Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.
(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Sepuluh tahun berlalu.
Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.
Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".
Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.
Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 (KASUS 1) KEJANGGALAN ORGAN DALAM KI SUROTO
Lantai semen koridor basah di bagian belakang Gedung Laboratorium Forensik Dokpol Bhayangkara berkilat dipancari pendaran lampu neon putih yang kaku. Aroma karbol steril beradu pekat dengan bau amis kental dan sisa-sisa uap belerang yang masih mengendap samar di udara.
Pukul 18.30 WIB. Roda-roda kantong jenazah meluncur deras di atas lantai keramik. Aipda Rudi bersama dua anggota tim taktis Jatanras mengawal ketat brankar dorong berisi jasad Ki Suroto yang baru saja tewas mengenaskan secara tidak wajar di dalam Ruang Interogasi Utama.
Ipda Harumi berjalan tegap di depan brankar, menyapu pandangan mata batinnya ke sekeliling koridor untuk memastikan tidak ada celah ancaman gaib yang mengintai. Di sebelahnya, dr. Haruma melangkah anggun seraya membawa map bening berisi formulir permintaan Otopsi Medikolegal Lanjutan.
"Aipda Rudi, tempatkan jasad ini langsung di atas meja pembedahan utama Ruang Otopsi Satu," perintah Harumi tegas begitu mereka tiba di depan pintu ganda berlapis baja kedap udara.
"Siap, Bu Kanit! Langsung kami pindahkan," sahut Rudi sigap.
Pintu ganda baja itu terbuka dengan desis hidrolik yang halus. Dua petugas fasilitas medis berbaju hijau dengan dibantu Rudi mengangkat jasad Ki Suroto yang sudah terbungkus kantong hitam tebal ke atas meja pembedahan stainless steel berdinding drainase di tengah ruangan.
Usai memindahkan jasad, Aipda Rudi dan personel taktis berdiri mundur mendekati pintu.
"Pemeriksaan luar dan dalam akan segera dimulai," ujar dr. Haruma memutar tubuhnya menghadap Rudi dan anak buahnya. "Pak Rudi dan anggota Jatanras dipersilakan menunggu di ruang pemantau kaca steril di sebelah. Hanya personel medis resmi yang diizinkan berada di dalam zona isolasi otopsi."
"Baik, Dokter Haruma. Kami siap bersiaga di ruang pemantau," jawab Rudi seraya memberi hormat tegap, lalu memandu anggotanya melangkah keluar menuju ruang pemantau kaca satu arah.
Namun, tepat saat pintu baja hendak bergeser menutup, Ipda Harumi mendadak menghentikan langkahnya di ambang pintu. Pandangan matanya yang tajam menatap ke arah meja pembedahan stainless steel tempat jasad Ki Suroto terbaring.
Rasa penasaran yang teramat besar bergejolak di dalam dada sang polwan Jatanras.
"Kak Haruma..." panggil Harumi pelan seraya memegang bingkai pintu baja.
dr. Haruma yang baru saja mengenakan apron tebal kedap air menoleh. "Iya, Dek?"
"Rumi ikut masuk ke dalam ya?" pinta Harumi dengan mata membulat, menunjuk meja pembedahan. "Rumi penasaran banget sama kondisi organ dalam Ki Suroto. Mau lihat langsung proses pembedahannya dari dekat."
dr. Haruma menghentikan gerakannya yang sedang merapikan sarung tangan steril. Dokter forensik cantik itu menatap adiknya dengan raut wajah yang amat serius, ramah, namun memancarkan ketegasan profesionalitas kedokteran yang tak terbantahkan.
"Tidak boleh, Harumi," panggil Haruma dengan gelar resminya. "Secara Kode Etik Kedokteran Forensik dan Standar Operasional Prosedur Otopsi Medikolegal, penyidik kepolisian tidak diperkenankan berdiri di zona steril pembedahan."
Harumi memiringkan kepalanya, mencoba membujuk kakaknya. "Aduh, Kak... kan cuma Rumi doang. Rumi kan Kanit yang nanganin kasus ini langsung. Lagian Rumi juga mau mastiin nggak ada sisa zat racun gaib yang membahayakan Kakak."
Haruma melangkah mendekati adiknya, berdiri tepat di ambang pintu. Ia menepuk pelan bahu Harumi dengan kelembutan seorang kakak sulung.
