Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Nasihat di Balik Pintu yang Tertutup
Malam itu, Hendro baru saja selesai membaca laporan perjalanan dinas ketika Sarah masuk ke ruang kerjanya. Wajah istrinya terlihat murung, sementara langkahnya melambat seolah sedang mempertimbangkan apakah perlu menyampaikan sesuatu.
Hendro meletakkan kacamatanya, “Ada apa, Mah? Kelihatannya gelisah.”
Sarah duduk di kursi di seberang meja, “Barusan Siska menelepon Mama.”
“Kenapa?”
“Dia menangis. Katanya, Denis membatalkan janji untuk pergi fitting baju pengantin. Mereka bertengkar lagi.”
Hendro menghela napas, “Lagi?”
Sarah mengangguk, “Bukan sekali dua kali, Pah. Hampir setiap membicarakan persiapan pernikahan, Denis selalu menghindar. Siska sampai takut kalau Denis sebenarnya tidak ingin menikah dengannya.”
Hendro menyandarkan punggung ke kursi.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa persiapan pernikahan putra tunggalnya akan menemui kendala seperti ini. Padahal, saat Denis memutuskan untuk menikahi Siska dalam jangka waktu tiga bulan ke depan, Dian adiknya yang memiliki WO, sudah siap me’menej’ acara hingga selesai.
Mereka sangat mengenal keluarga Siska. Sarah pun sangat antusias dengan koordinasi Dian dan Riri. Mereka bahkan telah memesan seragam couple selama pernikahan hingga resepsi berlangsung.
Selama ini, Hendro mengira masalah mereka hanya berkaitan dengan kesibukan Denis dan mood Siska yang turun naik menjalani kehamilan.
Namun, jika pertengkaran terus berulang, berarti ada sesuatu yang perlu dibicarakan lebih serius.
“Besok kebetulan hari Minggi, Papa akan bicara dengan Denis,” ujarnya.
“Jangan langsung memarahinya. Mama khawatir dia malah semakin menutup diri.”
“Papa tidak berniat memarahinya. Hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan apa yang ia inginkan. Mungkin ada hal-hal yang kurang sreg dalam persiapan pernikahan mereka,” Hendro berasumsi, “Apalagi pernikahan adalah hidup bersama menyatukan dua karakter yang berbeda.”
Sarah menatap suaminya, “Kalau Denis memang sedang ragu, kita harus tahu sebelum semuanya terlambat.”
Hendro terdiam. Pernikahan bukan perkara kecil. Ia dan Sarah sudah melewati puluhan tahun kehidupan rumah tangga. Mereka tahu bahwa cinta tidak selalu hadir dalam bentuk perasaan yang menggebu-gebu. Ada tanggung jawab, pengorbanan, dan kesediaan untuk bertahan ketika kehidupan tidak berjalan sesuai harapan.
Namun, mereka juga tahu bahwa menikah hanya karena merasa terpaksa bukanlah awal yang baik.
“Semoga saja Denis hanya sedang kelelahan karena tuntutan kerjaan,” ujar Hendro akhirnya. “Papa ingin percaya bahwa dia memahami apa yang menjadi pilihannya.”
Sarah mengangguk pelan, tetapi keraguan tetap tinggal di wajahnya.
Keesokan paginya, Keluarga kecil itu baru saja selesai sarapan ketika Hendro mengajak Denis ke ruang kerja.
“Ada waktu sebentar?”
Denis yang sedang memeriksa ponsel mengangkat wajah, “Ada apa, Pah?”
“Ada yang harus kita bicarakan.” Nada suara ayahnya membuat Denis menurut tanpa bertanya lagi.
Hendro duduk di belakang meja, sementara Denis mengambil kursi di hadapannya. Ruangan itu terasa tenang, tetapi ada keseriusan dalam cara ayahnya memandang dirinya.
“Bagaimana pekerjaanmu akhir-akhir ini?”
“Baik, Pah. Memang sedang banyak kegiatan di luar.”
“Termasuk kunjungan sekolah untuk program CSR?”
“Iya. Kami masih menyusun laporan hasil kunjungan.”
Hendro mengangguk, “Papa tahu pekerjaanmu penting. Perusahaan membutuhkan orang yang memiliki layalitas dan kredibilitas. Tapi ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.”
Denis mulai merasa tidak nyaman, “Maksud Papa?”
“Yang harus kamu prioritaskan sekarang adalah pernikahanmu dengan Siska.”
Denis menunduk sebentar, “Kenapa dengan pernikahan itu?”
Hendro tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan putranya, berusaha menemukan sesuatu untuk mengajukan pertanyaan yang sejak beberapa hari terakhir mengganggu pikirannya.
“Apakah kamu benar-benar siap menikah?”
