NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Semua orang bilang Laras sial.

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, ia dicampakkan dalam semalam begitu putri kandung yang sesungguhnya—**Tiara**—pulang lewat tes DNA. Dan ketika Tiara menolak menikahi "duda tua beranak tiga dari kampung" yang lamarannya sudah diterima, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi nama baik.

Sebuah desa asing. Seorang lelaki dingin dan pendiam. Tiga anak yatim yang kurus, waspada, dan salah satu balita yang bahkan belum bisa bicara. Semua menyangka Laras "menikah turun derajat" dan pasrah pada nasib.

Tak ada yang tahu—rumah termewah satu-satunya di desa itu adalah miliknya. Bahwa lelaki pendiam bernama **Arya** itu adalah **mantan perwira Kopassus** yang disegani para jenderal, seorang **konglomerat yang menyamar** di balik peternakan sapi.
Dan tak ada yang menyangka: duda "tua" yang katanya dingin itu justru **memanjakan istrinya setiap hari**—diam-diam, dengan tindakan, sampai membuat seluruh desa iri.

Sedikit demi sedikit, Laras membalik keadaan. Ia besarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius. Ia permalukan satu per satu orang yang pernah memandangnya rendah. Ia bangkit dari "ibu tiri kampungan" menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.

Tapi keluarga yang membuangnya belum menyerah. Tiara masih menginginkan segalanya yang "seharusnya" jadi miliknya. Dan rahasia asal-usul ketiga anak itu—darah keluarga konglomerat **Adiwangsa**—bisa mengubah segalanya…

*"Kamu menikahiku karena terpaksa," katanya suatu malam. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31: Wati Mencuri Resep

Wati buru-buru menurunkan ponsel.

“Aku cuma memotret masakan,” katanya.

“Kenapa diam-diam?”

“Untuk status WhatsApp. Biar orang tahu masakan Lebaran di rumah Kak Arya enak.”

Aku mengulurkan tangan. “Tunjukkan fotonya.”

Dia tertawa, tetapi akhirnya membuka galeri. Foto itu tidak hanya menangkap panci. Di belakangnya terlihat botol rempah, urutan wadah, dan halaman buku resep yang sempat kubuka di meja.

“Hapus,” kataku.

“Mbak serius sekali.”

“Itu catatan usaha.”

Wati menghapus foto di depanku. Dia bahkan membuka folder sampah dan menghapusnya lagi setelah kuminta. Sofyan memanggil dari luar, lalu mereka berpamitan tidak lama kemudian.

Sebelum keluar, Wati menahan lenganku. “Mbak, aku ini adik Kak Arya. Masa satu foto saja dianggap mencuri?”

“Kalau hanya foto makanan, saya tidak keberatan. Tapi kamu sengaja memasukkan halaman catatan dan bumbu.”

“Keluarga seharusnya saling membantu.”

“Membantu dimulai dengan meminta izin.”

Wati mengembuskan napas. “Baiklah. Aku tidak akan melakukannya lagi.”

Jawabannya terlalu cepat, tetapi suasana Lebaran bukan tempat untuk memperpanjang pertengkaran di depan keluarga. Aku mengunci buku resep setelah tamu pulang dan mengatakan kepada diri sendiri bahwa batas sudah disampaikan dengan jelas.

Kupikir masalah selesai.

Dua hari setelah Lebaran, Wati datang kembali dengan alasan ada parcel yang tertinggal. Arya sudah pergi ke peternakan. Aku sedang mengantar pesanan ke warung bersama Sasa, sedangkan Raka dan Bayu bermain di halaman belakang.

Wati membawa sekantong camilan dan mobil mainan kecil.

“Untuk Bayu,” katanya.

Bayu menerima mobil itu dengan mata berbinar. “Benar untukku?”

“Tentu. Tapi Bibi butuh bantuan sedikit.”

“Apa?”

Wati merendahkan suara. Dia meminta Bayu melihat buku resepku dan mengingat bahan rendang: rempah apa yang dipakai, kapan santan dimasukkan, dan berapa lama api dinyalakan.

“Kenapa Bibi tidak tanya Bunda?”

“Bunda pasti malu berbagi rahasia. Bibi cuma ingin membuat kejutan untuk suami. Jangan bilang dulu, nanti bukan kejutan.”

Bayu ragu, tetapi camilan dan mobil sudah ada di tangannya. Dia masuk ke dapur, menemukan buku catatan kecil yang lupa kukunci setelah memasak pagi, lalu mencoba membaca dua halaman.

Catatan itu memakai singkatan, angka, dan tanda koreksi yang hanya kupahami bersama Raka. Bayu mengingat cabai, santan, serai, dan beberapa rempah. Dia terbalik menyebut urutan menumis, lupa satu bahan, serta mengira angka waktu istirahat sebagai lama memasak.

Dia juga salah membaca tanda kali sebagai huruf. Catatan “2 x aduk” berubah menjadi dua sendok bahan yang tidak pernah ada. Suhu api yang kutulis “kecil” di tepi halaman tidak terbaca karena terkena noda minyak.

Bayu berusaha kembali ke dapur untuk melihat sekali lagi, tetapi Sasa yang baru bangun mulai menangis dari kamar. Dia memilih menggendong adiknya dan lupa setengah bahan yang baru dibaca. Ketika kembali ke teras, jawaban yang keluar sudah bercampur antara resep rendang, semur, dan kue talam.

