Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.
Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.
karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.
Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.
Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.
Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?
Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Langkah Baru
"Mbak Maya mau melakukan apa?" tanya Rijal cemas, matanya membelalak saat melihatku melangkah mantap menuju pintu keluar ruang direksi.
"Aku akan turun menghadapi mereka," jawabku dingin tanpa menoleh.
"May! Itu terlalu berbahaya!" teriak Pak Baskoro berusaha mengejar langkahku.
"Tidak ada cara lain, Pak!" balasku sambil terus berjalan menyusuri koridor. "Mereka butuh jawaban dari pemilik sah tempat ini, bukan janji-janji manis dari direktur fiktif yang sudah kabur. Pak Baskoro bawa berkas-berkas Ayah, Rijal bawa map tunggakan gaji itu. Ikut aku turun!"
Suara derap langkah kami bertiga bergema keras di lorong. Ketakutan yang sempat merayapi benakku perlahan hilang, berganti dengan keberanian yang meledak-ledak.
Dulu aku hanyalah wanita desa yang dipandang sebelah mata, dinikahi secara siri, dan disembunyikan dalam bayang-bayang. Namun hari ini, di atas tanah warisan kakekku sendiri, aku tidak akan biarkan siapa pun merampas kehormatan keluargaku lagi.
Saat kami sampai di lantai dasar, gedoran di pintu kaca utama semakin liar. Retakan panjang berbentuk sarang laba-laba mulai menjalar di permukaan kaca tebal tersebut. Puluhan wajah penuh amarah dan keputusasaan terlihat jelas dari balik kaca.
"Rijal, buka kunci pintu utama," perintahku dengan suara lantang yang memecah ketegangan di dalam lobby
Rijal menelan ludah dengan susah payah. Tangannya gemetaran saat merogoh kunci dari sakunya, menatapku seolah ingin memastikan sekali lagi. "Mbak... yakin?"
"Buka, Rijal!" Tanpa sadar ucapanku sedikit meninggi. Tanpa membantah lagi Rijal melakukan apa yang aku perintahkan.
Klek. Ssst...
Sistem kunci otomatis terbuka. Rijal mendorong pintu kaca itu lebar-lebar.
Seketika, gemuruh teriakan massa menyergap indra pendengaranku bagai gelombang pasang yang mengamuk. Beberapa pekerja lapangan yang memegang balok kayu langsung menyeruak masuk bermaksud mencari siapa pun yang bertanggung jawab.
"Mana Prasetio?!"
"Jangan sembunyi lagi kalian!"
"Bayar gaji kami!"
"Tolong semua diam dulu! " Ujarku keras.
Teriakanku yang melengking tinggi menghentikan langkah orang-orang terdepan. Suaraku bergema. Tenggorokan ku terasa pedih, akibat suara yang ku paksakan tadi.
Kerumunan massa mendadak tertegun. Mereka saling pandang dengan raut bingung. Pria berbadan tegap yang memegang spanduk di barisan depan maju satu langkah, menatapku dengan sorot mata menyala.
"Siapa kamu?!" bentak seorang pria kasar. "Jangan ikut campur! Kami cari Pak Prasetio dan Bu Prilia! Mana mereka?!"
Aku melangkah maju tiga tapak, berdiri tepat di tengah-tengah lobi, tepat di bawah lambang CV Abadi Permai yang terpampang di dinding pualam. Ku tatap mereka yang berdiri di hadapan ku itu satu per satu, tanpa ada sedikit pun rasa gentar.
"Prasetio dan Prilia sudah tidak ada lagi di sini," ucapku dengan suara lantang, jernih, dan penuh penekanan.
" Orang yang berdiri di hadapan kalian saat ini adalah pemilik asli sekaligus satu-satunya ahli waris sah dari CV Abadi Permai!"
Keheningan yang mencekam mendadak melingkupi seluruh ruangan. Bisik-bisik ketidaktahuan mulai menjalar cepat di antara puluhan karyawan yang berkumpul di pintu masuk.
