NovelToon NovelToon
KEPERCAYAAN YANG BERHARGA

KEPERCAYAAN YANG BERHARGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Mengubah Takdir / Trauma masa lalu / Chicklit
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Sebuah kisah nyata tentang kehidupan seorang gadis cantik berhati lembut yang dipenuhi dengan beragam kebohongan yang ia buat hanya karena ia takut dengan apa yang akan ia hadapi,
Hingga akhirnya berujung dengan pernikahan yang membuatnya harus mengubur dalam dalam rasa penyesalannya karena harus berusaha untuk mencintai hal yang dicintai oleh suaminya, termasuk agama dan keyakinan pria yang menjadi pemuja hatinya itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Penyesalan di Bawah Sujud dan Bayang-Bayang Cinta Terlarang

Kilatan lampu kamera wartawan dan teriakan riuh di rumah kayu Gunung Salak itu perlahan memudar, berganti dengan deru angin malam yang berhembus dingin menembus jendela pelarian baru mereka. Setelah pengacara keluarga Ardiansyah dan aparat kepolisian mengambil alih situasi di Bogor, Gavin membawa Naya melintasi batas kota menuju sebuah kediaman tersembunyi di sudut Jakarta Selatan—sebuah rumah tua milik almarhum kakek Gavin yang tak pernah terjamah oleh radar publik maupun jaringan Eleanor.

Di dalam kamar beraroma kayu cendana dan buku-buku tua itu, Naya membentangkan sajadah tipisnya. Malam telah jatuh begitu pekat. Ia melipat mukena putihnya yang kusam, mengusap sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya, lalu bersujud.

Dalam sujud yang panjang itu, dadanya bergemuruh hebat. Air mata pernikahan yang mengalir bukan lagi sekadar akumulasi rasa takut atas skandal media atau kehancuran Ardiansyah Group. Air mata itu adalah lelehan penyesalan yang teramat dalam dari jiwa seorang wanita yang hidupnya dibangun di atas pilar-pilar kebohongan.

Sejak awal, Naya tahu ia melangkah di atas benang tipis yang rentan putus. Tiga tahun lalu, ketika ketakutan akan kejaran orang-orang Rian dan bayang-bayang trauma masa lalu saat ayahnya diseret polisi menguasai pikirannya, Naya memilih jalan paling berbahaya: ia memalsukan identitasnya. Ia menyembunyikan nama Anindya Naya di balik nama palsu, mengubur asal-usulnya, dan membiarkan Gavin Ardiansyah—seorang pria mapan dengan tatapan sarat obsesi—jatuh dalam pelukannya.

Keberaniannya menerima pinangan Gavin bukan hanya karena terpesona oleh ketampanan dan perlindungan pria itu, melainkan karena rasa takut yang melumpuhkan. Naya takut menghadapi kenyataan dunia. Ia takut miskin, takut tertangkap, dan takut dihakimi. Maka, ketika Gavin membawanya ke dalam dunianya yang megah, Naya memeluk kebohongan itu erat-erat.

Namun, harga dari kebohongan itu sangat mahal. Gavin adalah seorang pria muslim yang taat, sementara Naya kala itu hanyalah wanita yang menjalankan agama sebatas formalitas di KTP akibat trauma mendalam atas kemalangan hidupnya. Demi mempertahankan posisi di samping Gavin, demi menjaga agar rahasia identitasnya tidak terbongkar, Naya berpura-pura menjadi wanita solehah yang lembut. Ia belajar shalat lima waktu, memperdalam bacaan Al-Qur'an, dan merapikan hijabnya—bukan karena murni mencari keridaan ilahi, melainkan karena ia berusaha keras mencintai apa yang dicintai oleh suaminya. Ia ingin menjadi sosok ideal yang ada dalam imajinasi dan puja-puji Gavin.

"Ya Allah..." bisik Naya di atas sajadahnya, suaranya tercekik oleh tangis yang ditahan. "Apakah semua penderitaan ini adalah balasan atas setiap kebohongan yang kubisa? Aku berpura-pura mencintai agamamu demi menyenangkan suamiku, dan kini Engkau mencabut seluruh kedamaianku..."

Naya meremas kain sajadah. Penyesalan itu merayap bagaikan racun yang membakar relung hatinya. Ia ingat betul bagaimana di awal pernikahan, setiap kali Gavin memeluknya dengan ketulusan dan mengaji di samping pembaringan mereka, Naya merasa bagaikan seorang penipu besar. Ia menikmati kehidupan manis setelah patah hati masa lalunya, menikmati limpahan kasih sayang dan kemewahan gila dari pria yang memujanya bagaikan ratu, namun di dalam dadanya tersimpan bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Denting pintu kamar yang terbuka pelan memutus ikatan sujud Naya.