"Justru karena kamu penyidik utamanya, Dek," tutur Haruma jernih. "Peneliti dan penyidik harus menjaga jarak objektivitas. Jika terjadi paparan racun biologis, gas busuk tingkat tinggi, atau dekontaminasi zat berbahaya saat rongga dada dibedah, keselamatanmu bisa terancam. Tempatmu adalah di balik kaca pemantau bersama Rudi."
Haruma menyunggingkan senyuman bahagianya yang paling anggun, mengubah intonasi suaranya.
"Lagian ya, Adikku yang paling cantik... bau organ dalam yang terkena sihir pencuri usia itu racunnya menusuk banget ke hidung," kekeh Haruma renyah. "Kakak nggak mau hidung mancungmu itu bersin-bersin gara-gara uap busuk di dalam sini. Kamu tunggu manis di sebelah ya? Nanti seluruh rekaman audio-visual dan salinan hasil pembedahan bakal Kakak serahkan penuh ke kamu."
Harumi mendesah pelan seraya tertawa renyah, menyerah pada ketegasan profesional kakaknya.
"Yaaah, Kak Haruma pelit amat... tapi ya udah deh, bener juga kata Kakak," ujar Harumi renyah sambil membusungkan dadanya bercanda. "Demi prosedur hukum dan demi keselamatan hidung Rumi yang imut ini, Rumi nunggu di balik kaca deh. Awas ya Kak, jangan ada detail yang kelewatan!"
Haruma tertawa kecil, mencubit pelan pipi adiknya dengan gemas. "Sip! Beres, Adikku tersayang. Sana masuk ke ruang kaca."
"Oke, Kakakku yang paling jenius! Selamat membedah!" pamit Harumi riang sebelum melangkah mundur menuju ruang pemantau di sebelah.
Sret... KLAK!
Pintu baja kedap udara bergeser menutup rapat, mengunci Ruang Otopsi 1 dalam kondisi isolasi penuh.
Lampu op-lamp gantung berdaya besar di atas meja pembedahan stainless steel dinyalakan. Pendaran cahaya putih terang benderang menyiram tubuh kaku Ki Suroto.
dr. Haruma berdiri tegap di samping meja. Ia telah mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) Tingkat Tiga lengkap: baju hazmat kedap air, apron tebal, kacamata goggle, visor pelindung wajah, masker N95 ganda, serta tiga lapis sarung tangan karet steril. Di samping kanan meja, Bripda Bowo—asisten forensik muda—sudah siap menggenggam kamera dokumentasi dan alat perekam diktafon resmi.
"Bowo, aktifkan Perekam Otopsi Nomor Registrasi 105," instruksi Haruma dengan suara profesional yang mantap dari balik masker.
"Siap, Dokter Haruma! Perekam audio dan video aktif!" sahut Bowo seraya menekan tombol perekam di meja instrumen.
Haruma melangkah mendekati kepala jenazah. "Pemeriksaan Luar Jenazah atas nama Ki Suroto, laki-laki, usia terdaftar lima puluh dua tahun. Kondisi fisik luar menunjukkan pembusukan jaringan seketika (instantaneous decomposition). Kulit wajah, leher, dan dada atas mengalami hiperpigmentasi kehitaman dengan pelebaran pembuluh darah vena yang membengkak kaku."
Jemari Haruma meraba permukaan kulit leher dan rahang jenazah yang terasa sangat keras dan dingin bagaikan batu.
"Tidak ditemukan adanya trauma mekanis tumpul atau tajam yang menyebabkan kematian di area vital luar," lanjut Haruma memandu rekaman. "Selanjutnya kita masuk pada prosedur Pembedahan Rongga Dada dan Perut (Thoracotomy dan Laparotomy)."
Haruma menjangkau pisau bedah (scalpel) bernomor 10 berbahan baja kedap karat. Jemari tangannya yang sangat stabil memposisikan mata pisau tepat di lekukan leher bawah (incisura jugularis).
"Insisi Y dimulai..." gumam Haruma pelan.
Sreeek...
Mata pisau bedah di tangan Haruma bergerak mantap, menyayat jaringan kulit dan lapisan lemak subkutan dari leher kiri dan kanan menuju tengah tulang dada (sternum), lalu dilanjutkan lurus menyusur garis tengah perut hingga berakhir di atas tulang kemaluan (symphysis pubis).
