NovelToon NovelToon
Nak, Ayo Kita Pergi, Tinggalkan Papa.

Nak, Ayo Kita Pergi, Tinggalkan Papa.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cintapertama
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Isti arisandi

Hari ini adalah ulang tahun Prastyo Bharata Utama. Mikhaila ingin membuat malam ulang tahun Pras berbeda dari biasanya. Ia telah menyiapkan kejutan yang selama ini mereka nantikan: sebuah test pack dengan dua garis merah. Di bungkus hadiah itu dengan rapi, lalu ia mengantarkannya ke kantor karena tak sabar menunggu Pras pulang.

Namun, kenyataan justru menghancurkan kebahagiaannya. Sore itu, Mikha mendapati seorang wanita tengah bermanja-manja di ruang kerja bersama suaminya. Hatinya remuk, bahkan ia tak sanggup mendorong pintu untuk meminta penjelasan. Mikha memilih pergi dan mengubah rencananya. Kali ini, ia ingin membuat Pras jatuh miskin dan hidup dalam penyesalan.



Ayo kita dukung rencana Mikhaila, biar lelaki tukang selingkuh itu jera.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti arisandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Malam semakin larut ketika Mikha dan Pras akhirnya kembali ke kamar setelah menghabiskan waktu di restoran dekat pantai.

Sepanjang makan malam, Pras terlihat begitu perhatian. Lelaki itu bahkan beberapa kali mengambilkan makanan untuk Mikha, memastikan gelas minumnya tidak kosong, dan sesekali mengusap punggung tangannya dengan lembut.

Jika dilihat dari luar, mereka tampak seperti pasangan suami istri yang sedang menikmati bulan madu kedua.

Namun, Mikha tahu semua itu tidak cukup untuk membuatnya kembali percaya.

Terlebih setelah ia melihat sendiri keberadaan Alena di villa sebelah.

Mikha sedang duduk di depan meja rias ketika Pras keluar dari kamar mandi. Lelaki itu mengenakan kaus dan celana pendek, lalu berjalan menghampirinya.

"Sayang, belum tidur?"

Mikha menggeleng pelan.

"Sebentar lagi."

Pras berdiri di belakangnya, kemudian meletakkan kedua tangan di bahunya.

"Kamu kelihatan capek sekali."

"Iya, mungkin karena seharian jalan-jalan."

"Kalau begitu, malam ini istirahat yang cukup."

Mikha hanya tersenyum tipis.

Ia menyelesaikan perawatan wajahnya, kemudian berjalan menuju tempat tidur. Setelah menarik selimut, perempuan itu berbaring membelakangi Pras.

Sementara itu, Pras masih sibuk dengan ponselnya.

Beberapa menit berlalu sebelum lelaki itu akhirnya meletakkan benda tersebut di atas nakas.

"Sayang."

"Hm?"

Pras mendekat, lalu merangkul pinggang istrinya dari belakang.

Mikha sedikit menegang ketika merasakan kecupan di tengkuknya.

"Kita sudah lama tidak punya waktu berdua seperti ini," bisik Pras.

Mikha memejamkan mata.

Ia memahami maksud perkataan suaminya.

Pras mulai membalikkan tubuhnya, kemudian berusaha mendekat dengan sikap yang lebih intim.

Namun, seketika itu juga, pikiran Mikha dipenuhi bayangan yang membuat perutnya terasa mual.

Bagaimana jika Pras juga sudah menyentuh Alena?

Bagaimana jika selama ini lelaki itu bukan hanya menghabiskan waktu bersama sepupunya, tetapi juga telah melakukan sesuatu yang seharusnya hanya menjadi bagian dari hubungan pernikahan mereka?

Mikha tidak tahu sejauh mana hubungan keduanya.

Ia memang belum memiliki bukti tentang apa yang sudah dilakukan Pras dan Alena ketika sedang berdua.

Namun, membayangkan kemungkinan tersebut saja sudah membuatnya merasa jijik.

Bukan karena ia tidak lagi mencintai Pras.

Melainkan karena lelaki yang selama ini ia anggap sebagai satu-satunya tempat untuk menyerahkan kepercayaan ternyata telah membiarkan perempuan lain masuk ke dalam kehidupan mereka.

"Sayang," panggil Pras lagi.

Mikha tidak menjawab.

Ia sengaja mengatur napasnya, berusaha membuat dirinya terlihat seperti seseorang yang sudah terlelap.

Pras kembali menyentuh bahunya.

"Kamu sudah tidur?"

Mikha tetap diam.

Lelaki itu mengembuskan napas panjang.

