[SEASON 2]
Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'
"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Harapan Baru di Vespera
"Kota Vespera? Tapi Ayah, bagaimana dengan Ibu? Siapa yang akan membantu Ayah menjaganya?"
"Urusan ibumu, biarkan menjadi tanggung jawab Ayah. Tugasmu sekarang adalah menyelamatkan dirimu sendiri," potong Lucas tegas, seolah keputusan itu sudah tidak bisa diganggu gugat.
"Apa maksud Ayah? Apa Ayah baru saja mengusirku dari sini karena aku tidak bisa membuat Ibu senang?"
"Bukan begitu, Sayang. Demi Tuhan, bukan begitu," Lucas bergegas menyanggah.
Pria itu meraih jemari White yang sedingin es, lalu menggenggamnya erat menggunakan kedua tangannya yang kasar dan dipenuhi kapalan. Sepasang mata Lucas memancarkan kepedihan yang mendalam.
"Ayah hanya ingin kamu merasakan ketenangan, White. Walau itu hanya untuk sebentar. Di Kota Vespera nanti, kamu tidak perlu lagi menyamar menjadi seorang laki-laki. Kamu bisa kembali menjadi White yang sebenarnya tanpa perlu dibayangi ketakutan. Biarkan Ayah yang tinggal di sini dan berjuang menyembuhkan ibumu. Jika keadaan sudah membaik, Ayah berjanji akan pergi ke sana untuk menjemputmu pulang."
White menggeleng pelan. Ia mencoba menyusun pembelaan agar tidak perlu pergi. "Tapi aku tidak tahu apa-apa tentang Kota Vespera, Ayah. Aku juga sudah berada di tingkat akhir kelas tiga. Ujian kelulusan sekolah sudah di depan mata..." Kalimat White kian mengecil di ujung lidah. Ketakutan akan tempat baru yang asing mulai merayap di dadanya.
"Jangan mengkhawatirkan hal itu. Semuanya sudah Ayah atur dengan baik," ucap Lucas menenangkan putrinya. "Kamu akan tinggal di kediaman kakek buyutmu di sana. Beliau adalah sepupu dari kakek Ayah. Beliau adalah pria yang sangat dihormati di Vespera dan sudah memberikan izinnya secara langsung. Tugasmu di sana tidak akan berat. Kamu hanya perlu membantunya menjaga dan mengawasi rumah besarnya yang sepi, karena beliau sangat sering bepergian demi urusan bisnis."
White mengerutkan kening. Sesuatu yang asing dan janggal mendadak tertangkap oleh indranya. "Kakek buyut? Kenapa aku baru tahu kalau Ayah memiliki kerabat di luar kota ini?"
Lucas sempat tertegun. Sorot matanya bergerak gelisah sebelum akhirnya kembali menatap White. "Beliau adalah orang yang sangat sibuk, dan jujur saja, keluarga kita sudah lama memutus komunikasi dengannya karena sebuah prinsip. Namun, kemarin Ayah sengaja melakukan perjalanan jauh melintasi perbatasan khusus untuk menemuinya secara pribadi. Ayah ingin memastikan bahwa tempat tinggal barumu adalah tempat yang paling aman."
Keheningan yang berat kembali turun memayungi teras tua itu. White menarik napas panjang. Ia menundukkan kepala, menatap helaian rambut putih saljunya yang jatuh terurai di atas pangkuan seragam sekolah. Pikirannya mendadak melayang pada kehidupannya yang melelahkan selama ini di SMA Luminara.
Di sekolah itu, ia dikenal sebagai pemuda rupawan berwajah androgini yang dingin dan misterius. Ia dikagumi oleh banyak siswi, namun tidak pernah sekalipun berani menjalin pertemanan dekat dengan siapa pun karena ketakutan konstan bahwa identitas aslinya sebagai gadis akan terbongkar.
Sejujurnya, jauh di lubuk hatinya, White sudah teramat lelah. Ia lelah harus bersembunyi di balik kain pembebat dada yang menyesakkan napas setiap pagi. Ia lelah menahan rasa gatal yang menyiksa akibat lapisan rambut palsu yang harus dipakainya sepanjang hari di bawah terik matahari.
"Baiklah," bisik White akhirnya. Kepalanya tertunduk lesu, menerima takdir baru yang disodorkan sang ayah. "Aku akan menuruti semua keinginan Ayah."
