NovelToon NovelToon
Kau Yang Ku Rawat Hingga Sembuh

Kau Yang Ku Rawat Hingga Sembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: SulSya

Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.

Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.

Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.

Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.

Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.

Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20

Ruang rapat kantor Bagas dipenuhi riuh tepuk tangan siang itu.

Di layar proyektor besar, nama Bagas terpampang jelas di urutan teratas sebagai top performer kuartal ini.

Atas pencapaian proyek besar yang berhasil ia menangkan, perusahaan memberikan bonus fantastis—lima puluh juta rupiah, cair hari ini juga.

Dengan senyum lebar yang tak sanggup ia sembunyikan, Bagas berjalan kembali ke kubikelnya.

Ponsel di genggamannya bergetar. Sebuah pesan dari Maya masuk.

“Gas, selamat ya atas pencapaian kamu hari ini! Aku bangga banget sama kamu.”

Bagas mengetik balasan dengan cepat, ada niat terlintas di benaknya.

“Makasih ya, May. Nanti malam kita makan malam bareng yuk, aku yang traktir.”

Tak sampai satu menit, Maya membalas: “Boleh, Gas. Btw, kalau bonus kamu turun... apa boleh aku pinjam sedikit untuk bantu renovasi atap dapur rumah yang bocor parah? Kasihan Ibu sama Rian kalau hujan deras.”

Membaca pesan itu, raut wajah Bagas mendadak berubah keruh. Ia mendesah pelan, mematikan layar ponselnya tanpa membalas.

"Baru saja dapat bonus, sudah mau dipotong buat urusan dapur bocor," gumam Bagas dengan nada ketus pada dirinya sendiri.

Bagas membuka aplikasi dompet digitalnya, menatap angka nominal bonus yang baru saja masuk ke rekeningnya.

Rasa bangga dan kepemilikan yang tinggi merayapi pikirannya. Ini uang hasil kerja kerasnya bertengkar dengan deadline, bermalam-malam lembur, dan menghadapi tekanan atasan.

Mengapa ia harus membaginya untuk masalah keluarga Maya?

Sore harinya, alih-alih menemui Maya, Bagas justru melangkahkan kaki ke sebuah pusat perbelanjaan mewah di pusat kota. Langkahnya mantap menuju boutique barang bermerek ternama.

Seorang pelayan toko berjas rapi menyambutnya dengan ramah. "Selamat sore, Pak. Ada yang bisa saya bantu cari hari ini?"

Bagas menepuk dada kemejanya, mencoba tampil meyakinkan.

"Saya mau lihat koleksi jam tangan terbaru. Yang kelihatan elegan dan berkelas untuk dipakai ke acara bisnis."

"Mari ikut saya, Pak. Kami punya koleksi automatic watch edisi terbatas yang sangat cocok untuk eksekutif muda," ujar pelayan itu seraya membimbing Bagas ke etalase kaca yang berkilau.

Bagas terpana melihat sebuah jam tangan bermerek asal Swiss dengan tali kulit jamur berwarna cokelat tua dan ornamen perak yang menawan.

Ia mencobanya di pergelangan tangan kirinya. Seketika, rasa percaya dirinya melambung tinggi.

"Berapa harganya?" tanya Bagas.

"Untuk seri ini harganya tiga puluh lima juta rupiah, Pak. Sudah termasuk garansi internasional lima tahun," jawab pelayan toko dengan senyum mengembang.

Tiga puluh lima juta, pikir Bagas sejenak. Angka yang fantastis.

Namun, bayangan saat ia diejek rekan-rekannya atau saat ia merasa canggung membawa Maya yang bersahaja kembali melintas.

Kalau aku pakai jam ini, Pak Hendra dan Riko pasti nggak akan pernah meremehkan aku lagi.

"Saya ambil yang ini," tegas Bagas tanpa ragu.

Tak berhenti di situ, Bagas berjalan ke toko sepatu kulit impor di lantai yang sama. Ia membeli sepasang sepatu oxford seharga tujuh juta rupiah dan tas kerja kulit asli seharga delapan juta rupiah.

Dalam waktu kurang dari dua jam, bonus lima puluh juta rupiah miliknya menguap begitu saja demi mengangkat status sosial yang ia dambakan.

Malam harinya, Bagas akhirnya bertemu dengan Maya di sebuah kedai kopi.

Bagas sengaja meletakkan jam tangan barunya di atas meja bersama kunci mobil, sementara tas kulit mewahnya ditaruh di kursi sebelah.

Maya menatap barang-barang baru di meja, lalu beralih menatap wajah Bagas dengan pandangan tak percaya.

"Kamu... beli jam tangan baru, Gas?" tanya Maya pelan, mencoba mencerna keadaan.

