NovelToon NovelToon
Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: EMPIRE RAJA

**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**

Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.

Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.

Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 rasa canggung

Pagi itu Altres mulai bersiap untuk berangkat menuju ibu kota Uddine guna menemui Kaisar Cassius Kedua. Ia sedang mengancingkan jubah perjalanannya di aula depan ketika Erin muncul dari lorong dan memperhatikan putranya dari ujung kepala sampai ujung sepatu, lalu bertanya dengan alis terangkat. "Kau akan pergi sendiri ke ibu kota Uddine?"

"Benar, Ibu." Altres mengangguk sambil merapikan sarung pedang di pinggangnya. "Aku harus melapor kepada Kaisar tentang festival panen yang akan diselenggarakan di Brune, dan beberapa hal yang berkaitan dengan perbatasan."

"Sejak menikah, kau belum pernah sekalipun membawa istrimu menghadap Kaisar." Erin melipat tangannya, nada suaranya tenang tetapi tidak menyisakan ruang untuk membantah. "Itu bukan hal yang benar, kecuali istrimu memang sedang sakit. Dan bila kau terus pergi sendirian, Kaisar bisa mulai mempertanyakan pernikahanmu dengan Veronica."

"Aku punya alasan yang bisa kuberikan bila Kaisar menanyakan soal istriku," sahut Altres cepat, tanpa berani menatap mata ibunya. "Kaisar pasti mengerti, apalagi aku hanya akan pergi sebentar."

"Alasan macam apa pun akan terdengar seperti dalih di telinga Kaisar. Aku tetap tidak setuju. Kau akan mengajak Veronica menghadap Kaisar, dan itu bukan permintaan."

Altres menghela napas panjang dan memijat pangkal hidungnya. Ingatan tentang kejadian kemarin masih terlalu segar, dan membayangkan harus duduk berdampingan dengan Veronica di dalam kereta selama berjam-jam membuat telapak tangannya berkeringat. "Di sana aku pasti sibuk sepanjang hari. Veronica pasti akan kesepian kalau kubawa."

"Kaisar bukan orang yang akan membiarkan seorang Duchess menunggu sendirian saat suaminya sibuk, Altres." Erin tersenyum penuh kemenangan karena tahu putranya sudah kehabisan alasan. "Kau pasti tahu itu."

Altres membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Ia mencari-cari sisa alasan di kepalanya, tetapi tak ada satu pun yang tersisa, dan akhirnya bahunya merosot pasrah seperti kesatria yang kalah di medan perang. "Baiklah. Aku akan mengajaknya."

Erin menepuk tangannya senang, matanya berbinar seperti anak kecil yang baru mendapat hadiah, lalu menoleh pada seorang pelayan yang berdiri tak jauh dari mereka dan menyuruhnya segera memberi tahu Emma bahwa Veronica akan ikut bersama suaminya ke ibu kota.

Sementara itu, di ruang kerjanya, Veronica tampak sibuk membaca beberapa catatan tentang keluarga Vanguard yang tersusun rapi di atas mejanya. Silsilah yang panjang itu penuh dengan tanggal kelahiran dan kematian, dan makin ia membaca, makin gelisah perasaannya. Tinta di halaman-halaman tua itu sudah memudar, seakan waktu sendiri sedang mengingatkannya betapa singkat hidup para pemilik nama itu. Hampir tak ada satu pun anggota keluarga itu yang berhasil mencapai usia seratus tahun. Ia menggigit bibir sambil menelusuri deretan nama dengan ujung jarinya, membandingkan angka-angka usia yang berhenti di tengah jalan dengan dua ratus tahun lebih yang sudah ia jalani sendiri. Mungkin memang lebih baik ia hidup bersama naga lain daripada bersama manusia, pikirnya, karena manusia pergi terlalu cepat, bahkan sebelum ia sempat terbiasa dengan kehadiran mereka.

Pintu terbuka dan Emma masuk dengan langkah ringan yang mencurigakan, senyumnya terlalu lebar untuk ukuran pagi yang biasa. "Nyonya, silakan bersiap-siap. Anda akan pergi ke ibu kota Uddine bersama Tuan Duke untuk menghadap Kaisar Cassius Kedua."

Veronica mengangkat kepala dengan kaget, hampir menjatuhkan catatan di tangannya. "Apa? Tidak bisa, Emma. Pekerjaan rumah masih menumpuk dan aku belum menyelesaikan tagihan bulan ini. Biarkan Altres pergi sendiri..."

Emma tidak membiarkannya menyelesaikan kalimat. Ia langsung menarik tangan Veronica dengan cekatan hingga wanita itu terseret berdiri dari kursinya, lalu menggiringnya ke kamar sambil menyiapkan gaun, perhiasan, dan alat rias dengan kecepatan yang mencengangkan. Tak lama kemudian, Veronica sudah duduk di depan cermin dengan rambut tertata rapi, anting berbentuk bunga di kedua telinganya, dan gaun abu-abu bermotif bunga yang jatuh anggun mengikuti lekuk tubuhnya. Ia terlihat begitu cantik sampai Emma sendiri berdecak puas sambil mengangguk-angguk.

