Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.
Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.
Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.
Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.
Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.
Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Yang Hilang dan yang Ditemukan
Menjelang siang, Zinnia tiba di kota.
Tas pakaian berada di bahunya, sementara satu tas lain berisi dokumen ia bawa di tangan. Setelah turun dari kendaraan, ia berdiri sebentar di tepi jalan sambil membuka ponsel.
Beberapa alamat kontrakan sudah ia simpan sejak pagi.
Zinnia memilih salah satunya yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kawasan perkantoran dan pusat pertokoan. Ia membutuhkan tempat yang mudah dijangkau jika nanti mendapatkan pekerjaan.
Setelah berjalan beberapa menit, ia akhirnya menemukan rumah yang dimaksud.
Bangunannya sederhana. Hanya ada beberapa kamar kontrakan di dalam satu halaman yang cukup sempit. Cat dindingnya mulai kusam, tetapi lingkungannya terlihat cukup tenang.
Seorang perempuan paruh baya keluar setelah Zinnia mengetuk pintu. “Cari kontrakan?”
Zinnia mengangguk kecil.
Perempuan itu memandang Zinnia sejenak sebelum bertanya, “Untuk sendiri?”
Zinnia mengangkat kedua tangannya dan menjelaskan dengan bahasa isyarat.
Iya. Saya sendiri.
Perempuan itu tidak langsung memahami gerakannya.
Zinnia segera mengambil ponsel dan mengetik.
Saya mau lihat kamar yang kosong.
“Oh.” Perempuan itu membaca layar ponselnya, lalu tersenyum. “Bisa. Ayo.”
Kamar yang ditawarkan tidak besar. Hanya ada tempat tidur, lemari kecil, meja, dan kamar mandi di dalam. Zinnia masuk dan memeriksa keadaan sekeliling.
Tidak mewah. Namun cukup untuknya.
Ia membuka jendela. Cahaya matahari masuk menerangi ruangan yang masih kosong.
“Bagaimana?” tanya pemilik kontrakan.
Zinnia melihat kembali kamar itu, lalu menulis di ponselnya.
Saya ambil.
Setelah urusan pembayaran dan kunci selesai, Zinnia mulai membawa barang-barangnya masuk.
Ia merapikan pakaian ke dalam lemari, meletakkan perlengkapan kuliah di atas meja, lalu membersihkan permukaan meja yang berdebu dengan kain yang diberikan pemilik kontrakan.
Tidak sampai satu jam, kamar itu mulai terasa sedikit lebih seperti miliknya.
Zinnia duduk di tepi tempat tidur. Akhirnya ia sendirian. Tangannya masuk ke dalam tas dan mengambil dompet kecil.
Cincin itu dikeluarkannya. Benda tersebut ia letakkan di telapak tangan, lalu diamatinya sekali lagi.
Sejak awal, Zinnia tahu cincin itu bukan cincin biasa. Sebagai mahasiswa yang mempelajari desain perhiasan, ia cukup mengenali beberapa cirinya.
Bentuknya tidak seperti desain yang dibuat untuk produksi massal. Ada detail kecil pada bagian dalam dan permukaan cincin yang terlihat terlalu spesifik. Ukiran kecil yang menyerupai huruf atau lambang juga dibuat dengan sangat presisi.
Zinnia memiringkan cincin itu mendekati cahaya. Ukiran tersebut bukan sekadar hiasan. Entah apa artinya.
Ia membalik cincin itu beberapa kali. Bagian-bagiannya terasa seperti dirancang sebagai satu kesatuan. Tidak ada ornamen yang terlihat asal ditempel untuk mempercantik bentuk.
Zinnia menyipitkan mata.
Didesain khusus...
Pikiran itu muncul begitu saja.
Mungkin cincin tersebut dibuat berdasarkan pesanan. Atau mungkin seseorang memang merancangnya sendiri.
Zinnia mengeluarkan ponsel dan kembali membuka foto cincin yang ia unggah dua hari lalu. Tidak ada petunjuk baru. Ia menutup aplikasi tersebut.
Kalau begitu, mungkin ia harus mencari dari tempat lain. Bukan hanya berdasarkan nama Arvid. Mungkin dari cincin ini.
Zinnia hendak menyimpan kembali benda itu ketika pandangannya tanpa sengaja jatuh pada pergelangan tangan kirinya. Ia terdiam.
Kosong.
Keningnya berkerut. Zinnia mengangkat tangan satunya dan menyentuh pergelangan tersebut, seolah berharap benda yang dicarinya akan tiba-tiba terasa.
Tidak ada. Gelangnya dengan bandul kecil berbentuk huruf Z yang selalu dikenakannya.
Zinnia langsung membuka tas. Satu per satu barang dikeluarkannya. Tidak ada. Ia memeriksa saku pakaian, dompet, dan tas lainnya. Tetap tidak ada.
Zinnia berhenti. Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali melihat gelang itu.
