kecelakan tragis itu merenggut nyawa Kiara, setelah mengetahui fakta bahwa dia dikhianati suaminya.
Tetapi Tuhan selalu memberi plot twist yang tidak pernah bisa kita tebak. Kiara mendadak terbangun kembali ke lima tahun lalu tepat di hari pertama pernikahan kontrak mereka dimulai.
Menyadari bahwa dia kembali mengulang waktu, kali ini Kiara bertekad untuk mengumpulkan uang lalu kabur demi menyelamatkan nyawanya. Akan tetapi, Kiara justru dibuat syok oleh perubahan drastis Dante, sang mafia kejam yang tiba-tiba berubah menjadi super bucin, posesif, dan memanjakan Kiara dengan uangnya yang tidak akan pernah habis itu. Kiara tidak pernah tahu bahwa suaminya yang kejam itu ternyata juga ikut bereinkarnasi dari masa depan, membawa rasa bersalah dan sejuta penyesalan yang siap melakukan apa saja agar sang istri tidak pernah pergi lagi dari pelukannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laksmi Harsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Anindita, dirimu swatantra dalam sanubari, kusuma jelita yang kupuja selaras asti. Kamajaya memanjakan Rati, kusiram hidupmu dengan asmara murni, menjaga dika bagai mustika abadi.
...----------------...
"Pesta bisnis tahunan Belmont Development?"
Kiara menghentikan gerakan tangannya yang sedang menyendok sup di atas meja makan panjang mansion. Ia mengangkat pandangan, menatap Dante yang duduk di ujung meja seberang dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Di antara mereka, hamparan makanan mewah terasa hambar seketika.
"Ya. Akhir pekan ini," jawab Dante tenang, menyapukan serbet kain ke bibirnya dengan gerakan tenang.
"Aku ingin kau mendampingiku sebagai istriku, Kiara."
Kiara meletakkan sendoknya hingga berdenting pelan di atas piring porselen. Kilas balik dari kehidupan pertama mendadak menghantam kepalanya.
Kiara ingat, pesta ini adalah awal dari neraka sosial untuk Kiara, jemarinya di bawah meja meremas kain gaun rumahan yang ia kenakan.
Di kehidupan lalu, Dante membawa Kiara ke pesta itu tanpa persiapan. Dia membiarkan Kiara memakai gaun off-the-rack murahan yang dipilihkan pelayan, membiarkan para istri pejabat dan kolega bisnis gelapnya mengesampingkan Kiara, menatapnya rendah seolah Kiara hanyalah wanita pajangan yang ia pungut dari jalanan.
Dan Dante? Pria itu hanya berdiri di sudut ruangan dengan segelas wiski, menonton istrinya dihina tanpa berniat membela sedikit pun.
"Aku menolak," ucap Kiara tegas, matanya menatap Dante tanpa sekerat pun rasa gentar. "Carilah wanita lain dari duniamu untuk dipajang di pesta itu. Aku tidak tertarik menjadi bahan tertawaan relasimu."
Dante tertegun sejenak. Jantungnya berdenyut nyeri mendengar penolakan dingin itu. Bahan tertawaan? Dante mengepalkan tangan di balik meja. Memory kelam dari lima tahun lalu di kehidupan pertamanya kembali berputar. Saat itu, ia begitu buta oleh ego. Ia sengaja membiarkan Kiara datang apa adanya ke pesta untuk menguji mental wanita itu di dunianya yang keras, mengabaikan bagaimana air mata Kiara tergenang saat dituduh sebagai wanita pemburu harta oleh istri-istri taipan kasino.
"Tidak akan ada yang menertawakanmu, Kiara" Ucap Dante penuh keyakinan. "Aku sudah mengatur semuanya."
"Mengatur apa? Mengatur agar mereka menghinaku di belakang punggungmu, alih-alih di depan wajahku?" Kiara berdiri dari kursinya, tidak berniat melanjutkan makan malamnya yang rusak. "Permisi."