"Aku sengaja memilih warna yang serasi dengan pakaian Tuan Duke," ujar Emma bangga sambil merapikan lipatan gaunnya. "Dengan begini Anda berdua akan terlihat seperti pasangan yang mesra."

Mendengar itu, wajah Veronica langsung berubah masam. "Aku ingin gaun yang lain, Emma."

"Tidak bisa, Nyonya. Sudah tidak ada waktu lagi." Emma menggeleng tegas lalu mendorong punggung majikannya pelan menuju pintu. "Kereta sudah menunggu dan Tuan Duke tidak boleh menunggu terlalu lama."

Dengan langkah berat dan bibir yang masih cemberut, Veronica berjalan menuju halaman depan sambil menggerutu pelan tentang gaun yang sama sekali tidak ia pilih sendiri. Di sana, Altres sudah menunggu di samping kereta kuda. Begitu sosoknya muncul di ujung halaman, Altres yang tadinya sedang memeriksa tali kekang terpaku di tempat. Gaun abu-abu itu berkibar pelan oleh angin pagi, dan anting bunga di telinganya bergoyang setiap kali ia melangkah, membuatnya tampak begitu anggun hingga Altres lupa menarik napas. Dadanya kembali sesak. Semakin hari semakin sulit baginya untuk mengabaikan wanita itu, tetapi ia buru-buru memalingkan pandangan ke arah lain seolah tali kekang kuda jauh lebih menarik.

Erin yang berdiri di dekat tangga tak bisa menyembunyikan senyum lebarnya melihat menantunya yang tampak begitu memesona pagi itu. "Bagaimana menurutmu, Altres?" tanyanya penuh harap.

"Dia... cantik," gumam Altres sambil terus menatap ke arah lain, ujung telinganya memerah hingga ke leher. "Gaunnya cocok untuknya."

Veronica menunduk dengan pipi yang menghangat dan tak berani menatap Altres sedikit pun, jemarinya sibuk meremas lipatan gaun di depan perutnya seolah itu satu-satunya tempat berpegang. Setelah beberapa saat yang terasa begitu panjang, Altres berdeham lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Veronica naik ke kereta. Veronica menatap tangan besar yang penuh bekas luka latihan itu sejenak dengan gugup, sebelum akhirnya menyambutnya dan melangkah naik. Namun pikirannya sama sekali tidak fokus, masih tertinggal pada tatapan Altres yang buru-buru berpaling tadi. Kakinya salah menapak pada anak tangga dan tubuhnya oleng ke belakang.

Altres bergerak sigap, menangkap pinggang Veronica dan menahan tubuhnya dengan satu lengan. Jarak wajah mereka mendadak begitu dekat hingga Veronica bisa melihat bayangan dirinya di mata pria itu. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya cemas, suaranya lebih rendah dari biasanya.

"Aku... tidak apa-apa." Veronica mengangguk cepat tanpa berani mengangkat wajah, lalu buru-buru naik ke dalam kereta sebelum Altres sempat berkata apa-apa lagi.

Altres menyusul masuk dan duduk di hadapannya. Namun ia segera menyadari ada yang janggal. Veronica menoleh ke luar jendela, mencari-cari seseorang, lalu bertanya dengan bingung. "Emma tidak ikut?"

Emma yang berdiri di halaman hanya tersenyum lebar dengan kedua tangan terlipat rapi di depan perut, lalu melambaikan tangan dengan penuh semangat. "Selamat bersenang-senang, Nyonya!"

Veronica hanya bisa menatapnya dengan wajah kesal sambil menggertakkan gigi, lalu duduk bersandar dan memalingkan wajah ke jendela. Ia tidak sudi menatap ke arah Altres dan memilih memandangi pemandangan di luar, meski sebenarnya tak ada satu pun yang ia perhatikan.

Altres menyadari sikap dingin itu dan keningnya berkerut dalam, sementara kereta mulai bergoyang pelan meninggalkan gerbang kediaman. Apakah Veronica tersinggung karena sikapnya kemarin? Naga yang angkuh seperti dia pasti merasa jijik disentuh oleh seorang manusia, apalagi sampai berciuman. Pasti itu terasa seperti penghinaan yang tak termaafkan baginya, dan wanita seperti dia tidak akan melupakannya begitu saja. Atau mungkin kemarin Veronica yang berada dalam pelukannya hanya terbawa suasana sesaat, dan kini setelah sadar ia merasa marah. Pikiran itu membuat dadanya kembali sesak, dan ia hanya bisa mengepalkan tangan di atas lututnya tanpa tahu harus berkata apa.

Roda kereta mulai berputar, berderak pelan di atas jalan berbatu, sementara di dalamnya keduanya duduk berhadapan tanpa ada yang bersuara, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri dan sama-sama menunggu orang lain membuka percakapan lebih dulu. Yang terdengar hanya derap kuda, derit roda, dan desir angin di balik jendela, seakan seluruh dunia ikut menahan napas menunggu salah satu dari mereka berbicara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!