Saat lapisan kulit dan fasia dada Ki Suroto terbelah terbuka...
dr. Haruma menggunakan gergaji tulang (bone saw) dan tang pemotong tulang iga untuk memotong rawan iga kiri dan kanan, lalu mengangkat lempeng tulang dada (sternum) jenazah ke atas piringan instrumen.
Kreeek... Klllak!
Rongga dada dan rongga perut Ki Suroto terbuka lebar sepenuhnya di bawah pendaran lampu op-lamp.
Namun...
Tepat di detik saat organ-organ dalam Ki Suroto terekspos terbuka ke udara ruangan...
Wussssshhh!
Secara yang teramat sangat mendadak dan mengerikan...
Uap asap hitam kental beraroma busuk yang luar biasa pekat menyembur keluar dari dalam rongga dada Ki Suroto!
"Astagfirullahal'adzim...!" jerit Bripda Bowo terperanjat hebat, refleks melangkah mundur dua langkah seraya memegangi visor pelindung wajahnya.
Aroma yang keluar dari dalam rongga tubuh Ki Suroto sungguh di luar batas kemanusiaan!
Bau busuk daging yang membusuk bertahun-tahun berbaur sengit dengan uap belerang pekat, aroma minyak cengkeh terbakar, dan bau anyir darah hitam yang membakar indera penciuman meski telah terhalang oleh dua lapis masker N95!
Di balik kaca ruang pemantau, Ipda Harumi dan Aipda Rudi bisa melihat uap hitam tipis yang membumbung di dalam ruang pembedahan. Harumi mengepalkan tangannya, mata batinya bergetar melihat pusaran sisa sihir pencuri usia yang keluar dari rongga dada jenazah.
Namun, dr. Haruma tetap berdiri tegap di samping meja. Dengan ketenangan keteguhan batin dan keahlian dokter forensik kasta tertinggi, Haruma memajukan posisinya, menunduk meneliti isi rongga dada dan perut Ki Suroto.
Dan betapa terkejutnya dr. Haruma saat mata telanjangnya menatap wujud fisik organ-organ dalam milik sang perantara sihir tersebut!
"Masya Allah...!" bisik Haruma dengan nada suara yang terperanjat luar biasa.
Mata Haruma membelalak lebar di balik kacamata goggle-nya. Jantungnya berdesir hebat menyaksikan kejanggalan anatomis yang teramat sangat ekstrem dan tidak masuk akal secara ilmu kedokteran mana pun di dunia!
Organ-organ dalam Ki Suroto—seorang pria berbadan tinggi besar berusia lima puluh dua tahun—memiliki wujud dan kondisi fisik yang SAMA PERSIS dengan organ dalam almarhum Jonathan Nasution...
Namun dalam skala kerusakannya jauh lebih hancur dan mengerikan!
"Bowo! Dekatkan kamera dokumentasi ke atas rongga dada sekarang!" perintah Haruma dengan intonasi suara yang bergetar menahan keheranan yang mendalam.
Bowo dengan tangan gemetar mengarahkan lensa kamera makro beresolusi tinggi tepat ke dalam rongga dada jenazah.
"Pemeriksaan Dalam Rongga Dada dan Abdomen..." dikte Haruma ke dalam mikrofon rekaman, suaranya jernih melukiskan penemuan menakjubkan tersebut. "Ditemukan atrofi seluler dan pengkerutan masif yang teramat ekstrem pada SELURUH organ vital korban!"
Haruma menjangkau pinset anatomi panjang, perlahan-lahan mengangkat organ jantung (cor) milik Ki Suroto.
Organ jantung pria bertubuh besar itu yang seharusnya berukuran sebesar genggaman tangan dewasa...
Kini telah mengkerut, mengecil, dan menyusut hingga ukurannya tak lebih besar dari telur ayam kampung!
Konsistensi jaringan jantung itu kaku, mengeras bagaikan batu karang hitam, dan permukaannya tertutup rapat oleh lapisan jelaga kehitaman yang mengering!
"Lihat ini, Bowo..." tunjuk Haruma dengan pinsetnya. "Jantung korban mengalami penyusutan volume lebih dari tujuh puluh persen. Pembuluh darah koroner mengalami nekrosis total dan kalsifikasi berat secara mendadak."
