Seorang pengembara, lulusan pelatihan bela diri di distrik paling selatan, diutus gurunya berkelana untuk mencari tahu identitas sebuah ancaman misterius. Ia bukan pahlawan terpilih, hanya seorang petarung tangguh yang percaya diri pada kemampuannya. namun Keyakinan itu hancur, pada suatu hari, ketika sebuah entitas yang membenci manusia muncul dan menyerangnya. Ia melawan sekuat tenaga, namun kalah telak. Entitas itu lalu menyerap kedelapan kristal dan membawanya kabur ke langit, untuk dipersembahkan kepada tuannya, sang boss entitas, sementara si pengembara tergeletak pingsan.
Ketika ia sadar, dunia sudah berubah. Tanpa kristal penyeimbang, kawanan makhluk kroco keluar dari persembunyian, mendirikan kemah di mana-mana, dan menjarah harta serta persediaan makanan manusia. Mampukah seorang pengembara mengembalikan kedelapan kristal tersebut ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AryaAulani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 POHON ELEMEN
KLIK-KLIK-KLIK-KLIK!
Sepuluh pistol terkokang serentak, dan basement itu seolah berhenti bernapas.
"Tembak Mereka!!!" desis sepuluh suara Froz.
DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!
Aku melesat ke kanan sebelum suaranya selesai menggema. Peluru-peluru bayangan membelah udara dengan desis dingin, menembus tiang, peti, dan dinding, meninggalkan lubang-lubang hitam bulat yang berasap tipis. Satu peluru menyerempet bahuku, dan seluruh lenganku mati rasa sesaat.
"Arka...!" Iyan menghantam dua klon sekaligus. DUAKK! BRAKK! Keduanya pecah jadi asap, tapi bayangan di lantai langsung melahirkan dua yang baru.
"Percuma saja !" teriak Anna sambil melepaskan tiga anak panah beruntun. THWANG-THWANG-THWANG! Tiga klon lenyap, empat muncul. "Mereka tidak akan ada habisnya!"
Aku menebas dua klon yang menerjang. SYAT! SYAT! Bilahku membelah mereka seperti kabut, tapi napasku makin berat. Setiap tebasan menghabiskan tenaga, sementara Froz tak tampak lelah sama sekali. Dari sudut mataku, para penduduk meringkuk di dinding belakang, dan serpihan kayu berjatuhan di atas kepala mereka.
Kalau pertarungan ini berlanjut di sini, orang-orang itu yang akan mati lebih dulu. Sebuah tangan menyambar lengan kiriku.
"Sini Ikut aku!" Anna menarikku dengan satu tangan, dan tangan lainnya mencengkeram kerah Iyan. "Harus sekarang kah?"
"Tapi gimana dengan penduduk?"
"Dia itu mengincar kita, bukan mereka! Cepat!"
Ia merogoh sabuknya, mengeluarkan bola logam sebesar kepalan, dan membantingnya ke lantai.
PSSSSHHHH!
Asap putih pekat menyembur dan menelan seluruh ruangan. Aku terbatuk, mataku perih, dan di tengah kabut itu kudengar teriakan murka Froz.
"KALIAN PERGI KEMANA HAH? TIKUS-TIKUS KECIL!"
DOR! DOR! DOR!
Peluru-peluru buta menghantam dinding, tapi kami sudah berlari. Anna menyeret kami menembus pintu rahasia di sudut basement, melewati lorong sempit berlumut, menaiki tangga batu yang basah, dan keluar ke permukaan lewat celah di antara akar-akar pohon besar. Vivi berpegangan erat di rambutku, wajahnya pucat.
Udara luar terasa dingin. Kami terus berlari menyusuri jembatan gantung, melompati cabang-cabang, dan menembus lorong-lorong dedaunan, sementara dari kejauhan terdengar suara Froz yang memburu dengan tawa kejam.
"Lewat sini!" Anna membelok tajam ke kanan.
Kami menerobos semak lebat, dan tiba-tiba hutan terbuka menjadi sebuah lapangan kecil yang tersembunyi di jantung kota. Aku berhenti mendadak, terpana.
