NovelToon NovelToon
Simpanan Kesayangan Sang CEO

Simpanan Kesayangan Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dendam konglomerat / Sekretaris
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.

Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.

Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3: Sepuluh Miliar

Hal pertama yang Nala sadari adalah bau antiseptik dan seprai yang bukan miliknya.

Dia tidak langsung membuka mata. Dua tahun di samping Damar Hadiwijaya mengajarinya satu hal: orang yang terlihat masih tidur sering mendengar lebih banyak daripada orang yang sudah bangun.

Kamar tamu di rumah utama. Dia mengenali dengung pendingin ruangan yang sedikit kasar, suara yang sudah tiga kali dia laporkan ke teknisi dan belum juga diperbaiki. Cahaya sore masuk dari celah tirai, hangat di kelopak matanya.

Di luar pintu, Damar sedang menelepon.

"...Gilang yang bawa dia. Itu yang kita tahu." Jeda. "Tidak. Sisanya aku mau dengar dari mulutnya sendiri, Za."

Jeda lagi, lebih panjang.

"Aku tidak peduli siapa yang menang lelang di tempat itu. Cari tahu kenapa Gilang ditusuk."

Langkah kaki menjauh.

Nala membuka mata dan menatap langit-langit. Jadi Damar tahu ada lelang di tempat Gilang, tapi dia belum tahu apa yang dijual.

Baik. Biar tetap begitu.

***

Bi Iyah masuk membawa semangkuk bubur dan teh manis hangat. Dia meletakkan nampan di nakas dan duduk di pinggir ranjang, matanya merah.

"Bu Nala, alhamdulillah. Dari pagi saya doain terus."

"Saya nggak apa-apa, Bi."

"Nggak apa-apa gimana? Dokter bilang Ibu dikasih obat bius. Tangannya itu..." Bi Iyah melirik pergelangan tangan Nala yang sudah dibalut kasa tipis. Bekas tali di sana masih merah dan bengkak. "Bapak dari pagi nggak ke kantor. Nggak makan juga. Tangannya luka, katanya mecahin gelas di kantor semalam."

Nala menyendok bubur itu pelan-pelan. Tangannya masih sedikit gemetar.

"Bajunya, Bi," katanya. "Kain merah itu. Di mana?"

"Sudah saya buang, Bu. Bapak yang suruh."

Sendok itu berhenti sebentar di udara, lalu dilanjutkan.

"Barang yang saya bawa?"

Bi Iyah menunjuk laci nakas. Nala membukanya. Pisau lipat itu ada di sana, sudah dibersihkan, sarung kulitnya terlipat rapi di sampingnya. Kotak beludru kalung itu juga. Siapa pun yang membereskan barang-barangnya tidak berani membuang satu pun.

Dia memasukkan pisau itu ke bawah bantal.

Waktu Bi Iyah pamit keluar, perempuan itu berhenti di ambang pintu dan menoleh. Tatapannya lama, bolak-balik antara wajah Nala dan kamar tamu rumah utama yang tidak pernah dia tiduri dalam dua tahun ini.

Lalu Bi Iyah keluar tanpa mengatakan apa-apa.

***

Pukul delapan malam, Damar memanggilnya ke ruang kerja.

Dia duduk di balik meja, tangan kanannya diperban rapi sampai pergelangan. Kemejanya sudah ganti. Wajahnya tidak. Ada garis tipis di bawah matanya yang biasanya tidak ada.

Nala berdiri di depan meja itu, persis seperti setiap pagi selama dua tahun, ketika dia membacakan jadwal.

"Duduk," kata Damar.

Dia duduk.

"Ceritakan."

"Dua hari lalu saya lihat Fajar mengambil stempel dan kalung dari brankas Bapak." Nala bicara dengan nada yang sama yang dia pakai untuk membaca laporan keuangan. "Saya kejar sampai basement dan ambil kembali dua benda itu. Lalu orang-orang Gilang membius saya."

"Lalu?"

"Saya bangun di Batam."

"Lalu?"

"Gilang mau tahu di mana stempelnya. Saya tidak jawab." Dia mengangkat bahu, kecil sekali. "Dia masuk kamar. Saya tusuk dia. Saya lari."

Damar menatapnya lama. Tatapan yang sama yang dia pakai untuk mencari kebohongan di wajah lawan bisnis. Nala membalas tatapan itu tanpa berkedip.

