NovelToon NovelToon
Kebangkitan Darah Naga

Kebangkitan Darah Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Ahli Bela Diri Kuno / Kultivasi
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Dikhianati istri sendiri, Kai kehilangan segalanya. Yang tersisa hanyalah putrinya, Aurelia — satu-satunya cahaya yang perlahan padam karena penyakit mematikan. Di titik terendah, darah yang tertidur ribuan tahun akhirnya bangkit.

Ia bukan lagi orang yang bisa diinjak. Garis keturunan Naga Tertinggi kini mengalir di uratnya. Ia bersumpah:

Yang mengkhianati akan berlutut. Kota yang membuang akan tunduk. Aurelia akan hidup — walau harus melawan surga sekalipun.

Namun kekuatan naga membuka gerbang dunia lain. Pengkhianatan itu bukanlah akhir, melainkan awal rencana gelap yang melintasi waktu. Kai kini harus melintasi dimensi, menguasai bela diri kuno, dan memimpin tim ke tempat yang tak pernah manusia jangkau. Dan di tengah badai pembalasan, ia paham: kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan, tapi alasan untuk melindungi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 23 — Rahasia di Puncak Menara

Angin di tebing itu berdesir dingin, seakan ikut menahan napas. Kai menatap gurunya lekat-lekat, tangannya gemetar pelan.

"Guru… kau hidup?"

Pria tua itu mengangguk pelan, wajahnya penuh luka yang tak lagi bisa sembuh. "Aku tidak pergi. Aku dikurung. Dilihat dari kejauhan saat mereka memutarbalikkan semua yang kuajarkan." Ia menatap ke arah puncak menara yang kini berkedip samar. "Dan apa yang akan kalian temui di sana… lebih berat dari sekadar pertarungan."

Kai menelan ludah. "Kau bilang ibuku… dia ada di sana?"

Guru menarik napas panjang, seakan mengangkat beban ribuan hari. "Ibumu bukan orang biasa, Kai. Dia adalah Penguasa Cahaya Pertama — salah satu dari dua orang tertinggi yang menjaga keseimbangan semua dunia. Dan ayahmu… Kairus… dia adalah Penguasa Bayangan Pertama."

Semua terdiam. Ren mengerjap. "Jadi Kai dan Kaelan… keturunan langsung dua kekuatan tertinggi?"

"Benar," jawab Guru pelan. "Ketika cahaya dan bayangan bersatu, lahirlah kalian berdua — harapan bahwa tak ada lagi perpecahan. Tapi para Pengatur tak membiarkan hal itu terjadi. Mereka memisahkan orang tuamu, menanamkan kebencian, menyebarkan kebohongan."

Kai memegang dadanya. "Lalu… di mana ayahku?"

Guru menunduk. "Dia berkorban untuk melindungi kalian. Tapi ibumu… dia tidak pergi. Dia ditahan di puncak Menara Langit Gelap — dipaksa menggunakan kekuatannya untuk menjaga menara tetap berdiri."

Aurelia mencengkeram tangan ayahnya. "Kita selamatkan Nenek, ya Ayah?"

Kai berlutut, menatap mata putrinya. "Ya, Sayang. Kita selamatkan dia." Ia berdiri tegak, menatap teman-temannya. "Siap?"

Semua mengangguk tanpa ragu.

Perjalanan naik menara itu bukan sekadar mendaki. Setiap lantai dijaga — bukan oleh prajurit, melainkan oleh bayangan masa lalu yang tercipta dari kekuatan para Pengatur. Elara menghadapi keraguan dirinya sendiri, Ren menghadapi kesepian yang dulu mencekiknya, Dagan menghadapi rasa bersalah yang ia pikul selama bertahun-tahun. Namun kali ini mereka tidak sendirian — setiap kali salah satu goyah, tangan lain memegang erat.

Akhirnya mereka tiba di pintu puncak — besar, dingin, bercahaya perak pudar. Di baliknya, terdengar suara yang lemah namun teguh, berbicara kepada seseorang.

"Kau tidak akan pernah benar-benar memiliki aku… atau anak-anakku."

Kai mendorong pintu itu terbuka perlahan.

