NovelToon NovelToon
Rumah Tanpa Cahaya (Pelukis Buta Itu Ibu Tiriku)

Rumah Tanpa Cahaya (Pelukis Buta Itu Ibu Tiriku)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri / Orang Disabilitas
Popularitas:31.8k
Nilai: 5
Nama Author: eli_wi

"Kamu akan Ayah jodohkan dengan Bian menggantikan Salsa. Daripada kamu di rumah cuma coret-coret kertas nggak jelas, mending ngurusin anaknya tukang kebun itu." ucap Ayah dari seorang gadis yang tengah melukis di sebuah art paper.

"Baik," jawab gadis bernama Aluna Savira Velove itu tanpa perlawanan.

Aluna harus menikah dengan kekasih dari anak tiri Ayah kandungnya. Status calon suami Salsa yang hanya bekerja di kebun buah dan sayuran terbesar di desa itu, membuat perempuan itu menolak saat diajak menikah. Apalagi laki-laki itu juga seorang duda dengan dua anak yang sangat nakal.

Bisa kah Aluna menaklukkan dua anak dari sang duda? Mampu kah dia menjalani pernikahan tanpa cinta dengan sang duda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penolakan

"Jangan membuat galery lukis untuk Aluna, Pa. Aluna tidak mau punya harta apa-apa. Apalagi dengan atas nama Aluna. Nanti Salsa dan Mamanya akan terus mengusik Aluna," ucap Aluna tak mau hidupnya diganggu oleh Ibu dan saudara tirinya.

"Jika mau membuat galery lukis khusus keluarga, Aluna baru mau. Maksudnya Aluna yang akan melukis kemudian dijual di galery. Semua keuntungan, nanti masuk ke keluarga Papa dan Mas Bian. Aluna hanya sebagai pelukis biasa saja," lanjutnya.

"Tanpa Papa beri galery lukis, kamu pun sudah mempunyai itu." ucap Papa Kio sambil mengelus rambut Aluna.

"Apa maksudnya, Pa?" tanya Aluna dengan cepat.

Aluna tampak bingung dengan ucapan Papa Kio. Bibi Tari yang selama ini mendampingi Aluna pun sama bingungnya. Yang Bibi Tari tahu, Aluna memang tidak mempunyai galery lukis. Dia sudah menjadi ART di rumah Aluna itu sejak lama. Bahkan dari Aluna kecil dan Mama Yulia masih ada. Dia tahu dulunya Mama Yulia mempunyai galery lukis karena majikannya itu suka melukis juga. Hanya saja mengenai galery lukis itu, sudah bangkrut sejak Mama Yulia sakit karena tidak ada yang mengurus.

"Apa maksudnya galery lukis punya Nyonya Yulia?" tanya Bibi Tari tiba-tiba dengan nada ragu-ragu.

"Bibi Tari tahu tentang galery lukis itu?" tanya Papa Kio dengan tatapan berbinar cerah.

"Tahu, tapi sudah bangkrut sejak Nyonya Yulia sakit. Itu yang Bibi dengar pembicaraan antara Tuan Riko dan Nyonya Maya setelah beberapa tahun meninggalnya Nyonya Yulia. Setelah itu, tidak ada saya mendengar perbincangan tentang galery lukis milik Nyonya Yulia," ucap Bibi Tari dengan pandangan bingungnya.

"Bibi salah. Galery itu sama sekali tidak bangkrut seperti yang Pak Riko sampaikan. Masih diurus oleh pengacara mendiang Ibu kandung Aluna. Bahkan pendapatannya ditransfer ke rekening milik Aluna sendiri. Dia hanya tahunya jika galery lukis itu bangkrut atau sepi kemudian diurus oleh pengacara Ibu Yulia. Pasalnya tidak bisa bangunan tidak bisa dijual tanpa ada Aluna," ucap Papa Kio dengan yakin.

Apa?

