PACAR KONTRAK SANG KETUA GENG
Fake Dating • Bad Boy • School Romance • Possessive Love
Nadine Kirana tidak pernah berniat terlibat dengan Axel Pratama—ketua kelompok Orbit yang terkenal dingin, sulit diatur, dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.
Bagi Nadine, hidup sudah cukup rumit. Di tengah kesibukan sekolah dan pekerjaan paruh waktu, dia harus mencari uang untuk biaya perawatan ibunya. Sementara itu, impiannya melanjutkan kuliah di luar kota perlahan terancam oleh keadaan yang tidak bisa dia kendalikan.
Lalu Axel datang membawa tawaran yang tidak masuk akal.
Jadilah pacarku selama sembilan puluh hari, dan aku akan menanggung biaya yang kita sepakati.
Axel membutuhkan pacar pura-pura untuk menggagalkan rencana perjodohan keluarganya. Nadine membutuhkan uang. Kesepakatan itu seharusnya sederhana: berpura-pura saling mencintai di depan orang lain, menaati aturan, lalu berpisah ketika waktunya habis.
Tidak ada perasaan. Tidak ada tuntutan. Tidak ada masa depan bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Pura-Pura Menjadi Nyata
“Pacar lo udah datang, Nadine.”
Nadine mengangkat wajah dari berkas beasiswa yang sedang diperiksanya. Di ambang pintu kelas XII-2, Axel Pratama berdiri dengan satu tangan masuk ke saku celana. Beberapa siswa yang mendengar ucapan temannya langsung menoleh, sementara yang lain sibuk menahan senyum.
“Pagi-pagi udah ribut,” gumam Nadine.
“Gue cuma menyampaikan informasi,” sahut temannya sebelum kembali ke bangku.
Axel berjalan mendekat. Tatapannya sempat jatuh pada lembar-lembar kertas di meja Nadine.
“Dokumen lo udah lengkap?”
“Hampir.”
“Yang kurang apa?”
Nadine menyusun kembali berkasnya. “Surat keterangan dari sekolah sama revisi surat motivasi. Sisanya tinggal gue periksa.”
“Kalau butuh bantuan—”
“Gue bakal bilang.”
Axel menutup mulutnya sebelum kalimat itu selesai.
Nadine meliriknya. “Kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.” Axel menarik kursi di sebelah meja, tetapi belum mendudukinya. “Gue cuma mau memastikan.”
“Memastikan atau mengawasi?”
Pertanyaan itu keluar ringan, tanpa nada menuduh. Namun, Axel tetap menangkap maksud di baliknya.
“Memastikan,” jawabnya. “Tapi gue ngerti kenapa lo bisa menganggapnya beda.”
Nadine tampak sedikit terkejut. Ia mengira Axel akan membalas dengan candaan atau membela diri.
“Bagus kalau lo ngerti.”
Bel masuk berbunyi sebelum percakapan mereka berlanjut. Axel kembali ke tempat duduknya, sementara Nadine menyimpan dokumen beasiswanya di dalam map.
Hari itu seharusnya berjalan biasa saja. Namun, menjelang istirahat pertama, Bu Ratna datang membawa beberapa lembar hasil cetak majalah sekolah.
“Axel, Nadine, Ibu perlu kalian periksa keterangan foto festival kemarin. Tim majalah sekolah mau segera menyelesaikan halaman kegiatan.”
Nadine dan Axel dipanggil ke meja guru. Di sana, Bu Ratna menunjukkan foto mereka ketika mengikuti tantangan kerja sama saat festival. Mereka berdiri berdampingan, saling menatap, dengan ekspresi yang tampak lebih santai daripada ketika pertama kali diminta berpose.
Di bawah foto itu tertulis:
Axel Pratama dan Nadine Kirana, pasangan yang menunjukkan kerja sama terbaik dalam festival sekolah.
Nadine membaca kalimat tersebut dua kali.
“Bu, boleh diganti?”
Bu Ratna mengangkat wajah. “Bagian mana?”
“Bagian pasangan. Penghargaan kami kan untuk kerja sama selama permainan, bukan karena status hubungan.”
Bu Ratna mengangguk setelah memeriksa kembali keterangannya. “Benar juga. Kita ganti menjadi peserta yang menunjukkan kerja sama terbaik.”