Di ruangan paling atas, dikelilingi cahaya yang terperangkap, berdiri sesosok wanita — rambutnya panjang berkilauan seperti perak, wajahnya memancarkan kelembutan yang tak pudar meski terikat rantai cahaya gelap. Di depannya, Kaelan berlutut, tubuhnya berguncang — bukan karena amarah, melainkan karena tangis yang ditahan.

"Ibu…" bisik Kai, kata itu terasa asing namun penuh rindu.

Wanita itu mendongak, matanya membesar, lalu air mata mengalir di pipinya. "Kai… anakku…"

Kai melangkah maju, namun rantai di dinding bergetar, menghalangi jalannya. "Siapa yang mengikatmu?"

"Ibu mengikat diri sendiri," jawab Kaelan pelan, suaranya pecah. "Aku datang untuk membebaskannya… tapi dia bilang jika ia pergi, keseimbangan akan runtuh. Para Pengatur memaksanya memilih — tetap terikat, atau membiarkan dunia hancur."

Ibu mereka — namanya Elowen — menatap kedua putranya dengan mata yang penuh kasih sayang sekaligus kesedihan mendalam. "Mereka mengancam akan menghancurkan tempat-tempat yang kalian cintai jika aku melepaskan ikatan ini. Aku tidak punya pilihan."

"Kau punya pilihan," kata Aurelia tiba-tiba, melangkah maju. "Bukan memilih antara dunia atau kami. Kita bisa bersama." Ia menatap rantai itu lekat-lekat. "Rantai ini terbuat dari ketakutan, kan? Bukan dari besi."

Elowen tertegun. "Bagaimana kau tahu?"

"Karena aku merasakannya," jawab gadis kecil itu lembut. "Ia takut jika kau bebas, kau akan terluka lagi. Ia takut jika kau percaya, kau akan dikhianati." Ia mengulurkan tangan kecilnya menyentuh rantai itu. "Tapi kita tidak harus takut sendirian."

Cahaya putih keemasan mengalir dari tangan Aurelia — tidak memutus rantai, melainkan menyentuhnya, memeluknya, seakan berkata: "Aku tahu kau lelah." Rantai itu bergetar, lalu perlahan melemah, melebar, hingga akhirnya terbelah tanpa suara.

Elowen jatuh berlutut, memeluk kedua putranya — Kai di satu sisi, Kaelan di sisi lain. Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, mereka berkumpul kembali.

Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Langit di atas menara tiba-tiba menggelap total. Suara bergema dari segala arah — dingin, tak berwajah, penuh kemarahan yang tertahan.

"Kalian berani melanggar aturan."

Lantai bergetar hebat. Di udara terbuka retakan besar — dan dari celah itu, sesosok bayangan raksasa melangkah keluar. Bukan satu, melainkan tujuh Pengatur, wujud mereka menyatu menjadi makhluk yang tak berbentuk, mata mereka menyala dengan cahaya yang memakan segala cahaya lain.

"Keseimbangan adalah milik kami. Dan gadis kecil itu… adalah kunci yang akan kami ambil."

Kai berdiri di depan Aurelia, Kaelan di sampingnya, Elara, Ren, Dagan, Lyra, Lirael, dan Elowen di sekeliling mereka — melingkar, tak terpisahkan.

"Kalian tidak akan menyentuhnya," bentak Kai, cahaya keemasan menyala di seluruh tubuhnya.

Kaelan mengangkat kepalanya, matanya kini bersinar terang — bukan gelap, melainkan cahaya keperakan yang dalam. "Dan kali ini… aku tidak akan pergi sendirian."

Tujuh Pengatur meraung, dan gelombang kegelapan meluncur ke arah mereka.

Di detik itu, Kai menyadari sesuatu — pertarungan ini bukan tentang siapa yang lebih kuat. Ini tentang siapa yang tidak akan melepaskan tangan orang di sampingnya.

1
Yanto Hulu
Thanks tor
Gunadi Hudaya
sptnya ngak memerlukan review panjang lebar lagi. aku suka dengan piliha pilihan kata yg dipakai author. dalam hal karakterisasi tunggu dulu
Gunadi Hudaya
Oke, review. tulisan enak dibaca, alur mengalir halus, tidak ada ganjalan berarti yg bisa membuat pembaca berhenti. plot masih belum kelihatan tapi bagian akhir memberikan hook yg membuat orang ingin membaca bab 2. karakter juga mampu mengundang simpati kepada pembaca.
Yanto Hulu: Thanks tor🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!