“Bibi catat sendiri saja dari buku,” katanya.

“Tidak boleh. Kalau Bunda tahu, dia akan marah pada Bibi.”

“Berarti ini salah?”

Wati memberinya satu bungkus cokelat lagi. “Bukan salah. Ini rahasia kejutan.”

Bayu menerima cokelat, tetapi tidak langsung membukanya. Rasa senang karena hadiah perlahan berubah menjadi beban yang membuat bahunya turun.

Wati menuliskannya di kertas.

“Cuma begitu?”

“Ada banyak angka.”

“Kamu tidak hafal?”

Bayu menggeleng.

“Tanya Kak Raka. Bilang ini tugas sekolah.”

Setelah Wati menunggu di teras, Bayu mencari kakaknya di kamar. Raka sedang membaca buku matematika ketika adiknya menutup pintu.

“Aku melakukan kesalahan,” bisik Bayu.

Dia menceritakan semuanya tanpa mengurangi satu bagian pun: camilan, mobil, kejutan palsu, dan halaman resep yang dilihat diam-diam.

Raka menatap mainan di tangan adiknya. “Bibi Wati ingin menjual masakan Bunda.”

“Katanya untuk Paman Sofyan.”

“Kalau cuma untuk suaminya, tidak perlu tahu jumlah produksi.”

Bayu langsung pucat. “Aku harus bilang Bunda?”

“Nanti.”

“Kenapa nanti?”

“Karena sekarang Bibi menunggu.”

Raka mengambil kertas dan menyalin catatan Bayu dengan tulisan lebih rapi. Dia tidak menambahkan racun atau bahan berbahaya. Dia hanya membiarkan semua kesalahan Bayu tetap ada, lalu membuat urutannya tampak meyakinkan. Jumlah santan tertukar dengan jumlah air, rempah yang seharusnya ditumis ditulis masuk belakangan, dan waktu masak dibuat terlalu singkat untuk menghasilkan rendang yang benar.

“Jangan tulis bahan aneh,” kata Bayu.

“Aku tidak menambah bahan.”

“Jangan sampai orang sakit.”

Raka menunjuk setiap baris. “Semuanya bahan dapur biasa. Rasanya hanya tidak akan sama.”

Dia memahami angka lebih baik daripada Bayu, tetapi tidak memahami pengolahan makanan sebaik orang dewasa. Karena itu dia tidak mencoba menghitung batas aman, masa simpan, atau hal lain yang tidak diketahuinya. Baginya, kertas tersebut sekadar daftar salah yang akan membuat masakan gagal, bukan sesuatu yang seharusnya dijual kepada orang banyak.

“Ini bohong,” kata Bayu.

“Bibi lebih dulu menyuruhmu mencuri.”

“Kalau makanannya tidak enak?”

“Dia bisa bertanya baik-baik kepada Bunda dan belajar dari awal.”

Raka melipat kertas. “Kita tidak menyuruh dia menjual. Kita juga tidak memasukkan apa pun yang membuat orang sakit.”

Bayu masih tampak bersalah, tetapi membawa kertas itu ke teras.

Wati membaca cepat, lalu tersenyum puas. Dia memasukkan catatan ke dalam tas dan mengusap kepala Bayu.

“Pintar. Bibi tidak salah sayang kepadamu.”

Ketika aku pulang, Wati sudah bersiap kembali ke kota. Dia mengatakan parcelnya ditemukan dan mencium pipi Sasa sebelum naik motor.

Aku melihat bungkus camilan di tangan Bayu dan mobil baru di lantai.

“Dari mana?” tanyaku.

“Bibi Wati.”

Bayu tidak berani menatapku. Raka berdiri di dekat pintu kamar dengan wajah terlalu tenang.

“Kenapa Bibi kembali?”

“Cari parcel,” jawab Raka.

“Dan memberi hadiah?”

Bayu mengangguk pelan.

Aku tidak langsung menginterogasi. Anak yang sudah merasa bersalah bisa semakin menutup diri jika didesak di depan saudaranya. Aku meminta mereka mencuci tangan, menyimpan camilan, dan tidak memakan semuanya sekaligus.

“Malam nanti kita bicara,” kataku.

Bayu menelan ludah. Raka tetap diam. Reaksi mereka memastikan ada sesuatu yang belum diceritakan, meski aku belum tahu bentuknya.

Kecurigaanku bangkit. Setelah Wati pergi, aku memeriksa lemari resep. Pintunya tidak rusak, tetapi buku yang tadi pagi kutaruh miring sekarang berada dalam posisi tegak.

Aku memindahkannya ke kotak berkunci dan menyimpan kunci di sakuku.

Di ujung jalan, Wati menepuk-nepuk tas berisi kertas sambil tersenyum. Dia merasa sudah membawa rahasia usahaku pulang ke kota.

Tak seorang pun melihat Raka berdiri di balik pintu. Sudut bibirnya terangkat sangat tipis.

Di atas kertas yang dibawa Wati, semua kesalahan Bayu tampak seperti resep sungguhan.

Dan Wati terlalu yakin pada hasil curiannya untuk memeriksa ulang kepada orang yang benar-benar bisa memasak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!