Axel tidak menyela. Ia hanya memperhatikan Nadine yang memastikan perubahan itu dicatat.
Setelah Bu Ratna pergi, Axel mengambil salinan foto tersebut.
“Lo nggak suka orang menganggap hubungan kita terlalu serius?” tanyanya.
“Bukan begitu.” Nadine memasukkan lembar revisi ke dalam map. “Gue tahu kita harus meyakinkan orang kalau sedang bersama. Tapi bukan berarti setiap hal yang kita lakukan harus dijadikan bukti bahwa hubungan ini nyata.”
Axel menatap foto di tangannya.
“Masuk akal.”
“Dan gue nggak mau nanti orang merasa berhak mengatur hidup gue hanya karena mereka mengira tahu segalanya tentang kita.”
“Gue ngerti.”
Nadine mengamatinya sesaat, seolah memastikan jawaban itu bukan sekadar cara untuk mengakhiri pembicaraan.
“Semoga kali ini benar-benar ngerti.”
Axel tidak membantah.
Untuk pertama kalinya, ia mulai menyadari bahwa menjaga hubungan pura-pura mereka tetap meyakinkan tidak sama dengan membiarkan orang lain menganggap mereka memiliki kehidupan yang bisa dinilai sesuka hati.
---
Saat istirahat, Nadine duduk di bangku dekat jendela sambil membuka ponselnya. Raka baru saja mengirimkan contoh surat motivasi dari peserta beasiswa tahun sebelumnya.
Raka: Coba lihat bagian pembuka sama cara dia menjelaskan alasan pilih jurusan. Siapa tahu bisa jadi referensi.
Nadine membaca dokumen itu dengan teliti, lalu membalas ucapan terima kasih.
Axel yang duduk beberapa meja darinya sempat melihat nama Raka di layar ponsel Nadine. Ada rasa tidak nyaman yang muncul begitu saja, seperti biasanya.
Ia hampir berdiri untuk menghampiri Nadine.
Namun, tangannya berhenti ketika teringat percakapan mereka beberapa hari sebelumnya. Ia tidak berhak menjadikan setiap pesan dari Raka sebagai persoalan yang harus dijelaskan Nadine.
Axel kembali duduk.
Dimas, yang sejak tadi memperhatikannya, mengangkat alis.
“Tumben.”
“Apaan?”
“Biasanya kalau nama Raka muncul, muka lo langsung kayak orang kehilangan parkiran.”
“Berisik.”
“Gue cuma heran. Sekarang lo bisa duduk manis.”
Axel melirik Nadine yang sedang membandingkan dua dokumen di ponselnya.
“Gue masih nggak suka melihat mereka terlalu dekat.”
“Terus?”
“Terus nggak ada.” Axel menyandarkan punggungnya. “Itu perasaan gue. Bukan urusan yang harus dia selesaikan.”
Dimas terdiam sebentar sebelum mengangguk.
“Nah, itu baru kalimat yang bisa dipakai.”
“Jangan bikin gue menyesal sudah bicara.”
Dimas tertawa kecil, tetapi tidak melanjutkan godaannya.
Di sisi lain ruangan, Nadine menutup dokumen yang dikirim Raka. Ia sempat melihat Axel berbicara dengan Dimas, tetapi tidak tahu apa yang sedang mereka bahas.
Yang ia tahu, Axel tidak menghampirinya untuk bertanya siapa yang mengirim pesan atau mengapa ia membutuhkannya.
Hal sederhana itu membuat Nadine kembali memusatkan perhatian pada dokumennya dengan perasaan yang sedikit lebih ringan.
Bukan berarti semua masalah mereka sudah selesai. Ia masih mengingat kejadian ketika Axel mengirim mobil sebelum dirinya menyetujui undangan makan malam. Ia belum sepenuhnya melupakan rasa kecewa itu.
Namun, setidaknya kali ini Axel tidak memaksanya membuktikan bahwa ia tidak melakukan kesalahan.
Bagi Nadine, perubahan kecil semacam itu lebih berarti daripada janji panjang.
---
Bel pulang berbunyi ketika Nadine masih merapikan berkas beasiswanya.
Axel menunggunya di dekat gerbang sekolah.
“Lo mau langsung ke tempat fotokopi?” tanyanya ketika Nadine menghampiri.