"Kiara, tunggu." Dante ikut berdiri, langkah kakinya yang lebar dengan cepat memangkas jarak di antara mereka sebelum Kiara sempat melangkah keluar dari ruang makan. "Besok pagi, Madam Elena akan datang ke mansion bersama timnya."
Kiara menghentikan langkahnya, tubuhnya menegang. Ia membalikkan badan dengan cepat. "Madam Elena? Desainer haute couture legendaris yang hanya merancang busana untuk keluarga kerajaan dan para elit global itu? Kau pasti bercanda."
"Aku tidak pernah bercanda tentang urusan ini," sahut Dante, matanya mengunci tatapan dingin Kiara. "Dia telah mengosongkan seluruh jadwalnya minggu ini khusus untuk merancang gaunmu. Kau tidak perlu khawatir tentang apa pun. Cukup pilih apa yang kau suka."
Kiara menatap suaminya dengan penuh kecurigaan. Madam Elena bahkan menolak membuatkan gaun untuk selingkuhan menteri luar negeri bulan lalu. Bagaimana bisa Dante memaksanya datang ke sini? Ah, tentu saja. Dia seorang mafia. Dia pasti mengancam keluarga desainer itu atau menggunakan uang haramnya untuk menekan mereka.
"Kau selalu menggunakan pemaksaan untuk mendapatkan apa yang kau mau, kan, Dante?" sindir Kiara dengan senyum getir. "Bahkan untuk sebuah gaun."
Dante menarik napas pendek, menahan rasa perih di dadanya yang kian menumpuk. "Aku membayar jasanya secara legal, Kiara. Tanpa ancaman, tanpa darah. Aku hanya ingin... memberimu yang terbaik. Apakah itu salah?"
"Apapun yang keluar dari tanganmu selalu memiliki harga yang harus kubayar, Dante. Aku hanya sedang menebak, apa yang kau inginkan dariku setelah pesta itu selesai," tukas Kiara tajam sebelum melangkah pergi meninggalkan Dante yang terpaku sendirian di ruang makan yang mendadak sepi.
...----------------...
Keesokan paginya, ruang tengah mansion Belmont disulap menjadi sebuah butik privat yang megah. Tiga gantungan baju beroda yang dipenuhi dengan kain sutra, brokat Prancis, dan beludru kualitas tertinggi berjejer rapi. Di tengah ruangan, seorang wanita paruh baya berpenampilan sangat anggun dengan kacamata berbingkai emas berdiri menyambut Kiara dengan bungkukan hormat.
"Selamat pagi, Nyonya Belmont. Saya Elena," sapa desainer itu dengan senyum tulus. "Suami Anda, Tuan Dante, memberikan instruksi yang sangat spesifik kepada saya. Beliau meminta sebuah maha karya yang tidak hanya cantik, tetapi mampu memancarkan keagungan Anda sebagai satu-satunya ratu di mansion ini."
Kiara sempat terpaku di ambang pintu. Matanya mengitari ruangan, melihat gulungan kain yang harganya setara dengan satu unit apartemen mewah.
"Ratu? Di kehidupan lalu, dia memperlakukanku seperti budak tawanan, layaknya mainan yang bisa di perlakukan sesuka hati. Lalu sekarang, sandiwara macam apa lagi yang sedang dia pertontonkan untuk orang luar'' Gumam Kiara.
"Anda bisa membuatkan saya gaun hitam polos biasa saja, Madam. Saya tidak ingin menjadi pusat perhatian," jawab Kiara datar sembari berjalan mendekati deretan kain.
Madam Elena terkekeh pelan, menggelengkan kepalanya. "Oh, Tuan Dante sudah menduga Anda akan mengatakan itu, Nyonya. Dan beliau dengan tegas melarang saya mendengarkan permintaan tersebut. Beliau berkata, 'Jika istriku meminta sesuatu yang sederhana, maka berikan dia kemewahan yang dibungkus dengan kesederhanaan tertinggi.' Beliau sangat memperhatikan detail kenyamanan Anda. Lihat kain sutra sutra alami ini, Tuan Dante sendiri yang memilih teksturnya agar tidak melukai kulit sensitif Anda."
