Shen Ruozi, mahasiswi kedokteran modern yang super judes dan matre, terlempar ke zaman kuno dan terpaksa tinggal di gua. Ogah hidup miskin, ia berniat menjadi juragan obat kaya raya memanfaatkan ilmu medis abad ke-21 miliknya.
Takdirnya berubah kocak saat ia menyelamatkan Long Tianxu, Jenderal Besar berwajah kaku seperti papan tripleks yang sekarat karena racun kronis. Bukannya tunduk pada wibawa sang Dewa Perang, Ruozi malah menjadikannya asisten magang tanpa gaji, buruh numbuk jamu, hingga investor paksaan untuk mendanai apotek barunya di ibu kota!
Menghadapi musuh politik kekaisaran dengan modal lencana emas Jenderal, tabib matre yang tidak pernah mau rugi ini siap mengguncang dunia medis kuno!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32: Sesi pengobatan ke empat dan sinyal gengsi sang dewa perang
Malam baru saja turun sepenuhnya ketika pintu belakang apotek kembali diketuk dengan ritme rahasia. Ruozi yang sedang asyik menghitung sisa tael perak hari itu langsung menyuruh pemimpin pengawalnya membuka pintu. Sesosok tubuh tinggi tegap dengan jubah hitam pekat melangkah masuk, membawa embusan angin malam yang dingin. Bukan utusan pasar gelap Feng yang datang, melainkan sang Jenderal Besar Long Tianxu sendiri yang datang secara rahasia untuk melakukan sesi pengobatan keempat.
"Wah, Jenderal Long! Datang tepat waktu ya. Tapi maaf, jam praktik tabib sebenarnya sudah tutup. Ada biaya lembur sebesar sepuluh tael perak, mau bayar tunai atau potong dari jatah keuntungan dua puluh lima persen Anda?" cerocos Ruozi tanpa dosa sambil menyeka tangannya yang masih berbau koin perak.
Long Tianxu yang biasanya berwajah kaku seperti papan triplek hanya bisa menghela napas panjang mendengar ucapan matre gadis itu. Ia melangkah menuju kursi medis tanpa memedulikan sindiran Ruozi, lalu membuka jubah perangnya secara mandiri, memperlihatkan dada bidangnya yang kini guratan hitam racunnya sudah jauh lebih menipis dibanding hari pertama. "Uang lagi yang ada di otakmu, Ruozi. Aku datang ke sini memastikan kau tidak menangis ketakutan setelah diserbu Biro Pajak tadi siang."
"Menangis? Aduh Jenderal, air mataku terlalu berharga kalau tidak ditukar dengan emas murni," sahut Ruozi kocak sambil menyiapkan nampan berisi jarum akupunktur dan botol alkohol medis.
Ruozi mendekat, lalu dengan gerakan sangat santai dan tanpa canggung, jemari kecilnya mulai menekan-nekan otot dada Long Tianxu untuk memeriksa titik meridian.
Sentuhan jemari Ruozi yang hangat di kulit dadanya yang dingin seketika membuat tubuh Long Tianxu menegang kaku. Jantung sang Jenderal berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya, sebuah sensasi asing yang belum pernah ia rasakan bahkan di medan perang paling brutal sekalipun.
Mata tajam Long Tianxu kini tidak lagi menatap ruangan, melainkan terkunci sepenuhnya pada wajah Ruozi yang berada sangat dekat dengannya, memperhatikan bulu mata gadis itu yang lentik saat fokus bekerja.
Ruozi yang menyadari perubahan detak jantung pasennya langsung mendongak, menatap mata Long Tianxu dengan dahi berkerut. "Jenderal, kenapa detak jantung Anda mendadak tidak stabil? Apa Anda diam-diam meminum arak militer lagi? Atau... Anda sedang terpesona melihat kecantikanku yang paripurna ini?" canda Ruozi sambil mengerlingkan matanya secara dramatis, mencoba mencairkan suasana.
Mendengar tingkat kepedean Ruozi yang setinggi langit, wajah kaku Long Tianxu mendadak memerah tipis di bagian telinga. Ia buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain, berdeham pelan untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang sangat langka. "Jangan banyak bicara, Tabib Sialan. Cepat tancapkan jarum mu atau aku akan memotong jatah perlindungan militer mu besok."
"Ih, mengancam saja bisanya! Dasar Jenderal triplek, tidak tahu seni bercanda," gerutu Ruozi sambil terkekeh geli, lalu mulai menusukkan jarum perak dengan keahlian medis modernnya yang super akurat.
Selama proses pembakaran sisa racun yang menimbulkan rasa panas melilit, Long Tianxu tetap memejamkan mata, namun konsentrasinya buyar sepenuhnya karena Ruozi tidak bisa diam.
Gadis itu terus mengoceh tentang betapa lucunya wajah Direktur Wang dari Biro Pajak yang pucat ketakutan tadi siang, menceritakan strategi akuntansi modernnya dengan gerakan tangan yang heboh, hingga membuat suasana ruang medis yang biasanya sunyi dan menyeramkan berubah menjadi penuh tawa kecil.
Tanpa disadari oleh Ruozi, seulas senyuman tulus perlahan terukir di bibir Long Tianxu sebuah tanda bahwa dinding es di hati sang Dewa Perang mulai runtuh oleh pesona kocak si gadis matre.