Di tengah lapangan itu berdiri sebuah pohon yang membuat pohon-pohon lain tampak seperti semak. Batangnya selebar rumah, kulitnya berpendar hijau keemasan, dan cabang-cabangnya menjulur ke segala arah seperti jari raksasa. Dari setiap cabang menggantung ratusan buah lonjong sebesar genggaman tangan. Kulitnya berkilau seperti kaca bening, dan di dalamnya, cahaya berwarna-warni berdenyut pelan: merah, biru, kuning, hijau.
"Wah....indah sekali," bisik Vivi.
"Ini namanya Pohon Elemen," kata Anna, masih terengah. Ia berbalik menghadap kami. "Penduduk Artheria menjaganya selama ratusan tahun. Siapa pun yang memakan buahnya akan mendapat kekuatan elemen, sesuai dengan jiwa mereka."
"Kekuatan elemen?" ulang Iyan. "Seperti sihir?"
"mungkin lebih dari itu. Menyatu dengan senjata. Dan kita butuh itu sekarang." Anna menatap kami dengan mata tajam. "Kalian tidak akan bisa menang melawan Froz hanya dengan baja. Dia itu punya kekuatan batin, kita juga butuh yang setara sama dia."
"Tapi kamu sendiri gimana?"
Anna tersenyum tipis, lalu mengangkat crossbow-nya. "Ah...itu lihat ini baik-baik."
Ia menarik tali busurnya, memejamkan mata, dan mengucapkan kalimat dengan suara rendah dan mantap.
"Fire move, fire arrow string."
WHUUUSSHH!
Anak panah di busurnya menyala seketika. Api merah menyala-nyala melilit batang panah itu, menjilat udara dengan panas yang bisa kurasakan dari jarak lima langkah. Anna menembakkannya ke atas, dan di tengah langit, anak panah itu pecah menjadi puluhan panah api yang menghujani lapangan seperti hujan bintang jatuh.
WUSSSHH-WUSSSHH-WUSSSHH!
Panah-panah itu menancap di tanah kosong dan meledak kecil, membentuk lingkaran api menyala. Aku menahan napas.
"Nah, Itu tadi kekuatanku," kata Anna. Lingkaran api mereda perlahan. "Buah itu memberikan kalian kekuatan dalam. Sekarang coba giliran kalian. Cepat ambil dan makan sebelum dia menemukan kita!"
Aku dan Iyan saling pandang, lalu mengangguk. Tanpa kata, kami berlari ke pangkal pohon dan mulai memanjat. Kulit batangnya hangat, hampir seperti daging, dan setiap pegangan terasa berdenyut di telapak tanganku. Dalam beberapa tarikan napas aku sudah mencapai cabang rendah, tempat buah-buah itu bergantung berkilau.
Aku meraih satu yang cahayanya berwarna hijau pucat. Hangat dan berat, seolah ada sesuatu hidup di dalamnya.
"Iyan ambil ini!"
"Ok aku tangkap!" Ia melambaikan tangannya dari bawah
lalu Aku melompat turun. Aku kemudian menggigit buahku tanpa ragu. Rasanya aneh: manis, segar, dengan getir tipis di ujungnya, seperti angin pagi yang tiba-tiba memenuhi mulutku. Iyan di sebelahku mengunyah dengan mata terpejam, dahinya berkerut.
"Rasanya seperti..." ia meneguk, "...petir."
"Petir itu tidak punya rasa, woi"
"Tapi yang ini punya rasa seperti petir, menyetrum dilidahku."
Kami menelan suapan terakhir. Mula-mula tak terjadi apa-apa. Lalu sesuatu bergolak di dalam dadaku, hangat dan bergerak, merayap naik ke lengan, ke telapak tangan, ke seluruh tubuh. Jantungku berdetak lebih cepat. Rambutku berdiri.
Aku menunduk. Pedangku di tangan kananku bergetar, dan di sepanjang bilahnya, garis-garis tipis berwarna putih kehijauan menyala pelan. Udara di sekitarnya berputar, kecil-kecil seperti pusaran debu.
"Arka, lihat!" Iyan mengangkat gadanya. Di sana, kilat-kilat kecil berwarna kuning terang menari-nari, meloncat dari ujung ke ujung dengan bunyi KRIIIT-KRIIIT yang tajam. "Aku bisa merasakannya! Ini..."
"Ini.....elemen angin," bisikku, tanpa tahu dari mana datangnya kata itu.
"Elemenku....sebuah petir" Iyan nyaris melompat. "ya...ini dia aku seorang PETIR!"
Anna tersenyum lega. "Bagus. Sekarang kalian punya cukup..."
