“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”
Maizara merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.
Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Keputusasaan Mantan
Pagi di Jakarta menyambutku dengan ritme kerja yang begitu cepat dan dinamis. Usai kesuksesan rapat pleno bersama Tim Garuda dan makan malam romantis yang manis bersama Dimas, fokusku sepenuhnya tertuju pada persiapan awal sebelum tim kami bertolak ke Seoul. Karena kami masih harus melakukan riset lapangan langsung di Korea Selatan, peluncuran produk secara resmi memang belum bisa dilaksanakan. Namun, seluruh persiapan administrasi, materi konsep awal, dan berkas kerja sama dengan tim Jakarta harus dipastikan matang sebelum penerbangan kami bulan depan.
Sebagai pemimpin tim kreatif pemasaran, aku menghabiskan seluruh energi dan profesionalitasku bersama Sonya, Juno, dan Rudi di ruang kerja lantai atas gedung Arjowibowo Group. Kami mematikan setiap detail pameran internal dan berkas presentasi agar mencerminkan perpaduan etnik Nusantara dan modernitas Korea secara sempurna.
Dimas dan Vino ikut memantau langsung proses persiapan tim. Melihat bagaimana Dimas bergerak penuh wibawa, memberi instruksi tegas namun tetap tenang, membuat rasa kagum dan cinta di dalam dadaku kian bertumbuh subur.
Namun, di tengah kesibukan yang membakar semangat itu, sebuah getaran panjang di ponselku mengusik konsentrasiku saat aku sedang beristirahat sejenak di dekat meja kerja.
Aku merogoh saku blazerku, melirik layar ponsel. Sebuah nomor baru tanpa nama tertera di sana, mengirimkan beberapa pesan singkat berturut-turut.
Mei, ini aku... Juan. Aku tahu kamu lagi di Jakarta. Aku dengar kamu pimpin proyek besar Arjowibowo Group. Mei, tolong beri aku kesempatan bicara sebentar. Aku menyesal setengah mati soal kejadian malam itu. Aku tahu aku salah.
Membaca nama itu, darahku seketika berdesir dingin. Bukan karena rasa rindu atau trauma yang mendalam, melainkan karena rasa muak yang luar biasa.
Rasa ego dan penyesalan Juan mendadak muncul hanya karena melihatku kini melangkah jauh, makin bersinar, dan berdiri di posisi yang tak pernah dibayangkannya. Pria yang dulu mencampakkanku lewat pesan singkat dingin karena aku menolak menyerahkan kehormatanku, kini tiba-tiba datang mengetuk pintu hidupku kembali.
Aku menarik napas panjang, mengusap dadaku pelan. Aku tidak membalas pesan itu. Dengan gerakan jemari yang mantap, aku langsung memblokir nomor tersebut.
Aku sudah selesai dengan masa laluku, batinku tegas.
Sore harinya, usai diskusi persiapan keberangkatan ke Seoul bersama Tim Garuda di area aula pameran internal kantor pusat, beberapa rekan kerja dan mitra bisnis lokal mulai berkumpul untuk melihat penataan sampel produk.
Aku berdiri di dekat stan pameran internal, merapikan beberapa brosur dan sampel saus olahan yang tersusun rapi. Hari ini aku mengenakan gaun terusan formal berwarna merah marun dengan potongan anggun yang membalut tubuhku pas, dipadukan dengan rambut yang disanggul modern.
"Mbak Mei, berkas riset buat ke Seoul nanti sudah siap semua!" puji Sonya yang menghampiriku membawa dua cangkir kopi.
Aku tersenyum hangat. "Terima kasih, Sonya. Ini kerja keras kita semua di Tim Garuda."
"Oiya, Mbak, Pak Dimas tadi cariin Mbak Mei. Beliau lagi ngobrol di ruang VIP sama beberapa investor, tapi matanya bolak-balik ngelirik ke luar nyariin Mbak," goda Sonya sambil terkekeh pelan.