Mendengar penjelasan itu, dada Kiara bergemuruh hebat.
'Dante memilih teksturnya? Bagaimana dia bisa tahu kulitku mudah memerah jika terkena kain sintetis kasar? Di kehidupan lalu, dia bahkan tidak pernah menatapku lebih dari sepuluh detik! Apakah ini hanya kebetulan?'
Selama tiga jam berikutnya, Kiara terjebak dalam proses pengukuran dan pencocokan warna. Namun, pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Logikanya terus berputar, mencoba memecahkan teka-teki perubahan sikap suaminya yang semakin tidak masuk akal dari hari ke hari.
Di saat yang sama, di ruang kerja pribadinya di lantai atas, Dante berdiri di dekat jendela kaca besar, mengawasi halaman mansion yang dijaga ketat oleh anak buahnya. Pintu ruang kerja diketuk, Leo melangkah masuk dengan dokumen di tangannya.
"Tuan, persiapan untuk pesta akhir pekan sudah berjalan sembilan puluh persen," lapor Leo. "Namun, ada satu hal yang perlu saya sampaikan. Tuan Ivanov dari sindikat Rusia dikabarkan akan hadir bersama istrinya. dari informasi yang saya dapat, istri Ivanov terkenal dengan mulut yang sangat berbahaya" Secara tidak tersirat, Leo memberitahu jika mungkin istri sang tuannya ini akan dalam bahaya jika berdekatan dengan istri tuan Ivanov.
Mata elang Dante mendadak berkilat dingin, memancarkan aura membunuh yang pekat. "Pastikan meja mereka ditempatkan paling jauh dari meja utama kami. Dan Leo..."
"Ya, Tuan?"
" Sampaikan ke pada Marcus untuk memberi peringatan halus pada Ivanov. Jika mulut istrinya mengeluarkan satu kata pun yang menyinggung Kiara di pesta nanti, aku akan memastikan seluruh jalur distribusi senjata mereka di pelabuhan selatan ditutup permanen sebelum fajar menyingsing."
Marcus menelan ludah, merasakan ketegasan luar biasa dari tuannya. "Dimengerti, Tuan."
Setelah Leo keluar, Dante memijat pelipisnya. Ia berjalan menuju meja kerjanya, menatap sebuah kotak perhiasan kecil yang berisi tiara berlian kuno yang ia menangkan dari lelang rahasia di Paris minggu lalu dengan harga yang fantastis.
'Aku tidak akan membiarkan satu orang pun merendahkanmu lagi, Kiara.' Batin Dante, matanya melembut saat jemarinya menyentuh permukaan kotak beludru itu.
"Di kehidupan lalu, aku terlambat menyadari bahwa mahkota ini seharusnya berada di kepalamu sejak awal, bukan di dalam peti mati tempatmu bersemayam dalam kesendirian. Pesta ini akan menjadi panggung pertamamu, di mana seluruh dunia harus menundukkan kepala di hadapanmu."
...----------------...
Hari yang ditentukan pun tiba. Salah satu ruangan di mansion itu dipenuhi oleh penata rias dan penata rambut terbaik yang didatangkan langsung dari Milan. Ketika jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam, seluruh persiapan akhirnya selesai.
Madam Elena membantu Kiara mengenakan gaun terakhirnya. Itu adalah gaun haute couture berwarna hijau zamrud tua yang terbuat dari sutra premium, dengan potongan pundak terbuka (off-shoulder) yang mengekspos tulang selangka Kiara yang indah dengan begitu elegan. Gaun itu tidak memiliki banyak payet, namun potongan tubuhnya begitu presisi, jatuh dengan anggun membungkus lekuk tubuh Kiara, memberikan kesan megah yang mistis dan mahal.
