"Derajat kita berbeda, hidup kita tidaklah sama, aku tak pantas untukmu, walau aku mencintaimu"
Pada awalnya Nisa lebih dulu mengenal Ryan, saat ia menggantikan posisi bibinya sebagai seorang baby sitter untuk menjaga Viona, gadis kecil anak dari seorang Ryan Brawster.
Semakin hari Viona mulai merasa nyaman saat berada didekat Nisa, hingga membuat Viona ingin menjadikan Nisa sebagai ibu sambungnya. Namun, ternyata keinginan itu ditentang oleh Katty yang sudah menjodohkan Ryan anaknya dengan seorang wanita yang bernama Merry.
Akankah takdir menyatukan Nisa dan Ryan?
Apa keinginan Viona bisa terwujud?
Ikuti kisah mereka yang berliku dan penuh haru dalam menuju kebahagiaan.
Terima kasih semua.
Jangan lupa vote dan like ya.
Selamat membaca!
Terima kasih ya all.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memohon
Selamat membaca!
Saat ini Ryan tengah mengendarai mobil dengan perasaan yang kacau. Ia berulang kali memukul kemudinya dengan keras, untuk melampiaskan amarahnya atas kebodohan yang ia lakukan tadi kepada Nisa.
"Bodoh, bodoh, bodoh! Kenapa aku harus melakukan itu pada Nisa? Aku akui, aku memang sangat merindukan Bella, tapi kenapa aku harus melampiaskan hasratku pada wanita yang bukan milikku dan bodohnya dia baru aku temui hari ini!" Ryan terus berteriak selama dalam perjalanan dengan wajah yang merah padam.
"Kalau sudah begini, bagaimana mungkin Nisa mau bekerja di perusahaanku? Sekarang dia pasti sangat membenciku." Ryan meremas rambutnya karena frustasi.
Walau begitu Ryan masih dapat bernapas lega, karena ia tidak sampai menodai Nisa. Namun bayangan saat mencecapi bibir dan puncak dada Nisa, masih melekat erat dalam pikirannya.
"Aku sebaiknya minta maaf kepada Nisa. Malah jika perlu, aku akan mengganti kerugian atas apa yang telah aku lakukan padanya, sekalipun dia memintaku untuk menikahinya."
Ryan memutar balik kendaraannya untuk kembali ke arah apartemen Nisa, hatinya tidak tenang bila harus pulang tanpa mengantongi maaf dari Nisa, setelah ia melakukan suatu kesalahan yang teramat besar dalam hidupnya.
Ryan menginjak pedal mobilnya dalam-dalam untuk memacu laju kendaraannya. Tak butuh waktu lama, hanya lima menit yang Ryan butuhkan untuk kembali memarkir mobilnya di lobi apartemen. Ryan keluar dengan tergesa lalu memberikan kunci mobilnya pada petugas valet.
Langkah kaki Ryan yang panjang mengantarkannya sampai di depan pintu lift. Pintu lift pun terbuka. Ryan masuk lalu menekan tombol sebagai tujuannya berhenti. Setibanya di depan pintu kamar Nisa, rasa ragu mulai menyelinap membuat tangannya berhenti untuk menekan bel pada pintu.
"Semoga saja kedatanganku kali ini, dapat diterima oleh Nisa. Semoga dia mau memaafkanku," batin Ryan penuh harap.
Ryan mengesah kasar. Ia dengan yakin menekan bel pada pintu. Namun sudah berulang kali bel itu berbunyi, Nisa tak kunjung membukakan pintu untuknya.
"Nisa... Tolong buka pintunya sebentar saja, ada hal penting yang harus aku bicarakan." Ryan terus memohon pada Nisa, agar menemuinya satu kali aja. Bahkan saat ini kewibawaan dalam dirinya seolah hilang karena rasa bersalahnya.
Sudah 20 menit Ryan berdiri di depan pintu tanpa mendapat jawaban dari Nisa, hingga suara dering ponsel membuatnya tersentak kaget.
Ryan mengambil benda pipih itu dari balik saku jasnya, lalu ia menatap layar ponsel untuk melihat nama si penelepon yang tertera di sana.
"Mia, untuk apa dia menghubungiku?"
Seketika perasaan cemas menghantui pikirannya, karena tidak biasanya Mia menghubunginya semalam ini, apalagi saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 22.00, pasti Viona sudah lelap tertidur sambil memeluk bantal guling yang dianggapnya sebagai Bella.
Ryan pun segera menjawab panggilan masuk dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Ya Mia, ada apa?" tanyanya tetap berusaha tenang.
"Tuan, maaf kalau saya mengganggu, tapi saya harus menyampaikan hal penting ini. Ini tentang Nona Viona, Tuan."
Perasaan Ryan semakin cemas setelah mendengar nama Viona disebut oleh Mia dengan suara yang terdengar lirih.
"Ada apa dengan Viona, cepat katakan Mia?" tanya Ryan dengan perasaan takut sesuatu yang buruk terjadi pada putri kecilnya itu.
"Nona Viona demam tinggi, Tuan. Saya sudah memberikannya obat penurun demam, tapi sampai sekarang demamnya tidak juga turun. Nona Vio juga terus mengigau memanggil Nyonya Bella." Mia terdengar menangis dengan terisak dari balik telpon, yang membuat jantung Ryan berdetak cepat tak beraturan.
Pikirannya saat ini langsung tertuju pada kondisi Viona dan melupakan sejenak alasannya kenapa dia kembali ke apartemen ini.
"Jaga Viona dengan baik, Mia. Saya akan segera pulang dan kita akan bawa Viona ke rumah sakit!" ucap Ryan penuh penekanan dengan mata yang sudah memerah, karena rasa khawatir pada putrinya yang teramat dalam.
Ryan segera memutuskan panggilan, lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya. Kini kedua matanya menatap nanar ke arah pintu apartemen Nisa yang masih tertutup rapat, Ryan pun tak punya pilihan lain, selain bergegas pulang dan menunda niatnya untuk meminta maaf kepada Nisa.
"Nisa, aku akan kembali lagi setelah putriku sembuh!" ucapnya sebelum berlari meninggalkan kamar Nisa untuk menuju sebuah lift yang berada di ujung koridor.
Bersambung ✍️