NovelToon NovelToon
Selir Favorit Sang Mafia

Selir Favorit Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja sastrala

Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

Keheningan pagi di puri ini selalu terasa menyesakkan, tetapi pagi ini rasa sesak itu menjalar hingga ke sulur-sulur saraf terdalam di tubuhku. Sunyi yang membungkus kamar beratap tinggi ini bukan lagi jenis sunyi yang menenangkan, melainkan kesunyian tebal yang membawa aroma tembakau mengendap, alkohol mahal, dan sisa-sisa kepasrahan semalam.

Aku terbaring miring di atas peraduan berukuran king-size yang terlampau luas ini. Selimut sutra tebal berwarna krem hanya sanggup menutupi separuh tubuhku yang lebam. Setiap kali napas panjang kutarik, ada rasa nyeri yang menusuk tajam di dada dan panggulku sebuah rasa sakit fisik yang teramat nyata, hasil dari gairah tanpa ampun Gabriel yang meluap-luap sepanjang malam.

Pria itu sudah tidak ada di sisiku. Sisi tempat tidur yang tadi malam menjadi saksi bagaimana ia menumpahkan seluruh dominasi dan obsesinya kini sudah dingin. Garis-garis sprei yang kusut adalah satu-satunya jejak yang membuktikan bahwa Gabriel Moretti sang penguasa kegelapan pernah berada di sini, menjadikan diriku sebagai tempat pelampiasan atas seluruh beban perang dan cemburu gila yang membakar dadanya.

Aku memejamkan mata rapat-rapat, namun air mata yang panas tetap lolos, membasahi kain bantal yang dingin.

Kenapa harus aku?

Pertanyaan itu terus bergema di dalam kepalaku, berulang-ulang seperti dentang lonceng kematian yang tak kunjung berhenti.

Puri ini sangat besar. Ini adalah sebuah kompleks istana tersembunyi dengan puluhan kamar mewah yang tak terhitung jumlahnya. Dan aku tahu betul, aku bukanlah satu-satunya wanita yang pernah diseret atau dibawa masuk ke dalam lingkaran hitam Gabriel. Di sayap barat puri ini tempat yang sengaja dipisahkan oleh lorong-lorong berdinding batu tinggi ada wanita-wanita lain. Ada selir-selir simpanan yang ia pelihara, wanita-wanita yang ia beri kemewahan, gaun-gaun indah, dan perlindungan tanpa perlu khawatir akan ditembak oleh musuh. Wanita-wanita yang dipelihara hanya untuk sekadar memanjakan mata atau mengisi waktu luangnya saat ia sedang senggang.

Namun kenapa mereka bisa hidup dengan tenang di sudut sana? Kenapa mereka hanya dipanggil sesekali, diberi perhiasan, lalu dibiarkan menikmati hari-hari mereka dalam kemewahan yang damai?

Kenapa hanya aku? Kenapa hanya Aurora yang selalu dijadikan bahan siksaan emosional dan fisik oleh pria itu? Kenapa hanya aku yang harus menanggung amarahnya, rasa cemburunya yang membakar, obsesinya yang gila, dan siksaan tiada akhir di atas ranjang ini setiap kali dunia luar menekan kepalanya?

Aku sungguh lelah. Lelah yang kurasakan bukan lagi sekadar pegal pada persendian atau kulit yang lebam akibat cengkeraman jarinya. Ini adalah kelelahan jiwa sebuah rasa hampa yang perlahan-lahan mengikis habis sisa-sisa kemanusiaan yang kupunya. Aku merasa seperti objek tanpa nyawa, sebuah boneka porselen mahal yang disiksa secara halus di dalam kamar mewah bernuansa *maroon* ini. Aku hanya pemuas nafsu yang dibungkus dengan sebutan manis "selir favorit".

"Nona Aurora?"

Suara ketukan pelan di pintu jati menginterupsi tangisku. Elena melangkah masuk secara perlahan, membawa nampan perak berisi sarapan hangat dan wadah porselen berisi ramuan herbal penawar nyeri.

Kepala pelayan paruh baya itu terhenti beberapa langkah dari tempat tidur. Matanya yang terlatih menangkap raut wajahku yang pucat pasi, bahuku yang bergetar, dan bekas-bekas kejam di leher serta bahuku yang tak tertutupi selimut. Sorot mata Elena memancarkan duka yang sangat dalam, sebuah rasa kasihan yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat demi profesionalitasnya.

