Lima tahun mencintai Hansen diam-diam membuat Jihan langsung menerima saat mereka dijodohkan. Hansen pun terpaksa menikahi Jihan karena merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang membuat kaki Jihan cacat.
Atas permintaan Hansen, pernikahan mereka disembunyikan. Selama sepuluh tahun, Jihan menjalani perannya sebagai istri tanpa pernah menuntut cinta dari Hansen yang selalu bersikap dingin.
Namun semuanya berubah ketika putra mereka yang berusia sembilan tahun mengatakan bahwa ia malu memiliki ibu yang pincang.
Hati Jihan hancur.
Di saat yang sama, Hansen mengaku sudah lelah dengan pernikahan pura-pura mereka dan mengajak Jihan bercerai.
Jihan hanya terdiam.
Tanpa air mata, tanpa protes, dan tanpa memohon agar Hansen tetap bersamanya.
Karena kali ini, Jihan memilih berhenti mencintai pria yang tak pernah benar-benar menginginkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut Menyentuh
Setelah tangisnya reda, Jihan pun merapikan rambutnya, merapikan bajunya dan segera melangkah meninggalkan toilet.
Dengan senyum sumringah, ia pun mendekati mantan suami dan anaknya.
"Ngobrol apa, sepertinya seru sekali," ucap Jihan, Pura-pura tak mendengar apa-apa.
"Oh, ini Raka izin mau ikut study tour ke Jogja bulan depan." Hansen tampak gugup, karena berbohong. Dan dari sikapnya itu, Jihan tau kalo mantan suaminya ini sedang berbohong."
"Ohh, anak bunda sudah besar ternyata, sudah berani pergi-pergi sendiri ya," jawab Jihan, tanpa menyentuh Raka. Jihan berusaha menahan diri agar tidak menyakiti hati sang putra. Sekarang Jihan merasa, mungkin Raka tak suka sentuhannya.
Raka hanya tersenyum. Namun Jihan tau kalo senyuman itu sama sekali tak tulus.
"Kok kamu lama di toiletnya, apa ngantri?" tanya Hansen lembut.
"Tidak, tadi tiba-tiba ada telpon. Jadi angkat telpon dulu."
"Oh." Hansen tersebut lega. Itu artinya ada kemungkinan Jihan tak mendengar perbincangannya dengan sang putra. Jika sampai dengar, Hansen tak tau sesakit apa perasaan mantan istrinya ini.
Hampir lima menit mereka berada dalam suasana canggung. Raka sibuk dengan tabletnya, Hansen pura-pura sibuk dengan ponselnya, sedangkan Jihan hanya diam sambil meremas jari jemarinya.
"Habis ini kamu mau ke mana, aku anter?" tanya Hansen, sesaat sebelum makanan datang.
"Saya shift malam, gantiin Bu Hani," jawab Jihan jujur.
"Ya sudah, nanti kita bareng saja, aku juga ada kerjaan di rumah sakit."
"Eh, jangan, nggak usah. Saya nyetir sendiri saja."
"Kenapa? kamu malu jalan sama ku?"
"Nggak, tentu saja nggak. Hanya nggak mau jadi bahan gunjingan saja. Nggak mau ada salah paham saja."
"Salah paham apa, kalo mereka nanya, kamu tinggal jawab kalo kamu istriku kan."
"Hist, mantan, Bapak. Sekarang sudah mantan kan." Tawa Jihan hampir meledak. Tapi cepat ia tahan. Wajah Hansen langsung memerah. Sedangkan Raka langsung mengangkat wajahnya. Namun tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir anak itu. Dan Jihan tau kalo sikap sang putra tersebut adalah wujud dari ketidakpedulian terhadap dirinya.
Hansen sendiri hanya diam. Ia tak tau harus berkata apa. Sampai makanan datang, mereka pun masih sibuk dengan pikiran masing-masing.
Hansen ingin menjelaskan banyak hal pada Jihan, namun bibirnya kelu. Sedangkan Jihan dengan sikap tenangnya. Sikap tenang yang sebenarnya sedang menahan kesedihan yang cukup dalam.
***
Satu jam kemudian...
Di parkiran...
Sebelum masuk ke dalam mobilnya, Jihan mendekati Raka. Tanpa memeluk, tanpa menyentuh kepala seperti biasa. Hanya tersenyum sambil berkata...
"Raka jaga diri baik baik ya, nurut sama papi, hemm... " ucap Jihan lembut.
"Hemm... " jawab Raka dingin.
Tak ada perbincangan lagi, Jihan tak ingin membuat sang putra semakin muak padanya. Ia tau setiap kata yang terucap dari mulutnya, pasti akan membuat sang putra semakin membencinya, untuk itu Jihan memilih untuk tidak banyak bicara.
Kemudian, ia pun membalikkan tubuh, menatap sekilas mantan suaminya. dan setelah memberi salam santun pada mantan suaminya, Jihan pun segera masuk ke dalam mobil.
Jihan menatap beberapa saat kedua pria yang sangat ia cintai itu dari kaca spion, ada rasa sesak yang menjalar di seluruh dadanya. Tangisnya pun pecah. Pecah detik itu juga.
Tak ingin tangisnya dilihat oleh kedua pria itu, Jihan segera menginjak pedal gasnya, meninggalkan pelataran restoran itu.
Dengan hati hancur tentunya
Dengan kekecewaan
Dengan kesedihan yang cukup dalam
Dengan meninggalkan sejuta harapan yang ia tau tak akan terwujud.
***
Di mobil lain...
Tampak Hansen lebih banyak melamun dan banyak diam. Pikirannya terpaut pada sikap Jihan pada sang putra. Sikapnya tadi tampak jelas bahwa ia takut menyentuh Raka. Sikap Jihan tampak jelas bahwa ia memendam ingin. Tapi takut memulai.
"Apa mungkin tadi dia dengar perbincangan kami?" tanya batin Hansen.
"Juan, setelah ini tolong pastikan Jihan nggak kekurangan apapun," pinta Hansen serius.
Sebenarnya Juan tak tahu persis permintaan itu spesifikasinya seperti apa, namun ia tetap mengiyakan permintaan itu.
"Baik, Pak, akan saya kerjakan," jawab Juan, tidak menolak.
Hansen kembali diam. Entah apa yang ada di pikiran pria ini sampai mulutnya tak mampu mengutarakan apa yang ia inginkan. nNamun Juan bisa memahami, bahwa sebenernya bosnya ini sama sekali tidak menginginkan perpisahan.