"Hanya itu?"

"Hanya itu yang penting."

Dia tidak menyebut kain merah itu. Tidak menyebut lampu sorot, papan nomor, empat puluh laki-laki yang tertawa. Tidak menyebut kalimat pembawa acara itu. Orang kesayangan Pak Damar Hadiwijaya.

Dia mengeluarkan kotak beludru dari pangkuannya dan meletakkannya di atas meja. Lalu membukanya. Liontin teratai merah itu berkilau di bawah lampu meja, berlian kecil di tengahnya memantulkan cahaya.

"Kalung ibumu," katanya. "Utuh."

Rahang Damar bergerak sedikit.

"Stempelmu sudah kukembalikan tadi pagi." Nala menutup kotak itu lagi dan mendorongnya pelan ke arah Damar. "Dua benda itu, Damar. Kalau tidak kuambil, besok pagi stempelmu sudah dipakai menandatangani pengalihan aset, dan kalung ibumu dijual di Singapura."

"Kamu mau apa?"

"Stempelmu dan kalung ibumu." Dia mengetuk tutup kotak itu sekali dengan ujung jari. "Sepuluh miliar."

Ruangan itu sunyi. Pendingin ruangan berdengung.

Damar tidak tertawa. Dia juga tidak marah. Dia bersandar ke kursinya dan menatap Nala dengan sesuatu yang hampir seperti rasa ingin tahu.

"Sepuluh miliar," ulangnya.

"Aku hampir mati untuk dua benda itu. Kurasa itu harga yang wajar."

Damar meraih ponselnya dengan tangan kiri. Dia menekan satu nomor dan menunggu.

"Gilang menyentuhmu?" tanya Damar sebelum telepon itu tersambung. Matanya tidak lepas dari memar di pipi Nala.

"Dia mencoba." Nala menatapnya balik. "Pisauku lebih cepat."

Tangan kiri Damar yang memegang ponsel mengencang sampai buku-buku jarinya memutih. Lalu nada sambung berhenti.

"Tagih." Suaranya tenang sekali. "Tempat Gilang di Batam. Semua yang dia punya di sana."

Nala bisa mendengar suara samar Tagih di seberang.

"Hancurkan semuanya."

Dia menutup telepon dan meletakkannya di meja. Lalu dia berdiri, mengambil kotak beludru itu, dan berjalan memutari meja sampai berdiri di belakang kursi Nala.

Nala tidak menoleh.

Jari-jari Damar menyingkirkan rambutnya ke satu sisi. Kulit tengkuknya terbuka. Dia merasakan dingin rantai kalung itu, lalu jari Damar yang hangat, perban kasar di tangan kanannya menyentuh kulit lehernya ketika dia mengaitkan pengaitnya. Pelan. Sangat pelan untuk tangan yang semalam meremukkan gelas.

Liontin itu jatuh di tulang dadanya.

"Ini bukan bagian dari sepuluh miliar," kata Damar di atas kepalanya. "Uangnya besok pagi masuk."

"Lalu ini apa?"

Damar tidak menjawab. Dia kembali ke kursinya.

"Sebenarnya kamu mau apa, Anala?"

"Sudah kubilang. Sepuluh miliar."

"Bukan itu. Dua tahun kamu di sini. Gajimu tidak pernah kamu tawar. Kamu tidak pernah minta apa-apa." Matanya menyipit. "Kenapa?"

Nala tersenyum. Senyum yang sudah dia latih di depan cermin berkali-kali sampai ujung bibirnya tahu persis harus naik seberapa.

"Karena aku suka kamu," katanya.

Dia menatap matanya ketika mengatakan itu. Mata Damar yang gelap. Mata yang di malam hari tidak bisa melihat jelas tanpa obat tetes. Dia menatap mata itu sampai Damar yang pertama kali memalingkan wajah.

***

Kamar mandi paviliun terasa terlalu kecil malam itu.

Nala mengunci pintu, menyalakan keran wastafel sampai airnya mengalir deras, lalu berlutut di depan kloset dan memuntahkan semua yang ada di perutnya. Bubur Bi Iyah. Teh manis. Cairan pahit yang membakar tenggorokannya.

Dia muntah sampai tidak ada lagi yang bisa keluar, sampai perutnya kram dan matanya basah. Tangannya mencengkeram pinggiran kloset, buku-buku jarinya memutih.