Setelah percakapan yang menguras energi itu, White menyeret langkah kakinya yang terasa seberat timah menuju kamar tidurnya di lantai atas. Ia menutup pintu kayu kamarnya dengan sangat pelan, takut getaran sekecil apa pun bisa memicu ibunya untuk kembali mengamuk di lantai bawah.
Di bawah siraman cahaya matahari siang yang menembus celah ventilasi, White tidak segera mengganti seragam laki-lakinya yang kotor. Sebaliknya, ia menyandarkan punggung pada permukaan pintu kayu yang kasar, lalu merosot ke bawah hingga terduduk di atas lantai papan yang dingin.
Gadis itu menekuk kedua lututnya erat-erat, menyembunyikan wajahnya di sana. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, White akhirnya mengakui satu kenyataan yang menyakitkan: ia memang sudah tidak kuat lagi untuk bertahan di rumah ini.
Selama tiga tahun penuh siksaan mental, ia telah mengorbankan segalanya. Ia memotong identitasnya sebagai perempuan, menyembunyikan rambutnya yang indah, dan membuang masa mudanya demi menjaga sisa-sisa warisan ingatan sang ibu. Namun, balasan yang ia terima tidak pernah berubah. Hanya lemparan benda tajam, caci maki, dan tatapan penuh kebencian.
"Mungkin... ini memang pilihan terbaik yang tersisa untukku," bisiknya lirih pada kesunyian kamar.
Suaranya yang rapuh langsung tenggelam oleh suara deru samar roda-roda kereta kuda dari jalan raya di kejauhan.
White mengangkat kepala perlahan. Ia mengalihkan pandangan ke arah cermin rias tua di pojok ruangan. Cahaya siang memantulkan bayangan dirinya dengan sangat jelas. Di dalam pantulan cermin itu, seorang gadis yang terperangkap dalam seragam siswa laki-laki tampak sangat berantakan. Kemeja putihnya ternoda abu dan debu tanah. Rambut putih aslinya yang panjang terurai acak-acakan di atas bahu, dan luka robek di pelipis kirinya terlihat memerah meradang.
White merenung dalam posisi itu untuk waktu yang cukup lama. Kota Vespera. Entah mengapa, kata 'pindah' tidak lagi terdengar seperti pengusiran yang kejam. Kata itu kini bertransformasi menjadi sebuah tawaran kebebasan, sebuah kesempatan langka untuk sekadar menarik napas tanpa beban yang menghimpit. Ia sudah benar-benar muak dengan sandiwara yang melelahkan ini.
Ia bangkit berdiri dengan gerakan lambat namun pasti. White melangkah mendekati cermin, menatap lekat helai rambut putih saljunya yang berkilau.
"Vespera..." gumam White, mengeja nama kota asing itu berulang kali. Nama itu bergema di indranya seperti sebuah janji mistis akan kebebasan yang hakiki.
Gadis itu berbalik memunggungi cermin, melangkah tegas mendekati lemari pakaian kayunya. Dengan satu gerakan yang mantap, ia meraih sebuah tas ransel besar berkanvas tebal dari atas lemari. Meskipun ujian kelulusan sekolah sudah berada di depan mata, White kini menyadari satu hal yang mutlak: kesehatan jiwanya jauh lebih berharga daripada selembar ijazah dari Kota Luminara.
White mulai memasukkan beberapa buku pelajaran penting dan pakaian esensialnya ke dalam tas dengan gerakan cepat. Sesekali jemarinya bergerak mengusap matanya yang sembap, namun sepasang manik mata ungunya kini tidak lagi memancarkan keraguan.
Keputusannya sudah bulat. Jika Vespera adalah tempat misterius di mana ia akhirnya bisa kembali hidup sebagai dirinya yang asli—sebagai White Emerson tanpa perlu mengenakan topeng pelindung sebagai seorang laki-laki—maka ia akan pergi ke sana.
Tepat saat menarik ritsleting tas ranselnya, White tidak menyadari sebuah detail kecil. Di balik tumpukan baju lama di dasar lemari yang baru saja ia bongkar, sebuah kotak kayu kecil berukir kuno yang tertutup debu tebal tampak sedikit bergeser. Kotak rahasia milik Lucas yang sengaja disembunyikan, yang di dalamnya menyimpan sebuah foto usang dua bayi kembar laki-laki berambut hitam pekat dan pirang dengan manik mata hitam.
Rahasia besar yang siap menyambut kedatangan White di Kota Vespera, kota yang ia kira akan memberinya kebebasan.