"Saya menyiapkannya untuk Anda, Nona," bisik Elena seraya meletakkan nampan di atas meja rias. Ia mendekati tempat tidur, dengan jemari gemetar membantu menarik selimut untuk menutupi bahuku yang terbuka.

"Elena..." suaraku terdengar parau, tercekik oleh air mata yang menyumbat tenggorokan. "Katakan padaku..."

"Apa yang ingin Anda ketahui, Nona?"

Aku menatap mata Elena dengan pandangan yang kabur oleh air mata. "Ada begitu banyak wanita di rumah ini... Di sayap barat, Gabriel punya wanita lain, bukan? Kenapa... kenapa hanya aku yang dibawa ke kamar ini setiap malam? Kenapa hanya aku yang disiksa seperti ini?"

Elena terpaku. Tangannya yang sedang merapikan kain selimut terhenti di udara. Wanita tua itu menggigit bibir bawahnya, menunduk tak berani membalas tatapan mataku yang penuh dengan keputusasaan.

"Nona..." bisik Elena pelan, suaranya sarat akan keharuan yang menyakitkan. "Wanita-wanita di sayap barat itu... mereka hanyalah bayangan."

"Lalu aku ini apa?!" teriakku pelan, tak sanggup lagi menahan rasa sakit di dadaku. "Aku ini pemuas nafsunya! Aku ini tempat meluapkan amarahnya! Aku lelah, Elena! Aku lebih baik mati daripada harus bertahan satu malam lagi di kamar ini!"

"Tidak, Nona Aurora, dengarkan saya," Elena berlutut di samping tempat tidurku, menggenggam jemariku yang dingin dengan kedua tangannya yang hangat. "T Tuan Gabriel tidak pernah menyentuh wanita-wanita di sayap barat itu seperti ia menyentuh Anda. Bagi beliau, mereka semua hanyalah formalitas, pajangan status, atau cara untuk mengalihkan perhatian musuh. Beliau tidak memiliki emosi terhadap mereka."

Elena menatapku lurus-lurus, mencoba menyalurkan sedikit kekuatan melalui genggamannya. "Tapi pada Anda... Tuan Gabriel memberikan seluruh kegelapan dan kepemilikannya. Pria seperti Tuan Gabriel tidak tahu cara mencintai dengan benar, Nona. Ia tumbuh di dunia yang hanya mengenal kekerasan dan dominasi. Ketika ia menemukan satu-satunya hal yang paling ia takuti untuk hilang yaitu Anda ia meluapkannya dengan cara yang paling liar dan berbahaya."

"Itu bukan cinta, Elena!" batinku menjerit, menarik jemariku dari genggaman Elena. "Itu obsesi! Itu penyiksaan! Dia menghancurkanku hanya untuk memuaskan rasa ingin memilikinya!"

Aku memalingkan wajah ke arah dinding batu yang dingin, menolak untuk mendengarkan pembenaran apa pun lagi. Cinta tidak seharusnya terasa seperti rantai tebal yang meremukkan tulang. Cinta tidak seharusnya membuatmu merasa hina setiap kali matahari terbit.

---

Siang harinya, ketika matahari berada di puncak tertinggi, aku memaksakan tubuhku untuk keluar dari kamar. Aku tidak sanggup lagi berdiam diri di dalam ruangan yang baunya selalu mengingatkanku pada perlakuan Gabriel tadi malam.

Dengan gaun panjang berwarna biru kelabu yang longgar dan mantel tebal untuk menyembunyikan memar di leherku, aku melangkah menyusuri lorong-lorong puri. Dua pengawal bersenjata seperti biasa berjalan lima langkah di belakangku, langkah sepatu bot mereka bergema monoton di atas marmer.

Tujuanku kali ini bukan perpustakaan, melainkan taman dalam bertembok tinggi yang terletak di batas antara bangunan utama dan sayap barat. Di sana ada sebuah rumah kaca tua yang jarang dikunjungi orang, tempat bunga-bunga mawar hitam dan anggrek liar tumbuh terisolasi.

Namun, sebelum aku mencapai pintu rumah kaca, langkahku terhenti.

Di sudut lorong beratap melengkung yang menghubungkan area taman dengan sayap barat, dua orang wanita berdiri berbincang pelan. Mereka mengenakan gaun-gaun sutra yang indah namun dengan gaya yang sangat santai. Salah satu dari mereka seorang wanita berambut merah menyala bernama Clara sedang memoles kuku jarinya sambil tertawa tipis.