Haruma berpindah memeriksa rongga paru-paru (pulmo). Kedua belah paru-paru Ki Suroto tidak lagi berwarna merah muda kenyal, melainkan telah menyusut menjadi gumpalan daging hitam legam yang melipat kaku di sudut belakang rongga dada.
Begitu pula dengan organ hati (hepar), ginjal (ren), dan usus (intestinum) di rongga perut—semuanya mengecil, mengkerut, mengering, dan membusuk penuh oleh warna hitam legam yang mengeluarkan cairan berbau amis belerang!
Haruma menarik napas panjang, mencerna fakta medis dan gaib di hadapannya dengan sangat teliti.
"Kondisi fisiologis organ dalam Ki Suroto memiliki destruksi pola seluler yang identik seratus persen dengan organ dalam Jonathan Nasution pada otopsi Visum Nomor 104," papar Haruma mantap ke dalam rekaman. "Namun pada Ki Suroto, tingkat atrofi dan nekrosis jaringannya mencapai stadium terminal empat—kondisi organ yang setara dengan jaringan tubuh lansia berusia di atas 100 TAHUN yang telah mengalami pemusnahan racun internal secara simultan!"
Haruma menyandarkan pinsetnya di piringan stainless steel.
Ia menyadari kebenaran yang teramat sangat mengerikan: Ki Suroto bukan hanya sekadar eksekutor yang menyalurkan sihir pencuri usia kepada para korban demi melayani Keluarga Taipan...
Tetapi sihir pencuri usia itu juga secara perlahan memakan dan menggerogoti organ dalam Ki Suroto sendiri sebagai harga tumbal (backlash) dari perjanjian iblis tersebut!
Dan begitu Ki Suroto tewas akibat sihir pembungkam mulut di ruang interogasi tadi, seluruh sisa sihir yang tertanam di darahnya meledak dan mencerna organ dalamnya hingga membusuk seketika!
"Ambil sampel spesimen jaringan jantung, paru-paru, hati, dan cairan empedu," instruksi Haruma pada Bowo. "Masukkan ke dalam tabung formalin steril bernomor seri 105-A sampai D. Kita butuh uji patologi anatomi dan toksikologi pembanding sore ini juga."
"Siap, Dokter Haruma!" sahut Bowo seraya menjangkau botol-botol sampel transparan.
Satu jam kemudian, seluruh prosedur otopsi pembedahan organ dalam Ki Suroto telah selesai dikerjakan dengan sangat sempurna dan mendalam oleh dr. Haruma. Jasad sang perantara sihir yang telah dijahit rapi kembali dipindahkan ke dalam lemari pendingin isolasi bernomor registrasi khusus.
dr. Haruma melangkah keluar dari zona pembersihan diri (scrub-room). Ia telah melepas hazmat dan apron tebalnya, kini mengenakan blouse krem yang rapi seraya mengeringkan tangannya dengan kain handuk steril.
Di ruang tunggu luar laboratorium, Ipda Harumi sedang duduk di kursi panjang seraya memangku dua cangkir teh chamomile hangat yang baru dibelinya dari kantin markas.
Begitu melihat pintu zona steril terbuka dan kakaknya melangkah keluar, Harumi seketika berdiri tegak.
"Kak Haruma!" panggil Harumi antusias. Ia melangkah cepat mendekati kakaknya, menyerahkan satu cangkir teh hangat. "Gimana hasil otopsinya, Kak?!"
Haruma menerima cangkir teh hangat tersebut, menyunggingkan senyuman bahagianya yang paling anggun walau raut wajahnya menyisakan keheranan yang mendalam. Ia menyesap teh hangat itu sedikit, merasakan kehangatan yang menetralkan rasa sesak di dadanya.
"Terima kasih teh hangatnya ya, Adikku yang manis," ujar Haruma lembut.
Haruma merangkul bahu adiknya, memandu Harumi duduk kembali di kursi panjang koridor yang tenang.
"Gimana organ dalamnya Ki Suroto, Kak?" cecar Harumi penasaran dengan mata berkilat-kilat. "Sama kaya Jonathan Nasution nggak?"
Haruma menatap mata adiknya lurus-lurus, menganggukkan kepalanya dengan raut wajah amat serius.
"Bukan cuma sama, Rumi... tapi BENTUK DAN KONDISINYA BERSAING 100%!" ungkap Haruma membongkar fakta medis otopsi tersebut.
Harumi terbelalak kaget. "Demi apa, Kak?! Organ dalamnya Ki Suroto mengkerut juga?!"