Gavin berdiri di sana. Pria itu sudah membalut luka pada telapak kakinya dengan perban putih. Wajahnya yang biasa tegas kini tampak tirus, diselimuti keletihan mental yang luar biasa. Tatapannya tertuju pada Naya yang masih bersimpuh di atas sajadah dengan mukena yang basah oleh air mata.

Gavin melangkah mendekat tanpa suara. Ia berlutut di samping Naya, mengulurkan tangannya yang gemetar untuk mengusap pipi istrinya.

"Naya..." bisik Gavin parau. "Kembalilah ke tempat tidur. Ini sudah jam dua malam. Tubuhmu butuh istirahat."

Naya tidak menghindar, namun ia juga tidak menatap mata Gavin. Tatapannya tertuju pada jemari Gavin yang mengusap pipinya. "Gavin... kenapa kamu tidak membenciku?"

Gavin mengerutkan keningnya, matanya memancarkan kepedihan yang mendalam. "Kenapa aku harus membencimu?"

"Karena aku wanita pembohong!" seru Naya dengan suara bergetar, akhirnya mendongak menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. Air mata baru mengalir deras melintasi pipinya. "Aku membohongimu tentang namaku! Aku membohongimu tentang latar belakang keluargaku! Bahkan... bahkan di awal pernikahan kita, aku berpura-pura menjadi wanita beriman hanya agar kamu tidak meninggalkanku! Aku mempelajari agamamu, aku memakai hijab ini, aku belajar bersujud... semuanya karena aku takut kamu membenciku jika kamu tahu siapa aku sebenarnya!"

Gavin membeku. Ruangan tua itu mendadak menghening, hanya diisi oleh suara napas Naya yang memburu dan terisak-isak.

"Aku takut pada dunia, Gavin!" tangis Naya meledak, menumpahkan seluruh beban trauma masa lalu yang selama tiga tahun ini menggerogoti jiwanya. "Aku takut ditangkap! Aku takut kelaparan! Aku membuat kebohongan demi kebohongan hanya karena aku penakut! Aku membuatmu mencintai sosok wanita yang sebenarnya tidak pernah ada... Dan ketika aku mulai benar-benar mencintaimu, ketika aku mulai benar-benar menemukan kedamaian dalam agama yang kamu ajarkan ini... kebenaran tentang ayahmu menghancurkan semuanya!"

Naya memukul dadanya sendiri dengan kepalan tangan, mencoba mengurangi rasa sesak yang menghimpitnya. "Pernikahan kita dibangun di atas fondasi yang kotor, Gavin! Aku membohongimu, dan keluargamu menghancurkan ayahku! Ini bukan pernikahan... ini adalah kutukan!"

Mendengar jeritan histeris dari wanita yang dipujanya, Gavin tak lagi mampu menahan gejolak di dadanya. Pria itu merengkuh tubuh Naya secara paksa ke dalam pelukannya. Ia mengunci tubuh Naya yang berguncang hebat, menenggelamkan wajah istrinya di ceruk lehernya.

"Cukup, Naya... Cukup, demi Allah cukup!" raung Gavin, air matanya sendiri menetes membasahi hijab Naya. "Kamu pikir aku tidak tahu?!"

Naya membeku dalam pelukan Gavin. Tangisnya terhenti sejenak, dadanya turun naik dengan cepat. "Apa... apa maksudmu?"

Gavin melepaskan pelukannya perlahan, menangkup kedua pipi Naya dengan jemarinya yang hangat. Matanya yang merah menatap Naya dengan campuran obsesi, ketulusan, dan cinta terlarang yang tak tertandingi oleh apa pun di dunia ini.

"Kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu berpura-pura di awal pernikahan kita?" bisik Gavin, suaranya gemetar hebat. "Aku tahu, Naya... Aku tahu cara memegang tasbihmu yang masih canggung tiga tahun lalu. Aku tahu kamu menghafal surah-surah pendek sambil bersembunyi di kamar mandi karena takut aku mendengarnya. Aku tahu kamu memalsukan identitasmu saat pertama kali melamar kerja di anak perusahaan Ardiansyah Group!"

Naya melotot, napasnya tertahan di tenggorokan. Seluruh persendiannya mendadak lemas. "Kamu... kamu sudah tahu sejak awal?"