DOR!
Suara tembakan memotong kalimatnya. Anna melompat mundur tepat ketika sebuah peluru bayangan menghantam tanah di tempat ia berdiri, meninggalkan lubang bulat hitam dalam.
"Wah, wah," sebuah suara serak berkata dari kegelapan pepohonan. "Lagi ada pesta kecil di bawah pohon ya? Kenapa aku tidak diundang sih?"
Froz melangkah keluar, satu tangan memegang pistol yang mengepulkan asap, tangan lainnya menepuk-nepuk debu dari mantelnya. Sisik-sisik kelabunya berkilat tertimpa cahaya buah-buah pohon. Di belakangnya, bayangan-bayangan di tanah menggelembung dan melahirkan klon demi klon, hingga delapan sosok mengitari kami.
"Terima kasih ya kalian semua sudah menunjukkan tempat ini," katanya dengan senyum yang membuatku ingin muntah. "Setelah aku bunuh kalian satu persatu, buah-buah itu juga akan kuhancurkan satu per satu."
"Heh..Coba saja," kata Iyan. Kilat di gadanya makin terang.
DOR-DOR-DOR-DOR-DOR!
Delapan pistol menyalak serentak. Aku tidak berpikir. Aku menebas.
WUUUUSSSHH!
Pedangku membelah udara, dan bersama bilahnya, angin berputar meledak keluar seperti gelombang tak kasat mata. Peluru-peluru bayangan itu terhempas, berbelok di udara, menghantam batang pohon di kejauhan dan meninggalkan lubang-lubang hitam. Delapan klon di depanku terdorong mundur oleh terpaan itu, mantel mereka berkibar liar.
Froz terkejut sesaat. "Huh....?"
Iyan melompat maju. KRAAAK-ZZZZTTT! Gadanya menghantam tanah, dan petir kuning meloncat ke segala arah. Tiga klon yang menyentuh arus itu berkedut, tubuhnya retak seperti kaca, lalu pecah menjadi serpihan asap.
"Yah.....!" Iyan bersorak. "Ok..Tiga terbantai!"
Anna melepaskan tembakan susulan. "Fire move, fire arrow string!" WUSSSH-WUSSSH-WUSSSH! Panah-panah api meluncur, menembus empat klon sekaligus. Mereka menjerit dan terbakar.
Klon-klon baru mencoba bangkit dari bayangan, tapi kali ini sulit. Cahaya api Anna dan kilat Iyan memperkecil bayangan di lapangan, membuatnya kurus dan terpecah. Aku melihat itu, dan sesuatu dalam pikiranku mengencang.
Bayangan hanya hidup jika ada gelap.
"Terangi tempat ini sekarang!" teriakku. "Mereka butuh bayangan!"
"Siap!" balas Iyan.
Ia menghantamkan kedua gadanya ke tanah. ZZZAAAPPP! Seluruh lapangan disapu lengkungan petir terang benderang. Bayangan menghilang sesaat, dan lima klon terakhir tumbang bersamaan.
Tersisa satu Froz, yang asli, berdiri sendiri di tengah lapangan. Senyumnya sudah hilang.
"Hhmmm....Menarik juga," gumamnya. Ia menarik napas panjang dan mengangkat tangan kirinya. "Tapi emangnya kalian bisa menghapus bayanganku? Aku tidak butuh bayangan di luar. Aku punya bayangan dalam diriku sendiri."
Tubuhnya mulai menghitam. Urat-urat gelap menjalar di wajah dan lehernya, sisik kelabunya berubah menjadi hitam pekat, dan dari kedua pistolnya, asap bayangan berputar liar seperti badai kecil.
"Di...dia berubah!" seru Vivi dari atas pohon.
DOR!
Aku tidak melihat pelurunya, hanya merasakan hawa dingin mematikan yang tiba-tiba menutupi seluruh dunia. Dengan reflek terakhir, aku menyabet pedangku ke depan.
WHUUUUSSSSHHH!
Angin menggila. Pusaran hijau memutar bilahku dan mengiris peluru bayangan itu di tengah jalan, membelahnya menjadi dua serpihan yang meledak di udara dengan suara BLAAARR!
