Tanda tangani ini. Ingat, kita menikah hanya di atas kertas. Jangan pernah bermimpi aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu!"
Demi melunasi biaya pengobatan ibunya yang kritis, Naura Ayu terpaksa menjual kebebasannya. Dia setuju menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Mahendra, seorang CEO tampan yang terkenal dingin, kejam, dan tidak tersentuh wanita.
Bagi Adrian, Naura hanyalah 'istri pajangan' demi memuaskan tuntutan sang kakek agar posisinya sebagai pewaris tahta perusahaan aman.Awalnya, semua berjalan sesuai kesepakatan. Mereka hidup dalam dinding pembatas yang dingin. Namun, pesona Naura yang mandiri, tegar, dan tidak silau akan hartanya perlahan mulai mengusik pertahanan hati Adrian.
Saat kontrak hampir berakhir dan Naura bersiap untuk pergi, Adrian justru mengunci pintu rapat-rapat. Tatapan dingin pria itu berubah menjadi kilat obsesi yang membara."Siapa yang mengizinkanmu pergi? Kontrak bisa berakhir, tapi kamu... selamanya milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ular yang mulai mendekat
Akhir pekan tiba, dan mansion mewah Adrian terasa sedikit lebih lengang. Setelah ketegangan perjamuan makan malam keluarga beberapa hari lalu, hubungan Naura dan Adrian berangsur membaik dalam kecanggungan yang manis. Adrian tidak lagi dingin, dan Naura mulai terbiasa dengan kehadiran pria itu. Namun hari ini, fokus Naura sepenuhnya teralih pada sang ibu.
Dengan izin dari Adrian dan kawalan ketat dari sopir pribadi yang disediakan pria itu Naura pergi ke Rumah Sakit Harapan. Operasi ibunya berjalan sukses, dan hari ini adalah hari pertama ibunya dipindahkan ke ruang pemulihan setelah melewati masa kritis.
Naura duduk di tepi ranjang rumah sakit, menyuapi ibunya bubur hangat dengan senyum tulus yang sudah lama tidak terukir di wajahnya.
"Naura... dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak ini untuk biaya operasi Ibu? Kamar ini sangat mewah, Nak," tanya sang ibu dengan suara parau penuh kekhawatiran, menatap sekeliling kamar perawatan yang luas.
Naura menahan napas sejenak, menekan rasa bersalah di dadanya. Dia telah berjanji pada Adrian untuk merahasiakan pernikahan kontrak ini dari siapa pun, termasuk ibunya. "Ibu jangan khawatir. Perusahaan tempat Naura bekerja memberikan pinjaman dana darurat untuk karyawan. Naura bisa mencicilnya nanti dari potong gaji. Yang penting Ibu sehat dulu."
Sang ibu tersenyum lega, mengusap kepala putrinya dengan sayang. Setelah sang ibu tertidur pulas karena efek obat, Naura memutuskan keluar dari kamar untuk menebus beberapa resep di apotek lantai bawah.
Namun, saat Naura baru saja melangkah di lorong rumah sakit yang agak sepi, sebuah tepuk tangan pelan terdengar dari arah belakangnya.
Prok... prok... prok...
"Kisah anak berbakti yang sangat menyentuh hati. Sungguh mengagumkan, Kakak Ipar."
Naura tersentak kaget. Dia berbalik cepat dan seketika merasakan sekujur tubuhnya membeku. Berdiri beberapa meter di hadapannya, Gavin Mahendra sedang bersandar di dinding lorong dengan setelan kasual mewah. Senyuman licik dan tatapan matanya yang berbisa menatap Naura bagaikan seekor ular yang siap menerkam mangsanya.
"Gavin? Apa yang kau lakukan di sini?!" tanya Naura dengan nada waspada, melangkah mundur untuk menjaga jarak.
Gavin terkekeh pelan, melangkah mendekati Naura dengan santai. "Oh, aku hanya ingin menjenguk ibu mertua dari kakak sepupuku tercinta. Sekaligus... memastikan sesuatu." Gavin menjeda kalimatnya, merobek sebuah amplop cokelat yang dipegangnya lalu menunjukkan selembar kertas di depan wajah Naura. "Memastikan berapa harga yang dibayar Adrian untuk membeli kebebasanmu di atas kertas kontrak pernikahan palsu itu."
