Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Nasib Derita Istri Pekerja Kuli Bangunan
tak terasa waktu berlalu akhirnya para pekerja harus pulang waktu menunjukan pukul 17:00 sore hari, Burhan pun keluar dari lokasi kontruksi untuk rehat sejenak dan memesan nasi untuk jatah lembur malam dikantin kontruksi.
Setelah rehat sebentar dan memesan makan malam dikantin Burhan langsung menjumpai mandor sip malam agar dicatat hk kerja lemburnya dan langsung masuk kerja.
Malam semakin larut ketika jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Shift lembur Burhan akhirnya selesai.
Seluruh badannya terasa kaku, tetapi langkah kakinya tetap dipacu menuju minimarket sebelum pulang ke rumah. Di dalam minimarket, Burhan berdiri cukup lama di depan rak susu khusus ibu hamil dan suplemen kehamilan.
Ia memegang dompet kulitnya yang tipis, menghitung lembaran uang kertas hasil upah lembur harian yang baru saja diterimanya dari Mandor.
"Harganya naik lagi," gumam Burhan pelan melihat label harga pada kotak susu ukuran sedang.
Seorang kasir memperhatikan Burhan yang tampak ragu-ragu. "Ada yang bisa dibantu, Mas?"
"Oh, tidak, Mbak. Saya ambil kotak susu yang ini satu, sama buah apel merah dua biji," ujar Burhan seraya meletakkan barang-barang tersebut di atas meja kasir.
Setelah membayar, tersisa sedikit uang kembalian di telapak tangannya. Burhan menyunggingkan senyum lega. Meski kantongnya kembali menipis, setidaknya ia bisa membawa pulang nutrisi terbaik yang sanggup ia beli hari itu.
Sesampainya di rumah kontrakan berukuran empat kali enam meter itu, Burhan membuka pintu perlahan agar tidak membangunkan Anisa. Namun, Anisa ternyata masih duduk menyender di sofa ruang tamu sambil merajut kaus kaki bayi.
"Kok belum tidur, Nisa? Ini sudah jam sebelas malam," tegur Burhan lembut seraya melepas sepatu boot kerjanya.
Anisa bangkit berdiri dan mendekati Burhan. Ia mengambil tas lusuh suaminya. "Bagaimana Aku bisa tidur tenang kalau tahu suamiku belum pulang bekerja keras di luar?"
"Mas tidak apa-apa. Lihat, Mas bawakan apa," kata Burhan dengan nada bangga. Ia mengeluarkan kotak susu dan dua buah apel segar dari kantong plastik.
Anisa menatap kotak susu dan buah apel itu dengan pandangan haru. Ia paham betul berapa harga barang-barang tersebut dan berapa jam kerja keras yang harus ditukar Burhan untuk membelinya.
"Mas... ini pasti mahal sekali," cicit Anisa, air matanya tak membendung lagi. "Mas sampai tidak sempat makan siang kan tadi?"
"Mas sudah makan kok di pabrik," bohong Burhan. Padahal, siang tadi ia sengaja melewati jam makan siang dan meminum air putih banyak-banyak agar uang makan hariannya bisa dihemat hanya makan malam saja yang ia pesan
"Jangan bohong, Mas," potong Anisa lirih. "Pak Usman sempat kirim pesan ke ponselku sore tadi. Dia bilang Mas cuma minum air putih dan tidak mau beli nasi di kantin cuma ambil jatah makan malam saja" ucap nisa
Burhan tertunduk malu karena kebohongannya terbongkar. Ia memegang tangan Anisa yang hangat. "Sa, Mas cuma ingin uangnya utuh buat beli susu ini. Mas cuma tidak mau anak kita kekurangan nutrisi."
"Tapi Mas juga butuh makan! Mas yang bekerja banting tulang!" seru Anisa dengan suara bergetar. "Kalau Mas sakit karena menahan lapar, untuk apa semua ini? Aku tidak bisa melihat Mas menyiksa diri seperti ini..."
Burhan merengkuh tubuh istrinya dengan erat. Rasa hangat mengalir di antara mereka berdua di tengah kesederhanaan kontrakan sempit itu.
"Maafkan Mas ya, membuatmu khawatir," bisik Burhan halus di telinga Anisa. "Mulai besok Mas janji akan tetap makan. Tapi kamu janji juga ya, diminum susunya setiap hari, habiskan buahnya."
"Iya, Mas. Aku janji," jawab Anisa di balik dada Burhan.