"Anda terlihat sangat luar biasa, Nyonya. Benar-benar seorang ratu," puji Madam Elena dengan mata berbinar kagum.
Kiara menatap pantulan dirinya di cermin besar. Jantungnya berdesir. Ini jauh berbeda dari penampilannya di kehidupan lalu yang terlihat menyedihkan dan tidak percaya diri. Di dalam cermin, ia melihat seorang wanita yang kuat, anggun, dan berwibawa, sosok yang siap bertarung di medan perang sosial.
Pintu kamar diketuk, dan sosok Dante muncul. Pria itu mengenakan setelan tuksedo hitam yang sangat pas dengan tubuh tegapnya, rambutnya ditata rapi ke belakang. Namun, begitu matanya menangkap sosok Kiara yang berdiri di tengah ruangan, langkah kaki sang pemimpin mafia itu mendadak terkunci.
Dante terpaku. Sepasang mata elangnya melebar, menatap Kiara tanpa berkedip selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Napas pria itu tertahan di tenggorokan. Keindahan Kiara malam ini seolah merenggut seluruh kesadaran dan wibawanya yang selalu ia agungkan di depan dunia.
"Kiara... sepertinya kita tidak usah pergi." Bisik Dante, suaranya terdengar serak.
"Apakah penampilanku tidak memuaskan standarmu, Tuan Belmont? Atau ada bagian yang menurutmu kurang pantas untuk dipamerkan kepada rekan bisnismu?"
"Bukan itu maksudku. Kau terlalu indah untuk dilihat mata kotor mereka nanti. Dan aku tidak rela"
Mendengar ucapan Dante, Kiara membuang muka, mencoba menyembunyikan getaran aneh yang mendadak muncul di dadanya, saat mendengar reaksi jujur suaminya.
Dante menelan ludah, perlahan melangkah mendekat. Dia membuka sebuah kotak beludru hitam panjang yang dibawanya sejak tadi. Di dalamnya terdapat untaian kalung berlian zamrud yang berkilau selaras dengan warna gaun Kiara, lengkap dengan sebuah tiara kecil yang minimalis namun sangat mewah.
"Kau melampaui semua standar di dunia ini, Kiara," kata Dante tulus, suaranya melunak saat ia berdiri tepat di belakang tubuh istrinya, menatap pantulan mereka berdua di cermin. "Izinkan aku memakaikannya untukmu."
Kiara tidak menolak saat jemari hangat Dante yang besar menyentuh kulit lehernya yang dingin untuk mengaitkan kalung tersebut. Sentuhan itu membuat bulu kuduk Kiara meremang, memicu ingatan intim yang coba ia kubur dalam-dalam.
"Jangan mengira sepotong gaun dan berlian ini bisa mengubah fakta tentang siapa dirimu di mataku, Dante," bisik Kiara, matanya menatap tajam mata Dante melalui pantulan cermin. "Aku tetap mengingat setiap jengkal sangkar yang kau bangun untukku"
Dante menghentikan gerakannya sesaat setelah berhasil memasang tiara kecil di rambut Kiara. "Aku tidak meminta hatimu berubah dalam satu malam, sayang" jawab Dante pelan, tepat di dekat telinga Kiara. "Malam ini, aku hanya ingin kau berdiri di sampingku, dan biarkan aku menunjukkan kepada mereka semua bagaimana cara dunia memperlakukan seorang Nyonya Alistair yang sesungguhnya. Ayo kita pergi."
Dante mengulurkan lengan kekarnya yang terbalut jas mahal ke hadapan Kiara. Kiara menatap lengan itu sejenak, sebelum akhirnya perlahan menyelipkan tangan kecilnya di sana.
Ketika pintu mansion dibuka dan lampu kilat dari mobil limosin mewah menyambut mereka di luar, kedua orang yang sama-sama membawa beban sejarah masa lalu itu melangkah maju.