Abimana Rahardjo adalah putra pemilik sebuah pesantren dan merupakan penerus dari pondok pesantren milik keluarganya karena dia merupakan putra satu-satunya keluarga tersebut.
Sejak kecil dia telah di jodohkan dengan seorang gadis yang merupakan putri asuh keluarga Rahardjo yakni Kemala Putri Dewi yang merupakan putri sahabat kedua orangtuanya.
Kemala yang telah lama jadi yatim piatu sejak usia 10 tahun harus merelakan cita-citanya yang ingin jadi dokter karena sebuah balas budi.
Pernikahan karena dijodohkan itu benar-benar mencekik Kemala dikarenakan sang suami yang rupanya memilih poligami dengan perempuan yang telah lama ada dihati Abimana.
Hati Kemala hancur karena cinta suami yang tak kunjung dia dapatkan dan karena kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga mereka.
Hingga suatu hari, seorang pemuda mampu menggoyahkan hati Kemala.
Laki-laki yang dianggap urakan dan bertato layaknya preman.
simak kisahnya di Memeluk Bayangan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
santri baru?
Suasana pondok pagi ini cukup riuh terutama di bagian santri laki-laki yang berada disisi barat dari pintu gerbang utama pondok.
Kawasan pondok pesantren Abah Adi ada beberapa komplek.
Bagian pintu masuk disambut gerbang setinggi 5 meter dan sebuah taman dengan kolam air mancur serta deretan pepohonan yang ditanam di pinggir jalan kawasan menuju dalam pondok.
Setelahnya rumah Abah dibangun dua lantai. Disisi timur dari rumah Abah berjarak 200 meter, ada rumah yang kini ditempati oleh Kemala sebagai hadiah pernikahan dari Abah.
Disusul komplek perumahan bagi para pengajar yang telah berumah tangga. Sementara bagi pengajar yang masih lajang dibuatkan mess sesuai dengan gender mereka. Pengajar laki-laki berada di area pondok laki-laki begitupun pengajar perempuan berada di area pondok bagian perempuan lengkap dengan masjid di masing-masing area tempat para santri mengadakan kegiatan halaqah.
Yayasan pondok pesantren Al Mahira menerima murid dari berbagai usia dan berbagai kalangan masyarakat.
Mereka juga akan memberi beasiswa jika ada santri berprestasi atau berasal dari keluarga kurang mampu secara ekonomi namun memiliki niat yang kuat dalam menuntut ilmu. Tak hanya ilmu agama, ponpes ini juga mengajarkan ilmu umum dan berbagai bahasa. Bagi Abah Adi, kehidupan dunia tetap harus disandingkan dengan kehidupan akhirat.
Di lobi ruang majelis, terlihat Abimana baru saja tiba di kantornya usai mengantar Kirana. Dia dibuat mengernyit, melihat sebuah mobil sedan keluaran Eropa sudah terparkir dihalaman.
"Ustadz Herman.... Siapa yang datang?" tanyanya kepada salah satu ustadz pengajar pondok.
Herman tergopoh-gopoh, menghampiri Abimana.
"Assalamualaikum Gus... Itu, ada tamu pak Kyai didalam..." sahutnya menoleh ke ruangan berdinding kaca tebal tertutup oleh roller blind dari dalam.
Abimana terlihat berpikir sejenak.
"Gus... Apa benar, dia akan jadi murid disini?" bisik Herman ingin tahu.
"Memangnya kenapa? Kan pondok kita terbuka untuk siapa saja...."
"Tapi kan, Gus... "
"Tapi apa? Sudah ya, saya mau bertemu Abah..." Abimana hendak berlalu, namun Herman sepertinya masih ingin bicara.
"Tapi dia penuh tato, Gus.. Telinganya juga masih ada antingnya... Seram. Kayak tukang pukul. Mana tinggi lagi seperti raksasa" Herman sampai bergidik ngeri menggambarkan sosok laki-laki yang sedang bertamu di ruangan Abah Adi.
"Kamu ada-ada saja... Mana ada raksasa jaman sekarang... Sana, sudah waktunya adik-adik hafalan kitab..." kekeh Abimana yang disusul wajah cemas Herman karena dia hampir ketinggalan waktu mengajar.
Apa bentukan Sean semenyeramkan apa yang diucapkan Herman?, batin Abimana ikut penasaran.
Tanpa menunggu lagi, Abimana segera mengetuk pintu ruangan Abah Adi.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum sallam... Masuk..." sahut Abah dan tamunya serempak.
Abimana melangkah masuk dan tatapannya jatuh pada sosok laki-laki yang duduk santai di kursi sebelah kanan Abah.
"Nah... Itu Abimana..." seru Abah begitu melihat putranya memasuki area kantor.
"Abi, ini pak Danu dan putranya Sean.. Kamu masih ingatkan?"
Abimana menyalami pak Danu "Assalamualaikum pak..." sapanya hormat.
"Waalaikum sallam, Abimana... Kamu makin gagah saja... " ucap pak Danu, memuji penampilan Abimana.
Lalu Abimana mengulurkan tangannya pada Sean yang sepertinya sedang memindai penampilan teman masa kecilnya. Senyum tipis dari bibir Sean membuatnya bak mafia yang bertemu musuh bebuyutan.
"Hai bro... How are you?" sapa Sean berdiri mendekati Abimana dan mengulurkan tangan hendak bertos ala pria.
