saya menyetujui proyek yang berisiko tinggi. Keputusan itu berdampak pada kebangkrutan salah satu mitra kami.”
Kilatan kamera bertubi-tubi.
“Saya tidak menyangkal tanda tangan saya ada di sana.”
Ruangan riuh.
Beberapa wartawan langsung berdiri.
“Tapi saya juga tidak akan membiarkan narasi dipelintir,” lanjutnya.
Ia memberi isyarat.
Layar besar di belakangnya menampilkan kronologi lengkap.
Termasuk email.
Termasuk revisi.
Termasuk catatan rapat yang menunjukkan bahwa proyek itu adalah keputusan kolektif—bukan satu orang.
Nama ayah Aira muncul.
Namun kali ini—
bukan sebagai kambing hitam.
Melainkan sebagai pihak yang juga mempertaruhkan segalanya untuk menyelamatkan timnya.
“Jika ada kesalahan,” lanjut Arlan, “itu adalah kegagalan sistem, bukan pengkhianatan individu.”
Seorang reporter berteriak, “Apakah Anda menyesal?”
Arlan menatap lurus ke kamera utama.
“Setiap keputusan besar selalu meninggalkan luka. Tapi saya tidak pernah berniat menghancurkan siapa pun.”
Di luar dugaan—
Aira masuk ke ruangan itu.
Semua kepala menoleh.
Ia berjalan tanpa ragu, berhenti di sisi panggung.
Bukan di belakang.
Di samping.
Arlan sempat terdiam sesaat melihatnya.
Seorang wartawan langsung menodongkan pertanyaan.
“Nona Aira, apakah Anda membenarkan pernyataan CEO?”
Aira mengambil mikrofon kedua.
Suara ruangan mendadak hening.
“Ayah saya bukan korban manipulasi,” katanya tegas.
“Dan bukan pula pengkhianat.”
Ia menatap ke arah kamera.
“Dia membuat keputusan sebagai pebisnis. Sama seperti Pak Arlan.”
Bisik-bisik mulai terdengar.
“Jika Anda ingin menyalahkan seseorang,” lanjutnya, “salahkan risiko. Salahkan sistem. Tapi jangan gunakan nama orang yang sudah tidak bisa membela diri untuk permainan kekuasaan.”
Kalimat itu bukan untuk wartawan.
Itu untuk Mahendra.
Arlan menatap Aira—bukan dengan rasa terkejut.
Tapi dengan sesuatu yang lebih dalam.
Keputusan.
Di tempat lain, di sebuah ruangan gelap dengan layar besar—
Mahendra mematikan siaran langsung.
Ia tersenyum tipis.
“Menarik,” gumamnya.
Ia tidak terlihat marah.
Justru seperti baru saja menemukan permainan yang lebih seru.
“Kalau begitu,” katanya pelan,
“kita naikkan taruhannya.”
sangat seru