Pipiku terasa hangat mendengar penuturan Sonya. Sebelum aku sempat membalas godaannya, seorang pria berbaju kemeja batik modern mendadak menerobos kerumunan kecil di dekat stan kami.
"Mei..." panggil sebuah suara yang sangat kukenal, suara yang dulu pernah mengisi hariku namun kini terasa amat asing dan mengganggu.
Aku memutar tubuhku. Di hadapanku, berdiri Juan.
Wajahnya tampak sedikit panik, matanya menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan binar takjub bercampur ketidakpercayaan. Penampilanku yang jauh lebih percaya diri, bersinar, dan anggun tampaknya menampar egonya keras-keras. Rupanya jaringan koneksinya di Jakarta memberi tahu keberadaanku di acara internal perusahaan ini.
"Juan?" ucapku dingin, merapikan posisi berdiriku agar tetap tegap dan berwibawa. "Mau apa kamu di sini?"
Sonya yang menyadari perubahan atmosfer di antara kami berdua langsung melangkah mundur perlahan, memberi ruang namun tetap mengawasi dari kejauhan.
"Mei, akhirnya aku bisa ketemu kamu..." Juan melangkah maju satu tapak, mencoba meraih tanganku, namun aku refleks menarik tanganku mundur ke belakang tubuhku.
"Jangan sentuh aku, Juan," tegasku dengan suara menajam, mataku menatapnya lurus tanpa rasa gentar sedikit pun.
Juan menghela napas panjang, memasang raut wajah penuh penyesalan yang terlihat sangat buatan di mataku.
"Mei, tolong dengarkan aku dulu," bujuk Juan dengan nada memohon yang dipaksakan. "Pesanku kamu blokir. Aku tahu aku salah besar waktu di Jakarta beberapa bulan lalu. Perempuan di hotel itu bukan siapa-siapa, aku cuma lagi mabuk dan khilaf! Aku sadar cuma kamu wanita yang paling tulus sama aku, Mei. Tolong kita mulai lagi dari awal ya?"
Aku terkekeh sinis, sebuah tawa kecil yang sarat akan cemoohan atas kebodohannya.
"Mulai dari awal?" ulangku penuh penekanan. "Juan, kamu sadar tidak apa yang kamu ucapkan? Kamu memutuskan aku lewat pesan singkat cuma karena aku menjaga kesucianku. Dan sekarang, setelah kamu puaskan nafsumu dengan perempuan lain, kamu datang padaku meminta kesempatan kedua seolah-olah hatiku ini tempat persinggahan sampahmu?"
Wajah Juan seketika berubah agak pucat, egonya tercabik mendengar kata-kataku yang menohok tepat di sasaran.
"Mei, jangan keras kepala!" suara Juan mulai meninggi, menunjukkan sifat aslinya yang impulsif saat permintaannya ditolak. "Kamu pikir kamu bisa bertahan di posisi ini tanpa bantuan? Kamu itu cuma cewek dari daerah! Jangan sok jual mahal hanya karena sekarang kamu kerja di perusahaan besar ini. Paling-paling kamu bisa dapat posisi manajer proyek ini karena pakai cara khusus mendekati pimpinan perusahaan, kan?"
Ucapannya yang merendahkan dan tuduhan bohong yang dilontarkannya di tengah area pameran membuat dadaku bergemuruh oleh rasa marah. Dia mencoba menyebarkan rumor kotor untuk meruntuhkan harga diriku di depan umum!
"Jaga mulutmu, Juan!" gertakku tegas, mataku membelalak marah. "Aku berdiri di sini karena kemampuan dan kerja kerasku! Jangan samakan aku dengan standar morilmu yang murahan!"
"Halah! Jangan pura-pura suci, Mei!" cibir Juan makin menjadi-jadi, langkah kakinya makin maju hendak mencengkeram pergelangan tanganku secara paksa. "Kamu itu bekas aku selama dua tahun."
BRUK!