"Ya! Aku sudah tahu semuanya!" seru Gavin dengan keputusasaan yang jujur. "Awalnya aku membiarkanmu karena rasa bersalah almarhum ayahku padamu. Tapi ketika aku melihat betapa gigihnya kamu berpura-pura, betapa takutnya matamu setiap kali melihat polisi di jalan, dan betapa kerasnya kamu berusaha menjadi istri yang baik untukku... hatiku hancur, Naya! Rasa bersalah itu berubah menjadi cinta yang membakar!"

Gavin mendekatkan wajahnya, menyatukan kening mereka di atas sajadah yang menjadi saksi bisu kebenaran tersebut.

"Aku tidak peduli kamu memulai pernikahan ini dengan kebohongan!" tekan Gavin penuh penekanan, setiap katanya menghantam jiwa Naya. "Aku tidak peduli jika di awal kamu belajar shalat hanya untuk menyenangkanku! Karena yang aku lihat adalah prosesmu, Naya! Aku melihat bagaimana kebohongan itu perlahan menjelma menjadi ketulusan. Aku melihat bagaimana kamu menangis sungguh-sungguh dalam sujud malammu setahun belakangan ini. Kamu bukan lagi wanita pembohong... kamu adalah istriku, Anindya Naya, wanita yang dipilih Allah untuk mengubah takdir hidupku!"

Kata-kata Gavin bagaikan air sejuk yang menyiram api penyesalan di dada Naya. Pengakuan suaminya bahwa ia telah mengetahui segalanya namun tetap memilih untuk mencintai dan melindunginya adalah sebuah tamparan sekaligus dekapan paling hangat dalam hidup Naya. Kehidupan manis setelah patah hati yang ia rasakan selama ini bukanlah sebuah ilusi belaka; itu adalah buah dari obsesi dan cinta suci pria yang berdiri di hadapannya.

Namun, di tengah keharuan yang menyayat hati itu, dering ponsel pribadi Gavin yang tersimpan di dalam saku jaketnya mendadak berbunyi nyaring. Getarannya memecah keheningan malam yang sakral.

Gavin mengusap air matanya dan meraih ponsel tersebut. Layar menampilkan nomor tak dikenal. Dengan firasat buruk yang mengantung di udara, Gavin menggeser tombol hijau dan menyalakan mode speaker agar Naya juga bisa mendengar.

"Gavin Ardiansyah..." suara di seberang telepon terdengar berat, dingin, dan menggunakan pengubah suara elektronik. "Pemandangan yang sangat indah di rumah kayu tadi pagi. Tapi sayang, permainan Rian hanyalah gertakan kecil."

Gavin memasang posisi siaga, merangkul bahu Naya lebih rapat. "Siapa kamu?! Apa maumu?!"

"Siapa aku tidak penting," jawab suara misterioso itu sambil terkekeh pelan—sebuah terkekeh yang mengalirkan rasa dingin ke sepanjang tulang belakang Naya. "Yang penting adalah kamu harus tahu bahwa Rian hanyalah pion kecil. Orang yang sebenarnya memerintahkan almarhum ayahmu untuk menjebak ayah Naya sepuluh tahun lalu... masih hidup bebas. Dan orang itu berada sangat dekat denganmu."

Naya menahan napasnya, mencengkeram lengan jaket Gavin erat-erat. Trauma masa lalu itu kembali mencengkeram jantungnya.

"Apa maksudmu?!" bentak Gavin, matanya menyala penuh amarah. "Sebutkan namamu!"

"Tanyakan pada istri manjamu itu, Gavin," bisik suara di telepon dengan nada bersiul jahat. "Tanyakan padanya tentang kekasih gelap ayahnya dulu. Tanyakan tentang wanita bernama Siska—wanita yang menjadi alasan utama kenapa ibu kandung Naya sekarat dan ayah Naya terdesak butuh uang sepuluh tahun lalu. Wanita yang kini duduk nyaman memegang saham rahasia Ardiansyah Group!"

Telepon seketika terputus dengan nada tut-tut-tut yang dingin.

Ruangan itu kembali tenggelam dalam keheningan yang mencekat. Naya terpaku. Nama 'Siska' yang diucapkan oleh suara misterius itu bagaikan kilatan petir yang membakar ingatan masa kecilnya yang paling kelam.

Siska. Wanita muda yang dulu menjadi selingkuhan ayahnya. Wanita yang menghancurkan keharmonisan keluarganya, yang menguras tabungan ayahnya hingga ibunya tak mampu berobat, dan wanita yang memicu cinta terlarang yang menjadi awal mula kehancuran total hidupnya!

"Siska..." gumam Naya lirih, bibirnya pucat pasi. "Jadi... keterlibatan ayahku dalam kasus penggelapan dana itu bukan cuma karena biaya berobat ibu... tapi karena jebakan cinta terlarang wanita itu?"