Bibi Tari terkejut mendengar itu. Dia masih ingat betul bagaimana pembicaran majikannya waktu itu. Dia tidak sengaja mendengar bahwa galery lukis milik Mama Yulia bangkrut. Kemudian setelah Mama Yulia meninggal, tidak terdengar kabar lagi. Lagi pula saat Mama Yulia tiada, Aluna masih kecil. Jadi jika galery itu diwariskan pada Aluna pun, dia pasti kebingungan harus bagaimana. Sedangkan Aluna seperti orang linglung karena tak tahu apa-apa.

"Kita bisa temui pengacara Mamamu untuk meminta penjelasan. Umurmu udah bisa memegang semua warisan milik Mama kandungmu,"

"Papa bukan bermaksud mengungkit atau ikut campur tentang harta warisan Mamamu, hanya saja ini tentang hakmu sebagai anak. Apalagi kamu tidak tahu apapun mengenai warisan itu. Jangan sampai milikmu malah dinikmati oleh oranglain," ucap Papa Kio memberikan penjelasan.

"Kami tidak akan minta sepeser pun uang atau harta milikmu. Jangan sampai keluargamu yang tak tahu diri itu malah seenaknya mengambil warisan dari Mamamu," ucap Bian memberikan pandangannya setelah mencerna semuanya.

Hah...

"Sejujurnya aku tak mau punya harta apapun jika hidup menjadi tidak tenang, Mas. Namun jika itu memang peninggalan Mama, seharusnya yang berhak mendapatkan adalah aku. Aku tidak mau oranglain menikmatinya tanpa sepengetahuanku," ucap Aluna sambil mengepalkan kedua tangannya.

Bagus...

Ini baru menantu Papa,

Papa Kio salut dengan keputusan yang diambil oleh Aluna. Perempuan itu mau memperjuangkan haknya. Mertuanya itu tidak bermaksud mengungkit warisan, hanya saja Papa Kio ingin membantu Aluna mendapatkan haknya. Apalagi selama ini Aluna tidak pernah mendapatkan keadilan di rumahnya. Sedangkan Reyhan dan Elova, keduanya bingung dengan pembicaraan orang dewasa itu.

"Ini olang-olang pada ngomongin apa sih, Abang? Ndak ngelti Lopa ini,"

"Coba Abang yang udah sekolah, ngelti ndak? Walisan, gulali lukis, telus pengacala." tanya Elova sambil menatap pada Reyhan.

"Itu pembicaraan orang dewasa, Lova. Abang ya mana tahu," ucap Reyhan memberikan alasan.

"Alasan nih Abang tuh. Makanya kalau sekolah itu jangan bolos telus kaya temannya. Jadi ndak ngelti kan. Ndak bisa diajak ngegosip Abang itu," gerutu Elova memberikan sindiran pada Reyhan.

"Memangnya kamu sering bolos sekolah, Reyhan? Bukannya setiap hari kamu berangkat sekolah ya," tanya Bian dengan tatapan menyelidik.

"Enggak, Pa. Reyhan mah anak baik, selalu masuk kelas. Lova nih cuma asal bicara," ucap Reyhan dengan cepat.

Namun Bian tak semudah itu untuk percaya ucapan Reyhan. Bian langsung menggendong Elova untuk membawanya duduk di sofa. Melihat hal itu, Reyhan langsung mengikuti Elova dan Bian. Jangan sampai semua ceritanya nanti saat menjelang tidur, Elova ceritakan semua pada Bian. Bisa-bisa nanti Bian curiga kepadanya. Papa Kio dan Mama Mila tak peduli dengan drama itu. Mereka akan fokus pada Aluna saja.

"Abang kenapa ikut Lopa duduk sini? Abang mau ikut ngelumpi Lopa dan Papa ya?" tanya Elova dengan mata menyipit.

"Iya, mau ngerumpi. Soalnya Ibu sedang disuapi makan sama Oma," ucap Reyhan sambil menunjuk ke arah Aluna. Benar saja, Mama Mila memilih menyuapi Aluna makan siang. Sambil makan, Aluna berbincang pada Bibi Tari tentang semua yang diketahuinya.