"Kau lihat betapa sibuknya para pengawal tadi malam?" bisik Clara pada temannya, seorang wanita berambut pirang. "Konvoi di utara diserang, dan Don Gabriel menembak jari Baron Vance di ruang dewan."

"Ya, aku dengar seluruh isi puri gempar," jawab wanita berambut pirang itu seraya menyesap minuman dingin dari gelas kristal. "Dan semua itu gara-gara selir barunya itu, bukan? Siapa namanya... Aurora?"

Clara terkekeh dingin, sebuah kekehan yang sarat akan cemoohan. "Kasihan sekali wanita itu. Dia pikir menjadi 'kesayangan' Gabriel adalah sebuah keberuntungan? Dia tidak tahu saja bahwa berada di kamar utama sama saja dengan berada di dalam neraka."

"Benar," timpal teman pirangnya. "Lihat kita di sayap barat. Kita diberi tempat tinggal yang mewah, uang bulanan yang melimpah, dan Gabriel hampir tidak pernah mengganggu kita. Dia hanya datang sekali dalam beberapa bulan, melihat-lihat, lalu pergi lagi. Kita bebas menikmati hidup di dalam puri ini tanpa perlu takut dihancurkan di atas ranjangnya setiap malam."

"Aurora itu hanyalah umpan," gumam Clara sinis, mengikir kukunya dengan santai. "Gabriel meluapkan seluruh kegilaan dan stres dunianya pada wanita itu. Dia adalah tempat sampah emosional Gabriel. Biarkan saja dia menikmati siksaan itu... setidaknya selama dia yang menjadi pelampiasan, kita di sini tetap aman dan hidup enak."

Gelak tawa pelan kedua wanita itu bergema di sepanjang lorong batu yang dingin.

Aku berdiri membeku di balik pilar besar, memegangi dadaku yang terasa dihantam oleh batu raksasa. Kalimat-kalimat mereka merayap masuk ke dalam telingaku, meracuni setiap sudut pikiranku dengan kebenaran yang teramat pahit.

Tempat sampah emosional.

Pelampiasan.

Air mata dingin kembali menetes tanpa bisa kubendung. Apa yang dikatakan wanita-wanita di sayap barat itu adalah kenyataan telanjang yang selama ini kucoba pungkiri. Mereka hidup aman dan nyaman di sayap barat justru karena ada aku di kamar utama seorang tawanan utang yang menampung seluruh kegilaan, amarah, nafsu terliar, dan ketakutan Gabriel Moretti sendirian.

Aku adalah perisai sekaligus tempat pelampiasan bagi sang iblis, sementara wanita-wanita lain menikmati hasil dari kepedihanku.

---

Sore harinya, hujan deras mengguyur kota. Suara petir menyambar-nyambar di luar, memantulkan kilatan cahaya putih ke dalam kamar utama yang gelap.

Aku duduk di lantai kayu di sudut kamar, bersandar pada kaki tempat tidur berukuran king-size itu. Aku menolak duduk di atas ranjang. Tempat tidur itu telah menjadi simbol kekalahanku, tempat di mana tubuh dan harga diriku dihancurkan berulang kali.

Pintu kamar terbuka dengan sentakan pelan.

Gabriel melangkah masuk. Jas hitamnya agak basah oleh air hujan, dan aroma alkohol serta tembakau kental tercium mendominasi udara. Pria itu tampak sangat lelah garis-garis ketegangan tercetak jelas di keningnya akibat rapat perang yang memanjang bersama para pasukannya sepanjang hari.

Namun, begitu matanya menangkap sosokku yang terduduk kaku di lantai sudut ruangan, raut wajah Gabriel langsung berubah. Alisnya bertaut tajam.

"Apa yang kau lakukan di lantai, Aurora?" suaranya berat dan serak, bergema di antara deru suara hujan di luar.

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong, menatap bayangan diriku sendiri di kaca lemari yang remang-remang.

Gabriel melangkah mendekat. Langkah kakinya yang berat berhenti tepat di hadapanku. Ia membungkuk, mengulurkan tangannya yang besar untuk menggapai bahuku, berniat menarikku berdiri.

"Jangan sentuh aku!" seruku tiba-tiba. Suaraku tidak lagi bergetar oleh rasa takut, melainkan penuh dengan dinginnya keputusasaan yang sudah mencapai batas puncak.

Tangan Gabriel terhenti di udara. Matanya memicing tajam, menyala oleh pendar amarah terselubung atas penolakanku yang terang-terangan.