Setelah sesi pengobatan keempat selesai dan semua jarum dicabut, Long Tianxu berdiri dan merapikan jubahnya. Sebelum melangkah pergi menuju pintu belakang, ia tiba-tiba meletakkan sebuah kotak kecil berlapis beludru merah di atas meja kerja Ruozi. "Ini untukmu. Anggap saja sebagai... biaya lembur yang kau minta tadi."
Ruozi dengan cepat membuka kotak tersebut dan matanya langsung membelakangi bulat sempurna saat melihat sepasang giwang batu giok darah langka yang nilainya pasti ratusan tael emas.
Ketika Ruozi mendongak dengan wajah penuh binar keserakahan yang kocak untuk mengucapkan terima kasih, Jenderal Long sudah melompat pergi membelah malam, meninggalkan Ruozi yang berteriak kegirangan sambil mencium batu giok tersebut.
Sang Jenderal Besar Kekaisaran tampaknya sudah mulai masuk ke dalam jebakan asmara tanpa ia sadari sendiri.
Ruozi masih melonjak-lonjak kegirangan di ruang tengah sambil menimang-nimang giwang giok darah tersebut di bawah cahaya lampu minyak. Keempat pengawalnya yang baru saja mengunci brankas bawah tanah hanya bisa melongo heran melihat kelakuan majikan mereka yang mendadak bertingkah seperti orang kesurupan harta.
Bagi Ruozi, perhiasan mewah ini bukan sekadar lambang gengsi, melainkan sebuah aset likuid berharga tinggi yang bisa dicairkan kapan saja jika suatu saat ia harus melarikan diri dari kekaisaran ini.
Dengan senyum lebar yang belum luntur, ia segera menyimpan kotak beludru itu ke dalam laci meja kerjanya yang paling aman, tepat di samping tumpukan berkas akuntansi modern miliknya.
Keheningan malam apotek kembali terusik ketika angin dingin berembun tiba-tiba berembus dari arah jendela atas, membawa serta aroma cendana yang sangat khas.
Tanpa perlu menoleh pun, Ruozi sudah tahu siapa tamu tidak diundang berikutnya yang menyusup ke kediamannya setelah sang Jenderal pergi. Feng mendarat dengan keanggunan seekor kucing di atas lantai batu, namun kali ini sepasang matanya yang tajam di balik topeng pegar langsung tertuju pada laci meja kerja Ruozi yang baru saja ditutup.
Pria penguasa Pasar Gelap itu melipat kipasnya dengan bunyi klek yang kentara lebih tajam dari biasanya, mengindikasikan suasana hatinya yang mendadak tidak menentu.
"Aroma kayu cendana ku malam ini kalah bersaing dengan bau giok darah milik kediaman Long, bukan begitu Nona Muda?" sindir Feng dengan nada suara yang terdengar malas namun menyimpan riak kecemburuan yang tipis.
Ia melangkah mendekat, lalu menjatuhkan sebuah kantong kain linen besar berisi akar-akar herbal langka yang memancarkan energi murni tingkat tinggi ke atas meja konter. "Ini pasokan bahan baku pertama yang ku janjikan, lengkap dengan potongan harga lima puluh persen sesuai kesepakatan gila kita kemarin malam."
Ruozi langsung mengabaikan sindiran Feng dan dengan cekatan memeriksa isi kantong linen tersebut, matanya berbinar melihat kualitas tanaman herbal yang sangat segar dan kaya akan zat aktif. "Wah, Tuan Kipas, bisnismu benar-benar tepercaya! Dengan bahan baku langka sekualitas ini, aku bisa meracik varian pil kecantikan premium untuk para selir dan istri pejabat minggu depan!" seru Ruozi riang tanpa memedulikan tatapan menyelidik dari pria bertopeng di depannya.
Kelincahan otak Ruozi yang selalu melihat peluang emas dalam setiap situasi membuat Feng hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum kecut yang tertahan.
Feng menopang dagunya dengan sebelah tangan di atas meja konter, memperhatikan Ruozi yang sibuk mencatat inventaris bahan baku baru dengan arang kecilnya. "Kau benar-benar tidak memiliki rasa takut, Singa Betina Kecil. Siang hari kau mempermalukan Biro Pajak, malam hari kau menerima hadiah dari Dewa Perang, dan sekarang kau memeras penguasa Pasar Gelap," gumam Feng dengan nada kagum yang bercampur rasa penasaran yang mendalam. "Namun, kau harus tetap waspada, karena mata-mata Perdana Menteri Li yang gagal siang tadi telah melaporkan semuanya, dan kali ini Li tidak akan menggunakan jalur hukum lagi untuk menjatuhkanmu."
Ruozi menghentikan goresan arangnya sejenak, lalu mendongak menatap Feng dengan cengiran khasnya yang penuh kelicikan dan rasa percaya diri yang tinggi. "Biar saja si orang tua Li itu mencoba cara apa pun, Tuan Kipas. Selama aku memegang kesehatan Jenderal triplek itu dan memiliki jalur suplai bawah tanah darimu, apotek ini tidak akan bisa digoyahkan dengan mudah," sahut Ruozi kocak sambil menepuk kantong herbal barunya.
Pertemuan malam itu akhirnya ditutup dengan kesepakatan distribusi rahasia berikutnya, menandakan bahwa posisi Apotek Ruozi Jaya Medika kini telah bertransformasi menjadi sebuah pusaran kekuatan baru yang siap mengguncang kestabilan politik di ibu kota kekaisaran.