"Padahal Mas masih ingin menghabiskan waktu sama kamu."

Mikha tidak bergerak sedikit pun.

Ia bahkan menahan napas ketika Pras mencoba mendekat sekali lagi.

Beberapa saat kemudian, Pras menarik tangannya.

"Ya sudah."

Nada suaranya terdengar kecewa.

Mikha mendengar suara kasur yang sedikit bergerak ketika suaminya bangkit dari tempat tidur.

Ia membuka mata sedikit, tetapi tetap tidak membalikkan tubuh.

Pras mengambil laptop dari dalam tasnya, kemudian duduk di sofa kecil yang berada tidak jauh dari tempat tidur.

Suara laptop yang dinyalakan terdengar samar.

Lelaki itu tampaknya memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan daripada terus mengganggu istrinya.

Sementara Mikha masih terbaring dengan mata terbuka.

Ada rasa perih yang perlahan memenuhi dadanya.

Dulu, ia selalu merasa bahagia ketika Pras menunjukkan keinginannya untuk dekat dengannya. Bahkan, terkadang Mikha sendiri yang lebih dahulu mencari perhatian suaminya.

Namun, sekarang semuanya terasa berbeda.

Sentuhan yang dahulu membuatnya nyaman justru menimbulkan kecemasan.

Ia tidak tahu apakah dirinya masih sanggup menerima kedekatan seorang lelaki yang mungkin saja telah membagi tubuh dan perasaannya dengan perempuan lain.

Mikha menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya.

Ia tidak ingin menangis di hadapan Pras.

Sementara itu, Pras mulai membuka beberapa dokumen pekerjaan di laptopnya.

Awalnya, ia benar-benar berniat menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Namun, ketika membuka ponsel yang terhubung dengan laptop, perhatiannya tertuju pada sebuah pesan dari Alena.

Ada beberapa pesan yang masuk sejak beberapa menit lalu.

Alena:

Mas, kamu sudah tidur?

Pras mengerutkan kening.

Ia melirik Mikha yang masih terbaring membelakanginya, kemudian membuka percakapan tersebut.

Alena:

Mas, aku takut.

Alena:

Villa ini terlalu sepi. Dari tadi aku dengar suara-suara dari luar.

Alena:

Mas, temani aku sebentar, ya.

Pras membaca pesan-pesan itu satu per satu.

Tidak lama kemudian, sebuah pesan baru kembali masuk.

Alena:

Aku sebenarnya tidak mau mengganggu waktu kalian. Tapi aku benar-benar takut sendirian di sini.

Pras mengusap wajahnya.

Ia tahu Alena sedang berada di villa sebelah. Sejak sore tadi, perempuan itu memang beberapa kali menghubunginya, bahkan sempat mengirimkan foto ketika sedang berada di balkon.

Pras sempat berniat menemuinya.

Namun, keberadaan Mikha membuatnya harus menahan diri.

Sekarang, ketika Alena mengatakan dirinya takut, ada dorongan dalam diri Pras untuk segera menghampirinya.

Ia mengetik balasan.

Pras:

Kamu kunci pintunya. Jangan dibuka kalau ada orang yang tidak dikenal.

Balasan Alena datang hampir seketika.

Alena:

Aku sudah menguncinya, Mas. Tapi tetap takut.

Alena:

Aku cuma ingin ada seseorang yang menemani.

Pras terdiam.

Beberapa detik kemudian, Alena kembali mengirimkan pesan.

Alena:

Aku ingin kamu di sini.

Pras memandang layar cukup lama.

Kemudian, ia menoleh ke arah Mikha.

Istrinya terlihat masih tertidur dengan posisi membelakanginya.

Pras menutup laptop.

Ia bangkit dari sofa, lalu berjalan mendekati tempat tidur.

"Sayang."

Tidak ada jawaban.

Pras menyentuh lengan istrinya.

"Mikha, Mas keluar sebentar, ya."

Mikha tetap diam.

Pras menunggu beberapa saat, berharap istrinya terbangun. Namun, karena tidak mendapatkan respons, ia akhirnya mengambil ponsel dan dompetnya.

Sebelum meninggalkan kamar, lelaki itu sempat menoleh sekali lagi.

"Mas cuma sebentar."

Setelah itu, pintu kamar ditutup perlahan.

Suara langkah Pras semakin menjauh.

Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu utama villa terbuka dan tertutup kembali.

Mikha membuka matanya.

Ia tidak langsung bergerak.

Perempuan itu menatap kosong ke arah dinding di hadapannya, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.

Pras pergi.

Pada tengah malam seperti ini.

