Di kota London yang basah dan dingin, Hans Lorte bertahan hidup dari ketajaman otaknya. Baginya, kegaiban hanyalah alasan bagi orang bodoh yang malas berpikir.
Namun, sebuah kasus misterius memaksa Hans berhadapan dengan teka-teki paling berbahaya dalam kariernya. Tanpa saksi, tanpa tanda-tanda pembobolan, dan bukti fisik yang janggal, Hans harus berpacu dengan waktu sebelum sang pelaku menghilangkan jejaknya secara permanen.
Sebuah kisah investigasi gelap tentang obsesi, konspirasi, dan batas akhir dari akal sehat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashciel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Undangan di Mayfair
Kawasan Mayfair di bagian barat London menyajikan pemandangan yang berbanding terbalik dibanding lorong-lorong berlumpur Limehouse. Gedung-gedung megah bergaya Georgia berdiri anggun di sepanjang jalan beraspal mulus, diterangi oleh deretan lampu gas yang memancarkan cahaya berkilau mewah. Kereta kuda berkubah perak melintas teratur di atas jalanan batu, mengantarkan para bangsawan bergaun sutra dan pria bersetelan jas malam.
Pukul 21.50 malam.
Hans Lorte berdiri di seberang kediaman Lord Sterling, sebuah rumah besar setinggi empat lantai dengan pilar-pilar batu marmer putih yang megah. Hans telah menyikat bersih mantel kusamnya dan mengancingkan rompi wol cokelatnya hingga ke leher. Meski pakaiannya tampak sederhana di tengah kemewahan Mayfair, postur tubuhnya yang tinggi tegap dan tatapan mata kelabunya yang tenang memberikan wibawa tersendiri yang sulit diabaikan.
Dari tempatnya berdiri, mata analitis Hans mengkalkulasi sistem pengamanan kediaman tersebut. Empat pengawal berjas hitam berjaga di sepanjang tangga marmer depan, sementara dua lainnya meronda di sekeliling pagar besi tempa. Di pintu gerbang utama, seorang kepala pengawal bertubuh tegap meneliti setiap kartu undangan dengan ketat sebelum mengizinkan tamu melangkah masuk.
Tangan kanan Hans memegang tongkat jalan berkepala besinya dengan santai, sementara tangan kirinya merogoh saku mantel untuk mengambil kartu undangan berlapis emas yang dirampasnya dari penyerang di Limehouse Cut.
Hans melangkah menyeberangi jalan batu, mendekati gerbang utama kediaman Sterling. Ia menyesuaikan gaya berjalannya—tidak terburu-buru seperti buronan, tetapi tenang dan penuh percaya diri layaknya seorang tamu terundang yang memiliki hak penuh berada di sana.
Hans menyodorkan kartu undangan emas berlogo stempel lilin * The Abyssal Order * tanpa sepatah kata pun.
Pengawal utama memperhatikan ukiran stempel gelombang dan mata terbuka tersebut selama beberapa detik. Tatapannya sempat tertahan sebentar pada pakaian Hans yang terbilang sederhana, namun stempel emas itu tampaknya memberikan otoritas mutlak yang tidak berani dipertanyakannya. Pengawal itu mengangguk singkat dan membukakan pintu gerbang besi tebal.
"Silakan masuk, Tuan," ujar pengawal itu pelan.
Hans melangkah melewati ambang gerbang tanpa hambatan berarti.
---
Suasana aula utama gedung pelelangan itu hangat dan sarat akan aroma wewangian mawar, cerutu Kuba mahal, serta cangkir-cangkir kristal berisi anggur merah. Sekitar tiga puluh tamu undangan dari kalangan elit bangsawan dan kolektor barang antik tampak berkumpul mengelilingi panggung pelelangan utama. Cahaya dari lampu gantung kristal di langit-langit memantulkan pendaran keemasan yang menyelimuti karpet merah tebal di seluruh lantai aula.
Saat mata kelabu Hans memindai sekeliling ruangan dari balik pilar batu, gerakannya mendadak terhenti di sudut kanan aula.
Di sana, berdiri seorang pria berbadan tegap dengan seragam resmi berwarna biru tua bermotif kancing emas. Pria itu memegang tongkat jalan polisinya dengan cengkeraman kaku, matanya menyapu para tamu dengan ketegangan yang tersembunyi di balik kumis tebalnya.
Inspektur Hallowell dari kepolisian * Scotland Yard *.
* Hallowell tidak sedang bertugas melakukan penyelidikan resmi di tempat ini, * analisis Hans secara dingin dari balik bayangan pilar. * Dia berdiri di dekat panggung pelelangan sebagai pengawal pribadi yang disewa langsung oleh Lord Sterling. Scotland Yard melindungi kepentingan lingkaran elit ini. *
Hans memiringkan kepalanya sedikit, meraba anting perak bulan sabit di telinga kirinya. Kehadiran Hallowell di kediaman Sterling mengkonfirmasi kalkulasi Hans sejak awal: kepolisian sengaja membendung penyelidikan kasus peti di pelabuhan agar barang-barang rahasia dapat berpindah tangan secara mulus ke meja pelelangan bangsawan tanpa ada gangguan dari hukum publik.