Pria berbadan tegap itu mengerutkan dahi, menatapku tidak percaya. "Ahli waris sah? Jangan bohong, Mbak! Kami cuma tahu Bu Prilia istrinya Pak Prasetio! Kalau Mbak memang pemiliknya, kenapa gaji kami tiga bulan ditahan?! " Ucapnya dengan suara yang penuh amarah.
Kenapa semua rekening perusahaan diblokir dan aset-aset dibekukan sampai operasional mati?!" Lanjutnya lagi.
Aku menatapnya lurus tanpa bergeming sedikit pun.
"Justru karena seluruh aset dibekukan dan semua kartu pengeluaran diblokir... makanya kalian masih bisa melihat gedung ini berdiri hari ini!" jawabku lantang, suaraku menggema tegas menembus kerumunan.
Para karyawan saling pandang, terkejut mendengar pernyataan ku.
"Asal kalian tahu," lanjut ku sambil menunjuk map dokumen di tangan Rijal dan tas kulit milik Pak Baskoro, " Prilia yang kalian anggap istri dari direktur tempat kalian bekerja ini, dan komplotannya sudah menjual beberapa armada dan menguras uang perusahaan di belakang layar! "
Suaraku menggema keras di depan semua karyawan yang menatapku masi dengan pandangan heran, wajar aku tidak pernah muncul selama ini, saat perusahaan sedang jaya jayanya, aku muncul justru keadaan sudah bagai telur di ujung tanduk.
'Pemblokiran seluruh rekening pengeluaran dan pembekuan aset itu dilakukan atas perintah resmi dari hak waris keluarga kakek saya—bukan untuk menelantarkan kalian, tapi justru untuk menghentikan Prilia mengeruk sisa uang perusahaan ini sampai habis!"
Suara gemuruh bisik-bisik mulai ramai. Pria berbadan tegap itu perlahan menurunkan balok kayu di tangannya, raut amarah di wajahnya mulai mengendur.
"Jadi... rekening sengaja diblokir supaya Bu Prilia tidak bisa ambil uang lagi?" tanya seorang staf wanita dari barisan depan dengan suara bergetar.
"Benar!" tegas Pak Baskoro melangkah maju ke sampingku sambil mengangkat dokumen hukum bersumber dari almarhum ayahku. "Atas nama hukum dan surat kepemilikan sah, Pak Prasetio dan Bu Prilia sudah tidak punya akses sepeser pun atas rekening maupun aset CV Abadi Permai! Seluruh akses keuangan sudah dikunci rapat!"
Aku melangkah satu tapak lebih dekat ke arah kerumunan pekerja.
"Saya tahu kalian menderita selama tiga bulan ini. Saya tahu dapur kalian terancam tidak ngebul karena rekening perusahaan dikunci," ucapku pelan namun sarat emosi.
"Tapi hari ini, saya berdiri di sini sebagai pemilik sah. Karena pemblokiran itu ada di bawah kuasa dokumen hak waris saya, maka saya sendiri yang akan mendatangi bank untuk membuka blokir rekening operasional tersebut—khusus untuk mendedikasikannya pada pembayaran seluruh tunggakan gaji kalian!"
Kerumunan massa mendadak bungkam total. Wajah-wajah yang tadinya dipenuhi dendam dan amarah kini berubah haru dan dipenuhi harapan baru.
Pria berbadan tegap yang memimpin barisan di depan perlahan meletakkan balok kayunya ke lantai, matanya yang memerah menatapku dengan tatapan penuh keputusasaan yang melunak.
"Mbak... Mbak tidak bohong, kan?" tanyanya, suaranya parau dan bergetar. "Kami cuma butuh kepastian. Anak saya di rumah sudah menunggak biaya sekolah dua bulan. Teman-teman di bagian produksi bahkan ada yang diusir dari kontrakan."
Kata-katanya seperti jarum yang menusuk dadaku. Aku melangkah lebih dekat, menatap langsung ke matanya tanpa ragu. Apa yang kau katakan aku paham betul bagai mana rasanya mengalami semua itu.