Dan ia bahkan tidak merasa perlu membangunkan istrinya untuk menjelaskan ke mana dirinya akan pergi.

Mikha perlahan bangkit dari tempat tidur.

Ia duduk sambil menarik selimut ke pangkuannya.

Matanya tertuju pada pintu kamar yang sudah tertutup rapat.

Air matanya mulai mengalir.

Ternyata benar.

Pras tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menemui Alena.

Bahkan ketika sedang berlibur bersama istrinya, lelaki itu tetap memilih perempuan lain.

Mikha menunduk, kedua tangannya menggenggam ujung selimut dengan kuat.

Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan kepada Pras.

Apakah perempuan itu lebih penting daripada dirinya?

Apakah Pras tidak pernah memikirkan perasaannya?

Dan apakah selama ini semua perhatian yang diberikan suaminya hanyalah cara untuk menutupi pengkhianatan?

Namun, tidak satu pun pertanyaan itu mampu mengubah kenyataan.

Pras telah pergi menemui Alena.

Perempuan yang selama ini menjadi alasan di balik perubahan sikap suaminya.

Mikha mengusap pipinya.

"Kenapa harus seperti ini, Mas?" bisiknya lirih.

Ia menatap cincin pernikahan yang masih melingkar di jari manisnya.

Dulu, benda kecil itu menjadi simbol janji yang begitu ia percaya.

Namun, sekarang cincin tersebut justru terasa seperti pengingat bahwa dirinya pernah memperjuangkan seseorang yang tidak lagi menghargai janji pernikahan mereka.

Mikha melepas cincin itu.

Ia meletakkannya di atas nakas, kemudian kembali menatap benda tersebut.

Untuk beberapa saat, ia hanya diam.

Sebenarnya, ia ingin sekali mengambil ponsel dan menghubungi Pras. Ia ingin bertanya di mana suaminya berada dan mengapa harus pergi pada malam hari.

Namun, Mikha mengurungkan niatnya.

Untuk apa?

Jika Pras memang sedang bersama Alena, lelaki itu tentu akan mencari alasan untuk berbohong.

Dan jika ia menelepon sekarang, mungkin Pras justru akan semakin berhati-hati menyembunyikan hubungan mereka.

Mikha tidak ingin memberikan kesempatan itu.

Ia mengambil ponselnya, lalu membuka percakapan dengan sahabatnya yang berprofesi sebagai pengacara.

Jarinya sempat berhenti di atas layar.

Namun, setelah menarik napas panjang, ia mengetik sebuah pesan.

Mikha:

Ra, sepertinya aku sudah semakin yakin dengan keputusanku. Aku ingin kita segera bertemu setelah aku pulang.

Tidak lama kemudian, sahabatnya membalas.

Rara:

Baik. Kamu tenang dulu, ya. Jangan terburu-buru melakukan sesuatu. Kita bicarakan semuanya setelah kamu pulang.

Mikha membaca pesan itu beberapa kali.

Setidaknya, ada seseorang yang bisa ia percaya.

Ia meletakkan ponsel, kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.

Di depan cermin, Mikha memperhatikan pantulan dirinya sendiri.

Matanya sembap.

Wajahnya pucat.

Tetapi, ia berusaha tersenyum.

"Aku harus kuat," gumamnya.

Ia tidak ingin menjadi perempuan yang terus-menerus menangisi pengkhianatan suaminya.

Ia juga tidak ingin menjadikan Alena sebagai pusat kehidupannya.

Jika memang Pras memilih perempuan itu, biarlah.

Mikha tidak akan menghabiskan sisa hidupnya untuk bersaing mendapatkan cinta seorang lelaki yang sudah tidak tahu cara menghargai kesetiaan.

Ia kembali ke tempat tidur, lalu mengambil cincin pernikahannya dari atas nakas.

Benda itu tidak ia kenakan kembali.

Mikha justru memasukkannya ke dalam laci kecil.

Kemudian, ia mengambil selimut dan berbaring.

Malam itu, ia tidak benar-benar bisa tidur.

Pikirannya terus membayangkan apa yang mungkin sedang dilakukan Pras di villa sebelah.

Namun, setiap kali bayangan itu muncul, Mikha berusaha mengalihkannya.

Ia tidak ingin menyiksa dirinya sendiri dengan sesuatu yang belum tentu ia ketahui.

Yang pasti, suaminya sudah memilih untuk meninggalkannya sendirian demi menemui perempuan lain.

Dan itu sudah cukup menjadi alasan baginya untuk berhenti berharap.

Di villa sebelah, Pras akhirnya tiba.