"Arka awas!" Iyan menerjang dari samping, gadanya berkilat. Froz memutar tubuh, menembakkan dua peluru ke arahnya. Iyan menunduk, petirnya meledak keluar dari kakinya, mendorongnya maju lebih cepat dari mata bisa mengikuti. ZZZZAPP! Dalam satu kedipan, ia sudah berada di dekat wajah Froz.
BUUKKK-ZZZTT!
Gadanya menghantam dagu Froz, dan kilat menyengat tubuhnya hingga ia terlempar mundur. Anna sudah menunggu di sana. "Fire move!" THWANG-THWANG-THWANG! Tiga panah api menembus bahu, lengan, dan lututnya.
Froz meraung, dan bayangan di sekitarnya meledak keluar dalam gelombang gelap. Kami bertiga terlempar ke belakang. Punggungku menghantam batang pohon dan seluruh tulangku bergetar.
"Cukup main mainnya!" geramnya. Tubuhnya penuh luka, tapi matanya menyala kemerahan, dan kedua pistolnya kini sebesar meriam kecil. "Kalian memang memaksaku serius!"
Ia mengangkat kedua pistol ke arahku. Dari lubang laras, bayangan hitam pekat berputar, memuntahkan energi yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Aku bangkit. Kakiku gemetar, tapi pedangku masih tergenggam. Aku memejamkan mata sesaat, merasakan angin yang mengalir di dalam tubuhku. Itu bukan sekadar kekuatan. Itu pengingat: aku bukan lagi anak sombong yang pingsan di lembah.
"Iyan, Anna," kataku pelan. "Beri aku satu detik untuk aku mengumpulkan kekuatan"
"Ok siap" jawab mereka serempak
Aku menarik napas dalam. Angin di sekitarku berputar semakin cepat, daun-daun beterbangan, rambutku berkibar. Pedangku bergetar, bilahnya dibalut selubung hijau tipis yang menjerit lembut.
"MATILAH KALIAN SEMUA...!" Froz menembak.
DOOOOORRRRR!
Gelombang bayangan melesat ke arah kami seperti dinding hitam. Iyan menyongsongnya dengan petir ZAAAPPP! Anna memuntahkan semburan api WUSSSSHHH! Dua kekuatan itu menahan gelombang sejenak, cukup untuk memberiku ruang.
Aku melesat.
Angin menuntunku. Dunia melambat, setiap helai daun yang jatuh terlihat jelas, setiap garis wajah Froz tampak telanjang. Dalam sekejap aku sudah berada di hadapannya, begitu dekat hingga aku melihat bayangan kaget di mata merahnya.
"Ini tidak mungkin..."
"Ini," bisikku, "untuk lembah itu."
Aku mengayunkan pedangku.
"first wind move, rough wind"
SYUUUUUUUUUUTTT!
Bilah itu bergerak lebih cepat daripada suara. Angin kasar berputar di sepanjang tebasan, membentuk lengkungan hijau cemerlang yang membelah udara. Sunyi sesaat. Tak ada benturan, tak ada percikan.
Lalu kepala Froz terlepas dari lehernya.
Ia berputar di udara dengan mata masih terbuka, mulutnya setengah menganga, sebelum jatuh berguling di tanah. Tubuhnya berdiri tegak beberapa detik tanpa kepala, kedua pistol masih teracung, lalu limbung dan roboh. Asap hitam menguap dari tubuh dan kepalanya, melebur menjadi kabut tipis, hingga hanya tersisa jubah compang-camping dan dua pistol yang berkarat di atas rumput.
Kesunyian turun di lapangan itu. Hanya suara daun-daun dan napas kami yang terengah.
"Kamu..." Iyan menatapku dengan mulut menganga. "Kamu memenggalnya juga."
Aku menurunkan pedang. Tanganku gemetar hebat. Angin di bilahku perlahan mereda, kembali jadi semilir.
"Akhirnya...."
Anna menjatuhkan diri duduk di tanah, wajahnya basah oleh keringat dan tawa lemah. "Entitas tingkat bawah empat...berhasil dikalahkan." Ia menggeleng. "Kak Cecilia pasti tak akan percaya."
Vivi terbang turun dan mendarat di bahuku, memeluk leherku dengan kedua tangan mungilnya. "Ka.u berhasil, Arka! Kamu berhasil!"
Aku tak menjawab. Mataku tertuju pada jubah hitam di tanah, pada asap yang menguap pelan. Satu dari sebelas nama sudah jatuh. Satu langkah kecil menuju Zaranos.