Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.
Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.
Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.
"Jangan sentuh!"
Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.
"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Keesokan harinya, pendar sinar matahari pagi menembus celah gorden Ruang Melati, membawa kehangatan yang telah lama dirindukan.
Aluna sudah rapi mengenakan kemeja putih kasual dan celana jins, tas ransel kuliahnya bersandar di sudut kursi. Sejak pukul lima pagi, ia sudah sibuk membasuh wajah kakaknya dengan kain hangat, merapikan selimut, hingga menyiapkan sarapan pagi dari rumah sakit.
Roda kehidupan terasa benar-benar berputar 180 derajat. Aluna tertegun sejenak sambil menatap mangkuk bubur ayam hangat di tangannya. Dahulu, setiap pagi sebelum berangkat bekerja ke pabrik, Romeo-lah yang selalu bangun paling awal. Pria itu yang menggoreng telur, menyiapkan secangkir susu hangat, dan memastikannya sarapan sebelum melangkah ke sekolah. Romeo selalu memastikan Aluna terlindungi dan tak kekurangan apa pun.
Kini, jemari Aluna-lah yang dengan telaten meniup sendok demi sendok bubur hangat, lalu menyuapkannya pelan ke mulut sang kakak.
"Ayo Kak, satu sendok lagi. Habiskan ya, supaya Kakak cepat pulih dari luka operasinya," ujar Aluna lembut, menyunggingkan senyum hangat.
Romeo mengunyah pelan, menatap adiknya dengan binar mata yang campur aduk antara haru dan rasa bersalah. "Kamu ini... serasa jadi ibu kecil buat Kakak," bisiknya pelan, mencoba terkekeh walau suaranya masih parau.
"Tentu saja," balas Aluna seraya mengelap sudut bibir Romeo dengan tisu kering. "Sekarang peran kita bergantian. Dulu Kakak yang mengurus Aluna dari kecil, sekarang giliran Aluna yang manjain Kakak."
Romeo memandangi pakaian kuliah adiknya. "Jam berapa kelasmu mulai, Na?"
Aluna melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit. "Jam delapan, Kak. Makanya Aluna harus jalan sekarang supaya tidak terlambat naik angkutan umum."
Tak ingin suasana berubah menjadi haru dan berlarut-larut lagi seperti semalam, Aluna segera meletakkan mangkuk kosong ke meja, lalu menyampirkan tas ranselnya ke bahu. Ia terserang gelombang rasa tegar dan berusaha menyebarkan energi positif untuk kakaknya.
"Aluna pamit berangkat kuliah dulu ya, Kak," pamit Aluna seraya meraih jemari Romeo dan menciumnya penuh hormat. "Nanti jam satu siang selesai kelas, Aluna langsung balik ke sini lagi."
"Iya, Na. Hati-hati di jalan, tidak usah buru-buru," pesan Romeo lembut. "Belajar yang benar, jangan pikirkan Kakak terus."
"Siap, Bos!" gurau Aluna dengan hormat jenaka yang membuat Romeo tertawa kecil.
Sebelum benar-benar melangkah keluar dari Ruang Melati, Aluna menghampiri Nurse Station di lorong koridor. Tampak Suster Maya—perawat senior yang ramah—sedang mencatat rekam medis harian.
"Suster Maya," sapa Aluna sopan.
Suster Maya mendongak dan tersenyum hangat. "Eh, Mbak Aluna. Sudah mau berangkat kuliah?"
"Iya, Sus. Saya mau pamit sebentar," ujar Aluna dengan nada penuh harap. "Saya titip Kak Romeo ya, Sus? Karena luka pasca-operasinya masih memar dan butuh waktu pemulihan penuh sebelum fisioterapi bisa dimulai beberapa hari ke depan, Kalau Kak Romeo merasa nyeri atau butuh apa-apa, tolong langsung hubungi saya."