Mata Naura terbelalak. Lembaran kertas itu adalah bukti rincian pelunasan rumah sakit yang ditandatangani oleh Adrian tepat pada malam mereka sepakat. Dunia Naura rasanya runtuh seketika. Rahasia terbesar mereka telah bocor ke tangan orang yang paling berbahaya.
"Kau... dari mana kau mendapatkan itu?" suara Naura bergetar, pertahanannya mendadak goyah.
"Di dunia ini, tidak ada rahasia yang tidak bisa dibeli dengan uang, Naura manis," bisik Gavin, wajahnya menunduk mendekati telinga Naura. Aroma parfumnya yang menyengat membuat Naura mual. "Adrian menipu Kakek demi posisi CEO. Dan kau... kau hanyalah alat murahan yang dia gunakan. Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan baru? Serahkan dokumen kontrak asli itu padaku untuk menjatuhkan Adrian, dan aku akan memberimu uang tiga kali lipat dari apa yang Adrian janjikan padamu."
Naura mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kuku-kukunya memutih. Rasa takut yang sempat menguasainya kini berganti menjadi kemarahan yang membakar. Pria di depannya ini benar-benar tidak punya moral.
"Jaga mulutmu, Gavin!" ucap Naura tegas, menepis tangan Gavin yang mencoba menyentuh bahunya. Naura menegakkan bahunya, menatap langsung ke mata licik Gavin tanpa rasa takut lagi. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Pernikahanku dengan Adrian adalah sah. Dan jika kau mencoba mengganggu ibuku atau mengancamku lagi, aku tidak akan segan-segan melaporkanmu pada Kakek Tirta malam ini juga!"
Seringai di wajah Gavin mendadak hilang, digantikan oleh kilat kemarahan karena tidak menyangka gadis miskin ini berani melawannya. "Kau pikir kau siapa, hah?! Kau hanya pion—"
"Dia adalah istriku. Nyonya Besar Mahendra yang sah."
Sebuah suara bariton yang menggelegar dan sarat akan hawa membunuh memotong kalimat Gavin.
Dari ujung lorong, Adrian melangkah dengan cepat. Aura dominasi dan kemarahan yang dipancarkan sang CEO begitu pekat hingga membuat atmosfer lorong rumah sakit mendadak terasa mencekam. Adrian langsung menarik tubuh Naura ke belakang punggung lebarnya, mengunci Naura dalam perlindungannya.
Matanya yang setajam elang menatap Gavin dengan pandangan yang seolah siap mencabik-cabik sepupunya itu hidup-hidup.
"Kak Adrian... kau cepat sekali datang," ucap Gavin, mencoba mengembalikan senyum santainya meski matanya menyiratkan sedikit kegugupan melihat kemarahan Adrian yang meledak-ledak.
Adrian tidak membuang kata-kata. Dia maju satu langkah, mencengkeram kerah kemeja Gavin dengan satu tangan kekarnya, lalu mendorong tubuh Gavin hingga membentur dinding dengan keras.
Bugh!
"Aku sudah memperingatkanmu di rumah Kakek, Gavin," desis Adrian, suaranya sangat rendah namun bergetar menahan amarah yang luar biasa. "Jangan pernah mendekati istriku. Jangan pernah menatapnya. jika kau berani mengusik ketenangannya atau keluarganya lagi seujung kuku pun... aku bersumpah akan menghancurkan seluruh kariermu dan menendangmu keluar dari lingkaran keluarga Mahendra selamanya. Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku."
Gavin terengah-engah, cengkeraman tangan Adrian di lehernya begitu kuat hingga dia kesulitan bernapas. Dia bisa melihat dengan jelas bahwa Adrian tidak sedang bersandiwara. Keposesifan dan kemarahan Adrian malam ini adalah nyata. Sang CEO berdarah dingin benar-benar mengamuk karena miliknya disentuh.
Adrian melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar hingga Gavin terhuyung. Tanpa menoleh lagi pada sepupunya yang licik itu, Adrian berbalik, meraih jemari tangan Naura yang gemetar, lalu menggenggamnya dengan sangat erat dan hangat.
"Kita pulang," ucap Adrian kepada Naura, suaranya melunak secara drastis saat berbicara kepada gadis itu.
Naura hanya bisa mengangguk patuh. Di bawah kawalan Adrian, mereka berjalan meninggalkan lorong rumah sakit. Sementara di belakang mereka, Gavin berdiri sambil merapikan kerah bajunya yang berantakan, menatap punggung keduanya dengan tatapan penuh dendam dan dengki yang membara.