"Iya, dong. Ini merek Swiss, May. Asli," pamer Bagas bangga seraya mengangkat pergelangan tangannya. "Bagus, kan? Sepatu sama tas aku juga baru. Ini investasi penampilan buat karier aku ke depan."

Maya menelan ludah. Hatinya terasa begitu sesak. "Bagas... kamu habis berapa untuk semua ini?"

"Ya habis bonus aku tadi. Pas lima puluh juta," jawab Bagas santai sembari menyeruput kopinya.

Maya terpaku. Ada rasa perih yang begitu tajam menjalar di dadanya. "Lima puluh juta kamu habiskan dalam satu hari cuma buat barang-barang bermerek ini?"

"Kok 'cuma' sih, May?" potong Bagas dengan nada meninggi, merasa dihakimi.

"Ini kerja keras aku! Aku berhak menikmati hasilnya dan beli barang yang pantas buat mengangkat gengsi aku di depan bos!"

"Tapi kamu tahu kondisi rumahku, Gas," suara Maya gemetar, menahan air mata yang berkaca-kaca di sudut matanya.

"Aku sempat bilang atap dapur bocor parah sampai Ibu harus menadah air pakai ember tiap malam. Aku cuma minta tolong pinjam sedikit... tapi kamu malah menghabiskannya untuk jam tangan?"

Bagas mendengus kesal. "May, dengar ya! Masalah rumah kamu itu tanggung jawab keluarga kamu, bukan aku! Lagian, kamu sendiri gimana?

Kamu minta aku bantu keluarga kamu, tapi kamu sendiri nggak pernah mau usaha buat dandan atau beli baju bagus biar nggak bikin aku malu!"

Kata-kata itu bagaikan tamparan keras di wajah Maya. Tangannya tergetar di atas meja.

"Jadi menurut kamu... aku yang bersalah karena lebih memilih mengutamakan perut keluarga daripada beli baju mahal hanya demi gengsi kamu?"

bisik Maya, suaranya terdengar sangat dingin dan penuh luka.

"Bukan begitu, May, tapi kamu harus paham prioritas—"

"Cukup, Bagas," sela Maya cepat. Ia berdiri dari kursinya, menatap Bagas dengan pandangan yang sama sekali berbeda dari biasanya.

Tidak ada lagi rasa sayang di sana, hanya kekecewaan yang sudah mencapai puncaknya.

"Selamat atas jam tangan barumu. Semoga barang-barang mahal itu bisa bikin kamu merasa utuh,

" ucap Maya tenang sebelum membalikkan badan dan melangkah pergi, meninggalkan Bagas yang tertegun sendiri bersama barang-barang mewahnya.

1
Ma Em
Bagas tdk tau diri diwaktu dia sakit Maya yg mengurusnya sekarang setelah sehat malah mau menyingkirkan Maya tanpa memberi kompensasi apapun , semoga usaha Bagas yg dia agung agungkan itu bangkrut dan menerima karma yg sangat menyedihkan karena sdh berkhianat .
SulSya
👍terimakasih kk penyemangat maya
Ma Em
Ayo Maya bangkit tunjukan pada Bagas bahwa tanpa dia Maya bisa cari uang dan sukses , buat Bagas menyesal karena sdh menceraikan mu Maya .
Ma Em
Alhamdulillah Maya selamat dan ada orang yg menolong .
Ma Em
Maya kamu kok bisa kalah dari Bagas sampai ngemis ngemis bikin malu saja , semoga Maya bisa sukses balas si Bagas buat dia menyesal dan berlutut minta maaf sama Maya tapi jgn mau untuk memaafkan nya .
Ma Em
Bagus Maya kamu hrs tegas jgn bisanya cuma nangis itu wanita lemah , Maya hrs berani buat Bagas menyesal setelah ditinggalkan sama Maya .
Ma Em
Thor yg benar nama suami Maya itu sebenarnya Bagas atau Aris jadi bingung , sebentar dipanggil Bagas sebentar dipanggil Aris .
SulSya: Rania mengaku kepada Maya bahwa nama pacar nya itu Aris kepada Maya agar tidak ketahuan sama maya
total 1 replies
Ma Em
Maya kamu jgn cuma nangis cepat bergerak dan selidiki kelakuan Bagas diluar rumah seperti apa kelakuan nya .
SulSya: iya itu, ini malah nangis aja
total 1 replies
SulSya
🙏🙏
Ma Em
Lelaki modelan Bagas yg tdk pantas ditolong sama maya dulu lbh baik biarkan saja dia cacat dan tdk bisa berjalan lagi , sungguh menyebalkan setelah sehat dan mapan malah melupakan Maya yg merawat dan banting tulang untuk membiayai Bagas .
SulSya: bener banget tuh kak, besok kita siksa dia
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!