Jarinya dipotong. Adiknya mati. Tabungannya dirampas.
Dibuang seperti bangkai oleh bos kasino tempatnya mengabdi selama lima tahun, mantan bandar bernama Sora membangkitkan satu-satunya senjata yang tersisa yakni sistem yang memanipulasi probabilitas kenyataan.
Pisau yang harusnya menancap di dada? 0,01% peluang kena. Brankas yang harusnya terkunci rapat? 99,99% terbuka. Sekarang, meja taruhan sudah terbalik. Dan rumah kasino yang selalu menang akan ia beli sendiri.
Peringatan Konten: Cerita ini mengandung kekerasan fisik ekstrem, adegan penyiksaan berdarah, tema kriminalitas (judi, pemerasan, pencucian uang), trauma psikologis gelap, serta bahasa kasar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Memasang lima puluh juta rupiah di atas satu nomor tunggal (Straight Up) adalah taruhan nekat dengan rasio peluang 1 banding 37. Jika menang, kasino wajib membayar tiga puluh lima kali lipat dari nilai taruhan awal—angka yang akan langsung melumpuhkan seluruh cadangan uang tunai di meja nomor tiga malam ini.
Dealer muda berompi hitam itu menelan ludah. Matanya memandang lekat tumpukan cip emas di atas angka 24 Hitam, lalu beralih menatap wajah Sora yang tenang di balik kacamata tembaganya.
“Tuan… yakin?” tanya dealer itu dengan suara bergetar.
“Putar bolanya,” sahut Sora datar.
Dealer menarik napas panjang, lalu memutar piringan mahoni dan melemparkan bola gading ke lingkar luar.
Zrrrr… klak-klak-klak.
Bola gading meluncur kencang membelah udara temaram. Kecepatannya tinggi, memantul di dinding kayu dengan desau yang tajam.
Di bawah meja, ibu jari kanan Sora menekan tombol putih remote sakunya. Modul Gani memancarkan pulsa pembalik polaritas, memaksa medan magnet stator menolak sektor angka merah dan memusatkan gaya tariknya ke sektor angka hitam genap.
Namun dorongan magnetik saja tidak cukup untuk menjamin bola berhenti tepat di kantong nomor dua puluh empat; celah sekat kuningan antar-angka hanya selebar beberapa milimeter, dan benturan acak bola gading bisa dengan mudah memantulkannya ke angka tetangga seperti 5 Merah atau 16 Merah.
Sora memfokuskan kehendak pikirannya.
‘Refleks Bandar.’
Seketika, dunia di sekitar Sora melambat.
Suara pendingin ruangan memudar menjadi dengungan bass yang berat dan lambat. Gerakan piringan mahoni yang berputar kencang tampak melambat hingga setiap sekat kuningan bernomor terlihat jelas satu per satu di depan matanya. Bola gading putih yang meluncur kini tampak melayang pelan di udara layaknya gelembung sabun yang turun perlahan.
...----------------...
...[SISTEM KASINO]...
...[Kemampuan Aktif: Refleks Bandar (Durasi: 3 Detik)]...
...[Analisis Lintasan: Peluang Mendarat di 24 Hitam: 14,2%]...
...[Intervensi Probabilitas: Kunci Pendaratan 99,9%]...
...[Biaya Intervensi: 8 Point Chip]...
...[Konfirmasi: Ya / Batal]...
...----------------...
Dalam persepsi waktu tiga detik yang melambat itu, Sora tidak membiarkan sistem bekerja sendirian tanpa bantuan fisik.
Sebelum menekan konfirmasi, siku kiri Sora yang bersandar di tepi meja kayu mahoni bergeser tipis—hanya dua milimeter ke arah kanan saat ia membetulkan posisi duduknya. Sentuhan siku itu mengirimkan getaran halus melalui serat kayu meja, meredam gaya pantul sekat kuningan tepat pada lintasan nomor dua puluh empat.
Efisiensi kausalitas fisik tercipta secara sempurna.
‘Konfirmasi Ya.’
...----------------...
...[SISTEM KASINO]...
...[Intervensi Berhasil]...
...[Saldo Tersisa: 5 Point Chip]...
...----------------...
Waktu kembali melesat ke kecepatan normal dalam sekejap mata.
KLAK-KLAK-DUK.
Bola gading putih itu turun dari lingkar luar, menghantam sekat kuningan angka dua puluh empat hitam, memantul sekali setinggi setengah sentimeter, lalu terjatuh diam dan terkunci di dasar kantong nomor 24 Hitam tanpa bergeser sedikit pun.
Keheningan total melanda lantai dua Kasino Ruko Tiga Naga selama dua detik penuh.
Bahkan desah napas para pejudi di sekeliling meja seolah membeku.
“Dua… dua puluh empat Hitam,” bisik dealer kasino dengan suara tercekat. Tangannya yang memegang bidak penanda kuningan gemetar hingga bidak itu terjatuh ke atas karpet beludru dengan bunyi berdebuk pelan. “Genap… Tengah…”
“Menang…” bisik salah satu pengusaha di kerumunan dengan mata membelalak. “Dia tebak angka tunggal lima puluh juta… tembus…”
“Satu koma tujuh lima miliar!” teriak seorang pejudi lain dengan suara histeris. “Kasino harus bayar satu koma tujuh lima miliar rupiah!”
Keributan meledak seketika di sekitar meja nomor tiga. Para tamu VIP berdesakan maju, menunjuk-nunjuk tumpukan cip emas di atas angka dua puluh empat dengan wajah terperangah.
Dealer muda berompi hitam itu bersandar lunglai pada meja kayu, wajahnya pasi. Laci kas meja nomor tiga hanya berisi tiga ratus lima puluh juta rupiah; modal operasional meja telah tersedot habis tanpa sisa, dan kasino masih berutang satu koma empat miliar rupiah kepada pemuda bertopi pet itu.
Pengawas lantai berjas kelabu yang berdiri di dekat pilar cermin mendadak tersentak dari keterpakuannya. Tanpa mempedulikan teriakan para tamu atau etika pelayanan kasino, pria itu berbalik dan berlari tergesa-gesa menaiki anak tangga karpet merah menuju ruang kantor Jerry di lantai tiga.
Sora duduk tenang di kursinya, tangan kanannya merapikan letak kacamata tembaganya yang sedikit miring.
Ikan besar di lantai tiga baru saja menelan kailnya, dan badai yang sesungguhnya kini siap melanda ruko Tiga Naga.