Gavin menatap Naya dengan pandangan penuh tanda tanya dan kekhawatiran yang memuncak. "Naya, kamu kenal nama itu? Siapa Siska sebenarnya?"

Naya tidak mampu menjawab. Tubuhnya berguncang hebat oleh kenyataan pahit yang terus-menerus menguliti hidupnya. Setiap kali ia mencoba bangkit dari satu lapisan kebohongan, lapisan kebenaran baru yang lebih kelam selalu siap menimbunnya kembali. Dosa masa lalu ayahnya ternyata bukan hanya pengorbanan demi ibu kandungnya, melainkan juga akibat dari perselingkuhan dan pengkhianatan yang memuakkan.

Rasa kotor dan tak layak kembali menyeruak di dada Naya. Bagaimana mungkin ia, seorang anak dari pria yang terjerat perselingkuhan dan kasus kriminal, pantas bersanding dengan Gavin yang begitu murni memujanya?

"Gavin..." bisik Naya dengan mata yang dipenuhi kepekaan emosional yang amat dalam. "Keluargaku... ternyata jauh lebih busuk dari yang kamu bayangkan. Ayahku bukan cuma korban... beliau juga pelaku pengkhianatan pada ibuku..."

"Naya, dengarkan aku!" Gavin mencengkeram kedua bahu Naya, memaksa istrinya menatap matanya. "Dosa ayahmu adalah milik ayahmu! Kesalahan masa lalu keluargamu bukan tanggung jawabmu! Aku tidak menikah dengan masa lalu ayahmu, Naya! Aku menikah denganmu! Dengan Anindya Naya yang ada di depanku saat ini!"

"Tapi kenyataan ini tidak bisa dihapus, Gavin!" jerit Naya pilu. "Bagaimana bisa kita mengubah takdir jika setiap jengkal langkah kita selalu terikat pada darah dan pengkhianatan masa lalu?!"

"Kita ubah takdir itu bersama-sama!" potong Gavin tegas, suaranya sarat dengan tekad yang tak tergoyahkan. "Jika masa lalu ingin menghancurkan kita, maka kita akan hancurkan masa lalu itu sampai tak tersisa! Aku akan membongkar siapa Siska, aku akan memenjarakan Rian, dan aku akan membersihkan namamu dari semua kebohongan ini. Tapi aku butuh kamu di sampingku, Naya. Jangan pernah lepaskan tanganku lagi!"

Naya menatap wajah suaminya. Di dalam mata Gavin yang membara, Naya melihat sebuah kepercayaan yang begitu berharga—sebuah kepercayaan yang tidak pernah goyah meski diterpa badai kebohongan, skandal, dan dosa darah keluarga.

Di atas sajadah yang masih terbentang, di bawah naungan doa malam dan janji suci yang telah diuji oleh air mata pernikahan, Naya mengangguk pelan. Ia menyatukan jemarinya dengan jemari Gavin yang berdarah, mengubur dalam-dalam rasa penyesalannya, dan memilih untuk bertaruh pada cinta murni suaminya.

Namun, di luar sana, di tengah kegelapan malam Jakarta yang dingin, sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan gerbang kediaman tua tersebut. Di dalam mobil, seorang wanita paruh baya dengan pakaian anggun dan perhiasan berkelas menyesap rokok tipisnya.

Di layar ponsel wanita itu, tertera pesan dari Rian: Gavin dan Naya ada di dalam. Eksekusi sekarang sebelum mereka menemukan berkas saham atas nama Siska.

Wanita itu tersenyum dingin, mematikan rokoknya di asbak, lalu menatap rumah tua itu dengan pandangan membunuh.

Siapakah sosok Siska sebenarnya? Apakah ia adalah musuh dalam selimut yang selama ini mengatur jalan cerita kehidupan Naya dan Gavin dari balik layar Ardiansyah Group? Dan sanggupkah ikatan cinta dan keimanan yang baru saja dikukuhkan di atas sajadah itu menyelamatkan nyawa mereka dari ancaman pembunuhan yang sudah di depan mata?

#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah, ada cerita aku yg lain yg ngga kalah seru juga loh, judulnya AKU TAK SALAH, dan TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA, ingat guys, subscribe, like, dan komen, share juga yah 🙏😭😘

1
Renjana
hadir kak😊
Lisye Aisyah Hematang: Makasih kak 🙏
total 1 replies
azza Binury
mudahan pembacanya rame ya kak. Kata-kata nya bagus lho ... aku masih belajar
Lisye Aisyah Hematang: Amin, makasih kak... Semangat yah kak, pasti bisa 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!