Suster Maya mengangguk mantap sambil menepuk pelan lengan Aluna. "Tenang saja, Mbak Aluna. Mas Romeo ada di tangan yang tepat. Kami akan jaga dan pantau pemulihan pasca-operasinya sebaik mungkin sampai tim dokter mengizinkan fisioterapi dimulai. Mbak Aluna fokus kuliah saja, ya."
"Terima kasih banyak ya, Suster Maya," ucap Aluna lega.
Dengan perasaan yang jauh lebih tenang dan bersemangat, Aluna memutar tubuhnya, melangkah menyusuri koridor rumah sakit menuju pintu keluar. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, ia bisa menyongsong harinya dengan langkah kaki yang terasa lebih ringan.
*
Sinar matahari siang memancar terik saat Aluna melangkah keluar dari gedung fakultasnya. Setelah beberapa jam berkutat dengan materi perkuliahan yang cukup padat, kepalanya terasa hangat, namun hatinya jauh lebih tenang dari biasanya.
"Na! Aluna!"
Suara panggilan yang akrab itu membuat Aluna menoleh. Tampak Berta berlari-lari kecil menghampirinya seraya memegang sebuah es kopi di tangan kanan dan ponsel di tangan kirinya.
"Aduh, kencang banget jalanmu, Na," ujar Berta terengah-engah begitu sampai di samping Aluna. Gadis itu menyodorkan layar ponselnya yang menyala ke arah wajah Aluna. "Kamu sudah lihat berita hari ini belum? Gila sih, trending topic di semua media sosial!"
Aluna mengernyitkan dahi, melirik layar ponsel Berta. Sebuah artikel berita berita korporat dan hiburan papan atas terpampang dengan judul tebal:
"Aktris Muda Chelsi Resmi Ditunjuk Sebagai Brand Ambassador Internasional Mahendra Luxury – Karirnya Melesat Tajam Dalam Semalam!"
Di bawah judul itu, terpampang foto indah Chelsi dalam balutan gaun anggun, tersenyum memikat ke arah kamera, dikelilingi oleh ulasan-ulasan pujian yang mengangkat citranya sebagai aktris muda berbakat dan bersih dari skandal.
Menatap foto Chelsi, ingatan Aluna seketika melayang kembali pada malam yang dingin di studio perbukitan itu. Ia ingat betul saat Chelsi berlutut pasrah, memohon-mohon di hadapan Hayden agar kariernya tidak dihancurkan, dan percakapan dingin mereka tentang popularitas.
Hanya dengan satu keputusan, satu hentakan jari... Hayden bisa mengangkat seseorang ke puncak tertinggi, atau membenamkannya ke dasar jurang.
Dada Aluna berdesir hebat. Rasa penasaran yang terpendam mendadak memuncak di benaknya. Siapa sebenarnya Hayden Mahendra itu? Kekuatan apa yang sebenarnya berada di genggaman jemarinya? Kenapa pria itu begitu berkuasa hingga media dan industri hiburan tunduk sepenuhnya pada kata-katanya?
"Na? Kok malah melamun?" Berta menepuk bahu Aluna, membuyarkan lamunan gadis itu. "Yuk balik! Kamu mau langsung ke rumah sakit, kan? Bareng aku saja, mobilku ada di parkiran."
"Eh, iya, Berta... Makasih banyak ya," jawab Aluna ramah, mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Keduanya berjalan menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil hatchback milik Berta. Tak lama kemudian, mobil itu membelah jalanan kota yang cukup padat menuju Rumah Sakit Medika.
Di tengah perjalanan, saat lagu di radio mobil mengudara pelan, Berta tiba-tiba menginjak rem halus di perempatan jalan. Gadis itu menopang dagunya di kemudi, raut wajahnya mendadak berubah serius seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
"Oya, Na... dari kemarin aku tuh mikirin satu hal deh," kata Berta seraya menoleh ke arah Aluna di kursi penumpang. "Waktu di ruang ICU kemarin... pria tinggi tegap yang datang pakai kaos hitam itu, yang ngobrol sama Dokter bedah saraf..."