Sebelum jemari Juan sempat menyentuh kulitku, sebuah tangan tegap berurat dengan jam tangan mewah menyambar pergelangan tangan Juan di udara, menahannya dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga terdengar bunyi cengkeraman yang menekan keras.
"Sentuh dia satu milimeter lagi... dan saya pastikan tanganmu tidak akan pernah bisa dipakai bekerja lagi di kota ini."
Suara berat, dingin, dan penuh ancaman mematikan itu bergema tajam tepat di sampingku.
Aku menoleh cepat. Dimas Arjowibowo sudah berdiri di sisiku.
Setelan jas biru gelapnya yang sangat rapi, postur tubuhnya yang tinggi menjulang penuh dominasi, dan rahangnya yang mengeraskan menyorotkan aura kemarahan yang amat pekat. Mata hitamnya menatap Juan seperti seekor predator yang siap menerkam mangsanya.
Dimas menghempaskan tangan Juan dengan kasar hingga pria itu terhuyung mundur beberapa langkah.
"Mas Dimas..." bisikku pelan, keterkejutan dan rasa lega menyelimuti dadaku seketika.
Dimas tidak langsung menjawabku. Dengan gerakan yang sangat posesif dan protektif, lengan kekarnya melingkar di pinggangku, menarik tubuhku makin rapat ke sisinya, menyatukan keberadaan kami di hadapan semua orang yang mulai memperhatikan.
"Siapa kamu berani-beraninya membuat keributan di acara perusahaan saya, dan merendahkan wanita saya?" tanya Dimas dengan suara rendah namun sanggup membekukan udara di sekeliling kami.
Juan mengusap pergelangan tangannya yang memerah, matanya menatap Dimas dengan campuran rasa takut dan cemburu yang membakar. Dia mengenali siapa pria berkuasa di hadapannya ini.
"Pak Dimas..." gagap Juan, mencoba menegakkan dadanya walau tubuhnya gemetar. "Saya... saya ini mantan pacarnya Maizara. Bapak jangan mau dibodohi sama dia! Dia ini wanita kaku dari daerah yang... "
PLAK!
Bukan pukulan tangan, melainkan pukulan berkas dokumen tebal yang dilempar Vino tepat ke dada Juan dari arah belakang Dimas. Vino melangkah mendekat dengan wajah yang tak lagi ramah.
"Tutup mulutmu, Pria Pengganggu," potong Vino tegas dan sinis. "Kamu tahu siapa yang sedang kamu ajak bicara? Wanita yang kamu rendahkan ini bukan cuma staf ahli terbaik kami, tapi beliau adalah calon istri dari CEO Arjowibowo Group!"
Pernyataan lantang dari Vino membuat Juan membelalak lebar. Wajahnya seketika pucat pasi bagaikan mayat.
"Calon istri...?" bisik Juan tak percaya, menatapku dan Dimas bergantian dengan penyesalan yang kini benar-benar menghantam pikirannya.
Dimas melangkah satu tapak maju, memosisikan tubuh tinggi tegapnya tepat di depan tubuhku, menjagaku sepenuhnya dari pandangan Juan.
"Maizara Paramita adalah calon istri saya, dan calon nyonya di keluarga Arjowibowo," ujar Dimas dengan nada dingin, sarat akan penekanan yang tak terbantahkan. "Setiap patah kata tuduhan palsu dan pelecehan yang kamu ucapkan pada calon istri saya hari ini... akan berhadapan langsung dengan tim hukum pribadi saya besok pagi."
"Pak Dimas... tolong, Pak! Saya tidak tahu kalau Mei... "
"Keamanan!" panggil Dimas tanpa memedulikan rintihan Juan.
Dua petugas keamanan berbadan tegap langsung mendekat dengan cepat.
"Seret pria ini keluar dari gedung kantor ini sekarang juga. Dan pastikan namanya masuk dalam daftar hitam di seluruh jaringan bisnis Arjowibowo Group," perintah Dimas tegas tanpa ampun.