Lalu dia berdiri. Dia membasuh mulutnya. Dia membasuh wajahnya.

Di cermin, perempuan dengan memar di tulang pipi menatap balik. Kalung teratai merah itu tergantung di lehernya, berkilau di bawah lampu kamar mandi, cantik dan berat.

Tempat jari laki-laki itu menyentuhnya tadi masih terasa.

Nala menatap matanya sendiri di cermin dan berbisik ke udara kosong.

"Sedikit lagi, Mas." Bibirnya bergetar. "Sedikit lagi."

***

Ketukan di pintu paviliun datang hampir tengah malam.

Dia tahu siapa itu sebelum membuka pintu. Hanya ada satu orang di rumah ini yang mengetuk seperti itu, dua kali, berjarak, seolah ketukan pun harus menurut perintahnya.

Damar berdiri di teras dengan kaus abu-abu dan celana panjang. Ini pertama kalinya Nala melihatnya di depan pintu paviliun selarut ini. Dalam dua tahun, dia tidak pernah datang.

"Tanganmu," katanya, menunjuk pergelangan tangan Nala yang berbalut kasa. "Sudah diganti?"

"Sudah."

Dia tidak pergi. Nala juga tidak menutup pintu.

Lalu Damar melangkah masuk, dan sebelum Nala sempat mengatakan apa pun, tangannya sudah di tengkuk Nala, dan bibirnya di bibir Nala.

Ciuman itu tidak lembut. Ciuman itu seperti pertanyaan yang sudah terlalu lama ditahan. Nala membalasnya. Tangannya mencengkeram kaus di dada laki-laki itu dan dia membalasnya, karena itu bagian dari rencana, karena dia harus, karena...

Karena tubuhnya tidak bertanya dulu apakah ini bagian dari rencana.

Punggungnya menyentuh dinding. Tangan Damar turun ke pinggangnya, ke tepi kausnya.

Nala menahan tangan itu.

"Dua tahun kamu tidak pernah menyentuhku," katanya. Napasnya masih belum teratur. "Jangan malam ini."

Jangan di malam setelah aku dijual seperti barang, pikirnya. Tapi yang keluar dari mulutnya hanya itu.

Damar diam. Dahinya masih menempel di dahi Nala. Dia bisa merasakan napas laki-laki itu, cepat, lalu pelan-pelan melambat.

Ponsel di saku celana Damar bergetar.

Dia mengabaikannya. Ponsel itu bergetar lagi. Dan lagi.

Damar mundur selangkah dan mengeluarkannya. Nala bisa membaca nama di layar dari tempatnya berdiri. Bianca.

"Ya."

Suara perempuan di seberang sana cukup keras untuk terdengar di paviliun yang sunyi. "Damar! Kamu ke mana aja sih seharian? Besok ulang tahun Eyang, lho. Eyang udah pulang dari Singapura sore tadi. Semua keluarga datang. Kamu jangan sampai telat, ya. Eyang mau ngomong sesuatu yang penting."

"Aku tahu."

"Pakai batik yang aku pilihin, ya. Yang cokelat."

Damar menutup telepon tanpa menjawab.

Dia menatap Nala sekali lagi, lama, lalu berbalik ke arah pintu.

"Tidur," katanya.

Pintu tertutup di belakangnya.

***

Pukul tujuh pagi, ponsel Nala berbunyi.

Notifikasi dari bank. Dana masuk sebesar Rp10.000.000.000,00. Pengirim: Damar Hadiwijaya.

Dia duduk di pinggir ranjang paviliun dan menatap angka itu. Sepuluh dengan sembilan nol di belakangnya. Uang yang cukup untuk membeli seluruh kehidupan yang dulu pernah dia miliki, dan tidak cukup untuk mengembalikan satu hari pun dari kehidupan itu.

Dia melepas kalung teratai merah dari lehernya dan memasukkannya ke dalam laci.

Laci itu dia tutup.

Lima detik kemudian dia membukanya lagi, mengambil kalung itu, dan memakainya kembali. Liontin itu jatuh di tempat yang sama, di tulang dadanya, berat dan dingin.

Kalau dia mau masuk ke rumah itu, dia harus memakai ini.

"Malam ini," bisiknya. "Rumah itu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!