Jantung Aluna mendadak berdegup kencang. Ia mencoba menutupi kegugupannya dengan membuang pandangan ke luar jendela. "Kenapa memangnya, Ta?"
"Mukanya tuh mirip banget sama pewaris tunggal Mahendra Group yang sering masuk majalah bisnis!" seru Berta dengan mata membelalak penuh teka-teki. "Tadi pas aku baca berita Chelsi yang ditunjuk Mahendra Luxury, aku langsung kebayang muka pria kemarin. Nama depannya juga Hayden, kan?"
Aluna berdehem pelan, mencoba menetralkan nada suaranya agar tidak terdengar bergetar. "Memang dia Hayden Mahendra, Ta."
"APA?!" Berta spontan menginjak rem sedikit lebih dalam hingga mobil berhenti sempurna di tepi jalan. Gadis itu menoleh sepenuhnya pada Aluna dengan ekspresi tidak percaya. "Maksudmu... pria kemarin itu beneran the Hayden Mahendra? Pewaris konglomerasi Mahendra Group yang terkenal dingin dan misterius itu?!"
Aluna mengangguk pelan. "Iya."
"Kok bisa?!" Berta menjerit kecil, suaranya naik satu oktav. "Gimana cerita Kak Romeo bisa kenal dan berteman sama orang kelas atas kayak begitu?! Maksudku... Kak Romeo kan cuma pekerja biasa di pabrik, Na! Kok bisa berteman dekat sama raksasa bisnis kayak Hayden?!"
"Mereka teman satu sekolah waktu SMA dulu, Berta," jawab Aluna tenang, menggunakan alibi yang sudah ia persiapkan. "Dulu Hayden belum memegang perusahaan keluarganya. Mereka sempat dekat saat masih remaja sebelum akhirnya jalan hidup mereka berbeda."
Berta menggeleng-gelengkan kepalanya, masih shock dengan kenyataan tersebut. "Gila... Aku masih takjub banget. Pantas saja perawakannya dominan banget kemarin, auranya beda dari orang biasa! Tapi syukurlah kalau Kak Romeo punya teman se-berpengaruh itu. Yayasan relasi yang bantu biaya rumah sakit Kakakmu pasti juga atas bantuan dia, kan?"
Aluna memaksakan senyum tipis di bibirnya, meski dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah atas kebohongan itu. "Iya... mungkin begitu."
Melihat Aluna yang tampak enggan membahasnya lebih jauh, Berta melajukan kembali mobilnya. Dua puluh menit kemudian, mobil Berta akhirnya berbelok memasuki area parkir Rumah Sakit Medika.
"Makasih banyak ya, Berta, sudah diantarkan sampai sini," ucap Aluna seraya melepas sabuk pengamannya.
"Sama-sama, Na! Salam buat Kak Romeo ya. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku," balas Berta hangat.
"Iya, pasti."
Aluna turun dari mobil, melambaikan tangan saat Berta melaju pergi, lalu bergegas melangkah menyusuri koridor rumah sakit menuju Ruang Melati.
Begitu Aluna mendorong pintu kamar perawatan secara perlahan, aroma rumah sakit yang khas menyambutnya. Di atas ranjang, tampak Romeo sedang terlelap tidur dengan dada yang naik turun teratur. Raut wajah kakaknya terlihat begitu damai di bawah pendar sinar siang yang lembut, bebas dari guratan rasa sakit.
Aluna melangkah tanpa suara, meletakkan tas ranselnya di atas kursi, lalu duduk di samping tempat tidur. Ia memandangi wajah tenang kakaknya dengan hembusan napas lega. Di balik segala teka-teki dan dominasi sosok Hayden Mahendra yang menakutkan, melihat kakaknya bisa beristirahat dengan tenang adalah satu-satunya hal yang paling berarti bagi Aluna saat ini.
*
*
*
sukaa banget nih sama modelan ky hayden 😁
bahaya Aluna
sudah dong Hayden kasihan aluna