Denis mengangkat wajah, “Siap, Pah.”
Jawaban itu keluar terlalu cepat.
Hendro menyadarinya, “Papa tidak bertanya apakah kamu sanggup mengadakan pesta atau memenuhi kebutuhan keluarga. Papa bertanya apakah kamu siap menjalani kehidupan bersama Siska.”
Denis terdiam sesaat. Pikirannya berkecamuk, “Kenapa Bapak bertanya seperti itu?”
“Karena kamu banyak berubah. Cenderung tertutup bahkan emosian. Bahkan Papa dengar, kamu sering menghindari Siska. Kelihatan tidak bahagia dengan pernikahan yang bakal kamu jalani.”
Denis mengalihkan pandangan ke jendela, “Aku cuma capek, Pa.”
“Kalau hanya capek, kamu bisa beristirahat. Tapi yang Papa lihat bukan sekadar kelelahan.” Hendro melipat kedua tangannya di atas meja.
Suasana hening sejenak, hanya pikiran mereka yang saling berdialog lewat tatapan mata yang penuh tuntutan penjelasan.
“Den, kamu boleh merasa lelah. Kamu boleh merasa takut menghadapi perubahan besar. Tetapi jangan sampai kamu membiarkan seseorang berharap pada masa depan yang sebenarnya tidak ingin kamu jalani. Kamu harus konsisten dengan keputusan yang telah kamu buat dan jalan yang kamu pilih.”
Kalimat itu membuat Denis menegang. Ia tahu papanya tidak memahami seluruh persoalan yang sedang dihadapinya. Hendro tidak tahu tentang seminar di luar kota, tentang kamar hotel, atau tentang dilema perasaan yang mengganggunya saat ini.
Namun, nasihat itu seolah menyentuh tepat pada bagian dirinya yang paling rapuh, “Aku tidak pernah mengatakan tidak ingin menikah, Pah. Aku akan bertanggung jawab atas Siska dan anak yang dikandungnya.”
Tatapan Hendro lurus pada Denis, “Papa tidak akan mengungkit semua yang sudah terjadi antara kalian berdua. Yang ingin papa tau, kenapa kamu selalu menghindar?”
Denis tidak mampu menjawab. Ia ingin mengatakan bahwa Siska terlalu banyak menuntut. Ia ingin menjelaskan bahwa dirinya merasa terkekang dan kehilangan kebebasan.
Namun, semua alasan itu terdengar tidak pantas ketika ia mengingat bagaimana hubungan mereka dimulai. Bukankah ia sendiri yang mengejar kedekatan tersebut? Bukankah ia sendiri yang memilih untuk mengkhianati Mita? Dan bukankah ia pula yang memutuskan untuk menikahi Siska setelah kehamilan itu diketahui? Tidak ada seorang pun yang memaksanya melakukan semua itu.
Hendro menarik napas Panjang, “Papa tidak ingin kamu menikah hanya karena tanggung jawab atas kehamilan Siska. Walau itu adalah konsekuensi atas perbuatan kalian berdua. Kalau kamu ingin membangun rumah tangga, lakukan dengan kesadaran penuh. Jangan menjadikan pernikahan sebagai cara untuk menutup persoalan, sementara kamu sendiri belum siap untuk menjalaninya.”
Jantung Denis berdetak lebih cepat. Untuk sesaat, ia merasa seolah ayahnya bisa membaca semua rahasia yang selama ini disembunyikannya.
“Aku pasti bertanggung jawab Pa, dan menjalani semua dengan segala konsekuensinya.” Denis berkata sambil meremas rambutnya dengan kasar.
Hendro mengangguk, “Papa berharap begitu. Tapi tanggung jawab bukan hanya soal memberikan nafkah dan memastikan anakmu tumbuh dengan baik. Tanggung jawab juga berarti jujur, menghormati pasanganmu, dan tidak menjadikan orang lain sebagai tempat pelampiasan ketika kamu sedang tidak bahagia.”
Denis menelan ludah. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Hendro kemudian melanjutkan dengan suara lebih lembut, “Papa tidak menuntut kamu menjadi laki-laki yang sempurna. Papa hanya ingin kamu berhenti berbohong kepada dirimu sendiri. Sebab, kalau kamu terus menghindar, sampai kapan?”
Denis menunduk, “Ya, Pa.”
Percakapan itu berakhir tanpa hasil apa pun.
Denis keluar dari ruang kerja papanya dengan perasaan yang semakin berat. Ia tahu nasihat papanya benar. Namun, mengakui kebenaran itu berarti ia harus menghadapi sesuatu yang selama ini berusaha ia hindari: kenyataan bahwa ia tidak hanya sedang lelah, melainkan juga menyesali sebagian besar keputusan yang membawanya sampai ke titik ini.