Abimana menyambut jabat tangan itu tapi dengan wajah datar.
"Kenapa penampilan mu seperti penjahat kelas kakap Sean?" ucap Abimana tanpa basa-basi.
Beruntung, Sean hanya menimpalinya dengan tawa renyahnya.
"Style Amerika bro..." sahut Sean masih dengan gaya slengean.
Abimana hanya bisa menggeleng kecil.
"Makanya saya membawa Sean kemari agar dia bisa berubah... Tolong dibantu ya Abimana..." ujar Pak Danu dengan tatapan bersahajanya.
Sean memutar bola matanya, jengah.
"Saya keluar dulu... Disini pengap!" ucap Sean memilih keluar dari ruangan.
Pak Danu lagi-lagi menghela nafas berat.
"Ya... Seperti yang kamu lihat Abi... Sean sangat berbeda dari yang sebelumnya... Ternyata kehidupan negara maju jika kita tidak pandai mengendalikan diri akan terjerumus dan terperosok jatuh kedalamnya... Begitu pun dengan Sean... Dan ini semua, ada andil saya sebagai seorang ayah yang bisa dibilang gagal mendidiknya...." ucapnya dengan wajah sendu.
Abah menepuk bahu Danu.
"Insyallah, Sean berada ditempat yang tepat... Kamu jangan khawatir, dia akan kembali jadi Sean yang kita kenal dulu..." hibur Abah.
Abimana menoleh kearah pintu keluar.
Dia lalu pamit dan meninggalkan dua pria paruh baya itu berbincang.
Sean berjalan mengelilingi area pondok.
Sebungkus rok*k mahal dia keluarkan dari saku celana jeans mahalnya, lalu meletakkan sebatang disela bibirnya.
Belum sempat dia membakar batang nikotin itu, Abimana telah merebutnya dan mematahkan hingga menjadi 2 bagian.
"Lihat itu... Bisa bacakan?" tunjuk Abimana pada spanduk bertulis 'Area Bebas Asap Rokok' yang dipasang di beberapa bagian dinding bangunan ponpes.
Sean berdecak kesal.
Wajah kesalnya berubah jadi tengil kala dia mengingat sesuatu tentang Abimana.
"Oi.. Pak Kyai bilang, kamu udah nikah. Sama dua perempuan lagi...." dia menggeleng kecil, "Hebat juga ya... Saya kira, kamu hanyalah laki-laki kutu buku dengan kitab tebal yang terselip didalam tas. Ternyata ganas juga... Eh nggak ganas deh, tapi tamak...!" sebuah senyum tipis mengejek tertera jelas diwajah Sean ketika mengatakan kalimat terakhirnya.
Rahang Abimana mengeras. Tatapannya tak lagi bersahabat seperti tadi.
"Jangan mengurusi urusan orang lain sebelum kamu membenahi dirimu! Dan jaga ucapan mu! Saya hanya sedang melakukan sunnah, daripada harus berzina seperti seseorang yang suka gonta-ganti pasangan dan akhirnya terperosok jatuh kedalam lumpur hitam...!" tukasnya menahan nada suaranya.
Bukannya tersinggung, Sean justru makin terkekeh.
"Kamu masih sama saja seperti dulu Abimana..." ejeknya dengan wajah makin tengil.
"Jangan sok pandai menilai orang kamu, Sean! Kita bahkan tidak seakrab itu untuk saling memahami satu-sama lain! Dan satu hal yang harus kamu ketahui, disini bukan seperti Amerika atau Eropa yang kamu bangga-banggakan itu. Semua orang disini punya aturan dan bagi yang melanggar, siap-siap akan menerima hukuman... " Abimana memasukan remahan batang r*kok milik Sean tadi kedalam saku kemeja laki-laki yang masih memandang datar punggung Abimana yang kini mulai menjauh.
Sean memainkan lidahnya dengan senyum penuh arti.
"Dasar sok suci!" desisnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semua santri laki-laki tak bisa berkonsetrasi dengan baik karena perhatian mereka kini teralihkan pada sosok Sean yang duduk santai di kursi taman dibawah pohon rindang.
Ustadz Herman yang masih bercuap-cuap didepan kelas bahkan diabaikan oleh murid-muridnya.
Sadar tidak diperhatikan, ustadz Herman ikut menoleh mengikuti beberapa muridnya yang sibuk menatap keluar jendela.
"Itu salah satu contoh jika kalian tidak memiliki bekal ilmu agama. Jadi preman!" nada rendah Herman tepat disisi wajah murid-murid yang asik mengintip Sean dari balik jendela kelas.
Semua murid jadi salah tingkah karena aksi mereka tertangkap basah oleh gurunya.
"Tapi dia keren ustadz... Gayanya cool.." seru satu murid.
"Kamu salah lihat Arka! Itu bukan cool, tapi berandalan!" ucap Herman lebih sarkas.
"Jika kalian masih ingin memperhatikan orang itu, kalian keluar saja!" kali ini ucapan Herman lebih tegas hingga para murid kembali pada kegiatan mereka memperhatikan pelajaran.
Ustadz Herman juga memerintahkan untuk semua yang diduduk di sisi jendela agar menutup semua gordennya.
"Belum sehari tapi udah bikin onar.." gerutu ustadz Herman kesal.
bersambung....