---
Hans melangkah perlahan mengitari kerumunan tamu, menjaga jarak aman dari jangkauan pandangan Hallowell. Ia mendekati area ruang pameran kaca di samping panggung utama. Di dalam etalase kaca yang dijaga ketat oleh dua pengawal pribadi, terpajang beberapa artefak bahari kuno: kompas pelayaran tembaga buatan abad ke-16, peta kulit binatang yang memudar oleh usia, dan sebuah kotak besi berukir simbol gelombang laut—simbol yang persis sama dengan ukiran rahasia di dalam jam emas milik Vance.
Hans merendahkan pandangannya, merekam detail kotak besi tersebut. Engselnya terbuat dari kuningan murni dengan pola ukiran rantai yang rumit, serupa dengan desain engsel brankas tempat peti spesimen Dermaga No. 9 sebelumnya disimpan.
Dua bangsawan berambut uban di dekat etalase kaca sedang berbisik-bisik seraya menyesap anggur merah dari gelas kristal mereka.
"Lord Sterling membayar sangat mahal untuk mendapatkan kargo khusus itu dari pelabuhan," bisik bangsawan bertubuh gemuk yang mengenakan kacamata tunggal. "Riset Dr. Finch mengenai segel kuno di dasar samudra Atlantik adalah kunci utama untuk menemukan lokasi bangkai kapal emas milik Kerajaan Spanyol."
"Tapi saya mendengar Finch menolak menyerahkan dokumen terjemahannya," sahut bangsawan kedua dengan nada khawatir. "Finch mengklaim ada sesuatu yang berbahaya yang akan terbangun di dasar laut jika segel itu dibuka secara paksa."
"Persetan dengan dongeng ilmuwan gila itu," dengkus bangsawan pertama seraya terkekeh pelan. "Sterling memiliki sumber daya untuk memaksa siapa pun menyerahkan apa yang dia inginkan."
Mata kelabu Hans memicing tajam di balik bayangan pilar batu. Informasi itu mengunci seluruh teka-teki yang berserakan di dalam kepalanya. Peti besi yang hilang dari Dermaga No. 9 berisi peralatan dan spesimen untuk memecahkan segel kuno samudra, dan Lord Sterling menggunakan segala cara—termasuk intimidasi fisik, pencurian, dan kekuatan pabean—untuk menguasai seluruh riset Dr. Finch demi harta karun bawah laut.
---
Hans melangkah menjauh dari keriuhan aula menuju balkon lantai dua yang sepi untuk menghirup udara malam dan mengkalkulasi langkah selanjutnya. Balkon batu itu menjorok langsung ke arah taman belakang yang gelap dan dingin.
Hans menyalakan sebatang rokok gulung murahnya, membiarkan asap abu-abu pekat membumbung pelan ke udara Mayfair yang bersih.
* Tuk... tuk... *
Suara langkah kaki bergaun panjang yang tergesa-gesa terdengar mendekatinya dari balik tirai sutra balkon.
Seorang wanita bertubuh ramping yang mengenakan gaun malam berwarna hitam pekat dan topi bertirai kain serba gelap melangkah keluar ke balkon. Pakaian wanita itu tampak sangat elegan khas bangsawan, namun gerakan tubuhnya yang kaku dan napasnya yang memburu menunjukkan kecemasan serta ketakutan yang luar biasa.
Wanita itu berhenti dua langkah di samping Hans, melirik curiga ke arah pintu lorong sebelum menatap sosok tegap Hans.
"Anda tidak membawa aroma parfum mahal Mayfair, dan Anda memegang tongkat jalan besi itu seperti seorang penyidik yang terbiasa bertarung," suara wanita itu terdengar halus, bergetar menahan ketakutan yang mendalam. "Anda Hans Lorte, bukan? Detektif swasta dari Limehouse?"
Hans memalingkan wajahnya sedikit, menatap wanita di sampingnya dari balik kepulan asap rokok yang tipis.
"Tergantung siapa wanita yang bersembunyi di balik gaun hitam ini," sahut Hans datar tanpa emosi.
Wanita itu menyibakkan tirai kain hitam pada topinya, memperlihatkan wajah cantiknya yang pucat pasi dengan mata sembab oleh air mata yang tertahan. Kulit wajahnya yang halus tampak kontras dengan guratan kelelahan mental yang amat jelas.
"Nama saya Evelyn Finch," bisik wanita itu seraya meremas kedua tangannya yang gemetar di balik sarung tangan renda. "Ayah saya dalam bahaya besar, Tuan Lorte... dan hanya Anda yang bisa menyelamatkannya dari orang-orang Lord Sterling."