NovelToon NovelToon
OVER THE AGE

OVER THE AGE

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:383
Nilai: 5
Nama Author: siput

Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg

Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.

Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 8

Setelah dari toilet, eca pun langsung mendekati theo dan membantunya mengobati lukanya.

"Sini gue bantu, gini-gini walaupun ceroboh gue ini seorang perawat" sambil mengolesi obat luka

"Btw, terimakasih ya! Sudah ngelindungin gue dari kemarin dan hari ini juga, gue tau sangat ngerepotin lo, semoga kita tidak bertemu lagi setelah ini biar gue nggak ngerepotin lo lagi"

'duh..bingung banget' sahut eca dalam hati

Sentuhan terampil pada sikunya terasa dingin menyengat saat kapas basah menekan luka lecet itu. theo mengalihkan pandangan ke sudut ruangan, membiarkan rahangnya mengeras demi menutupi sengatan rasa perih dan desir aneh yang kembali merayapi dadanya. Namun, kalimat terakhir yang meluncur santai dari bibir gadis itu seketika memicu letupan jengkel yang tak terduga.

theo menarik lengannya kasar begitu perban kecil tertempel, menolak keintiman yang tercipta di antara mereka. Matanya menyipit tajam, memindai paras di hadapannya dengan seringai angkuh yang kembali terpasang rapi.

"Perawat ceroboh begini mana ada yang percaya,"

dengus theo meremehkan, melipat kedua tangannya di depan dada.

"Dan siapa bilang lo bisa pergi gitu aja tanpa bayar utang budi? Lo sendiri yang janji bakal nurutin mau gue sebagai gantinya."

Ia melangkah maju, mempersempit jarak hingga bayangannya menaungi tubuh mungil itu sepenuhnya. Sudut bibir theo terangkat miring, memamerkan arogansi khasnya.

"Gue yang nentuin kapan urusan kita selesai. Jadi buang jauh-jauh mimpi lo buat nggak ketemu gue lagi."

"Yaudah...lo mau minta apa sekarang ke gue,biar semua beres sekarang gue nggak mau hutang budi banyak ke lo" jawab eca

"Iya, gue tau kalau ceroboh, tapi gue kalau kerja beda cerita lah" sambil merekatkan plester

Udara di antara mereka kembali memadat oleh aroma antiseptik dan hawa dingin pendingin ruangan. theo memperhatikan plester yang kini merekat rapi di sikunya, lalu mendengus pendek seraya mencondongkan tubuhnya ke depan. Jarak yang menipis membiarkan tatapan matanya yang pekat mengunci lawan bicaranya tanpa celah untuk melarikan diri.

"Bagus kalau lo sadar masih punya tanggungan,"

gumam theo rendah, nada suaranya mengalun santai penuh tipu daya.

"Gue nggak butuh uang receh lo, dan gue belum mikirin apa bayaran yang sepadan buat semua kekacauan yang lo buat dari kemarin."

Derap langkah kaki tergesa dari lantai dasar mendadak memecah ketegangan, disusul suara bel pintu yang ditekan berulang kali tanpa sabar. theo menegakkan punggungnya santai, menduga si pembawa kabar akhirnya tiba.

"Itu pasti Rian bawa barang berharga lo,"

ucap theo datar seraya berbalik melangkah menuju pintu kamar. Sebelum melangkah keluar, ia melirik sekilas dari balik bahunya dengan seringai penuh kepemilikan.

"Tunggu di sini. Jangan coba-coba kabur sebelum gue kasih izin."

"Dih...gue kabur juga lu tangkap lagi kan? Anak buah lo kan dimana-mana" dengan muka eca yang kesal

Theo mendengus geli, melipat lengannya di depan dada sembari membiarkan seringai percaya diri tersungging di parasnya. Celotehan itu membuktikan bahwa gadis itu mulai memahami posisinya di kota ini. Baginya, rasa takut bercampur kepatuhan yang tersirat dari ucapan lawan bicaranya terdengar begitu memuaskan, membelai egonya yang setinggi langit.

"Bagus kalau otak lo akhirnya bisa mikir realistis,"

cetus theo datar, nada suaranya mengalun santai namun penuh tekanan tak kasatmata.

"Jalanan kota ini wilayah gue. Lo lari sejauh apa pun, paling cuma butuh sepuluh menit buat anak-anak gue seret lo balik ke hadapan gue."

Lelaki jangkung itu memutar kenop pintu, membukanya perlahan saat suara bel kembali berdenting nyaring dari arah serambi. theo menatap gadis itu lurus-lurus, mengunci pandangannya dengan sorot mata kelam yang tak terbaca.

"Duduk manis di ranjang. Sekali lagi gue lihat kaki lo melangkah keluar dari batas kusen kamar ini, dompet lo nggak bakal pernah balik utuh."

Tanpa menunggu bantahan lain, theo menutup pintu kamar setengah rapat, lalu melangkah menuruni undakan tangga dengan derap kaki yang bergema mantap di keheningan rumah.

...****************...

1
Siput
hallo semua, mulai episode ini saya buat POV Theo ya jadi saya rubah dengan kata "Aku" biar lebih menjiwai kalian di dunia theo.🤭 thanks

enjoy reading guys🩷
Mawarresa
eca berani bangett🤣
Siput: galak dikit nyaplok dia kak🤣🤣
total 1 replies
Renjana
tinggalin jejak dulu,
hadir kak, mampir juga ya😊
Siput: thank u udh mampir kak
total 1 replies
atikah@72
sama-sama kak, sukses selalu🫰
atikah@72
ceritanya bagus lanjutkan Thor. jgn lupa mampir ya di aku buat silaturahmi. makasih 🫰
Siput: trimakasih kak support sistemnya😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!