“Iya. Pak Udin bilang ada pesanan yang harus diselesaikan hari ini.”
“Gue boleh nganter?”
Nadine melihat jam di ponselnya. “Boleh, tapi gue harus tetap kerja begitu sampai.”
“Gue nggak berencana menghalangi lo kerja.”
“Dan lo nggak bisa tiba-tiba mengubah tujuan perjalanan karena punya ide lain.”
Axel mengangguk. “Gue antar ke tempat kerja lo. Setelah itu, gue pulang.”
“Kalau begitu, ayo.”
Mereka berjalan menuju mobil. Sepanjang perjalanan, Axel tidak banyak bertanya. Ia hanya sesekali menanggapi ketika Nadine menjelaskan bahwa beberapa dokumen beasiswa harus dikumpulkan sebelum batas waktu pendaftaran.
“Sabtu nanti gue mungkin harus berangkat pagi,” kata Nadine. “Ada sesi informasi beasiswa di kampus yang gue incar.”
“Yang di luar kota itu?”
“Iya.”
“Lo sudah mengatur jadwal kerja?”
“Sudah. Gue tukar jam kerja sama teman yang biasa bantu Pak Udin.”
Axel mengangguk. Ia ingin bertanya apakah Nadine akan pergi sendiri, siapa saja yang ikut, dan berapa lama ia berada di sana. Pertanyaan-pertanyaan itu berdesakan di kepalanya.
Namun, ia akhirnya hanya berkata, “Semoga acaranya membantu.”
Nadine menoleh sebentar.
“Terima kasih.”
Tidak ada percakapan panjang setelah itu. Anehnya, keheningan tersebut tidak terasa canggung.
Ketika mobil berhenti di depan tempat fotokopi, Nadine langsung membuka pintu. Namun, sebelum turun, ia melihat sebuah kantong kertas di kursi belakang.
“Itu apa?”
“Makanan.”
“Buat siapa?”
“Buat lo sama Pak Udin. Gue nggak tahu harus bawa apa kalau berkunjung ke tempat kerja seseorang.”
Nadine menatapnya dengan ekspresi sulit ditebak.
“Lo sadar ini bukan kunjungan resmi, kan?”
“Gue tahu. Makanya gue nggak bawa bunga.”
Nadine hampir tertawa, tetapi segera menahan diri.
“Lo nggak perlu repot-repot.”
“Gue tahu.” Axel mengangkat kantong itu. “Kalau lo nggak mau, gue bisa bawa pulang.”
Nadine memandang kantong tersebut, lalu membuka pintu lebih lebar.
“Bawa saja. Pak Udin biasanya belum sempat makan kalau pesanan sedang banyak.”
Axel turun dan mengikuti Nadine masuk.
Tempat fotokopi itu lebih ramai daripada yang ia bayangkan. Suara mesin terdengar bersahutan dengan pelanggan yang meminta dokumen dicetak, diperbesar, atau dijilid. Di dekat meja kasir, beberapa tumpukan kertas menunggu untuk diproses.
Pak Udin menyambut Nadine dengan anggukan.
“Sudah datang? Pesanan yang tadi tinggal dijilid.”
“Iya, Pak. Saya kerjakan sekarang.”
Baru setelah itu Pak Udin memperhatikan Axel.
“Temannya Nadine?”
Nadine sempat melirik Axel sebelum menjawab.
“Iya, Pak. Axel.”
Axel mengulurkan kantong makanan. “Saya kebetulan lewat, Pak. Saya bawakan sedikit makanan. Semoga bisa dinikmati.”
“Wah, terima kasih. Tidak perlu repot-repot.”
“Tidak merepotkan, Pak.”
Pak Udin menerima kantong tersebut dengan senyum ramah, lalu kembali mengurus pelanggan.
Nadine segera menggulung lengan bajunya dan mulai menyusun pesanan. Ia memeriksa jumlah halaman, mencocokkan nama pelanggan, lalu memasukkan berkas ke mesin jilid. Gerakannya cepat dan teratur, seolah setiap langkah sudah menjadi kebiasaan.
Axel berdiri agak jauh agar tidak menghalangi jalan.
Setelah beberapa menit, ia memperhatikan tumpukan kertas yang perlu dipindahkan ke meja sebelah.
“Boleh gue bantu bawa itu?”