Pagi sebelum berangkat? Ia tidak yakin.
Saat perjalanan pulang dari resort? Tidak ingat.
Malam di pantai...
Pikirannya langsung berhenti di sana. Zinnia menelan ludah. Sejak malam itu, banyak hal terasa kabur. Ia terlalu sibuk memikirkan kejadian yang menimpanya sampai tidak memerhatikan benda-benda kecil yang biasanya selalu melekat padanya. Entah sejak kapan gelang itu hilang.
Zinnia menatap pergelangan tangannya cukup lama. Kemudian pandangannya kembali jatuh pada cincin di telapak tangan.
Satu perhiasan milik Arvid ada padanya. Sementara perhiasan miliknya sendiri justru hilang. Ia tidak tahu di mana gelang itu sekarang.
Zinnia menggenggam cincin tersebut lebih erat. Kini, ia merasa pencariannya mungkin tidak hanya bergantung pada media sosial.
Kalau cincin ini memang dirancang khusus, mungkin ada cara untuk mengetahui siapa yang membuatnya.
Dan kalau ia bisa menemukan orang yang merancang cincin itu, mungkin ia bisa menemukan Arvid.
***
Juki mengetuk pintu ruangan Arvid. Setelah diizinkan, ia membuka pintu dan melangkah masuk.
"Bos."
Juki masuk sambil membawa sebuah benda kecil yang diletakkan di atas telapak tangannya.
Arvid yang sedang membaca laporan mengangkat wajah. "Apa?"
Juki mendekat, lalu meletakkan benda itu di atas meja. Sebuah gelang.
Arvid langsung menghentikan gerakannya.
"Ini milik perempuan yang kucari?"
"Belum tentu." Juki mengangkat kedua tangan. "Tapi saya nemu ini di sekitar area pantai."
Arvid mengambil gelang tersebut.
Gelang itu sederhana. Tidak ada batu permata atau hiasan berlebihan. Namun, pada bagian tengahnya terdapat sebuah bandul berbentuk huruf Z dengan desain yang tidak biasa.
Arvid membalik gelang itu, kemudian mengamatinya lebih dekat.
"Bahannya?"
"Monel, menurut orang yang saya tanyai."
Arvid mengusap permukaan gelang dengan ibu jarinya. Tidak ada bagian yang terlihat mencolok, tetapi pengerjaannya cukup rapi. Bentuk bandul Z dibuat dengan garis yang tegas, sementara bagian ujungnya memiliki lekukan kecil yang membuatnya berbeda dari sekadar huruf biasa.
"Kelihatannya bukan aksesori produksi massal."
Juki mengangguk. "Saya juga mikir gitu."
"Kenapa?"
"Desainnya terlalu spesifik. Kalau gelang biasa, kenapa harus pakai huruf Z dengan bentuk kayak gini?"
Arvid tidak menjawab. Pandangannya kembali tertuju pada bandul tersebut.
Huruf Z.
Nama perempuan yang sedang ia cari belum ia ketahui. Ia bahkan tidak tahu wajahnya dengan jelas. Namun, benda kecil ini mungkin satu-satunya petunjuk yang tertinggal setelah malam itu.
Arvid membalik gelang sekali lagi. "Ada tanda pembuat?"
"Belum ketemu."
"Ukuran gelang?"
Juki ikut mengamati gelang itu. "Kayaknya buat perempuan."
Arvid melirik Juki.
Juki mengangkat bahu. "Saya bukan ahli gelang, Bos."
Arvid kembali memeriksa benda itu. "Tapi kamu yakin nemu ini di lokasi yang sama?"
"Yakin, Bos. Orang yang bersihin area pantai nemu ini setelah malam acara itu."
Arvid terdiam beberapa saat. Kemudian ia menyerahkan gelang tersebut kembali kepada Juki.
"Cari tau siapa yang bikin."
Juki menerima gelang itu. "Kalo ketemu?"
"Kita cari siapa yang beli atau mesan desain kayak gitu."
"Tapi, Bos," kata Juki. "Kalo ternyata ini cuma gelang murah yang dijual di mana-mana?"
Arvid kembali mengambil laporan di mejanya. "Berarti kita buang satu petunjuk."
Juki menghela napas. "Dan kalo ternyata bukan?"
Arvid berhenti membuka halaman berikutnya. "Berarti kita akhirnya punya jalan buat nemuin dia."
Juki mengangguk pelan. Kali ini ia tidak bercanda. "Siap, Bos. Saya cari."
...🔸🔸🔸...
...“Jangan meremehkan jejak sekecil apa pun. Sesuatu yang bagi kita tampak tidak berarti, mungkin justru menjadi jalan menuju kebenaran yang selama ini kita cari.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
semoga Arvid bida menyelidiki dan mengetahui kebenarannya dan mengakuinya di depan ibunya...
Keburu kehamilanmu membesar