Karena aku pun sama, pernah lapar, pernah di usir dari kontrakan, pernah minjam duit ke tetangga. Semua derita seperti itu aku sangat paham. Tapi kata kata itu hanya ku ucap dalam hati.
Seraya menarik nafas panjang aku berucap lantang sekalian mengenalkan diri pada semua karyawan yang berdiri di depanku.
"Nama saya Maya. Saya cucu dari Almarhum Pak Subroto yang mendirikan perusahaan ini," ucapku pelan dan tenang tidak seperti tadi lagi. "Kakek saya tidak pernah mengajari untuk memakan keringat orang lain. Hari ini, di depan Pak Baskoro dan Rijal, saya berjanji... hak kalian menjadi prioritas utama yang akan saya selesaikan."
Aku menoleh ke arah Rijal. "Rijal, bawa map daftar gaji itu ke ruang rapat kecil di sebelah kanan lobi. Panggil tiga orang perwakilan karyawan—satu dari produksi, satu dari operasional, dan satu dari administrasi—untuk masuk dan mencocokkan data bersama kita."
Rijal mengangguk mantap, sorot matanya kini memancarkan keyakinan baru. "Baik, Mbak Maya!"
"Untuk karyawan yang lain," lanjut ku, memandang seluruh kerumunan yang berada di pelataran, "saya minta tolong untuk tenang dan kembali ke rumah masing-masing dulu. Jangan ada kerusakan lagi pada fasilitas gedung ini, karena gedung ini adalah tempat kalian akan kembali bekerja mencari nafkah."
Kata-kataku yang tenang namun tegas seolah menyihir suasana. Satu per satu karyawan mulai menurunkan spanduk tuntutan mereka. Beban berat yang menghimpit bahu mereka selama tiga bulan seolah terangkat sedikit demi sedikit.
Pak Baskoro menepuk bahuku pelan dari belakang, membisikkan kata-kata penuh rasa bangga. "Kamu luar biasa, May. Almarhum kakek dan ayahmu pasti sangat bangga melihat ketegasanmu hari ini."
Aku tersenyum tipis, walau di dalam hati, rasa lelah dan jantung yang berdegup kencang di dadaku belum sepenuhnya reda.
"Ini baru langkah pertama, Pak. Kita masih harus ke bank untuk membuka blokir rekening dan memastikan semua dokumen hukum atas tanah ini benar-benar bersih dari gugatan pihak Prilia."
Kemudian kami melangkah ke ruangan sebelah, di depan ku sudah berdiri tiga orang perwakilan yang sengaja di panggil untuk mencocokkan kan data. Rijal membacakan rincian nominal tunggakan gaji satu per satu.
"Pak Hasan bagian produksi, total tiga bulan lima belas juta sembilan ratus ribu rupiah," sebut Rijal.
Pria paruh baya berpakaian lusuh itu mengusap matanya yang berkaca-kaca. "Benar, Mas Rijal... angkanya sesuai."
"Mbak Nita, staf administrasi, delapan juta seratus ribu rupiah."
Gadis muda di sampingnya mengangguk cepat. "Sesuai, Mas. Terima kasih banyak..."
Rasa bersalah Prasetio yang melarikan diri kini terbayar oleh ketetapan hatiku untuk berdiri. Prasetio mungkin memilih karena rasa malu dan bayang-bayang kejahatan keluarganya, tapi aku tidak akan membiarkan tempat ini runtuh menjadi abu.
"Pak Baskoro," panggilku pelan saat perwakilan karyawan selesai mengecek data dan pamit keluar dengan tenang.
"Iya, May?"
"Setelah dari bank, saya mau kita langsung mengamankan seluruh berkas transaksi penjualan aset fiktif yang dilakukan Prilia. Kalau wanita itu atau ibunya berani menampakkan diri lagi untuk menuntut hak atas perusahaan ini, saya tidak akan segan membawa bukti-bukti ini ke jalur hukum."
Pak Baskoro tersenyum tegas, menyusun kembali berkas-berkas di dalam tas kulitnya. "Itu keputusan yang sangat tepat, May. Lawan harus dihadapi dengan hukum yang sah.
Bersambung
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