Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Unjuk Gigi di Sarang Musuh
Gedung Dirgantara Tower berdiri megah di pusat bisnis Jakarta. Dania melangkah melewati pintu kaca otomatis bersama Arvin, menarik perhatian puluhan staf yang lalu lalang. Beberapa dari mereka berbisik-bisik melihat sang CEO berjalan berdampingan dengan seorang wanita yang membawa tas laptop sederhana.
"Pak Arvin, berkas investor asing sudah siap di ruang rapat lantai 30," Rian—sekretaris Arvin—menyambut mereka di depan lift eksekutif dengan wajah cemas. Namun matanya membelalak kaget saat melihat Dania. "Lalu... Mbak ini siapa?"
"Ini Dania, konsultan desain utama untuk presentasi sore ini," jawab Arvin tanpa ragu, suaranya tenang namun dominan. "Siapkan ruang kerja khusus untuknya di dalam ruanganku. Pastikan semua file maket diserahkan padanya."
Rian mengangguk patuh meski kebingungan.
Selama tiga jam berikutnya, Dania tenggelam di depan layar laptopnya. Jarinya menari cepat di atas keyboard dan drawing tablet. Arvin, yang duduk beberapa meter di meja kerjanya, beberapa kali melirik ke arah Dania. Ia kagum melihat fokus dan ketenangan wanita itu di bawah tekanan waktu yang sangat ketat.
Tepat jam tiga sore, pintu ruangan kerja Arvin didobrak tanpa mengetuk.
Pria berkemeja merah marun dengan senyum culas melangkah masuk tanpa rasa salah. Dion.
"Wah, wah, Arvin. Kerja keras sekali kamu hari ini," Dion terkekeh sinis, melemparkan tatapan meremehkan ke arah Dania. "Jadi ini 'istri rahasia' yang kamu banggakan itu? Mengajaknya ke kantor hanya untuk menutupi kenyataan kalau kamu tidak punya draf desain untuk investor nanti sore?"
Arvin berdiri lambat-lambat dari kursinya, menyisipkan tangan di saku celana. "Keluar dari ruanganku, Dion."
"Aku ke sini cuma mau mengingatkan," Dion maju beberapa langkah, bersikap memprovokasi. "Investor asing dari Jepang itu sangat teliti. Draf desain lama dari timku sudah aku cabut lisensinya secara sah. Tanpa desain itu, presentasimu jam empat nanti bakal jadi bencana besar buat saham perusahaan."
Dania menghentikan ketikannya. Ia menggeser layar laptopnya ke samping, lalu berdiri menyilangkan tangan di dada.
"Maaf merusak momen kemenangan Anda, Pak Dion," potong Dania dengan suara jernih dan santai. "Tapi draf lama buatan tim Anda itu sudah saya buang ke tempat sampah digital."
Dion menoleh tajam, dahinya berkerut. "Apa kamu bilang?"
"Tata letak pencahayaan tim Anda membuat efisiensi gedung turun 25 persen, dan akses pemadam kebakaran di lantai dua sangat berbahaya," lanjut Dania tenang namun menohok. "Desain baru yang saya buat bersama Pak Arvin jauh lebih aman, modern, dan menghemat anggaran hingga milliaran rupiah. Investor asing tidak butuh draf usang milik Anda."
Wajah Dion mendadak merah padam. "Wanita sialan! Kamu tahu apa soal standar properti Dirgantara Group—"
"Dion," potong Arvin dengan nada suara yang begitu dingin hingga sanggup membekukan ruangan. Ia melangkah berdiri tepat di depan Dania, melindungi wanita itu dari tatapan Dion. "Masa tugasmu di proyek ini sudah selesai. Jika kamu tidak keluar dari ruangan ini dalam hitungan tiga detik, kejahatanmu mencabut lisensi desain secara sepihak akan kubawa ke dewan komisaris atas tuduhan sabotase."
Dion mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia menatap Arvin dan Dania bergantian dengan kilatan dendam di matanya.
"Kita lihat saja nanti sore di ruang rapat," ancam Dion pelan sebelum berbalik dan keluar sambil menghempaskan pintu dengan keras.
Setelah suasana kembali hening, Dania menarik napas lega. Ia kembali menatap layar laptopnya. "Draf 3D-nya sudah selesai disender. Tinggal dihubungkan ke proyektor."