"Baik, Pak!"
Juan yang panik mencoba berteriak memanggil namaku saat kedua petugas keamanan memegang lengannya dan menyeretnya pergi dari area pameran.
"Mei! Mei, maafkan aku, Mei! Mei."
Suara teriakan Juan perlahan menghilang ditelan jarak pintu keluar VIP. Suasana di sekitar stan pameran mendadak hening kembali. Sonya dan beberapa anggota tim melangkah mendekat dengan raut khawatir namun kagum.
Aku menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. Seluruh ketegangan yang sempat memuncak di dadaku perlahan-lahan runtuh. Kehadiran Juan tadi sama sekali tidak menggoyahkan hatiku, itu justru menjadi bukti nyata bahwa keputusan masa laluku untuk menjaga diri dan meninggalkannya adalah hal paling tepat yang pernah kulakukan.
Dimas memutar tubuhnya sepenuhnya menghadapku. Lengan tegapnya yang masih melingkar di pinggangku merapat, matanya menatap wajahku dengan pendar kecemasan dan cemburu yang tak sanggup disembunyikannya lagi.
Sisi posesif dan protektif dari pria dingin ini kini terpampang nyata hanya untukku.
"Kamu tidak apa-apa, Mei?" tanya Dimas halus, suaranya berubah seratus delapan puluh derajat menjadi begitu hangat dan penuh perhatian. Jemari tangannya terangkat, mengelus pelan pipiku yang agak dingin. "Dia tidak sempat menyakitimu, kan?"
Aku menatap tepat ke dalam manik mata hitam milik calon suamiku ini. Senyuman manis dan tulus terkembang di bibirku.
"Aku tidak apa-apa, Mas Dimas," jawabku lembut, menangkupkan tanganku di atas tangannya yang berada di pipiku. "Aku sama sekali tidak terpengaruh oleh kata-katanya. Masa laluku dengan dia sudah mati sejak lama."
Dimas menatap mataku dalam-dalam, mencari kebenaran dari ucapanku. Melihat ketenangan dan ketegasan di mataku, raut tegang di wajahnya perlahan-lahan mencair.
"Bagus," bisik Dimas parau, menduselkan dahinya tipis ke dahiku tanpa peduli bahwa Vino dan Tim Garuda masih berdiri beberapa langkah dari kami. "Karena kalau sampai pria itu membuatmu meneteskan air mata satu tetes saja... saya tidak akan segan-segan menghancurkan kariernya sampai akar-akarnya."
Tawa kecil yang renyah keluar dari bibirku. Pria ini bisa menjadi begitu menakutkan sekaligus begitu manis dalam satu waktu yang bersamaan.
Vino berdeham keras dari belakang, memecah momen intim kami dengan cengiran khasnya. "Ehem! Bos... tolong kondisikan tempat ya. Diskusi materi riset keberangkatan ke Seoul tinggal sepuluh menit lagi. Nanti saja lanjut adegan romantisnya di rumah Mami."
Sonya dan anggota tim lainnya tertawa kecil melihat Dimas yang mendelik tajam ke arah Vino. Namun, Dimas tidak melepaskan genggaman tangannya di jemariku. Pria itu menautkan jari-jemarinya di antara jemariku secara erat.
"Ayo, calon istriku," ajak Dimas dengan nada penuh kebanggaan, menatapku dengan binar cinta yang begitu terang. "Dampingi saya menyelesaikan persiapan tim kita sebelum terbang ke Seoul."
Aku mengangguk mantap, menegakkan bahuku, dan melangkah berdampingan dengannya menuju panggung utama. Ujian dari masa lalu telah berhasil kulewati dengan kemenangan mutlak. Di samping Dimas Arjowibowo, aku bukan lagi wanita yang terkurung dalam sangkar atau diragukan nilainya, aku adalah wanita yang dicintai, dihormati, dan dilindungi oleh pria yang tepat.