"Iya, Dek!" terang Haruma dengan penjelasan medis yang sangat jernih dan mudah dipahami. "Jantung, paru-paru, hati, sampai ginjal Ki Suroto semuanya menyusut ekstrem sampai ukurannya tinggal sepertiga! Warnanya hitam legam, mengering kaku bagaikan batu, dan membusuk penuh uap belerang. Persis 100% sama destruksi organ yang Kakak temukan di jasad Jonathan waktu otopsi pertama!"
Harumi menarik napas dalam-dalam, pikirannya yang tajam sebagai Kanit Jatanras bergerak cepat menghubungkan titik-titik fakta tersebut.
"Ya Allah..." bisik Harumi terpana. "Berarti sihir pencuri usia yang dipake sama Sekte THE ONE itu pola kerjanya emang konsisten memakan organ dalam korbannya dari dalam ya, Kak?"
"Tepat sekali, Rumi!" timpal Haruma mantap. "Tapi ada satu kejanggalan lain yang jauh lebih mengerikan dari jasad Jonathan."
"Kejanggalan apa, Kak?"
Haruma mendekatkan posisinya, berbicara dengan intonasi pelan khusus untuk adiknya.
"Pada jasad Jonathan, organ dalamnya mengkerut setara lansia usia 80 tahun," papar Haruma. "Tapi pada Ki Suroto, tingkat pengkerutan dan pembusukan jaringannya jauh lebih parah... setara dengan lansia usia di atas 100 tahun! Itu artinya, Ki Suroto selama ini nggak cuma menyalurkan sihir itu ke orang lain, tapi vitalitas organ dalamnya sendiri ikut tersedot habis sebagai tumbal bayaran kepada Sekte THE ONE!"
Harumi mengepalkan kedua tangannya di atas paha. Matanya memancarkan kemurkaan dan keteguhan hukum yang teramat sangat tinggi.
"Gila..." bisik Harumi dingin. "Keluarga Taipan itu benar-benar iblis! Bahkan dukun kepercayaan mereka sendiri kaya Ki Suroto cuma dijadikan alat peras dan wadah tumbal yang habis manis sepah dibuang!"
Haruma mengusap tangan adiknya hangat, memberikan ketenangan dan dukungan jiwa.
"Tapi dengan ditemukannya kejanggalan organ yang identik ini, bukti sains forensik kita jadi 1.000% tak terbantahkan, Rumi," tutur Haruma tersenyum tegar. "Kini kita punya dua bukti Visum sah dengan pola kerusakan organ yang sama. Pihak mana pun—termasuk Budiarto dan pengacara Taipan—nggak akan pernah bisa ngelak lagi kalau ini adalah tindak pembunuhan berantai menggunakan sarana non-mekanis terorganisir!"
Harumi menoleh menatap kakaknya, menyunggingkan senyuman manisnya yang paling tegas dan renyah.
"Setuju 100%, Kakakku sayang!" seru Harumi penuh semangat seraya menyenggol pelan lengan Haruma. "Mati satu perantara sihir, justru ngebuka seluruh tabir kejahatan mereka. Besok pagi Rumi bakal bawa seluruh dokumen manifes dari padepokan Ki Suroto ke ruang Kombes Supriyadi!"
Haruma terkekeh renyah, meminum teh hangatnya kembali seraya menatap adiknya dengan rasa bangga yang melimpah. "Sip! Kakak bakal rampungkan draf laporan otopsi kedua ini malam ini juga biar besok pagi bisa langsung kita serahkan ke Komandan."
"Mantap! Duet forensik dan Jatanras emang nggak ada tandingannya!" gurau Harumi tertawa bahagia.
Di lorong Laboratorium Forensik yang sepi dan dingin, dua bidadari penegak keadilan itu saling tersenyum teguh.
Kejanggalan organ dalam Ki Suroto telah mengukuhkan fakta ilmiah di balik kekejaman sihir pencuri usia.
Dan dengan bukti otopsi yang sempurna di tangan dr. Haruma serta dokumen manifes di tangan Ipda Harumi, fajar esok hari siap menjadi saksi dimulainya serangan hukum dan operasional terbesar mereka untuk menyeret Keluarga Taipan dari takhta emasnya menuju kehancuran total.
intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
penampilan nya udah elit kok nama nya itu