Nadine menoleh. “Boleh. Pindahkan ke meja dekat printer, tapi jangan campur dengan berkas yang sudah selesai.”
Axel mengikuti petunjuknya. Ia membawa dua tumpukan sekaligus, kemudian meletakkannya di tempat yang dimaksud.
“Begini?”
“Iya. Terima kasih.”
Ia tidak mengambil alih pekerjaan Nadine. Tidak menyuruhnya duduk atau menyuruh Pak Udin memberi pekerjaan lebih ringan. Ia hanya membantu pada bagian yang memang diminta.
Ketika pelanggan berikutnya datang, Nadine kembali melayani mereka. Axel akhirnya duduk di kursi kosong dekat dinding, memperhatikan tanpa berusaha membuat dirinya menjadi pusat perhatian.
Baru sekarang ia memahami bahwa waktu Nadine tidak hanya dihabiskan untuk sekolah dan mengurus ibunya. Ada pekerjaan yang menunggu, pesanan yang harus selesai, serta jadwal yang perlu ia atur sendiri agar satu tanggung jawab tidak mengganggu tanggung jawab lainnya.
Nadine tidak terlihat ingin dikasihani. Ia hanya melakukan apa yang perlu dilakukan.
Saat pesanan terakhir selesai diproses, Nadine menghampiri Axel sambil mengusap ujung jarinya yang terkena sedikit debu kertas.
“Lo bosan?”
“Lumayan.”
“Kalau begitu, kenapa belum pulang?”
Axel terdiam sejenak.
Ia bisa saja menjawab bahwa ia ingin memastikan Nadine bekerja dengan aman. Bisa juga mengatakan bahwa ia hanya kebetulan tidak punya kegiatan lain.
Namun, kedua jawaban itu tidak sepenuhnya benar.
“Gue penasaran seperti apa hari-hari lo di sini,” katanya akhirnya. “Selama ini gue cuma tahu lo kerja setelah sekolah. Gue nggak tahu sesibuk apa.”
Nadine memperhatikannya.
“Sekarang sudah tahu?”
“Sedikit.”
“Bagus. Tapi jangan menganggap karena sudah tahu tempatnya, lo bisa datang kapan saja.”
“Gue nggak akan begitu.”
Nadine mengangguk. “Oke.”
Ia tidak memberikan ucapan terima kasih panjang atau membuat kunjungan itu menjadi sesuatu yang istimewa. Setelah memastikan semua pesanan selesai, ia berpamitan kepada Pak Udin dan mengambil tasnya.
Axel mengantarnya sampai ke mobil.
Sesuai kesepakatan mereka, ia menurunkan Nadine di jalan utama dekat minimarket, bukan mengantarnya langsung ke rumah.
“Terima kasih sudah mengantar,” kata Nadine sebelum turun.
“Sama-sama. Semoga berkas lo cepat selesai.”
“Semoga juga lo nggak menyesal sudah melihat kehidupan orang biasa.”
Axel mendengus kecil. “Gue belum sebodoh itu.”
“Belum?”
“Jangan mulai.”
Nadine tertawa singkat sebelum menutup pintu mobil.
Axel menunggu sampai Nadine berjalan masuk ke area minimarket yang ramai, lalu meminta sopir melanjutkan perjalanan.
Sepanjang jalan pulang, ia teringat bagaimana Nadine bergerak di antara mesin fotokopi, tumpukan kertas, dan pelanggan yang datang silih berganti. Tidak ada yang terlihat luar biasa bagi orang lain.
Namun, entah mengapa, ia ingin mengingat semuanya.
---
Malam itu, Nadine duduk di meja kecil dekat jendela rumahnya. Di hadapannya terbuka surat motivasi yang harus ia revisi sebelum sesi informasi beasiswa pada hari Sabtu.
Ratih sudah beristirahat. Rumah menjadi lebih tenang, hanya sesekali terdengar suara kendaraan dari jalan depan.
Nadine membaca ulang paragraf pembuka suratnya. Ia mengganti satu kalimat, lalu menghapusnya lagi karena terasa terlalu kaku.
Ponselnya terletak di samping map.
Ia teringat Axel yang duduk diam di tempat fotokopi, tidak banyak bertanya, dan hanya membantu ketika diminta. Bahkan saat membawa makanan, ia tidak membuat Nadine merasa harus membalas kebaikannya dengan perhatian khusus.