"Kau mulai berani membangkang lagi, Cara mia?" bisiknya dengan nada rendah yang sangat berbahaya.

Aku memalingkan kepala, menatap lurus ke dalam manik mata hitamnya yang selalu berhasil mengintimidasi siapa pun. Kali ini, aku tidak mundur. Aku tidak mengalihkan pandangan.

"Kenapa harus aku, Gabriel?" tanyaku dengan suara datar, tanpa emosi, tanpa air mata yang tersisa.

Gabriel diam sejenak, mengamati perubahan aura di wajahku. "Apa maksudmu?"

"Kau punya puluhan wanita di sayap barat puri ini," lanjutku, setiap kata keluar bagai tiupan angin es. "Kau punya wanita-wanita bergaun indah yang hidup tenang di sana. Tapi kenapa hanya aku yang harus kau seret ke dalam kamar ini setiap malam? Kenapa hanya aku yang harus menampung seluruh kebuasanmu, siksaanmu, dan nafsu gilamu?!"

Gabriel mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras keras hingga otot-otot di lehernya menegang.

"Jangan berani-berani membandingkan dirimu dengan wanita-wanita di sayap barat, Aurora!" bentak Gabriel, suaranya menggelegar mengalahkan suara petir di luar.

"Kenapa tidak?!" batinku memekik, berdiri tegak secara mendadak hingga tingginya menyaingi Gabriel yang sedang membungkuk. "Karena aku hanyalah pemuas nafsumu yang paling mudah disiksa?! Karena aku wanita tanpa latar belakang keluarga yang bisa kau jadikan tempat sampah emosionalmu kapan saja kau lelah bertarung di dunia luar?!"

PLAK!

Kata-kata itu terhenti di udara. Bukan karena sebuah pukulan, melainkan karena cengkeraman kasar Gabriel pada kedua bahuku yang mendorong tubuhku hingga menghantam tiang tempat tidur kayu dengan keras.

Gabriel mengunci tubuhku dengan bobot tubuhnya yang dominan. Wajahnya hanya berjarak satu inci dari wajahku, matanya menyala oleh aura kegilaan dan obsesi yang teramat pekat hingga sanggup membuat ruangan ini terasa kekurangan oksigen.

"Kau ingin tahu kenapa hanya kau?!" bentak Gabriel tepat di depan bibirku, napasnya yang panas dan beraroma wiski membakar kulit wajahku. "Karena wanita-wanita di sayap barat itu tidak ada artinya bagiku! Aku bisa membunuh mereka semua malam ini juga tanpa perlu mengedipkan mata!"

Tangannya berpindah mencengkeram rahangku, menekan kulitku hingga terasa sakit, memaksaku menatap ke dalam kegelapan matanya yang paling dalam.

"Tapi kau..." bisik Gabriel, suaranya mendadak berubah menjadi serak, bergetar oleh kebenaran yang mengerikan. "Kau adalah satu-satunya hal di dunia ini yang sanggup membuatku merasa hidup sekaligus gila secara bersamaan. Kau adalah darahku, Aurora. Kau adalah candu yang tidak bisa kulepaskan bahkan jika aku harus membakar seluruh kota ini untuk memperjuangkanmu!"

"Itu bukan cinta, Gabriel!" tangisku akhirnya pecah juga, dinding pertahanan mentalku runtuh di bawah intimidasi dan kepasrahan ini. "Kau hanya menyiksaku! Kau meremukkan tubuhku, kau membuatku lelah... aku sungguh lelah menjadi milikmu!"

Gabriel tidak mendengarkan keluhanku. Ucapan keputusasaanku justru makin menyulut kegelapan di dalam dirinya. Pria itu menunduk, membungkam bibirku secara kasar dalam sebuah ciuman yang sarat akan amarah, kemarahan, dan penegasan kekuasaan mutlak.

Ia mengangkat tubuhku kembali ke atas ranjang berukuran king-size itu, mengabaikan setiap dorongan lunak dari tanganku yang makin melemah. Di bawah guyuran hujan deras dan kilatan petir yang menerangi kamar, Gabriel kembali menuntut seluruh kepasrahanku menjadikan malam yang panjang ini sebagai bukti bahwa di dalam sangkar emas ini, Aurora tidak akan pernah diizinkan untuk lelah, tidak akan pernah diizinkan untuk bebas, dan akan selamanya menjadi pelampiasan terindah bagi sang raja mafia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!