"Lova, coba ceritakan apakah Abang Reyhan benar suka membolos sekolah? Abang suka membolosnya dimana? Kan pulangnya juga sesuai jamnya," tanya Bian pada anak bungsunya.

"Lopa suluh jawab jujul atau bohongan?" tanya Elova dengan mata berbinar cerah.

"Jujur dong. Anak baik harus berkata jujur," ucap Bian sambil tersenyum.

"Tapi jujulnya Lopa ndak glatis, Papa. Paling ndak ya bayal lima latus libu," ucap Elova mengangkat lima jari tangannya ke arah Bian. Reyhan yang mendengarnya langsung menahan tawanya.

"Ya nanti Papa bayar, tapi jawab dulu." ucap Bian sambil menghela nafasnya sabar.

"Ndak bisa. Halus..." Elova menjeda ucapannya sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal kemudian melihat ke arah Reyhan.

"Halus apa itu Abang? Bial bayal dulu," tanyanya pada sang Abang.

"Harus bayar di muka," jawab Reyhan membuat Elova memelototkan matanya.

Mana bisa bayal di mukanya Lopa? Masa duitnya taluh wajahnya Lopa,

Heh...

Reyhan malah frustasi sendiri mendengar ucapan adiknya. Padahal bukan itu yang dia maksud. Sepertinya Bian juga menyerah menghadapi Elova. Jika memang Reyhan benar membolos, dia akan menghukumnya. Namun dia akan mencari tahu lebih dahulu. Sedangkan Elova merasa tak bersalah sama sekali sudah membuat stress semua orang. Dia lebih memilih makan apel daripada melihat Reyhan dan Bian seperti patung.

"Ini semua berkat kamu, Aluna. Anak dan cucu Mama jadi dekat. Padahal sebelumnya, mereka jarang sekali bisa berkumpul begini." bisik Mama Mila pada Aluna dengan mata berkaca-kaca.

"Mereka memang saling menyayangi kok, Ma." ucap Aluna sambil tersenyum setelah mendengar ucapan mertuanya.

"Tidak, ini semua memang karena kamu. Bagi kami, kehadiran kamu itu pembawa berkah." ucap Mama Mila dengan tegasnya.

Kehadiran Mama dan keluarga juga jadi pembawa kebahagiaan untuk Aluna. Kita sama-sama, Ma.

Benar,

1
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
bagus lobak, ay viralkan mereka /Determined//Determined/
Nisa Via
Ayam Dadal tuh yg gimana Lobak 🤔🤔😂😂
Sani Srimulyani
bagus lova kamu emang juara buat orang matikutu.....🤭
Novita Sari
update lagi thor pengen tau aksi heroik lopa..
E F
😄😄💪😍
Sani Srimulyani
waaaah mereka mau ngapain ya......
Sani Srimulyani
jauh amat dari owner ke comel.....galeri jadi gulali.....🤭🤭
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
gulali 🤣🤣, gulali dari gula lobakkm🤣🤣
Ita Xiaomi
Berubah semua penyebutannya 🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Spt Callie dan pistol ajaibnya 😁
Novita Sari
salsa sama mama nya salah pilih lawan....
Sani Srimulyani
wah ganggu nih lova.....padahal papa sama ibu lagi pacaran Lo.....🤭
Nisa Via
pinter nich lobak idenya 😂
Novita Sari
semakin hari semakin gemes lopa.
Ita Xiaomi
Ambigu 🤣🤣🤣
Nisa Via
😂😂😂😂😂ada aja keseruan bocil 2 ini sehingga suasana tegang pun berubah komedi
Novita Sari
lw ada lopa semangat bacanya.ada aza jawaban lopa lanjut thor...
Sani Srimulyani
cari gara2 mulu nih si salsa.....
Novita Sari
jangan jangan salsa yg nabrak.. lanjut thor..
Sani Srimulyani
jangan2 itu salsa lagi .....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!