Itu berbeda dari Axel yang beberapa waktu lalu merasa perlu mengetahui siapa yang mengirim pesan kepadanya atau memutuskan sesuatu sebelum mendapat persetujuannya.
Nadine meletakkan pena.
Mungkin Axel benar-benar sedang belajar.
Namun, ia segera kembali menatap surat motivasinya. Ia tidak ingin satu hari yang menyenangkan membuatnya lupa pada alasan utama ia menerima kontrak tersebut—atau pada masa depan yang sedang ia perjuangkan.
Ponselnya bergetar.
Axel: Dokumen lo sudah selesai direvisi?
Nadine: Belum. Masih dikerjakan.
Axel: Jangan sampai tidur terlalu malam.
Nadine mengernyit membaca pesan itu. Ia hampir membalas bahwa Axel tidak perlu mengatur jam tidurnya, tetapi pesan berikutnya muncul.
Axel: Maksud gue, semoga selesai tepat waktu. Besok masih sekolah.
Nadine tersenyum kecil.
Nadine: Gue tahu. Lo juga jangan lupa belajar.
Axel: Gue belajar.
Nadine: Belajar apa? Cara membuat orang kesal?
Axel: Kalau itu, gue sudah ahli.
Nadine tertawa pelan. Setelah itu, ia meletakkan ponsel dan kembali bekerja.
Percakapan mereka tidak berlangsung lama. Tidak ada rayuan, tidak ada janji, dan tidak ada pembicaraan mengenai perasaan.
Akan tetapi, untuk pertama kalinya, Nadine tidak merasa perlu menghitung berapa banyak pesan yang harus ia balas agar peran mereka tetap meyakinkan.
Ia membalas karena memang ingin membalas.
Dan kesadaran kecil itu membuatnya berhenti sejenak sebelum kembali menulis.
---
Di rumahnya sendiri, Axel meletakkan ponsel di meja setelah membaca pesan terakhir Nadine.
Ia tidak mengirim pesan tambahan. Tidak mencari alasan untuk memperpanjang percakapan, meskipun sebagian dirinya ingin tahu apakah Nadine sudah selesai menulis atau sedang melakukan apa sekarang.
Ia teringat kunjungan singkat ke tempat fotokopi tadi. Nadine terlihat sama seperti biasanya—tegas, sibuk, dan tidak mudah menerima bantuan tanpa alasan yang jelas.
Namun, kini ia mengenal sedikit bagian dari kehidupan Nadine yang tidak terlihat di sekolah.
Axel menyadari bahwa ia ingin mengenal lebih banyak.
Bukan untuk memastikan Nadine selalu berada dalam jangkauannya. Bukan pula untuk mengawasi siapa yang datang dan pergi dari kehidupannya.
Ia hanya ingin tahu.
Kesadaran itu tidak langsung memberinya jawaban tentang perasaannya sendiri. Kontrak mereka masih berlaku, aturan-aturannya belum berubah, dan Nadine masih memiliki banyak hal yang harus diperjuangkan.
Axel pun masih harus menyelesaikan persoalan dengan ayahnya serta menentukan masa depannya sendiri.
Tetapi ada sesuatu yang perlahan bergeser.
Dulu, ia mencari Nadine karena gadis itu bisa membantunya menghadapi rencana keluarganya. Sekarang, bahkan ketika tidak ada acara keluarga atau kepentingan yang harus mereka tunjukkan kepada orang lain, ia tetap ingin bertemu dengannya.
Sementara itu, Nadine mulai menyadari bahwa tidak semua kehadiran Axel terasa seperti tuntutan.
Mereka belum mengatakan apa pun tentang perubahan itu. Bahkan mungkin keduanya belum berani mengakuinya kepada diri sendiri.
Untuk saat ini, mereka tetap menjalani hari masing-masing—Nadine dengan surat motivasi dan impian kuliahnya, Axel dengan masalah keluarga dan masa depan yang harus ia tentukan.
Namun, di antara jadwal yang padat dan aturan kontrak yang masih mengikat, satu pertanyaan mulai tumbuh tanpa pernah diucapkan:
Jika mereka tidak lagi membutuhkan alasan untuk ingin bertemu, apa yang sebenarnya sedang mereka pertahankan?