Ia mengetuk pintu beberapa kali.

Tidak lama kemudian, pintu terbuka.

Alena berdiri di baliknya dengan gaun tidur berwarna lembut. Rambut panjangnya terurai, sementara wajahnya memperlihatkan ekspresi lega ketika melihat kedatangan Pras.

"Mas."

Pras masuk setelah memastikan keadaan sekitar.

"Kenapa kamu tidak tidur?"

Alena segera menutup pintu.

"Aku nggak bisa tidur kalau sendirian."

"Kamu kan sudah dewasa, Alena. Masa takut sendirian?"

Alena mengerucutkan bibir.

"Mas, jangan begitu. Aku benar-benar takut."

Pras menghela napas, kemudian meletakkan ponselnya di atas meja.

"Kamu seharusnya tidak mengirim pesan seperti tadi. Aku sedang bersama Mikha."

Alena terdiam.

Namun, beberapa detik kemudian, perempuan itu mendekat.

"Mas lebih memilih menemani Mikha daripada aku?"

"Jangan mulai."

"Aku cuma ingin tahu. Kita sudah berada di tempat yang sama, tapi Mas justru harus menghabiskan waktu dengan istri Mas."

Pras menatap Alena.

"Kamu tahu sendiri situasinya."

Alena tersenyum tipis.

"Aku tahu. Tapi aku juga ingin diperhatikan."

Ia kemudian duduk di sofa dan menepuk tempat kosong di sampingnya.

"Duduk di sini, Mas."

Pras akhirnya menurut.

Alena menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu.

"Besok kita bisa jalan-jalan bersama?"

Pras tidak langsung menjawab.

Ia teringat Mikha yang sedang sendirian di villa.

Namun, sebelum sempat mengatakan sesuatu, Alena kembali merengek.

"Sebentar saja, Mas. Aku sudah jauh-jauh datang ke sini karena ingin menghabiskan waktu sama kamu."

Pras mengusap wajahnya.

Malam itu, ia kembali terjebak di antara dua perempuan.

Seorang istri yang masih mempercayainya, setidaknya dalam pandangan yang ia pahami.

Dan seorang perempuan yang terus menuntut perhatian darinya.

Pras tidak menyadari bahwa di villa sebelah, Mikha sudah mulai melepaskan dirinya dari pernikahan mereka.

Sementara itu, Mikha memejamkan mata dengan air mata yang masih membasahi sudut pipinya.

Ia tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari.

Namun, satu hal sudah ia putuskan.

Besok, ia akan tetap tersenyum di hadapan Pras.

Ia akan tetap bersikap seperti istri yang tidak mengetahui apa pun.

1
Ma Em
Ayo Mikha jgn sampai pelakor yg menikmati hartanya Pras ambil semua yg Pras punya biar si Alena gigit jari dan Mikha jadi janda kaya .
Sri Widiyarti
kutunggu penyesalanmu Pras...
ArchaBeryl
kak kenapa kemrin gak up
hari ini 4 bab ya kak
penasaran
menanti pembalasan istri sah
dan penyesalan suaminya 🤭🤭
Sari Nilam
mikha terlalu main hati . kelamaan ambil.keputusan
Sari Nilam
saran aja thor, mungkin jangan.terlalu lama kebohongan ditutupi
Sari Nilam
bagus suka gayamu pelakormah dipites aja
Sari Nilam
gaskeun mikhahadapi pelakor dengan elegan
Sari Nilam
bagus setelah itu pergilah janga menunda2 lagi
Sari Nilam
ayo mikha pergi sekarang ...biarkan.pras merasa bebas untuk.menikahi sepupu maut.
Sari Nilam
sepupu maut ini
Sari Nilam
harus pintar n cerdik sana laki2 selingkuh
Sari Nilam
pekakor gak tahu malu
Sari Nilam
kalau tabu suami selingkuh tinggalin aja
Sari Nilam
sedih
Sari Nilam
jadi deg2 an..ada apa ya
sunaryati jarum
Nanti setelah Mikha pergi bawa anakmu dalam kandungannya dan tahu sifat asli Alena baru tahu rasa.Mikha segera pergi saja,Mikha sebelum kandungan kamu terlihat
Sari Nilam: serakah ..pras serakah dan.egois.
total 1 replies
Dinda Putri
lanjut
sunaryati jarum
Mampir
Ma Em
Mikha kamu hebat berani membuat pelakor tdk bisa berkutik buat pelakor iri sama Mikha biar dia tersiksa karena mengharapkan sesuatu dari suami orang .
Sri Widiyarti
lanjut thor ditunggu up-nya 🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!