Arvin menoleh pada Dania. Ada rasa bangga yang tak bisa ia sembunyikan di matanya. Wanita ini bukan hanya berhasil menyelesaikan tugas dalam waktu mustahil, tapi juga berani berdiri dan membungkam Dion tanpa rasa takut.
"Terima kasih, Dania," kata Arvin pelan. Kata-kata itu keluar tulus dari mulutnya.
Dania tersenyum tipis, merapikan peralatan kerjanya. "Jangan senang dulu, Tuan CEO. Presentasi sesungguhnya baru saja dimulai."
Presentasi di ruang rapat lantai 30 berjalan luar biasa. Dania berdiri tegap di samping layar proyektor besar, memaparkan setiap sudut sketsa 3D dengan ketenangan dan kecerdasan yang memukau seluruh jajaran investor asing dari Jepang tersebut.
Arvin hanya duduk di ujung meja oval, mendengarkan penjelasan Dania dengan tatapan yang sulit diartikan. Di seberang meja, Dion mengepalkan tangannya di bawah meja, menatap Dania dengan kebencian yang makin membara saat melihat para investor mengangguk-angguk puas.
Saat sesi kesepakatan selesai dan para investor memberikan tepuk tangan riuh, Arvin berdiri dan berjabat tangan dengan kepala perwakilan investor.
"Desain yang sangat visioner, Tuan Arvin," puji sang investor utama dalam bahasa Inggris yang fasih. "Dan konsultan Anda... dia sangat luar biasa."
Arvin melirik Dania tipis, lalu membalas jabatan tangan itu. "Terima kasih. Kami memastikan hanya memberikan kualitas terbaik."
Begitu para investor keluar ruangan dan hanya tersisa mereka berdua di ruang rapat yang kini lengang, Dania menghela napas panjang. Bahunya yang tegang akhirnya rileks.
"Kerja bagus," suara Arvin memecah kesunyian. Ia berjalan mendekati Dania, menyodorkan sebuah amplop cokelat tebal yang diambilnya dari dalam jas.
Dania mengernyit, menatap amplop itu bingung. "Apa ini?"
"Honor profesionalmu untuk desain hari ini," ujar Arvin datar. "Aku selalu menepati janjiku."
Dania menerima amplop itu, namun bukannya senang, ia justru tersenyum masam. "Terima kasih, Tuan Arvin. Tapi uang ini bukan alasan utama saya menyelamatkan presentasi Anda tadi."
"Lalu?" Arvin memiringkan kepalanya, menatap mata Dania dalam-dalam.
"Saya cuma tidak mau melihat pria sombong seperti Anda dikalahkan oleh orang licik seperti sepupu Anda," balas Dania jujur, tanpa rasa takut. "Sekarang tugas saya untuk hari ini selesai. Saya mau ke rumah sakit melihat kondisi adik saya."
Dania membereskan laptopnya dan berbalik pergi. Namun, tepat ketika tangannya menyentuh gagang pintu, Arvin memanggilnya kembali.
"Dania."
Dania menoleh. Arvin melangkah mendekatinya hingga jarak mereka hanya tersisa sejangkauan tangan. Koridor luar ruang rapat tampak sepi, namun aura ketegangan di antara mereka kembali memuncak.
"Mulai esok hari, Dion tidak akan lagi bermain di balik layar," bisik Arvin dengan suara rendah yang dalam. "Dia sudah tahu siapa kamu, dan dia akan mencoba menggunakanmu untuk menghancurkanku."
Dania menatap mata Arvin yang pekat. "Lalu Anda takut saya akan terpengaruh?"
Arvin menatap bibir Dania sejenak sebelum kembali menatap matanya. "Tidak. Aku justru khawatir Dion akan membahayakan keselamatanmu."
Dania tersentak pelan. Ada sesuatu dalam nada suara Arvin yang berubah—bukan lagi tatapan sinis penuh prasangka seperti saat di kantor notaris, melainkan sebuah kecemasan yang mulai berakar.
"Mulai malam ini," lanjut Arvin seraya membukakan pintu untuk Dania, "kamu tidak boleh pergi ke mana pun sendirian tanpa pengawal pribadi dari perusahaanku. Ini bukan cuma formalitas pernikahan rahasia kita lagi... ini masalah keselamatanmu."